Dear All,

Kok bisa ya terbesit ada judul nya It ber- Eq rendah.

Kalau saya justru yang prang menilai itu lah yg ber Eq rendah. 

tidak ada hubungan dan kaitan sama sekali. IT itu ada profesionalisme, skill 
dan punya kode etik, bermoral dan ber-agama.

Masalah sosial, karakter dan bermasyarakat itu tidak punya formula khusus yg 
bisa lihat dari kaca mata yang sempit. Hal itu terlalu individu dan kompleks 
untuk dibahas.

biar bagaimana pun Eq itu ada kaitan dgn pengetahuan umum, lingkungan keluarga 
dan banyak faktor2 lain yang menunjang seperti Kehidupan rohani (SQ). yang 
pasti Eq juga bisa jongkok krn sistem pendidikan kita di indonesia ini lebih 
berfokus pada IQ, dan tingkat kehidupan rohani yang kuran terpupuk, jadi 
terlalu lebar hal-hal yang mesti dibahas.

singkat cerita bahwa It itu profesionalisme, punya nilai etik dan care dengan 
apa yang dia kerjakan. masalah EQ itu individu dari potret masa lalu dan 
hal-hal yang melatarbelakangi setiap kejadian2 hidup nya masing2.

Kalo saya sebagagi IT, maka secara profesionalisme, namun dalam kehidupan yang 
berbeda saya sangat ber-masyarakat dan bersosial. bahkan saya sampai adalah 
aktivis anti narkoba bahkan punya niat ingin punya panti rehabilitasi narkoba 
untuk menolong orang2 yang adiksi/kecanduan Narkoba. Nah...sekarang rekan2 bisa 
menilai bukan ? apa bisa dikatakan It ber Eq rendah ?


//Salam,
P.Pasaribu

--- On Tue, 9/2/08, Nickolas Jonathan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Nickolas Jonathan <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [ITCENTER] Orang IT ber-EQ rendah?
To: [email protected]
Date: Tuesday, September 2, 2008, 7:30 PM










    
            Saya ga termasuk loh... 



thanx n regards



- NikoJona / freaky - freaky



--- On Mon, 9/1/08, JIMMY J.SIP <[EMAIL PROTECTED] co.id> wrote:

From: JIMMY J.SIP <[EMAIL PROTECTED] co.id>

Subject: [ITCENTER] Orang IT ber-EQ rendah?

To: [EMAIL PROTECTED] s.com

Date: Monday, September 1, 2008, 5:04 AM



*Artikel Dari Sebuah harian*



Pak Anthony Dio Martin,



Saya pernah mendengar Anda membahas di siaran radio soal orang IT 

 (information technology) yang EQ (kecerdasan emosional)-nya rendah. Saya 

 pun punya masalah yang sama. Seorang manajer di tempat kami yang berada 

 di IT, orangnya pinter tapi kemampuan sosialnya kurang. Kalau bicara, 

 sering saya tidak paham, begitu juga yang lainnya. Jadinya seringkali 

 terjadi perdebatan.



Tadinya kupikir saya yang kurang pintar. Masalahnya, dia pegang sistem 

 yang penting yang jadi jantungnya perusahaan. Orangnya pun saya lihat 

 tidak suka berbagi pengetahuan.



Pernah saya coba dekati tapi malahan saya yang jadi salah tingkah. 

 Ngobrol-nya jadi kaku sekali. Maka, saya setop. Saya sebenarnya kasihan 

 juga dan ingin bantu dia, tetapi tidak tahu bagaimana bicara sama dia.



Pertanyaan saya, apakah semua orang IT seperti itu? Saya pun ngeri 

 dengan anak saya yang ada di SMA yang senang main komputer dan punya 

 cita-cita masuk Teknik Komputer. Apa saran Bapak bagi para manager 

 maupun orang tua seperti saya?



*Jarot S,* Bekasi



//



Jawaban



Pak Jarot serta para pembaca, memang pernah ada penelitian di sekitar 

 tahun 1997 yang mengungkapkan bahwa orang-orang IT secara EQ jauh lebih 

 rendah dibandingkan dengan profesi lainnya. Bahkan topik ini pun pernah 

 dimuat di salah satu majalah bisnis yang diakui kredibilitasnya, Harvard 

 Business Review.



Menurut isi artikel tersebut, ada beberapa tanda yang biasanya dijumpai 

 pada orang IT yang menyebabkan mengapa mereka kemudian dianggap ber-EQ 

 rendah. Namun, sebelum membaca lebih jauh tanda-tanda ini, tentunya hal 

 ini lebih merupakan sebuah stereotipe daripada kenyataan yang sebenarnya.



Karena saya pun percaya, tidak berarti semua orang IT demikian. Bahkan, 

 saya mengenal banyak teman di IT yang pergaulan sosial serta kariernya 

 luar biasa. Jadi, hal ini sebaiknya tidak digeneralisasikan untuk semua 

 orang IT.



Beberapa ciri pada orang IT yang kemudian dianggap EQ-nya kurang 

 seperti: (1) orang-orang IT dianggap lebih banyak menggunakan IQ 

 daripada EQ dalam pekerjaannya, (2) mereka lebih sulit berempati dan 

 jarang menggunakan perasaannya dalam bertindak, (3) secara sosial pun 

 orang IT lebih sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain, serta (4) 

 orientasinya lebih banyak berhubungan dengan teknis (job) daripada 

 manusia (people).



Hal ini diperparah lagi dengan berbagai realitas dan keluhan yang 

 membuat orang IT dilabel demikian. Misalnya, kehidupan mereka yang 

 berada di antara kotak komputernya. Bahkan, seorang istri pernah 

 berkomentar soal suaminya, "Saat di depan komputer, itulah saat mereka 

 di dunia mereka sesungguhnya" .



Faktanya, kehidupan sosial merekapun jadi kurang, karena kebanyakan 

 hanya bergaul dan berinteraksi dengan orang-orang yang seminat dan 

 kurang berbaur dengan unit lain di kantor. Bahkan, beberapa diantaranya 

 sulit memahami kebutuhan orang lain, sehingga sering terjadi konflik 

 dengan unit lain karena beda persepsi.



*Kurang fair*



Namun, realitas lain juga terkadang menunjukkan ada sikap kurang fair 

 terhadap rekan-rekan kita di IT. Berbagai perlakuan 'khas' dan kurang 

 fair yang seringkali dialami rekan-rekan IT misalnya: mereka 

 diperlakukan hanya sebagai trouble shooter, hanya kalau ada masalah. 

 Saat segalanya berjalan lancar, tidak diapresiasi sama sekali.



Orang ITpun jarang dilibatkan dalam pengambilan keputusan penting, hanya 

 soal-soal teknis saja baru mereka dilibatkan. Makanya, jangan heran 

 kalau orang IT sering jadi kehilangan konteks dengan gambaran besar 

 suatu proyek yang tengah dikerjakan.



Dan buruknya, para orang IT-un sering dicap nerd, dikotakkan dan 

 ditinggalkan. Mereka kurang dirangkul, baik dalam pergaulan sehari-hari 

 maupun dalam berbagai proyek penting di kantor. Maka, kondisi sosial 

 mereka yang buruk pun kadang menjadi tanggung jawab kita pula.



Di sinilah saya ingin menekankan mengapa EQ justru menjadi sangat 

 penting bagi orang IT dewasa ini. Pertama, IT merupakan fungsi yang 

 sangat vital. Banyak informasi dan data penting dapat diakses oleh orang 

 IT. Dari data keuangan perusahaan hingga data pribadi setiap karyawan.



Bayangkan jika karakter orang IT itu bermasalah, data-data tersebut bisa 

 disalahgunakan untuk hal yang merusak. Kedua, orang-orang IT pun 

 sebenarnya banyak bersinggungan dengan pihak lain. Tidak diragukan lagi, 

 IT adalah support bisnis yang penting dewasa ini.



Tanpa memiliki EQ yang baik, orang IT akan jadi sering konflik dengan 

 pihak lain. Ketiga, tentunya ini juga menjadi tantangan bagi orang IT 

 sendiri. Berbagai stereotipe pada orang IT yang dipaparkan di atas 

 justru akan menjadi tantangan bagi mereka untuk menepis semua stereotipe 

 yang keliru itu.



Nah, hingga di sini kita menjawab pertanyaan: apa saran serta tips yang 

 bisa diberikan kepada para orang IT ini? Pertama-tama, orang IT harus 

 Get out of your box. Jangan hanya bicara soal IT saja. Saya selalu 

 menyarankan agar mereka berusaha punya minat dengan bidang-bidang lain, 

 khususnya yang lebih banyak berhubungan dengan otak kanan seperti seni 

 dan hobi lain.



Inilah yang harus Anda sarankan pada anak Anda. Terlibatlah untuk 

 mengajaknya memasuki hobi yang berbeda, yang mengasah otak emosinya. 

 Selain itu, di pekerjaan pun orang IT sangat disarankan untuk mau tahu 

 serta terlibat dengan bidang-bidang lain.



Selain soal IT, saya selalu menyarankan agar para IT guys berusaha 

 membangun business sense mereka. Bukan hanya bicara soal teknis saja, 

 mereka pun harus bisa berbicara dari bahasa dan sudut pandang para user 

 sehingga mereka akan lebih disukai. Inilah sebenarnya kendala utamanya.



Di sisi lain, saya menyarankan mereka lebih banyak membaca, mendengar 

 bahkan sesekali mengikuti seminar yang berusaha mengimbangi hal-hal 

 teknis IT dengan hal-hal yang bersifat people skills.



Akhirnya, saya pun menyarankan orang-orang IT selalu berusaha mengetahui 

 area-area dalam EQ yang masih kurang. Caranya, dengan meminta feedback 

 dari orang lain dan berusahalah menutupi area yang kurang tersebut 

 dengan komitmen mengembangkan diri yang lebih baik.



Nah, untuk Pak Jarot dan juga pembaca lainnya, libatkanlah rekan-rekan 

 IT dalam berbagai pergaulan dan pertemuan, sehingga mereka pun belajar 

 mengasah EQ serta business sense mereka.



Akhirnya, saya seringkali mengatakan bahwa "Yang menakutkan kita 

 bukanlah komputer yang bisa berpikir seperti manusia, tetapi manusia 

 yang pikirannya seperti komputer".



Salah satu masalah komputer adalah mereka tidak berperasaan. So, 

 tanggung jawab kita semua juga untuk mengembangkan orang IT yang ber-EQ 

 tinggi!



Semoga Bisa Mengambil Maknanya. Jaya IT Indonesia



              



[Non-text portions of this message have been removed]




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

-- 
www.itcenter.or.id - Komunitas Teknologi Informasi Indonesia 
Gabung, Keluar, Mode Kirim : [EMAIL PROTECTED] 

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ITCENTER/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ITCENTER/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke