CATATAN BELAJAR SEORANG AWAM:
 
MEMBACA "THE BEST AUSTRALIAN POEMS 2003"
 
 
Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada El Camino di Melbourne yang telah mengirimkan buku-buku sangat berharga ke alamat saya di Paris. Kiriman ini tidak lain dari ujud rasa persahabatan tulus dan dalam, sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan dan dalam pertarungan memenangi hidup yang tidak ramah ini.Persahabatan tulus tidak bisa dinilai dengan apapun, apalagi dalam kehidupan ini, ia sering terasa sebagai sesuatu yang langka.  Buku-buku terbaru yang dikirimkan oleh El Camino adalah "Granta", The Magazine of New Writing/62 dan "The Best Australian Poems 2003"[Black Inc, Melbourne Victoria, 2003, 369 hlm.].
 
Majalah Granta/1962 umumnya berisikan tulisan-tulisan tentang Indonesia, muatan yang memperlihatkan betapa dekatnya Australia dan Indonesia, lepas dari rupa-rupa masalah yang dihadapi oleh kedua bangsa dan negeri. Dilihat dari kepentingan kedua bangsa dan negeri, maka sebenarnya kerjasama antara mereka berdua merupakan suatu kemutlakan untuk kepentingan rejional yang kemudian tentu berpengaruh untuk kawasan geografis lebih luas. Apalagi jika Australia sebagai nasion lebih memperhatikan Asia sesuai dengan letak geografisnya dan merasakan dirinya bagian dari kawasan di mana ia terletak secara geografis. Saya kira, dari pihak Indonesia pun, sudah selayaknya memberi perhatian khusus terhadap Australia sebagai negara dan bangsa penting, salah satu tetangga terdekat yang berpengaruh di Oceania. Untuk ini, kiranya sudah pantas jika Indonesia mempunyai politik Australia yang ilmiah dan tidak emosional dan kira-kira. Karena pilihan politik sebenarnya bukan soal kira-kira tanpa dasar pengetahuan.  Bahwa Australia dalam referandum yang mereka selenggarakan beberapa tahun lalu masih memilih sebagai bagian dari Kerajaan Britania Raya [Great Britain], hal ini adalah masalah dalam negeri dan pilihan mayoritas rakyatnya. Yang terpenting bagi Indonesia, bahwa Australia itu ada, dan eksistensinya merupakan kenyataan yang tak terpungkirkan, sama tak terbantahkan bahwa ia merupakan kekuatan di Pasifik serta merupakan salahsatu negeri terdekat kita. Jika menggunakan istilah teman-teman di Flinders University, Adeleide, untuk melukiskan kedekatan ini "Indonesia adalah pintu gerbang Australia". Dalam studi Indonesia, Australia telah memunculkan nama-nama bertaraf dunia seperti alm. Herb. Feith, Robert Cribb atau tokoh seperti Keith Foulcher, David T Hill, Krisna Sen dalam bidang sastra-seni. Karena itu bukanlah kebetulan jika studi Indonesia sangat berkembang di negeri jiran selatan ini. Dan di Indonesia, adakah studi Australia yang serius? Tidak adakah yang bisa dipelajari dari negeri ini?
 
Sebagai bangsa dan negara, Australia makin hari makin memperlihatkan potensinya di jajaran dunia dalam berbagai bidang: ekonomi, pendidikan, olahraga dan juga sastra-seni. Barangkali dalam banyak bidang Indonesia sudah jauh ketinggalan seperti halnya kita sudah tertinggal dari Malaysia dan Singapura. Potensi ini misalnya diperlihatkan melalui kepercayaan dunia kepada Australia untuk menyelenggarakan Olympiade.Sedangkan di bidang sastra, potensinya ditunjukkan oleh perolehan Nobel Sastra yang diserahkan pada kepada penulis roman Patrick White. Apakah Indonesia sudah mencapai taraf Australia dalam berbagai bidang, misal di bidang sastra? Hadiah Nobel sastra, barangkali merupakan salah satu ukuran untuk melihat perkembangan kehidupan sastra suatu negeri dari segi internasional. Apakah Indonesia sudah ada yang mendapatkan hadiah Nobel sastra? Berangkat dari keadaan ini maka dalam diri saya muncul pertanyaan yang menggelitik: Apa rahasia kemajuan ini kalau saya mempercayai bahwa secara kemampuan, orang Indonesia sebenarnya tidak kalah dari bangsa manapun? Sebagai contoh: Untuk mengirimkan sputnik ke ruangangkasa, di dalam usaha ini terdapat seorang tenaga ahli cahaya Indonesia. Dalam masalah penanganan penyakit kanker, di tingkat dunia, paling tidak tercatat dua nama dokter asal Indonesia yang kedua-duanya lulusan Jerman. Sayangnya tenaga-tenaga ini kemudian tidak dimanfaatkan oleh Indonesia dan dimanfaatkan oleh negara-negara lain sehingga terkesan pada saya telah terjadi semacam brain drain. Lalu, tidakkah jawaban pertanyaan ini akan berguna bagi Indonesia, jawaban yang semestinya patut diperoleh dalam rangka mewujudkan kecintaan kita kepada tanahair dan bangsa sebagai bagian dari umat manusia di "desa kecil" planet bumi kita? Terhadap pertanyaan ini, saya melihat kepada kemampuan kita membangun masyarakat sipil di Indonesia, dalam masyarakat mana dijamin kebebasan akademi, keleluasan bertanya dan mencari jawab, dan mengungkapkan diri. Apakah dalam hal ini selama sekian dasawarsa kita tidak terkungkung? Adanya keleluasaan bertanya dan mencari jawab, adanya kebebasan mimbar alias kebebasan akademi dan mengungkapkan diri, memungkinkan kita mencari sumber kebenaran lain di luar wahyu. Otoritarianisme dalam segala ujud dan namanya, demikian pula feodalisme lama dan baru, apalagi militerisme, tidak memungkinkan adanya hal-hal dasar yang diperlukan untuk kemajuan serta pengembangan potensi diri baik secara individual maupun secara kolektif.
 
Membandingkan keadaan kita dan Australia, barangkali di sinilah terletak kelebihan Australia. Dengan adanya syarat-syarat sebagai masyarakat sipil, Australia mampu mengembangkan segala potensi yang dia miliki, baik secara individual maupun sebagai suatu kolektif masyarakat. Individu dan kolektif tidak terjaring jala kekangan dan batasan. Di dalam dunia sastra-seni hal ini merupakan syarat utama yang yang tidak bisa dilakukan tawar-menawar. Tapi justru di bidang sastra-seni inilah di negeri kita terjadi banyak sekali pemasungan bahkan berlangsung ketika karya itu masih dalam rencana seperti halnya yang terjadi dengan rencana membuat filem tentang seorang ibu yang mencuri ayam karena didesak kemiskinan lantas dihukum penjara selama tiga bulan. Belum lagi pelarangan demi pelarangan yang ditimpakan kepada terutama terhadap para penulis dari Lembaga Kebudayaan Lekra [Lekra] yang secara organisasi dinyatakan masih terlarang sejak tahun 1965. Pelarangan terhadap karya-karya Pramoedya A. Toer pun sampai sekarang masih saja belum dicabut. Di samping adanya pelarangan formal, negeri kita masih mengenal batasan prasangka dan ketidak toleranan terhadap perbedaan dan keragaman yang bisa dipandang sebagai tekanan dan pagar psikhologis. 
 
Faktor lain yang berperan dalam perkembangan sastra Australia, barangkali bisa diperoleh pada kedekatannya dengan sastra Inggris dan Amerika. Kedekatan yang gampang dipahami karena tiga negeri tersebut sama-sama menggunakan bahasa Inggris sebagai sarana pengungkapan. Kedekatan ini selain memperlihatkan akrabnya karya-karya penulis kedua negeri tersebut seperti Walt Whitman, T.S. Eliot, untuk menyebut dua nama saja,  dengan para penulis Australia, ia pun nampak pada keadaan seperti yang ditunjukkan oleh Peter Craven dalam Kata Pengantar-nya bahwa sesudah membangun nama di Australia, tidak sedikit dari para penulis Australia yang lalu menetap atau tinggal di Inggris dalam rangka pengembangan diri lebih lanjut. Hal ini misalnya dilakukan oleh Peter Porter yang kemudian tinggal di London. Tingkat pendidikan penulis dan pembaca Australia pun saya kira turut memainkan peranan. Peter Craven bahkan sampai pada kesimpulan bahwa sastra Inggris "telah menyulut api kehidupan dari semak-semak hingga ke pantai-pantai Australia dan mendorong usaha perenungan diri".  
 
Hasil dari hidup berkembangnya masyarakat sipil dan kondisi demikian, tercermin juga melalui  buku "The Best Australian Poems 2003" yang disunting oleh Peter Craven. Antologi ini merupakan antologi pertama yang diterbitkan di Australia yang menghimpun karya-karya penyair kekinian Australia. Seluruhnya terdiri dari 38 orang penyair mencakup para penyair  terkemuka seperti Les Murray, David Malouf, Bruce Dave, Clive James, Robert Adamson, dan lain-lain... sampai kepada yang belum bernama atau sedang memulai karir sebagai penyair.
 
Untuk menyusun bungarampai pertama ini, Peter Craven tidak melepaskan perhatian terhadap para penulis yang baru memasuki dunia kepenyairan atau yang sedang membangun karir kepenyairan atau bahkan yang belum bernama sekalipun. Penyair-penyair jenis ini dipandang oleh Peter Craven sebagai the "'coming' voices" ["suara hari depan"] atau "the newer voices" [suara terbaru] Australia. Jika dalam antologi pertama puisi terbaik ini karya-karya mereka kurang terwakili, Peter Craven menjanjikan dalam edisi mendatang akan memberikan tempat kepada mereka. Melalui antologi ini yang direncanakan bersifat serial, Peter Craven ingin mencerminkan dunia puisi kekinian Australia yang dinilainya sebagai "very high level" [sangat tinggi tarafnya"] dan "sangat kaya". 
 
Pendapat Craven ini nampaknya bersambungan dengan pendapat kritikus sastra Frank Kermode yang mengatakan bahwa "setelah Perang Dunia II, nasib mujur telah jatuh ke tangan para penyair Australia. Pada saat tersebut, perpuisian Australia berada dalam keadaan jauh lebih baik dari dunia perpuisian Inggris". Craven selanjutnya berkata  bahwa "tanpa usah bersepakat dengan pendapat Frank Kermode, tapi adalah kenyataan bahwa puisi Australia memang sangat indah" sebagaimana diperlihatkan oleh para penyair Australia angkatan pertama seperti James McAuley dan A.D. Hope yang menjadi klasik serta menurun ke angkatan-angkatan berikutnya. Barangkali para pengamat sastra, editor dan kritisi sastra negeri kita patut merenungkan sikap dan politik edukatif Peter Craven ini untuk pengembangan sastra di negeri kita.
 
Sekalipun tanpa penjelasan yang rinci dan tanpa mengetengahkan dasar alasan, dalam Kata Pengantar-nya atas antologi ini, Peter Craven sepintas menggambarkan periodisasi perkembangan puisi Australia. Peter Craven memilah-milah pertumbuhan puisi Australia atas dasar dasawarsa. Misalnya ia menyebut Periode "bush balladeers" [yang barangkali setara dengan puisi rakyat di berbagai pulau di Indonesia] sebagai periode awal, kemudian adanya periode sesudah Perang Dunia II, di susul oleh periode 1950-'60, periode 1960-'70 yang melahirkan "raksasa-raksasa penyair"  seperti Gwen Harwood dan Vincent Buckley. Pada periode 1960-'70, secara sepintas juga menyebut adanya Angkatan Penyair '68 dengan tokoh utamanya penyair John Konsella.Seperti kita ketahui, pada periode ini di dunia telah terjadi tiga peristiwa besar yang mempunyai dampak dunia yaitu Tragedi Nasional September 1965 di Indonesia, Revolusi Besar Kebudayaan Proletar di Republik Rakyat Tiongkok [1967] dan Revolusi Mei 1968 di Perancis. Agaknya tiga kejadian besar ini sampai juga ke Australia. Penyair Angkatan '68 ini sangat dipengaruhi oleh pikiran-pikiran pemikir William Carlos Williams. 
 
Di samping itu Peter Craven juga menyebut adanya periode 1970-'80 dan angkatan penyair kekinian dan generasi pertama dengan tokoh seperti James McAuley dan A.D. Hope. Yang luput dari perhatian Peter Craven adalah sasta Aborigin Australia. Boleh jadi hal ini terjadi karena kekurangan-cermatan belaka.
 
Tema-tema yang diangkat oleh 38 penyair dalam bunga rampai ini pun sangat beragam. Kensella, tokoh utama Angkatan '68 misalnya sangat banyak mengangkat masalah masyarakat dan sekitarnya yang ia anggap sebagai "museum imajinasi yang diimpikan", sedangkan penyair Bruce Beaver menulis sanjak-sanjak pribadi dan otobiografis dengan tekhnik yang matang. Penyair Geoffrey Lehman melukiskan masalah keluarga. Tema matafisik didapat pada sanjak-sanjak Maiden, sementara penyair Robert Adamson menggunakan lambang-lambang alam untuk melakukan renungan-renungan. Soal politik, perang, terorisme dan bahkan soal fundamentalisme dan Peristiwa 11 September merupakan tema-tema yang banyak pula diangkat oleh para penyair Australia seperti Bruce Dave, Jennifer Maiden, Cronin, Geoff Page, Bruce Beaver. Dilihat dari masalah tema-tema yang diolah oleh para penyair, sangat beralasan jika Peter Craven menyebut bahwa karya-karya para penyair Australia memang merupakan salah satu cermin dari masyarakat Australia, dan akan lebih tercermin lengkap jika soal Aborigin ikut terangkat. Tema-tema ini tentu saja dituangkan dalam berbagai gaya dan cara yang sekaligus memperlihatkan keragaman bentuk ekspresi dunia perpuisian Australia.
 
Antologi "The Best Australian Poems 2003" merupakan introduksi yang menggerakkan rasa ingin kenal dan ingin tahu  lebih lanjut akan sastra,  khususnya dunia perpuisian Australia dan segala permasalahan yang dihadapinya serta bagaimana mereka menjawab permasalahan-permasalahan tersebut. Bunga rampai ini juga, terutama dari penyunting, kita bisa belajar bagaimana selayaknya bersikap dan bertindak untuk mendorong dan mengembangkan kekayaan yang dimiliki, terutama terhadap the "coming voices" dan "the newer voices" . Rasa ingin kenal dan ingin tahu ini akan lebih terangsang jika dalam Kata Pengantarnya, Peter Craven berbicara  lebih rinci dan sistematik. Barangkali hal ini kita dapatkan pada penerbitan serie berikutnya.
 
Paris, April 2004.
-----------------
JJ.KUSNI
 
 
 
 
 
 
 
 
 


Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)

website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke