Saya ga termasuk loh... 

thanx n regards

 - NikoJona / freaky - freaky

--- On Mon, 9/1/08, JIMMY J.SIP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: JIMMY J.SIP <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ITCENTER] Orang IT ber-EQ rendah?
To: [email protected]
Date: Monday, September 1, 2008, 5:04 AM

*Artikel Dari Sebuah harian*

 Pak Anthony Dio Martin,

 Saya pernah mendengar Anda membahas di siaran radio soal orang IT 
 (information technology) yang EQ (kecerdasan emosional)-nya rendah. Saya 
 pun punya masalah yang sama. Seorang manajer di tempat kami yang berada 
 di IT, orangnya pinter tapi kemampuan sosialnya kurang. Kalau bicara, 
 sering saya tidak paham, begitu juga yang lainnya. Jadinya seringkali 
 terjadi perdebatan.

 Tadinya kupikir saya yang kurang pintar. Masalahnya, dia pegang sistem 
 yang penting yang jadi jantungnya perusahaan. Orangnya pun saya lihat 
 tidak suka berbagi pengetahuan.

 Pernah saya coba dekati tapi malahan saya yang jadi salah tingkah. 
 Ngobrol-nya jadi kaku sekali. Maka, saya setop. Saya sebenarnya kasihan 
 juga dan ingin bantu dia, tetapi tidak tahu bagaimana bicara sama dia.

 Pertanyaan saya, apakah semua orang IT seperti itu? Saya pun ngeri 
 dengan anak saya yang ada di SMA yang senang main komputer dan punya 
 cita-cita masuk Teknik Komputer. Apa saran Bapak bagi para manager 
 maupun orang tua seperti saya?

 *Jarot S,* Bekasi

 //

 Jawaban

 Pak Jarot serta para pembaca, memang pernah ada penelitian di sekitar 
 tahun 1997 yang mengungkapkan bahwa orang-orang IT secara EQ jauh lebih 
 rendah dibandingkan dengan profesi lainnya. Bahkan topik ini pun pernah 
 dimuat di salah satu majalah bisnis yang diakui kredibilitasnya, Harvard 
 Business Review.

 Menurut isi artikel tersebut, ada beberapa tanda yang biasanya dijumpai 
 pada orang IT yang menyebabkan mengapa mereka kemudian dianggap ber-EQ 
 rendah. Namun, sebelum membaca lebih jauh tanda-tanda ini, tentunya hal 
 ini lebih merupakan sebuah stereotipe daripada kenyataan yang sebenarnya.

 Karena saya pun percaya, tidak berarti semua orang IT demikian. Bahkan, 
 saya mengenal banyak teman di IT yang pergaulan sosial serta kariernya 
 luar biasa. Jadi, hal ini sebaiknya tidak digeneralisasikan untuk semua 
 orang IT.

 Beberapa ciri pada orang IT yang kemudian dianggap EQ-nya kurang 
 seperti: (1) orang-orang IT dianggap lebih banyak menggunakan IQ 
 daripada EQ dalam pekerjaannya, (2) mereka lebih sulit berempati dan 
 jarang menggunakan perasaannya dalam bertindak, (3) secara sosial pun 
 orang IT lebih sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain, serta (4) 
 orientasinya lebih banyak berhubungan dengan teknis (job) daripada 
 manusia (people).

 Hal ini diperparah lagi dengan berbagai realitas dan keluhan yang 
 membuat orang IT dilabel demikian. Misalnya, kehidupan mereka yang 
 berada di antara kotak komputernya. Bahkan, seorang istri pernah 
 berkomentar soal suaminya, "Saat di depan komputer, itulah saat mereka 
 di dunia mereka sesungguhnya" .

 Faktanya, kehidupan sosial merekapun jadi kurang, karena kebanyakan 
 hanya bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang seminat dan 
 kurang berbaur dengan unit lain di kantor. Bahkan, beberapa diantaranya 
 sulit memahami kebutuhan orang lain, sehingga sering terjadi konflik 
 dengan unit lain karena beda persepsi.

 *Kurang fair*

 Namun, realitas lain juga terkadang menunjukkan ada sikap kurang fair 
 terhadap rekan-rekan kita di IT. Berbagai perlakuan 'khas' dan kurang 
 fair yang seringkali dialami rekan-rekan IT misalnya: mereka 
 diperlakukan hanya sebagai trouble shooter, hanya kalau ada masalah. 
 Saat segalanya berjalan lancar, tidak diapresiasi sama sekali.

 Orang ITpun jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, hanya 
 soal-soal teknis saja baru mereka dilibatkan. Makanya, jangan heran 
 kalau orang IT sering jadi kehilangan konteks dengan gambaran besar 
 suatu proyek yang tengah dikerjakan.

 Dan buruknya, para orang IT-un sering dicap nerd, dikotakkan dan 
 ditinggalkan. Mereka kurang dirangkul, baik dalam pergaulan sehari-hari 
 maupun dalam berbagai proyek penting di kantor. Maka, kondisi sosial 
 mereka yang buruk pun kadang menjadi tanggung jawab kita pula.

 Di sinilah saya ingin menekankan mengapa EQ justru menjadi sangat 
 penting bagi orang IT dewasa ini. Pertama, IT merupakan fungsi yang 
 sangat vital. Banyak informasi dan data penting dapat diakses oleh orang 
 IT. Dari data keuangan perusahaan hingga data pribadi setiap karyawan.

 Bayangkan jika karakter orang IT itu bermasalah, data-data tersebut bisa 
 disalahgunakan untuk hal yang merusak. Kedua, orang-orang IT pun 
 sebenarnya banyak bersinggungan dengan pihak lain. Tidak diragukan lagi, 
 IT adalah support bisnis yang penting dewasa ini.

 Tanpa memiliki EQ yang baik, orang IT akan jadi sering konflik dengan 
 pihak lain. Ketiga, tentunya ini juga menjadi tantangan bagi orang IT 
 sendiri. Berbagai stereotipe pada orang IT yang dipaparkan di atas 
 justru akan menjadi tantangan bagi mereka untuk menepis semua stereotipe 
 yang keliru itu.

 Nah, hingga di sini kita menjawab pertanyaan: apa saran serta tips yang 
 bisa diberikan kepada para orang IT ini? Pertama-tama, orang IT harus 
 Get out of your box. Jangan hanya bicara soal IT saja. Saya selalu 
 menyarankan agar mereka berusaha punya minat dengan bidang-bidang lain, 
 khususnya yang lebih banyak berhubungan dengan otak kanan seperti seni 
 dan hobi lain.

 Inilah yang harus Anda sarankan pada anak Anda. Terlibatlah untuk 
 mengajaknya memasuki hobi yang berbeda, yang mengasah otak emosinya. 
 Selain itu, di pekerjaan pun orang IT sangat disarankan untuk mau tahu 
 serta terlibat dengan bidang-bidang lain.

 Selain soal IT, saya selalu menyarankan agar para IT guys berusaha 
 membangun business sense mereka. Bukan hanya bicara soal teknis saja, 
 mereka pun harus bisa berbicara dari bahasa dan sudut pandang para user 
 sehingga mereka akan lebih disukai. Inilah sebenarnya kendala utamanya.

 Di sisi lain, saya menyarankan mereka lebih banyak membaca, mendengar 
 bahkan sesekali mengikuti seminar yang berusaha mengimbangi hal-hal 
 teknis IT dengan hal-hal yang bersifat people skills.

 Akhirnya, saya pun menyarankan orang-orang IT selalu berusaha mengetahui 
 area-area dalam EQ yang masih kurang. Caranya, dengan meminta feedback 
 dari orang lain dan berusahalah menutupi area yang kurang tersebut 
 dengan komitmen mengembangkan diri yang lebih baik.

 Nah, untuk Pak Jarot dan juga pembaca lainnya, libatkanlah rekan-rekan 
 IT dalam berbagai pergaulan dan pertemuan, sehingga mereka pun belajar 
 mengasah EQ serta business sense mereka.

 Akhirnya, saya seringkali mengatakan bahwa "Yang menakutkan kita 
 bukanlah komputer yang bisa berpikir seperti manusia, tetapi manusia 
 yang pikirannya seperti komputer".

 Salah satu masalah komputer adalah mereka tidak berperasaan. So, 
 tanggung jawab kita semua juga untuk mengembangkan orang IT yang ber-EQ 
 tinggi!

 Semoga Bisa Mengambil Maknanya. Jaya IT Indonesia

              


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

-- 
www.itcenter.or.id - Komunitas Teknologi Informasi Indonesia 
Gabung, Keluar, Mode Kirim : [EMAIL PROTECTED] 

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ITCENTER/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ITCENTER/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke