fyi.

--- In [EMAIL PROTECTED], "la_luta" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
Subject:   Wilson- SUYAT:Biar Tak Sia-Sia Pengorbanannya" 
From:   "Wilson" <[EMAIL PROTECTED]> 
Date:   Vr, 26 maart, 2004 5:56 am 

Mungkin enam tahun sudah keliwat lama, tapi sampai seribu tahunpun 
Suyat wajib kita kenang sebagai sebuah monumen bagi perjuangan dan 
pengorbanannya. 


SUYAT:"Biar Tak Sia-Sia Pengorbanannya"

(Mengenang Enam Tahun Hilangnya Kawan Suyat, Maret 1998-Maret 2004)

Ayah bunga



Di jaman berjuang

Teringat anak laki-lakiku,

Dulu kurawat,

Sekarang entah dimana,

Katanya kalau sudah menang,

Terpenuhilah semua cita-cita
Dulu anaku pernah berjanji,

Apakah sekarang dia lupa,

Di gunung kuberi makan nasi jagung

Kupayungi caping gunung

Syukur bisa bertemu anaku lagi

Biar tak sia-sia pengorbanannya. 



*  Gesang  *

Kutipan lagu yang penuh romantisme perjuangan diatas adalah ciptaan 
Gesang dan lirik aslinya berbahasa Jawa. Lagu ini sering dilantunkan 
Paimin, ayah Suyat, sambil bekerja atau menghibur diri. Namun lagu 
itu kini menjadi ungkapan kesedihan yang dalam setelah anak 
bungsunya diculik oleh aparat militer dan tidak pernah diketahui
nasibnya sampai hari ini. "Terasa ada yang menyesak didada bila 
mendengar syairnya".
Namun dibalik kepedihan tersebut tersirat juga harapan agar apa yang 
terjadi pada anaknya tetap memberikan sumbangan bagi menegakan 
kebenaran dan keadilan, seperti lirik akhir lagu karya Gesang yang 
menjadi favoritnya "Biar tak sia-sia pengorbanannya." 

Keluarga Sederhana

Di sebuah rumah yang sangat sederhana, semua orang tampak sibuk 
bekerja mengolah kacang kedelai untuk menjadi tempe. Kerja keras 
adalah ritme kehidupan keluarga Suyat yang miskin untuk dapat terus 
hidup dari hasil keringat mereka sendiri.
Setelah itu, setiap subuh, Tumiyem, ibu Suyat, mengendarai sepeda 
tuanya menembus jalan desa menuju pasar membawa tempe yang mereka 
produksi kepasar. Pekerjaan ini sudah ia lakukan bertahun-tahun, dan 
dengan cara ini ia mampu menyekolahkan Suyat, anak bungsunya hingga 
kuliah di Universitas Slamet Riyadi, Surakarta. Dari keluarga
yang sangat sederhana inilah Suyat tumbuh dan berkembang.

 Suyat lahir pada tanggal 1 Oktober 1975 di desa Banjarsari, 
Kecamatan Gemolon, Sragen, Jawa Tengah. Ia anak bungsu dari empat 
bersaudara dari orangtua yang sederhana, bapak Paimin dan Ibu 
Tumiyem. Kedua orangtuanya hidup dari sepetak sawah kecil yang tidak 
mencukupi dan memproduksi tempe yang melibatkan seluruh anggota
keluarga dirumahnya yang sangat sederhana dan sebagian besar masih 
berdinding kayu.
Ketika Suyat sudah kuliah dan sibuk sebagai anggota SMID cabang Solo 
dan PRD ia menyempatkan diri membantu membuat tempe jika pulang 
kerumah. Karena itu tidak heran bila ia kembali ketempat kost 
sepulang dari desa, Suyat selalu membawa banyak tempe sebagai hadiah 
untuk kawan-kawannya.

 Orangtuanya tidak begitu paham aktivitas politik Suyat yang 
sebenarnya, tapi mereka mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan 
Suyat karena yakin bertujuan baik dan benar. Tumiyem hanya 
mengetahui bahwa Suyat memperjuangkan agar rakyat bisa
sekolah dan dapat pengobatan gratis. "Sehingga semua orang bisa 
sekolah, dan yang sakit bisa di obati bukan karena dia kaya." 
Menurut salah seorang kawannya, Suyat tampaknya sadar dengan 
pilihannya untuk berpolitik dengan PRD yang kiri dan radikal.
"Suyat sudah sampai pada sebuah kesadaran bahwa pilihannya untuk 
berpolitik melawan penguasa pasti berbuah resiko; DO dari kuliah, 
bahkan nyawa!"2 (Wawancara dengan Nuraini, aktivis PRD, 2 Mei 2002)

 Ketiga kakaknya tidak bersekolah, dan hanya Suyat yang melanjutkan 
kuliah hingga keperguruan tinggi. Meskipun susah, kedua orangtuanya 
selalu menyisihkan uang untuk Suyat agar bisa terus melanjutkan 
kuliah. "Setiap kami punya uang, aku teringat anakku karena dialah 
yang paling sering meminta uang. Karena seringnya, kalau anakku 
pulang aku berseloroh, bank tilik datang, "ujar bapak Paimin. 



Menjadi Aktivis Mahasiswa

Kota Surakarta dikenal sebagai basis radikalisme kaum pergerakan 
dari jaman kolonial dahulu. Di kota ini muncul figur karismatik 
seperti Haji Misbach, Mas Marco Kartodikromo, dan 
Tjiptomangunkusumo. Di tahun l950-an dan l960-an Suratkarta juga
dikenal sebagi basis kuat dari PKI. Jadi tidak heran, dibalik 
suasana romantis lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang, ternyata ribuan 
nyawa para simpatisan PKI hanyut disungai ini pada tahun-tahun 
berdarah 1965-1966.

 Di jaman Orde Baru, gerakan mahasiswa di kota Solo melahirkan 
gerakan radikal yang kemudian menjadi SMID cabang Surakarta dan PRD 
cabang Surakarta. Konsolidasi unsur radikal gerakan mahasiswa di 
kota ini tidak dapat dipiahkan dari pembentukan Ikatan
Mahasiswa Solo (IMS) pada awal tahun 1990-an, sebagai hasil dari 
aksi-aksi menolak pembangunan waduk Kedung Ombo. IMS merupakan 
sebuah wadah antar kampus yang giat melakukan pendidikan politik dan 
aksi-aksi, baik didalam kampus, maupun mendukung perlawanan-
perlawanan rakyat. Sejak bulan Agustus 1994, sebagai hasil dari 
Kongres SMID yang pertama di Cisarua, Jawa Barat, IMS mengubah 
namanya menjadi SMID Cabang Solo.

 Suyat masuk menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik 
Universitas Slamet Riyadi (UNS) angkatan l995. Di dalam kampus Suyat 
merasa tidak kerasan dengan berbagai kuliah dan teori politik yang 
ia anggap tidak melakukan hal-hal kongkrit untuk membantu kehidupan 
rakyat. Ia juga tidak tertarik dengan organisasi mahasiswa
kelompok Cipayung yang elitis dan tidak pernah turun langsung 
membela rakyat. 

Suyat justru lebih tertarik untuk ikut dalam berbagai aksi dikampus 
UNS yang di lakukan oleh berbagai komite aksi dan SMID cabang Solo. 
Aksi-aksi untuk menuntut reformasi jauh menarik hatinya ketimbang 
duduk di dalam kelas. Saat itu UNS menjadi basis inti dari SMID 
cabang Solo. Karena itu tidak heran pada semester pertama ia
sudah aktif dalam kegiatan yang diorganisir oleh SMID cabang Solo 
dan leih sering kontak dan mampir kesekertariat SMID. 

Dari Aksi ke Aksi

Salah satu ciri penting dari pertengahan tahun 1990-an adalah mulai 
maraknya aksi-aksi rakyat diberbagai sector, dari yang ekonomis 
hingga kepolitis.
Tuntutan-tuntutan aksi ini telah memaksa pemmerintah Orba melakukan 
apa yang mereka sebut dengan 'keterbukaan'. 

 

Ketika pemerintah Orba melakukan 'keterbukaan' secara terpaksa, 
akibat tekanan-tekanan dari aksi-aksi massa, Gerakan mahasiswa tahun 
1990-an boleh dikatakan sebagai pelopor untuk mendobrak kebekuan dan 
kebuntuan politik yang selama ini terjadi. Dan salah satu pelaku 
penting dlam gerakan mahasiswa ekstra parlementer saat itu adalah 
SMID, yang dideklarasikan di Jakarta pada bulan Agustus 1994. 

 Salah satu taktik SMID yang paling penting adalah mendorong aksi-
aksi sebanyak mungkin dikampus dan disektor-sektor rakyat. Sebab 
aksi menjadi sebuah latihan penting bagi mahasiswa dan rakyat agar 
berani keluar dari perangkap dan rambu-rambu ketakutan yang selama 
ini dijeratkan di leher mereka oleh Orba. Aksi juga menjadi
taktik yang jitu untuk melakukan konsolidasi organisasi. Karena itu 
tidak heran bila SMID terlibat aktif dalam aksi-aksi membela hak-hak 
sosil-politik kaum tani, kaum buruh dan mahasiswa. Dalam program 
politik, SMID mempunyai dua tuntutan utama yan penting bagi proses 
demokrasi yaitu pencabutan Dwi Fungsi TNI dan pencabutan paket 5 UU 
Politik 1985 yang mengebiri hak-hak dasar manusia untuk mengemukakan
pendapat dan berorganisasi. 

 Titik penting dalam sejarah radikalisme Suyat adalah ketika ia 
mengikuti aksi pendudukan Kedutaan Belanda di Jakarta pada tanggal 7 
Desember 1995. Aksi ini merupakan aksi gabungan SMID, SPRIM, PRD dan 
para pemuda Timor-Timur untuk menuntut referendum di Timtim dibawah 
pengawasan PBB. Suyat datang bersama rombongan mahaiswa SMID dari 
Solo dan ditempatkan di jalan Margonda Depok. Saat aksi ini
,Suyat baru menjadi anggota SMID, dan tampaknya ia tidak begitu 
memahami tujuan aksi tersebut. Hal ini dapat dimaklumi, karena 
memang scenario aksi yang disosialisasikan adalah aksi hari HAM, 10 
Desember di Jakarta. Kerahasian ini penting, karena kita tidak mau 
rancana aksi bocor, sehingga sulit untuk melompat kedalam kedutaan 
yang menjadi target kampanye.

 Ketika aksi di kedutaan berlangsung, tiba-tiba saja ratusan preman 
yang diorganisir oleh militer masuk menyerbu kedalam kedutaan. 
Selain melukai beberapa orang peserta aksi yang berhamburan naik 
kelantai dua gedung kedutaan, para preman tsb juga memukuli atase 
politik dan kedubes Belanda. Suyat termasuk salah seorang yang
terluka ditangannya, terkenal pukulan balok kayu dari para preman. 
Namun pukulan itu tidak membuatnya takut, ia malah ikut dalam tim 
sekuriti yang kami buat untuk menghadapi para preman yang siap 
menyerbu kapan saja.

 Pada hari ketiga, 9 Desember 1995, ratusan polisi menyerbu masuk 
kedalam kedutaan dan menangkapi seluruh aktivis, termasuk Suyat. 
Kami lalu digelandang ke Polres Jakarta Selatan di Kebayoran Baru. 
Setelah diintrogasi selama 24 jam, kami dibebaskan pada tanggal 10 
Desember 1995. Sebagai mahasiswa baru dan anggota baru SMID ternyata 
Suyat menunjukan ketahanan mental yang luar biasa. Semula banyak yang
menduga, ia akan mengalami down dan kapok untuk aksi lagi dengan 
SMID. Ternyata dialektika yang terjadi sungguh berlainan, represi 
yang dialaminya justru makin menumbukan keberanian dan kebencian 
pada militer yang menangkapnya. Terbukti, aksi-aksi radikal akan 
menghasilkan aktivis yang radikal. 

 Keluar dari Polres Jakarta Selatan, para aktivis dari SMID Solo, 
termasuk Suyat langsung kembali ke Surakarta hari itu juga. Sebab, 
keesokan harinya, tanggal 11 Desember 1995 akan terjadi pemogokan 
umum di pabrik tekstil dan garmen PT Sritex yang dimiliki ibu Tien 
Soeharto dan yayasan Kopassus. Aksi ini akan melibatkan 14 ribu 
orang buruh, aktivis SMID dan PPBI. Ratusan mahasiswa SMID sudah 
bergabung dengan buruh sejak dua hari sebelumnya. Mereka berbaur 
dengan buruh untuk menyiapkan aksi tersebut. 

 Aksi dimulai pada pagi hari. Aparat militer yang mengetahui 
pemogokan berusaha memecah belah peseta aksi dengan melakukan 
pemukulan dan penangkapan-penangkapan.
Salah seorang yang paling parah adalah Wiji Thukul, pimpinan Jaker 
yang harus kehilangan sebelah matanya karena terkena popor senapan. 
Salah seorang aktivis yang tertangkap di sini adalah Herman 
Hendrawan, aktivis SMID Surabaya, yang dikemudian hari juga diculik 
oleh Kopassus bersama-sama Suyat dan masih menghilang sampai
sekarang.

 Suyat kembali ditangkap oleh aparat ketika terlibat dalam aksi 
gabungan 10 pabrik di Tandes, Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 8 
juli 1996 yang diorganisir oleh PPBI dan SMID. Saat itu para buruh 
yang bergerak menuju pusat kota dihadang diberbagai jalan. Para 
aktivis mahasiswa yang terlibat dalam aksi dipukuli dan ditangkapi,
salah seorang diantaranya adalah Suyat sendiri. Suyat bersama para 
aktivis lainnya diintrogasi dan ditahan di Poltabes Surabaya. 

 Keesokan harinya ia bersama beberapa aktivis mahasiswa dibebaskan, 
tapi tiga orang pimpinan aksi, Dita Sari, Sholeh dan Coen Husen 
Pontoh ditahan dan kemudian dikenakan pasal-pasal anti subversi. 
Setelah dibebaskan Suyat tampak tetap bersemangat dalam rapat 
evalusi aksi. " Suyat aku lihat sempat berdebat dengan
seorang kawan tentang kajadian penangkapan dan pemblokiran jalan 
yang dilakukan oleh aparat militer, setelah itu ia membicarakan 
kembali peristiwa yang dialami selama proses aksi hingga terjadinya 
penangkapan, seakan-akan peristiwa pemukulan dan penahanan bukan hal 
yang menakutkan bagi dirinya. " 3 

 Terus Melawan

Pada tahun 1993, Munas PDI di Surabaya gagal memilih calon yang 
didukung militer karena gerakan arus bawah dari DPC-DPC menuntut 
Megawati Soekarnoputri, putri Bung Karno sebagai Ketua Umum PDI yang 
baru menggantikan Suryadi. Sejak saat itu militer mendalangi 
berbagai skenario kotor agar Megawati bisa digulingkan dari 
kepemimpinan PDI. Sejak tahun 1995 konflik antara PDI Megawati dan 
militer menjadi semakin terbuka, ketika pihak militer merekayasa 
pelaksanaan Kongres Medan dengan menaikan Suryadi sebagai Ketua Umum 
PDI boneka militer

 PRD dengan SMID, merespon pengulingan Megawati dan gerakan arus 
bawah yang semakin meluas dengan memberikan dukungan pada 
kepemimpinan PDI Megawati. Di berbagai kota PRD dan SMID menggalang 
berbagai aksi dan koalisi dengan para pendukung PDI Megawati untuk 
menolak Kongres Medan. Konflik yang semula hanya urusan internal PDI
telah berubah menjadi konflik terbuka antara rakyat melawan militer 
Orde Baru.
Berbagai aksi massa ribuan orang terjadi dimana-mana menentang 
Kongres Medan. 

 Ditingkat nasional PRD berinisiatif membangun MARI (Majelis Rakyat 
Indonesia) yang merupakan front poliitik dari gerakan demokratik 
untuk mendukung perjuangan massa pendukung Megawati menentang 
kekuasaan Orba. Suyat terlibat dalam berbagai aksi di Solo untuk 
mendukung PDI pimpinan Megawati. Bahkan di desanya, Suyat dikenal
sebagai koordinator pemuda PDI untuk menentang Kongres Medan dan 
penguasa Orba. Ia melakukan diskusi, membagikan selebaran pada para 
pemuda didesanya serta kepada para kawan SMA di desa dulu. Pokoknya, 
setiap kali Suyat kembali kedesa, ia mengumpulkan para pemuda PDI 
dirumahnya, membagikan selebaran dan mengadakan diskusi tentang 
situasi politik nasional dan langkah-langkah apa saja yang harus
dilakukan oleh rakyat.

 Pada tanggal 27 Juli 1996 pihak militer dengan dukungan para preman 
bayaran dan PDI Surjadi menyerbu kantor DPP PDI Megawati di Jl. 
Diponegoro yang sudah hampir dua bulan menjadi "Panggung Demokrasi". 
Tanggal 29 Juli 1996 diadakan pertemuan koordinasi antara ABRI, 
Kejagung, Bakin, BIA, Bakorstanas dan Menkopolkam dengan
Presiden Soeharto. Malamnya, Menkopolkam Jendral (purn) Soesilo 
Soedarman mengumumkan bahwa PRD adalah organisasi yang harus 
bertanggung jawab terhadap kerusuhan yang terjadi paska perebutan 
kantor DPP PDI. Tuduhan ini tidak pernah terbukti. Karena dikemudian 
hari Tim Gabungan Pencari Fakta dari Komnas HAM justru menunjukan 
bahwa penyerbuan yang didalangi oleh militer yang menjadi penyulut
kerusuhan.

 Sejak keluarnya pengumumum resmi tersebut seluruh pimpinan PRD dan 
ormas-ormas yang berafiliasi menjadi target penangkapan. Militer 
mendatangi, menyita dan menangkapi para aktivis diberbagai cabang 
PRD, SMID dan PPBI. Kantor SMID dan PRD cabang Solo langsung 
didatangi oleh aparat militer untuk menangkapi para aktivis SMID dan
menyita berbagai dokumen organisasi. Bahkan sebagai bagian dari 
kampanye militer untuk menfitnah PRD disebarkan gambar-gambar yang 
menurut mereka adalah pertemuan antara Rewang, mantan Tapol PKI 
dengan para aktivis SMID dan PRD di Solo. Suyat sendiri setelah 
kejadian itu bersembunyi diberbagai tempat di kota Solo dan
sesekali pulang kekampungnya. Upaya penyelamatan diri yang juga 
dilakukan oleh banyak kawan-kawan PRD dan SMID diberbagai kota di 
Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

Pada tanggal 11 Agustus 1996 Budiman Sudjatmiko dan para pimpinan 
PRD lainnya ditangkap di Bekasi. Namun kepemimpinan partai tidaklah 
lumpuh. Para pimpinan SMID dipusat dan daerah-daerah yang tidak 
tertangkap terus bergerilya dalam berbagai komite aksi dan aliansi-
aliansi politik yang lebih luas. 

 Tertangkapnya Budiman dan para pimpinan lainnya tidak menghentikan 
perlawanan dan jaringan PRD. PRD terus bergerak di bawah tanah 
dibawah kepemimpinan kolektif Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat 
Demokratik. Suyat pindah ke Jakarta dan langsung di bawah koordinasi 
KPP PRD. Di Jakarta ini ia terlibat dalam penyebaran selebaran dan 
aksi-aksi massa menjelang pemilu 1997 dengan apa yang disebut Koalisi
Mega Bintang Rakyat, bersama para korban lainnya yang juga belum 
ditemukan Herman Hendrawan dan Bimo Petrus. 

Skenario Penculikan

Skenario penculikan atas Suyat adalah suatu grand design dari pihak 
militer untuk menghancurkan gerakan demokrasi dan mengamamkan 
kediktatoran Soeharto yang mulai melemah legitimasinya. Dalam 
scenario besar tersebut, PRD tetap dijadikan kambing hitam utama 
untuk kemudian menyasar pada individu dan kelompok yang dianggap
berseberangan atau tidak disukai oleh Soeharto.

 Kekuatiran rezim Orba pada gerakan massa yang mulai bangkit kembali 
paska tragedy 27 Juli 1996 mengambil bentuk nyata dalam kampanye 
pemilu 1997. Ketika itu aksi-aksi Koalisi Mega-Bintang-Rakyat 
berhasil memobilisasi puluhan ribu massa di Jakarta dengan tuntutan-
tuntutan politik yang makin radikal. Pihak militer sudah mencium 
bahwa ada suatu gerakan yang memanfaatkan momentum kampanye pemilu 
1997 untuk menentang kediktatoran. Dengan bukti-bukti selebaran yang 
ditempel dan disebarkan secara luas di berbagai tempat umum di 
Jakarta, pihak militer menyatakan bahwa PRD ada dibalik aksi-aksi 
tersebut dengan merujuk pada tuntutan di selebaran yang menuntut 
penghapusan Dwi Fungsi ABRI dna Pencabutan paket 5 UU Politik. Dua
tuntutan demokratis yang sangat identik dengan PRD dalam setiap aksi 
dan propagandanya.

 Dan scenario itu mendapatkan bentuk kongkritnya ketika terjadi 
ledakan di rumah susun Tanahtinggi pada bulan Januari 1998. Ledakan 
ini terjadi dua bulan menjelang dilangsungkannya Sidang Umum MPR 
untuk memilih Soeharto menjadi presiden ke tujuh kalinya.

 Dari kejadian Tanahtinggi ini kemudian dibangunlah sebuah skenario 
seolah-olah PRD dan CSIS melalui Jendral Beny Moerdani dan Sofjan 
Wanadi sedang mencoba menggoyang kekuasaan Soeharto. Untuk 
membenarkan dugaan tersebut pihak militer menyodorkan beberapa 
dokumen yang menurut mereka ditemukan di lokasi peledakan. Tim 
Pemburu fakta yang melakukan investigasi dalam kasus penculikan 
dengan tegas menyatakan bahwa dokumen tersebut palsu. " Mengapa bisa 
terbukti dokumen itu palsu? Ternyata ada kesalahan yang sangat 
mendasar dalam penyusunan dokumen tersebut. Nama anggota
PRD yang dikutip di dalamnya, salah tulis. Mungkinkah sebuah 
organisasi skala kecil macam PRD, tidak tahu pasti nama anggota-
anggotanya?" (Misteri Penculikan Para Aktivis, hlm 10). 

 Secara politik dokumen itu juga sangat meragukan. Karena PRD 
sendiri jelas-jelas tidak mendukung salah satu faksi dari elit 
kekuasaan atau didalam tubuh militer.
Dan dalam program PRD jelas-jelas menyatakan mereka menuntut 
pencabutan Dwi Fungsi ABRI dengan segala manifestasinya. Menurut PDD 
Jendral Beny Moerdani harus mempertanggungjawabkan pelanggaran Ham 
kelas berat ketika ia masih menjadi jendral aktif. Bahkan dapat 
dikatakan secara politik Beny Moerdani, Sofjan Wanandi dan CSIS
dapat dimasukan sebagai lawan-lawan dari PRD. Sementara Budiman 
Sudjatmiko yang kemudian juga didatangi oleh Polda di LP Cipinang 
selalu menyatakan bahwa PRD berjuang tidak dengan cara-cara 
terorisme dan kekerasan tetapi melalui gerakan massa secara damai.

 Berdasarkan dokumen palsu tersebut para aktivis PRD lalu menjadi 
target penangkapan polisi dan penculikan Tim Mawar dari Kopassus. 
Komandan Korps Reserse Mabes Polri,Mayjen Nurfaizi mengaku sedang 
mengincar Andi Arief bersama empat aktivis lainnya yaitu Fonny 
Fraisir, Prayogo, Margiono, Daniel dan Suyat. " Keempatnya masih
diburu; terkait langsung dengan kasus meledaknya bom rakitan di 
rumah susun Tanahtinggi, Jakarta Pusat" (Misteri Penculikan Aktivis; 
Siapa Dalang Prabowo; Tim Pemburu Fakta, Jakarta, September 1998, 
hlm7). 

 Berdasarkan dokumen palsu tersebut Tim Pemburu fakta 
berkesimpulan " Suyat di culik karena dipercaya bahwa ia ada 
hubunganya dengan kasus meledaknya bom di kompleks rumah sususn 
Tanahtinggi, pada 18 januari 1998." (Misteri Penculikan Aktivis, hlm
34). Namun yang menangkap Suyat, ternyata bukanlah kepolisian, 
tetapi satuan Kopasus yang menamakan dirinya Tim Mawar dan di bawah 
komando Mayjen Prabowo.
Kepastian bahwa Suyat menjadi operasi dari Tim Mawar bisa dilacak 
dari pernyataan Mayjen Praobowo sendiri yang membenarkan adanya 
penanganan aktivis oleh Kopassus.
Kepada wartawan ia tetap konsisten dengan scenario dokumen palsu 
Tanahtinggi dengan menyatakan "Kalian tahu orang yang berencana 
merakit bom?".

 Jelas sudah penculikan aktivis PRD berhubungan dengan pertarungan 
dilingkaran internal elit yang anti Beny dan CSIS dan keinginan 
untuk menghancurkan gerakan rakyat yang mulai bersemai kembali. 
Kedua target ini menjadi legitimasi dari menantu Soeharto, Mayjen 
Prabowo yang saat itu menjadi komandan Kopassus untuk melakukan 
operasi inteljen membersihkan PRD dan mencari-cara bukti hubungan
diantara PRD dengan grup CSIS tersebut. Karena itu tidak heran dalam 
pengakuan para aktivis PRD yang kemudian dibebaskan seperti Andi 
Arief, faisol Reza dan Waluyo Jati, hubungan PRD dengan Jendral Beny 
Moerdani dan Sofjan Wanandi selalu dikejar dan dicari fakta-faktanya 
melalui serangkaian penyiksaan. 

Penculikan Suyat

Mejelang Sidang Umum DPR MPR di bulan Maret 1998, militer 
mengorganisir suatu perang kotor untuk menculik para aktivis yang 
menentang kediktatoran Soeharto. Dan menurut pemahaman militer PRD 
adalah target utama yang harus dihabisi untuk mengamankan kekuasaan 
Soeharto yang telah tujuh kali diangkat menjadi presiden. Kontras
membenarkan bahwa penculikan aktivis yang salah satu korbannya 
adalah Suyat bertalin dengan pengamanan Sidang Umum MPR 1998. Dan 
menurut kesimpulan Kontras "para penculik merupakan sebuah kekuatan 
terkendali, dan punya kemampuan politik cukup kuat untuk 
mempertahankan kekuasaan dengan cara-cra kekerasan". (Misteri 
Penculikan Aktivis, 1998, hlm 8)

 Malam hari, 12 Februari 1998 , puluhan polisi dan intel yang 
mengaku dari Polres Sragen mendatangi rumah Suyat yang sederhana di 
desa Banjarsari. Target operasi hari itu adalah hendak menangkap 
Suyat. Tapi Suyat tidak mereka temukan didalam rumah. Karena memang 
Suyat jarang pulang kerumah, apalagi setelah peristiwa 27 Juli
1996, dimana PRD dan SMID dituduh sebagai dalang kerusuhan dan resmi 
menjadi organisasi terlarang. 

 Tanpa menunjukan surat-surat resmi dan dengan kasar mereka 
menangkap kakak Suyat yang bernama Suyatno. Ia lalu dibawa kesuatu 
tempat dengan mata ditutup kain hitam.
Setelah dipukuli dan disiksa semalaman akhirnya ia memberikan alamat 
teman Suyat yang ia tahu secara sembarang saja. " Saat diintrogasi 
aparat, aku dipaksa menyebutkan dimana adikku, aku katakan tidak 
tahu, tapi mereka menghajarku dan mengancam akan membawa satu 
persatu anggota keluargaku. Akhirnya aku katakan kalau Suyat ada di 
rumah temannya, dan tak pernah kusangka Suyat memang benar ditempat
itu." Ujar Suyatno.

 Pada awalnya ibu Suyat Tumiyem sangat terpukul dengan penangkapan 
Suyat tersebut.
"Setelah penggerebegan, aku tidak berani keluar rumah.malu. Dan 
hampir satu bulan aku tidak dapat bekerja. Di kampung kami kalau 
orang diambil aparat pasti karena mencuri, tapi anakku mencuri apa? 
Setelah beberapa bulan kemudian berita tentang anakku muncul 
ditelevisi. Semenjak itu orang-orang di kampung kami paham."
Sementara Paimin, ayah Suyat memilih untuk menyibukan diri dengan 
bekerja untuk melupakan kesedihannya yang dalam. "Hampir tiap hari 
penuh kami bekerja, kerja merupakan hiburan kami daripada 
ngelangut." Tapi Suyatno, meskipun menyibukan diri dengan pekerjaan 
seperti yang dikatakan ayahnya, tetap tidak dapat melupakan semua
kajadian. "Di tengah kerjaku, kadang aku merasa nyesek dan kesal."

 Sejak penangkapan itu Suyat seperti hilang tak berbekas. Ternyata 
operasi inteljen dari Kopassus tersebut juga menangkap para aktivis 
PRD lainnya. Dari semua yang diculik tersebut, Suyat, Bimo Petrus, 
Herman Hendrawan dan Wiji Thukul ternyata tidak pernah kembali. 
Beberapa kesaksian dari para korban penculikan ketika di tahan dalam 
sel bawah tanah mengatakan bahwa Suyat pernah ditahan ditempat
tersebut. Menurut kesaksian Waluyo Jati, salah seoarng aktivis yang 
beruntung dibebaskan, ia mengetahui tentang Suyat justru dari salah 
seorang introgatornya. "
Seorang introgator menyatakan telah mengambil Suyat di Solo. Aku 
mencoba mengingat pemilik suara itu. Mataku ditutup kain hitam, dan 
si introgator mengaku pernah bertemu denganku di rumah yang 
dikontrak Suyat. Memang saat itu aku diajak ngobrol seorang yang 
mengaku kontrak disebelah rumah kontrakan Suyat."

 Hal lain yang terasa ganjil dalam kasus Suyat adalah ternyata para 
penculiknya sudah berminggu-minggu mengawasi rumah kontrakan Suyat. 
Para penculik seperti menanti munculnya orang-orang yang menjadi 
target utama mereka ketempat tersebut.
Dan kemungkinan besar yang mereka incar adalah kehadiran Andi Arief, 
yang ternyata berada di Lampung untuk berobat ditempat kakaknya. 
Sampai Sidang Umum berlangsung ternyata Andi Arief tidak pernah 
tertangkap, karena itu pihak militer memilih untuk menggunakan cara 
teror untuk memaksa para aktivis PRD mengatakan tempat
persembunyian Andi Arief. Dan Suyat bersama beberapa aktivis yang 
menurut para penculik mengetahui keberadaan Andi Arief diculik, 
disiksa dan dihilangkan secara paksa.

 Sejak penangkapan Suyat di Solo tersebut, ia tidak dapat ditemukan 
kembali. Namun pangakuan dari korban penculikan yang dibebaskan 
dapat memastikan, bahwa Suyat memang menjadi target operasi Kopassus 
melalui Tim Mawar . Dan tidak ada jalan lain, untuk mengetahui 
keberadaan Suyat dan aktivis lainnya yang masih menghilang,
anggota Tim Mawar dan Letjen (Purn) Prabowo harus kembali diperiksa 
dan dimintai pertanggungjawabanya. Untuk itu sebuah KPP Ham 
penculikan harus dibuat untuk menggali keterangan dari para pelaku 
penculikan dari pelaku di lapangan hingga hirarki tertinggi yang 
memberi komando.

--- End forwarded message ---





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~-->
Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark
Printer at MyInks.com.  Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada.
http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511
http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/IotolB/TM
---------------------------------------------------------------------~->

Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung ! 
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, 
gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang 
membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di 
[EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan 
kirim email kosong ke :
 [EMAIL PROTECTED] (langganan)
 
website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
 ( underconstructions) 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
     http://groups.yahoo.com/group/jaker/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
     [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
     http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke