TIGA KEMUNGKINAN DI NUSANTARA  (2), (3)
 
 
( Oleh :  Z. Afif )
 
( Catatan:  Lanjutan dari bagian 1 )

 
2. Sentralisme Pembangunan di Jawa

SUDAH kita lihat dan tahu bahwa penguasa RI masih meneruskan sis-
tem sentralisme pendidikan dengan memusatkannya di Jawa, sehingga
berlomba orang mengalir untuk belajar di perguruan-perguruan di sana.
Begitu pula untuk menumbuhkan dan mengembangkan karirnya, putra-
putri luar Jawa harus hijrah ke sana.

Begitu pula halnya di bidang ekonomi dan moneter.  P.Jawa menjadi gu-
dang perbankan. Dari pelbagai penjuru di luar Jawa, duitnya mengalir ke
kantong-kantong perdagangan dan pusat-pusat kekuasaan di Jawa. Pen-
dapatan dari  minyak bumi dan gas, hasil tambang, hasil hutan,hasil perke
bunan, pemasukan dari industri pariwisata, pendapatan dari pelbagai pro-
duk ekspor, pendeknya pendapatan dari segala macam hasil bumi dan la-
ut yang diperoleh berkat cucuran  keringat rakyat Sumatra, Kalimantan,
Sulawesi, Maluku, Papua Barat, Nusatenggara dan Bali terutama adalah
untuk menghidupi P.Jawa yang semakin sesak dan penguasanya yang se-
makin rakus. Belum pernah terdapat hasil penelitian, berapa milyar uang
saban tahun dicurahkan ke Jawa oleh para orang tua luar Jawa yang me-
ngirimkan anaknya bersekolah ke Jawa. Dana utama untuk APBN RI se-
tiap tahun dikuras dari hasil banting tulang rakyat luar Jawa. Sedangkan
penggunaan APBN yang utama dan yang pertama-tama ditaburkan di P.
Jawa.
 
Di Jawa terkonsentrasi  pusat-pusat kegiatan politik, ekonomi, sosial-bu-
daya, tehnik, hukum dan sebagainya yang memerlukan dana tinggi. Dana
tinggi diperlukan untuk ongkos perjalanan para pejabat eksekutif, legislatif
dan yudikatif, seperti belakangan ini ongkos perpelancongan anggota DPR
ke Hongkong yang ditanggung Pertamina, sedangkan pendapatan utama
Pertamina dari tambang minyak dan gas di luar Jawa. Dana APBN juga
untuk kegiatan seremonial peresmian ini dan itu yang feodalistis; dana untuk
serdadu TNI dan satuan polisi yang dikirim beroperasi guna membungkam-
kan perjuangan dan tuntutan adil rakyat  terutama di luar Jawa; dana untuk
bidang-bidang pendidikan (umum dan militer/polisi), kesehatan, transport,
komunikasi,  kebudayaan, kesenian, olahraga, properties dan segala prasa-
rana lainnya di Jawa.

Pelbagai industri ringan,  pembangunannya dipusatkan di Jawa. Sebuah con-
toh, dapat dilihat di Bekasi dan Tangerang. Untuk keperluan bahan mentah
industrti itu sebagian diimpor dari luar negeri. Itu tentu dengan penggunaan
devisa sebagai alat pembayarannya. Sebagian besar devisa diperoleh dari
ekspor barang-barang hasil luar Jawa. Di Jawa pula berdiri gedung-gedung
menjulang dan mewah, kawasan rumah mewah untuk penguasa dan si kaya,
jalan-jalan tol dan jalan layang yang lebar, lapangan golf. Kereta api luks
dengan nama-nama megah dahsyat melaju cepat sepanjang P.Jawa (tetapi
sering anjlok) - sedangkan Aceh sebagai penghasil minyak dan gas jangan-
kan dimoderenisasi kereta api peninggalan penjajah, malah dibongkar habis
oleh Rezim Militer Suharto, padahal itu adalah alat angkutan vital bagi rak-
yat. Entah kapan pula kereta api di Sumatra Timur, Sumatra Barat,Palem-
bang dan Lampung akan semoderen di Jawa, padahal daerah-daerah itu
juga penghasil dana yang besar untuk APBN. Rakyat Kalimantan,Sulawesi
pun dengan hasil buminya yang kaya telah dimanfaatkan untuk dana APBN
oleh penguasa pusat, tetapi dalam hal perkeretapian mereka cukup datang
ke Jawa saja untuk melihat dan mencoba naik kuda besi mewah itu.
Perbedaan-perbedaan mencolok antara Jawa dan luar Jawa itu patut
dipelihara, memang, karena bukankah NKRI juga berfilsafat "berbeda-
beda tapi satu jua" sesuai dengan suratan filsafat dari khasanah warisan
kraton "Bhineka Tunggal Ika" - P. Jawa nan jaya, luar Jawa penyedia
prasarana!

 
3. Sentralisasi Investasi
 
KARENA  sentralisasi kekuasaan merupakan tali nyawa RI, maka ka-
lau ada  investor asing mau menanam modal di sesuatu daerah luar Ja-
wa,daerah luar Jawa tidak punya hak apapun selain harus menerimanya
sesuai dengan hasil perjanjian antara rezim Jakarta dengan investor
yang bersangkutan. Karena setiap perjanjian ada gumpalan komisi
sebagai hak penguasa pusat. Maka dibukalah tambang tembaga Free-
Port di Papua Barat yang merupakan  negara (asing) dalam negara
RI. Sedangkan bangsa Papua untuk menjenguk dari balik pagar ka-
wasan itu pun tidak berhak bahkan bisa ditembak. Hasil tambangnya
berbagi antara investor asing dan penguasa Jakarta. Begitu pula halnya
tambang-tambang minyak dan gas di Aceh, Kalimantan semua perjan-
jian dan bagi hasil tak perlu diajak bicara rakyat daerah, walaupun mu-
lut penguasa selalu bergumam kata-kata "anak bangsa".

Perjanjian-perjanjian di bidang kehutanan, daerah tahunya hutan sudah
punah dan rakyat setempat telah terhalau dari tanah warisan datuk-en-
datunya dan telah pula menjadi korban pencemaran dari pembuangan
limbah ke sungai-sungai. Ketidakadilan ulah pusat dapat dilihat dari se-
buah contoh di Kalimantan Timur, yang luas wilayahnya  1,5 kali
P. Jawa.Produk domestik regional brutonya (PDRB) sekitar Rp.89 tri-
lion per tahun dari hasil minyak bumi, gas alam, batu bara, emas, hasil
hutan.  Tetapi yang menikmatinya pemerintah pusat di Jakarta.  Dana
yang dikembalikan kepada daerah itu dalam bentuk dana perimbangan
dan sumber dana lainnya cuma sekitar Rp.10 triliun. Itupun harus dibagi-
bagi untuk provinsi, kabupaten dan kota di Kaltim. Lebih 11 % penduduk
di provinsi terluas di Indonesia itu berada di bawah garis kemiskinan. In-
frastruktur kemasyarakatannya masih sangat terbatas.   Di Kalimantan
perubahan lingkungan sangat parah dan sebagian penduduk dililit kemis-
kinan. Menurut penyair putra Dayak, JJ Kusni, di Kalimantan Tengah
telah menjelma padang tandus hasil kerja pemburu emas dan penebang
hutan. Sungai-sungai tecemar air raksa. Yang untung penguasa pusat, ka-
rena mereka dikukuhkan oleh sistem kekuasaan sentralisme ketat wari-
san kolonial. Dan yang ketimpa bala penduduk setempat.

Begitu pula halnya dengan proyek P. Batam. Penduduk setempat hanya
tahu buminya telah diobrak-abrik bukan untuk kesejahteraan mereka,
tetapi untuk kepentingan dan keuntungan penguasa pusat. Pulau bumi
etnis Melayu Riau itu telah berubah dengan warna campur baur dan pel-
bagai aroma termasuk rumah-rumah hiburan dan pelacuran yang ramai
pada hari-hari libur didatangi pembeli seks dari Singapura, Malaysia,
Thailand dan sebagainya. Daratan Riau pun  penduduk aslinya dibuat
kucar-kacir, diusir dari lahan-lahannya karena diperlukan untuk perke-
bunan kelapa sawit. Karena itu tak heran kalau di Riau pun pernah ber-
gaung tinggi hasrat merdeka, lepas  dari NKRI.
Dan itu dicerca sebagai "seperatisme dan makar", harus ditumpas habis
padahal benihnya ditabur oleh Rezim RI sendiri yang disangga alat nega-
ranya tentara dan polisi. Pendeknya budaya mau menang sendiri, mau
benar sendiri telah menjadi tatu penguasa RI.
 
APAKAH  daerah-daerah akan terus menerima sistem sentralisme itu, se-
hingga sebagai tuan atas bumi warisan datuk-endatunya tak ada haknya
sama sekali? Kekayaannya dikuras dan kemiskinannya berkembang,
hasilnya semakin membuat gemah ripah loh jinawi kekuasaan dan pe-
nguasa pusat serta wakil-wakil setianya di daerah.
 
____________________
Perkelanaan, 26  Juni 2004

( Bersambung)




Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)

website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke