fyi. --- In [EMAIL PROTECTED], "la_luta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Subject: Wilson- SUYAT:Biar Tak Sia-Sia Pengorbanannya" From: "Wilson" <[EMAIL PROTECTED]> Date: Vr, 26 maart, 2004 5:56 am
Mungkin enam tahun sudah keliwat lama, tapi sampai seribu tahunpun Suyat wajib kita kenang sebagai sebuah monumen bagi perjuangan dan pengorbanannya. SUYAT:"Biar Tak Sia-Sia Pengorbanannya" (Mengenang Enam Tahun Hilangnya Kawan Suyat, Maret 1998-Maret 2004) Ayah bunga Di jaman berjuang Teringat anak laki-lakiku, Dulu kurawat, Sekarang entah dimana, Katanya kalau sudah menang, Terpenuhilah semua cita-cita Dulu anaku pernah berjanji, Apakah sekarang dia lupa, Di gunung kuberi makan nasi jagung Kupayungi caping gunung Syukur bisa bertemu anaku lagi Biar tak sia-sia pengorbanannya. * Gesang * Kutipan lagu yang penuh romantisme perjuangan diatas adalah ciptaan Gesang dan lirik aslinya berbahasa Jawa. Lagu ini sering dilantunkan Paimin, ayah Suyat, sambil bekerja atau menghibur diri. Namun lagu itu kini menjadi ungkapan kesedihan yang dalam setelah anak bungsunya diculik oleh aparat militer dan tidak pernah diketahui nasibnya sampai hari ini. "Terasa ada yang menyesak didada bila mendengar syairnya". Namun dibalik kepedihan tersebut tersirat juga harapan agar apa yang terjadi pada anaknya tetap memberikan sumbangan bagi menegakan kebenaran dan keadilan, seperti lirik akhir lagu karya Gesang yang menjadi favoritnya "Biar tak sia-sia pengorbanannya." Keluarga Sederhana Di sebuah rumah yang sangat sederhana, semua orang tampak sibuk bekerja mengolah kacang kedelai untuk menjadi tempe. Kerja keras adalah ritme kehidupan keluarga Suyat yang miskin untuk dapat terus hidup dari hasil keringat mereka sendiri. Setelah itu, setiap subuh, Tumiyem, ibu Suyat, mengendarai sepeda tuanya menembus jalan desa menuju pasar membawa tempe yang mereka produksi kepasar. Pekerjaan ini sudah ia lakukan bertahun-tahun, dan dengan cara ini ia mampu menyekolahkan Suyat, anak bungsunya hingga kuliah di Universitas Slamet Riyadi, Surakarta. Dari keluarga yang sangat sederhana inilah Suyat tumbuh dan berkembang. Suyat lahir pada tanggal 1 Oktober 1975 di desa Banjarsari, Kecamatan Gemolon, Sragen, Jawa Tengah. Ia anak bungsu dari empat bersaudara dari orangtua yang sederhana, bapak Paimin dan Ibu Tumiyem. Kedua orangtuanya hidup dari sepetak sawah kecil yang tidak mencukupi dan memproduksi tempe yang melibatkan seluruh anggota keluarga dirumahnya yang sangat sederhana dan sebagian besar masih berdinding kayu. Ketika Suyat sudah kuliah dan sibuk sebagai anggota SMID cabang Solo dan PRD ia menyempatkan diri membantu membuat tempe jika pulang kerumah. Karena itu tidak heran bila ia kembali ketempat kost sepulang dari desa, Suyat selalu membawa banyak tempe sebagai hadiah untuk kawan-kawannya. Orangtuanya tidak begitu paham aktivitas politik Suyat yang sebenarnya, tapi mereka mendukung sepenuhnya apa yang dilakukan Suyat karena yakin bertujuan baik dan benar. Tumiyem hanya mengetahui bahwa Suyat memperjuangkan agar rakyat bisa sekolah dan dapat pengobatan gratis. "Sehingga semua orang bisa sekolah, dan yang sakit bisa di obati bukan karena dia kaya." Menurut salah seorang kawannya, Suyat tampaknya sadar dengan pilihannya untuk berpolitik dengan PRD yang kiri dan radikal. "Suyat sudah sampai pada sebuah kesadaran bahwa pilihannya untuk berpolitik melawan penguasa pasti berbuah resiko; DO dari kuliah, bahkan nyawa!"2 (Wawancara dengan Nuraini, aktivis PRD, 2 Mei 2002) Ketiga kakaknya tidak bersekolah, dan hanya Suyat yang melanjutkan kuliah hingga keperguruan tinggi. Meskipun susah, kedua orangtuanya selalu menyisihkan uang untuk Suyat agar bisa terus melanjutkan kuliah. "Setiap kami punya uang, aku teringat anakku karena dialah yang paling sering meminta uang. Karena seringnya, kalau anakku pulang aku berseloroh, bank tilik datang, "ujar bapak Paimin. Menjadi Aktivis Mahasiswa Kota Surakarta dikenal sebagai basis radikalisme kaum pergerakan dari jaman kolonial dahulu. Di kota ini muncul figur karismatik seperti Haji Misbach, Mas Marco Kartodikromo, dan Tjiptomangunkusumo. Di tahun l950-an dan l960-an Suratkarta juga dikenal sebagi basis kuat dari PKI. Jadi tidak heran, dibalik suasana romantis lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang, ternyata ribuan nyawa para simpatisan PKI hanyut disungai ini pada tahun-tahun berdarah 1965-1966. Di jaman Orde Baru, gerakan mahasiswa di kota Solo melahirkan gerakan radikal yang kemudian menjadi SMID cabang Surakarta dan PRD cabang Surakarta. Konsolidasi unsur radikal gerakan mahasiswa di kota ini tidak dapat dipiahkan dari pembentukan Ikatan Mahasiswa Solo (IMS) pada awal tahun 1990-an, sebagai hasil dari aksi-aksi menolak pembangunan waduk Kedung Ombo. IMS merupakan sebuah wadah antar kampus yang giat melakukan pendidikan politik dan aksi-aksi, baik didalam kampus, maupun mendukung perlawanan- perlawanan rakyat. Sejak bulan Agustus 1994, sebagai hasil dari Kongres SMID yang pertama di Cisarua, Jawa Barat, IMS mengubah namanya menjadi SMID Cabang Solo. Suyat masuk menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Slamet Riyadi (UNS) angkatan l995. Di dalam kampus Suyat merasa tidak kerasan dengan berbagai kuliah dan teori politik yang ia anggap tidak melakukan hal-hal kongkrit untuk membantu kehidupan rakyat. Ia juga tidak tertarik dengan organisasi mahasiswa kelompok Cipayung yang elitis dan tidak pernah turun langsung membela rakyat. Suyat justru lebih tertarik untuk ikut dalam berbagai aksi dikampus UNS yang di lakukan oleh berbagai komite aksi dan SMID cabang Solo. Aksi-aksi untuk menuntut reformasi jauh menarik hatinya ketimbang duduk di dalam kelas. Saat itu UNS menjadi basis inti dari SMID cabang Solo. Karena itu tidak heran pada semester pertama ia sudah aktif dalam kegiatan yang diorganisir oleh SMID cabang Solo dan leih sering kontak dan mampir kesekertariat SMID. Dari Aksi ke Aksi Salah satu ciri penting dari pertengahan tahun 1990-an adalah mulai maraknya aksi-aksi rakyat diberbagai sector, dari yang ekonomis hingga kepolitis. Tuntutan-tuntutan aksi ini telah memaksa pemmerintah Orba melakukan apa yang mereka sebut dengan 'keterbukaan'. Ketika pemerintah Orba melakukan 'keterbukaan' secara terpaksa, akibat tekanan-tekanan dari aksi-aksi massa, Gerakan mahasiswa tahun 1990-an boleh dikatakan sebagai pelopor untuk mendobrak kebekuan dan kebuntuan politik yang selama ini terjadi. Dan salah satu pelaku penting dlam gerakan mahasiswa ekstra parlementer saat itu adalah SMID, yang dideklarasikan di Jakarta pada bulan Agustus 1994. Salah satu taktik SMID yang paling penting adalah mendorong aksi- aksi sebanyak mungkin dikampus dan disektor-sektor rakyat. Sebab aksi menjadi sebuah latihan penting bagi mahasiswa dan rakyat agar berani keluar dari perangkap dan rambu-rambu ketakutan yang selama ini dijeratkan di leher mereka oleh Orba. Aksi juga menjadi taktik yang jitu untuk melakukan konsolidasi organisasi. Karena itu tidak heran bila SMID terlibat aktif dalam aksi-aksi membela hak-hak sosil-politik kaum tani, kaum buruh dan mahasiswa. Dalam program politik, SMID mempunyai dua tuntutan utama yan penting bagi proses demokrasi yaitu pencabutan Dwi Fungsi TNI dan pencabutan paket 5 UU Politik 1985 yang mengebiri hak-hak dasar manusia untuk mengemukakan pendapat dan berorganisasi. Titik penting dalam sejarah radikalisme Suyat adalah ketika ia mengikuti aksi pendudukan Kedutaan Belanda di Jakarta pada tanggal 7 Desember 1995. Aksi ini merupakan aksi gabungan SMID, SPRIM, PRD dan para pemuda Timor-Timur untuk menuntut referendum di Timtim dibawah pengawasan PBB. Suyat datang bersama rombongan mahaiswa SMID dari Solo dan ditempatkan di jalan Margonda Depok. Saat aksi ini ,Suyat baru menjadi anggota SMID, dan tampaknya ia tidak begitu memahami tujuan aksi tersebut. Hal ini dapat dimaklumi, karena memang scenario aksi yang disosialisasikan adalah aksi hari HAM, 10 Desember di Jakarta. Kerahasian ini penting, karena kita tidak mau rancana aksi bocor, sehingga sulit untuk melompat kedalam kedutaan yang menjadi target kampanye. Ketika aksi di kedutaan berlangsung, tiba-tiba saja ratusan preman yang diorganisir oleh militer masuk menyerbu kedalam kedutaan. Selain melukai beberapa orang peserta aksi yang berhamburan naik kelantai dua gedung kedutaan, para preman tsb juga memukuli atase politik dan kedubes Belanda. Suyat termasuk salah seorang yang terluka ditangannya, terkenal pukulan balok kayu dari para preman. Namun pukulan itu tidak membuatnya takut, ia malah ikut dalam tim sekuriti yang kami buat untuk menghadapi para preman yang siap menyerbu kapan saja. Pada hari ketiga, 9 Desember 1995, ratusan polisi menyerbu masuk kedalam kedutaan dan menangkapi seluruh aktivis, termasuk Suyat. Kami lalu digelandang ke Polres Jakarta Selatan di Kebayoran Baru. Setelah diintrogasi selama 24 jam, kami dibebaskan pada tanggal 10 Desember 1995. Sebagai mahasiswa baru dan anggota baru SMID ternyata Suyat menunjukan ketahanan mental yang luar biasa. Semula banyak yang menduga, ia akan mengalami down dan kapok untuk aksi lagi dengan SMID. Ternyata dialektika yang terjadi sungguh berlainan, represi yang dialaminya justru makin menumbukan keberanian dan kebencian pada militer yang menangkapnya. Terbukti, aksi-aksi radikal akan menghasilkan aktivis yang radikal. Keluar dari Polres Jakarta Selatan, para aktivis dari SMID Solo, termasuk Suyat langsung kembali ke Surakarta hari itu juga. Sebab, keesokan harinya, tanggal 11 Desember 1995 akan terjadi pemogokan umum di pabrik tekstil dan garmen PT Sritex yang dimiliki ibu Tien Soeharto dan yayasan Kopassus. Aksi ini akan melibatkan 14 ribu orang buruh, aktivis SMID dan PPBI. Ratusan mahasiswa SMID sudah bergabung dengan buruh sejak dua hari sebelumnya. Mereka berbaur dengan buruh untuk menyiapkan aksi tersebut. Aksi dimulai pada pagi hari. Aparat militer yang mengetahui pemogokan berusaha memecah belah peseta aksi dengan melakukan pemukulan dan penangkapan-penangkapan. Salah seorang yang paling parah adalah Wiji Thukul, pimpinan Jaker yang harus kehilangan sebelah matanya karena terkena popor senapan. Salah seorang aktivis yang tertangkap di sini adalah Herman Hendrawan, aktivis SMID Surabaya, yang dikemudian hari juga diculik oleh Kopassus bersama-sama Suyat dan masih menghilang sampai sekarang. Suyat kembali ditangkap oleh aparat ketika terlibat dalam aksi gabungan 10 pabrik di Tandes, Surabaya, Jawa Timur pada tanggal 8 juli 1996 yang diorganisir oleh PPBI dan SMID. Saat itu para buruh yang bergerak menuju pusat kota dihadang diberbagai jalan. Para aktivis mahasiswa yang terlibat dalam aksi dipukuli dan ditangkapi, salah seorang diantaranya adalah Suyat sendiri. Suyat bersama para aktivis lainnya diintrogasi dan ditahan di Poltabes Surabaya. Keesokan harinya ia bersama beberapa aktivis mahasiswa dibebaskan, tapi tiga orang pimpinan aksi, Dita Sari, Sholeh dan Coen Husen Pontoh ditahan dan kemudian dikenakan pasal-pasal anti subversi. Setelah dibebaskan Suyat tampak tetap bersemangat dalam rapat evalusi aksi. " Suyat aku lihat sempat berdebat dengan seorang kawan tentang kajadian penangkapan dan pemblokiran jalan yang dilakukan oleh aparat militer, setelah itu ia membicarakan kembali peristiwa yang dialami selama proses aksi hingga terjadinya penangkapan, seakan-akan peristiwa pemukulan dan penahanan bukan hal yang menakutkan bagi dirinya. " 3 Terus Melawan Pada tahun 1993, Munas PDI di Surabaya gagal memilih calon yang didukung militer karena gerakan arus bawah dari DPC-DPC menuntut Megawati Soekarnoputri, putri Bung Karno sebagai Ketua Umum PDI yang baru menggantikan Suryadi. Sejak saat itu militer mendalangi berbagai skenario kotor agar Megawati bisa digulingkan dari kepemimpinan PDI. Sejak tahun 1995 konflik antara PDI Megawati dan militer menjadi semakin terbuka, ketika pihak militer merekayasa pelaksanaan Kongres Medan dengan menaikan Suryadi sebagai Ketua Umum PDI boneka militer PRD dengan SMID, merespon pengulingan Megawati dan gerakan arus bawah yang semakin meluas dengan memberikan dukungan pada kepemimpinan PDI Megawati. Di berbagai kota PRD dan SMID menggalang berbagai aksi dan koalisi dengan para pendukung PDI Megawati untuk menolak Kongres Medan. Konflik yang semula hanya urusan internal PDI telah berubah menjadi konflik terbuka antara rakyat melawan militer Orde Baru. Berbagai aksi massa ribuan orang terjadi dimana-mana menentang Kongres Medan. Ditingkat nasional PRD berinisiatif membangun MARI (Majelis Rakyat Indonesia) yang merupakan front poliitik dari gerakan demokratik untuk mendukung perjuangan massa pendukung Megawati menentang kekuasaan Orba. Suyat terlibat dalam berbagai aksi di Solo untuk mendukung PDI pimpinan Megawati. Bahkan di desanya, Suyat dikenal sebagai koordinator pemuda PDI untuk menentang Kongres Medan dan penguasa Orba. Ia melakukan diskusi, membagikan selebaran pada para pemuda didesanya serta kepada para kawan SMA di desa dulu. Pokoknya, setiap kali Suyat kembali kedesa, ia mengumpulkan para pemuda PDI dirumahnya, membagikan selebaran dan mengadakan diskusi tentang situasi politik nasional dan langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan oleh rakyat. Pada tanggal 27 Juli 1996 pihak militer dengan dukungan para preman bayaran dan PDI Surjadi menyerbu kantor DPP PDI Megawati di Jl. Diponegoro yang sudah hampir dua bulan menjadi "Panggung Demokrasi". Tanggal 29 Juli 1996 diadakan pertemuan koordinasi antara ABRI, Kejagung, Bakin, BIA, Bakorstanas dan Menkopolkam dengan Presiden Soeharto. Malamnya, Menkopolkam Jendral (purn) Soesilo Soedarman mengumumkan bahwa PRD adalah organisasi yang harus bertanggung jawab terhadap kerusuhan yang terjadi paska perebutan kantor DPP PDI. Tuduhan ini tidak pernah terbukti. Karena dikemudian hari Tim Gabungan Pencari Fakta dari Komnas HAM justru menunjukan bahwa penyerbuan yang didalangi oleh militer yang menjadi penyulut kerusuhan. Sejak keluarnya pengumumum resmi tersebut seluruh pimpinan PRD dan ormas-ormas yang berafiliasi menjadi target penangkapan. Militer mendatangi, menyita dan menangkapi para aktivis diberbagai cabang PRD, SMID dan PPBI. Kantor SMID dan PRD cabang Solo langsung didatangi oleh aparat militer untuk menangkapi para aktivis SMID dan menyita berbagai dokumen organisasi. Bahkan sebagai bagian dari kampanye militer untuk menfitnah PRD disebarkan gambar-gambar yang menurut mereka adalah pertemuan antara Rewang, mantan Tapol PKI dengan para aktivis SMID dan PRD di Solo. Suyat sendiri setelah kejadian itu bersembunyi diberbagai tempat di kota Solo dan sesekali pulang kekampungnya. Upaya penyelamatan diri yang juga dilakukan oleh banyak kawan-kawan PRD dan SMID diberbagai kota di Jawa, Sumatera dan Sulawesi. Pada tanggal 11 Agustus 1996 Budiman Sudjatmiko dan para pimpinan PRD lainnya ditangkap di Bekasi. Namun kepemimpinan partai tidaklah lumpuh. Para pimpinan SMID dipusat dan daerah-daerah yang tidak tertangkap terus bergerilya dalam berbagai komite aksi dan aliansi- aliansi politik yang lebih luas. Tertangkapnya Budiman dan para pimpinan lainnya tidak menghentikan perlawanan dan jaringan PRD. PRD terus bergerak di bawah tanah dibawah kepemimpinan kolektif Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik. Suyat pindah ke Jakarta dan langsung di bawah koordinasi KPP PRD. Di Jakarta ini ia terlibat dalam penyebaran selebaran dan aksi-aksi massa menjelang pemilu 1997 dengan apa yang disebut Koalisi Mega Bintang Rakyat, bersama para korban lainnya yang juga belum ditemukan Herman Hendrawan dan Bimo Petrus. Skenario Penculikan Skenario penculikan atas Suyat adalah suatu grand design dari pihak militer untuk menghancurkan gerakan demokrasi dan mengamamkan kediktatoran Soeharto yang mulai melemah legitimasinya. Dalam scenario besar tersebut, PRD tetap dijadikan kambing hitam utama untuk kemudian menyasar pada individu dan kelompok yang dianggap berseberangan atau tidak disukai oleh Soeharto. Kekuatiran rezim Orba pada gerakan massa yang mulai bangkit kembali paska tragedy 27 Juli 1996 mengambil bentuk nyata dalam kampanye pemilu 1997. Ketika itu aksi-aksi Koalisi Mega-Bintang-Rakyat berhasil memobilisasi puluhan ribu massa di Jakarta dengan tuntutan- tuntutan politik yang makin radikal. Pihak militer sudah mencium bahwa ada suatu gerakan yang memanfaatkan momentum kampanye pemilu 1997 untuk menentang kediktatoran. Dengan bukti-bukti selebaran yang ditempel dan disebarkan secara luas di berbagai tempat umum di Jakarta, pihak militer menyatakan bahwa PRD ada dibalik aksi-aksi tersebut dengan merujuk pada tuntutan di selebaran yang menuntut penghapusan Dwi Fungsi ABRI dna Pencabutan paket 5 UU Politik. Dua tuntutan demokratis yang sangat identik dengan PRD dalam setiap aksi dan propagandanya. Dan scenario itu mendapatkan bentuk kongkritnya ketika terjadi ledakan di rumah susun Tanahtinggi pada bulan Januari 1998. Ledakan ini terjadi dua bulan menjelang dilangsungkannya Sidang Umum MPR untuk memilih Soeharto menjadi presiden ke tujuh kalinya. Dari kejadian Tanahtinggi ini kemudian dibangunlah sebuah skenario seolah-olah PRD dan CSIS melalui Jendral Beny Moerdani dan Sofjan Wanadi sedang mencoba menggoyang kekuasaan Soeharto. Untuk membenarkan dugaan tersebut pihak militer menyodorkan beberapa dokumen yang menurut mereka ditemukan di lokasi peledakan. Tim Pemburu fakta yang melakukan investigasi dalam kasus penculikan dengan tegas menyatakan bahwa dokumen tersebut palsu. " Mengapa bisa terbukti dokumen itu palsu? Ternyata ada kesalahan yang sangat mendasar dalam penyusunan dokumen tersebut. Nama anggota PRD yang dikutip di dalamnya, salah tulis. Mungkinkah sebuah organisasi skala kecil macam PRD, tidak tahu pasti nama anggota- anggotanya?" (Misteri Penculikan Para Aktivis, hlm 10). Secara politik dokumen itu juga sangat meragukan. Karena PRD sendiri jelas-jelas tidak mendukung salah satu faksi dari elit kekuasaan atau didalam tubuh militer. Dan dalam program PRD jelas-jelas menyatakan mereka menuntut pencabutan Dwi Fungsi ABRI dengan segala manifestasinya. Menurut PDD Jendral Beny Moerdani harus mempertanggungjawabkan pelanggaran Ham kelas berat ketika ia masih menjadi jendral aktif. Bahkan dapat dikatakan secara politik Beny Moerdani, Sofjan Wanandi dan CSIS dapat dimasukan sebagai lawan-lawan dari PRD. Sementara Budiman Sudjatmiko yang kemudian juga didatangi oleh Polda di LP Cipinang selalu menyatakan bahwa PRD berjuang tidak dengan cara-cara terorisme dan kekerasan tetapi melalui gerakan massa secara damai. Berdasarkan dokumen palsu tersebut para aktivis PRD lalu menjadi target penangkapan polisi dan penculikan Tim Mawar dari Kopassus. Komandan Korps Reserse Mabes Polri,Mayjen Nurfaizi mengaku sedang mengincar Andi Arief bersama empat aktivis lainnya yaitu Fonny Fraisir, Prayogo, Margiono, Daniel dan Suyat. " Keempatnya masih diburu; terkait langsung dengan kasus meledaknya bom rakitan di rumah susun Tanahtinggi, Jakarta Pusat" (Misteri Penculikan Aktivis; Siapa Dalang Prabowo; Tim Pemburu Fakta, Jakarta, September 1998, hlm7). Berdasarkan dokumen palsu tersebut Tim Pemburu fakta berkesimpulan " Suyat di culik karena dipercaya bahwa ia ada hubunganya dengan kasus meledaknya bom di kompleks rumah sususn Tanahtinggi, pada 18 januari 1998." (Misteri Penculikan Aktivis, hlm 34). Namun yang menangkap Suyat, ternyata bukanlah kepolisian, tetapi satuan Kopasus yang menamakan dirinya Tim Mawar dan di bawah komando Mayjen Prabowo. Kepastian bahwa Suyat menjadi operasi dari Tim Mawar bisa dilacak dari pernyataan Mayjen Praobowo sendiri yang membenarkan adanya penanganan aktivis oleh Kopassus. Kepada wartawan ia tetap konsisten dengan scenario dokumen palsu Tanahtinggi dengan menyatakan "Kalian tahu orang yang berencana merakit bom?". Jelas sudah penculikan aktivis PRD berhubungan dengan pertarungan dilingkaran internal elit yang anti Beny dan CSIS dan keinginan untuk menghancurkan gerakan rakyat yang mulai bersemai kembali. Kedua target ini menjadi legitimasi dari menantu Soeharto, Mayjen Prabowo yang saat itu menjadi komandan Kopassus untuk melakukan operasi inteljen membersihkan PRD dan mencari-cara bukti hubungan diantara PRD dengan grup CSIS tersebut. Karena itu tidak heran dalam pengakuan para aktivis PRD yang kemudian dibebaskan seperti Andi Arief, faisol Reza dan Waluyo Jati, hubungan PRD dengan Jendral Beny Moerdani dan Sofjan Wanandi selalu dikejar dan dicari fakta-faktanya melalui serangkaian penyiksaan. Penculikan Suyat Mejelang Sidang Umum DPR MPR di bulan Maret 1998, militer mengorganisir suatu perang kotor untuk menculik para aktivis yang menentang kediktatoran Soeharto. Dan menurut pemahaman militer PRD adalah target utama yang harus dihabisi untuk mengamankan kekuasaan Soeharto yang telah tujuh kali diangkat menjadi presiden. Kontras membenarkan bahwa penculikan aktivis yang salah satu korbannya adalah Suyat bertalin dengan pengamanan Sidang Umum MPR 1998. Dan menurut kesimpulan Kontras "para penculik merupakan sebuah kekuatan terkendali, dan punya kemampuan politik cukup kuat untuk mempertahankan kekuasaan dengan cara-cra kekerasan". (Misteri Penculikan Aktivis, 1998, hlm 8) Malam hari, 12 Februari 1998 , puluhan polisi dan intel yang mengaku dari Polres Sragen mendatangi rumah Suyat yang sederhana di desa Banjarsari. Target operasi hari itu adalah hendak menangkap Suyat. Tapi Suyat tidak mereka temukan didalam rumah. Karena memang Suyat jarang pulang kerumah, apalagi setelah peristiwa 27 Juli 1996, dimana PRD dan SMID dituduh sebagai dalang kerusuhan dan resmi menjadi organisasi terlarang. Tanpa menunjukan surat-surat resmi dan dengan kasar mereka menangkap kakak Suyat yang bernama Suyatno. Ia lalu dibawa kesuatu tempat dengan mata ditutup kain hitam. Setelah dipukuli dan disiksa semalaman akhirnya ia memberikan alamat teman Suyat yang ia tahu secara sembarang saja. " Saat diintrogasi aparat, aku dipaksa menyebutkan dimana adikku, aku katakan tidak tahu, tapi mereka menghajarku dan mengancam akan membawa satu persatu anggota keluargaku. Akhirnya aku katakan kalau Suyat ada di rumah temannya, dan tak pernah kusangka Suyat memang benar ditempat itu." Ujar Suyatno. Pada awalnya ibu Suyat Tumiyem sangat terpukul dengan penangkapan Suyat tersebut. "Setelah penggerebegan, aku tidak berani keluar rumah.malu. Dan hampir satu bulan aku tidak dapat bekerja. Di kampung kami kalau orang diambil aparat pasti karena mencuri, tapi anakku mencuri apa? Setelah beberapa bulan kemudian berita tentang anakku muncul ditelevisi. Semenjak itu orang-orang di kampung kami paham." Sementara Paimin, ayah Suyat memilih untuk menyibukan diri dengan bekerja untuk melupakan kesedihannya yang dalam. "Hampir tiap hari penuh kami bekerja, kerja merupakan hiburan kami daripada ngelangut." Tapi Suyatno, meskipun menyibukan diri dengan pekerjaan seperti yang dikatakan ayahnya, tetap tidak dapat melupakan semua kajadian. "Di tengah kerjaku, kadang aku merasa nyesek dan kesal." Sejak penangkapan itu Suyat seperti hilang tak berbekas. Ternyata operasi inteljen dari Kopassus tersebut juga menangkap para aktivis PRD lainnya. Dari semua yang diculik tersebut, Suyat, Bimo Petrus, Herman Hendrawan dan Wiji Thukul ternyata tidak pernah kembali. Beberapa kesaksian dari para korban penculikan ketika di tahan dalam sel bawah tanah mengatakan bahwa Suyat pernah ditahan ditempat tersebut. Menurut kesaksian Waluyo Jati, salah seoarng aktivis yang beruntung dibebaskan, ia mengetahui tentang Suyat justru dari salah seorang introgatornya. " Seorang introgator menyatakan telah mengambil Suyat di Solo. Aku mencoba mengingat pemilik suara itu. Mataku ditutup kain hitam, dan si introgator mengaku pernah bertemu denganku di rumah yang dikontrak Suyat. Memang saat itu aku diajak ngobrol seorang yang mengaku kontrak disebelah rumah kontrakan Suyat." Hal lain yang terasa ganjil dalam kasus Suyat adalah ternyata para penculiknya sudah berminggu-minggu mengawasi rumah kontrakan Suyat. Para penculik seperti menanti munculnya orang-orang yang menjadi target utama mereka ketempat tersebut. Dan kemungkinan besar yang mereka incar adalah kehadiran Andi Arief, yang ternyata berada di Lampung untuk berobat ditempat kakaknya. Sampai Sidang Umum berlangsung ternyata Andi Arief tidak pernah tertangkap, karena itu pihak militer memilih untuk menggunakan cara teror untuk memaksa para aktivis PRD mengatakan tempat persembunyian Andi Arief. Dan Suyat bersama beberapa aktivis yang menurut para penculik mengetahui keberadaan Andi Arief diculik, disiksa dan dihilangkan secara paksa. Sejak penangkapan Suyat di Solo tersebut, ia tidak dapat ditemukan kembali. Namun pangakuan dari korban penculikan yang dibebaskan dapat memastikan, bahwa Suyat memang menjadi target operasi Kopassus melalui Tim Mawar . Dan tidak ada jalan lain, untuk mengetahui keberadaan Suyat dan aktivis lainnya yang masih menghilang, anggota Tim Mawar dan Letjen (Purn) Prabowo harus kembali diperiksa dan dimintai pertanggungjawabanya. Untuk itu sebuah KPP Ham penculikan harus dibuat untuk menggali keterangan dari para pelaku penculikan dari pelaku di lapangan hingga hirarki tertinggi yang memberi komando. --- End forwarded message --- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor ---------------------~--> Buy Ink Cartridges or Refill Kits for your HP, Epson, Canon or Lexmark Printer at MyInks.com. Free s/h on orders $50 or more to the US & Canada. http://www.c1tracking.com/l.asp?cid=5511 http://us.click.yahoo.com/mOAaAA/3exGAA/qnsNAA/IotolB/TM ---------------------------------------------------------------------~-> Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung ! Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan ! Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan ******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke : [EMAIL PROTECTED] (langganan) website http://www.geocities.com/jaker_pusat ( underconstructions) Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jaker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

