Beberapa hal yang terlontar pada obrolansantaiARTDICO
� FILM DIGITAL & TETANGGA-TETANGGANYA �
Senin Sore, 31 Mei 2004
di ARTDICO (art & digital community)
Jl. Suroto No. 7, Kotabaru, Yogyakarta
Peserta obrolansantaiARTDICO mulai berdatangan sejak
jam 15:00 WIB. Narasumber acara, Kusen Dony Hermansyah
(Dosen+Praktisi Film dari FFTV-IKJ) datang juga tepat
waktu. Namun, karena satu dan lain hal, acara baru
dimulai jam 16:05 WIB.
Obrolan ini dipandu oleh Tomy W. Taslim.
Di awal acara, pemandu menekankan bahwa obrolan ini
merupakan sebuah respon atas maraknya pemanfaatan
teknologi digital dalam produksi film. Kemunculan
kamera video digital dan komputer multimedia dengan
berbagai software pendukung mampu merangsang siapa
saja untuk mencoba membuat film. Ada yang sekadar
membuat film dokumentasi keluarga sampai yang serius
untuk eksplorasi estetik dengan gaya atau bentuk
tertentu. Pemandu juga menyampaikan �pesan sponsor�
bahwa ARTDICO menawarkan kerjasama dengan siapa saja
dan pihak mana saja untuk saling berbagi dengan
masyarakat (khususnya Yogyakarta dan sekitarnya).
Kerjasama bisa dalam bentuk diskusi, seminar,
workshop, demo produk, eksebisi, dll. Saat ini,
ARTDICO sedang berupaya secara aktif untuk lebih
mengoptimalkan/eksplorasi teknologi digital untuk
memenuhi kepentingan/kebutuhan berbagai lapisan
masyarakat. Beberapa yang menjadi interes ARTDICO
adalah Audio Visual Production, Internet & Multimedia
Service, Training Center serta Event Organizing.
Kusen Dony memulai pembicaraan dengan menegaskan bahwa
produksi film dengan menggunakan sistem perekam
digital idealnya didukung dengan eksebisi dan
distribusi sejenis. Pembuatan film berbasis teknologi
digital hasilnya juga diputar dengan proyektor
digital. Bahkan, bisa juga langsung menggunakan
satelit. Jadi, pemutaran film bisa dilakukan secara
serempak di berbagai belahan dunia. Konsep ini pernah
disinggung oleh Hollywood sebagai respon atas maraknya
pembajakan film-film produksi mereka.
Sebenarnya, ujung dari penggunaan teknologi digital
tetaplah ingin mendekati seluloid sebagai bahan dasar
pembuatan film yang sampai saat ini masih belum
tertandingi dari segi kualitas gambar.
Setinggi-tingginya resolusi gambar digital masih belum
bisa menyaingi seluloid. Barangkali, masih membutuhkan
cukup waktu untuk menggeser kedigdayaan seluloid dalam
hal bahan baku produksi/shooting film.
Dony juga mengatakan bahwa penggunaan teknologi
digital dalam produksi film yang semakin marak di
Indonesia tidak bisa diartikan bahwa teknologi ini
berhasil menciptakan proses yang lebih mudah dalam
membuat film. Untuk sekadar merekam
gambar/adegan/peristiwa dengan menggunakan kamera
video digital dan kemudian mendigitize/capture ke HD
komputer, kemudian di writing di VDC/DVD, barangkali
proses ini tidaklah terlalu sulit. Banyak software
yang bisa membantu proses ini dengan mudah. Akan
tetapi, yang lebih utama adalah bagaimana konsep di
balik pembuatan/produksi film itu sendiri. Dony
mengatakan lebih lanjut bahwa kalau konsep sudah
matang (pre-production), maka ditingkatan produksi
bisa dilakukan lebih mudah/cepat. Penggunaan teknologi
untuk mendukung produksi (analog atau digital) bisa
disesuaikan. The man behind the gun-lah...
Produksi film menggunakan teknologi digital yang ideal
sebenarnya cukup rumit. Ada beberapa hal yang harus
diperhatikan oleh filmmaker. Dari mulai proses
pengambilan gambar sampai dengan editing. Bagaimana
koreksi cahaya harus dicermati, bagaimana koreksi
warna harus ditangani dengan teliti, bagaimana audio
harus diolah dengan baik, dll. Konsep ini tentu saja
berbeda dengan seperti kebanyakan orang yang
mengartikan produksi film digital sekadar menggunakan
kamera digital yang mudah didapatkan dipasaran. Akan
tetapi, bukan berarti yang belakangan ini jelek.
Justru, kalau ketergantungan filmmaker terhadap
teknologi bisa dikurangi, maka dalam situasi dan
kondisi apapun bisa dihasilkan film. Handycam miniDV,
digital 8, hi 8, v 8, dll bisa dioptimalkan dengan
baik jika konsep dan metode2 pembuatan film sudah
disiapkan dengan matang.
Beberapa peserta lumayan antusias bertanya. Beberapa
pertanyaan mereka adalah seputar terminologi/konsep
dasar film digital, karakteristik kamera video
digital, perbedaan teknologi digital dan analog,
format produksi program televisi, software editing dan
tentang masa depan film digital di Indonesia.
Dari beberapa pertanyaan di atas, Kusen Dony mencoba
menjawabnya satu per satu. Tentang terminologi atau
konsep film/sinema digital sudah dijelaskan di awal
obrolan. Bahwa, secara ideal, hal ini cukup rumit jika
diterapkan di Indonesia. Akan tetapi, yang harus
disikapi secara positif adalah bahwa maraknya kamera
video digital dan komputer multimedia dengan berbagai
software pengolah video/audio telah menciptakan
kesempatan yang sangat terbuka untuk siapa saja yang
tertarik dengan pembuatan film. Dony mempersilakan
untuk memanfaatkan perangkat-perangkat ini seoptimal
mungkin untuk produksi film. Tidak usah berdebat
mengenai teknologinya. Kesiapan konsep tetap lebih
utama. Sehingga, Dony kembali mengulangi bahwa
tidaklah bijak jika pembuat film sangat tergantung
terhadap teknologi. Bahkan, Dony juga menjanjikan
bahwa membuat film bisa saja hanya menggunakan kamera,
tanpa memerlukan komputer untuk editing dan
sejenisnya. Ia memberi contoh tentang kuliah workshop
visual di FFTV-IKJ. Dony menegaskan juga bahwa bisa
dibuat film tanpa menggunakan kamera. Animasi adalah
contohnya.
Menjawab tentang karakteristik kamera digital, Dony
menegaskan bahwa pada dasarnya segala jenis kamera
yang menggunakan pita video karakteristiknya tidak
jauh berbeda. Salah satunya adalah bahwa teknologi ini
cukup sulit untuk menghasilkan warna hitam pekat
seperti yang dihasilkan oleh seluloid. Maka, kalau
tidak hati-hati, shooting terhadap seseorang yang
berambut hitam dan latar belakangnya juga hitam bisa
berbahaya. Antara rambut dan background bisa menyatu,
tidak ada batasnya yang jelas. Maka, peran lighting
juga sangat berpengaruh untuk menghindari hal-hal
seperti ini.
Mengenai perbedaan teknologi digital dan analog dalam
pembuatan film, Dony lebih mengulasnya dari sisi
editing. Untuk analog, editing harus dilakukan secara
linier, berurutan. Sehingga, proses harus dilakukan
tahap demi tahap secara rapi. Karena, jika terjadi
kesalahan sedikit saja dan itu terletak di bagian
depan film, maka shot-shot setelahnya bisa dibongkar
semua (kecuali kesalahan bisa ditutup dengan insert
dan tidak merubah panjang/pendeknya shot, kontinuiti
atmosfer/audio, dll). Jadi, filmmaker harus lebih
berhati-hati dalam memperlakukan teknologi analog
mengingat teknologi ini kurang fleksibel untuk
upgrading, khususnya di wilayah editing/mixing.
Sedangkan jika filmmaker menggunakan teknologi digital
dalam pembuatan film (khususnya editing), maka proses
kerjanya bisa dilakukan secara tidak berurutan, non
linear. Pengerjaan editing bisa dilakukan misalnya
adegan ending dulu, baru kemudian dilakukan dari awal.
Atau, jika terjadi revisi, maka proses bongkar
pasangnya tidaklah serumit jika menggunakan peralatan
editing analog. Tentu, semua ada baik buruknya, ada
untung ruginya.
Menjawab pertanyaan tentang format produksi program
televisi, software editing dan masa depan film digital
di Indonesia, Dony mengatakan bahwa di Indonesia untuk
standarisasi format teknis (kaset) yang harus
diserahkan untuk pihak stasiun penyiaran masih
berbeda-beda. Ada yang menerima betacam SP, ada yang
menerima DV, bahkan ada yang menerima miniDV. Hal ini
cukup membingungkan siapa saja yang berminat untuk
membuat program televisi. Karena, tiap stasiun
televisi belum tentu sama standartnya. Akan tetapi,
umumnya yang dijadikan standart sampai dengan saat ini
adalah betacam SP. Dony juga berujar bahwa ia tidak
pernah terpaku pada software editing yang dipake untuk
melalkukan proses editing film atau program televisi.
Sebagai seorang editor, seharusnya hal ini bukan
menjadi masalah. Yang menjadi masalah adalah jika
seseorang memposisikan dirinya sebagai operator, maka
ia dituntut untuk bisa menggunakan software/peralatan
editing. Dony menegaskan perbedaan mendasar antara
editor dan operator. Sedangkan untuk masa depan film
digital di Indonesia menurut Dony masih belum
terbayangkan. Sebab, infrastruktur yang ada sampai
saat ini masih belum siap untuk menyambut era digital
dalam dunia film. Yang lebih parah lagi kata Dony,
apakah industri film di Indonesia ini bisa dikatakan
benar-benar ada dan keberlanjutannya jelas?
Menurutnya, yang lebih jelas/real adalah dunia
televisi.
Dony mengakhiri obrolan santai sore itu dengan
menegaskan bahwa bagaimanapun teknologi bukanlah
segalanya dalam proses pembuatan film. Seorang pembuat
film yang telah mempunyai sikap/konsep yang jelas dan
berani untuk menuangkannya dalam gambar tidak pernah
takut dengan pertumbuhan dan perkembangan teknologi.
Teknologi tidak akan pernah mempersulit filmmaker
dalam produksi, justru akan membantu dan memudahkan.
Teknologi digital wajib disambut dengan antusias dan
bijak oleh filmmaker.
Obrolan berakhir sekitar jam 17:30 WIB. Seiring dengan
berlangsungnya acara, jumlah peserta juga semakin
bertambah. Kurang lebih 25 orang hadir dan larut dalam
acara ini. Dari buku tamu, tercatat peserta obrolan
berdatangan dari Studio Kasatmata, Animator Forum
Yogyakarta, Diskomvis ISI Yogyakarta, UNSTRAT
Universitas Negeri Yogyakarta, Cinema Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Q-Frame Studio,
Avenue, MM Kine Klub, Cerya, dll.
__________________________________
Do you Yahoo!?
Friends. Fun. Try the all-new Yahoo! Messenger.
http://messenger.yahoo.com/
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti puisi,cerpen,
gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang
membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di
[EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan
kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)
website http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/