--- In [EMAIL PROTECTED], "la_luta" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Esei yang ditulis Bang Sonny, berjudul "LSM, Suara Donor atau suara Rakyat?" memang menarik untuk disimak dan dipahami kembali mengenai kelanjutan dari perkembangan peranan sikap visi dan missi dari LSM, Lembaga Swadaya Masyarakat. Dimana penjabaran peran LSM tersebut yang sehubungan dengan kasus fungsi kerja KPU sampai sa�t ini, diharapkan sebagai LSM yang punya arti besar peranannya sebagai instansi "Impartial" alias Tidak memihak itu, mulai dipertanyakan kembali atas kerja fungsinya. Memang tujuan dari dukungan sistim kerja LSM secara umum, dimaksudkan guna menunjukan sikap "netralitas"nya dalam fungsi kerjanya biarpun dibalik dari sikap "neutralitas"nya akan mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Jadi pertanyaan, mengenai pemilikan tujuan-tujuan tertentu itu masih tetap dianggap aktual! Karena siapa sih yang mau menolak "Uang Gratis" dari para donatur? Tentu ini bisa kita tengok kembali pada kenyataan proses perkembangan praktek kerjanya para LSM Besar dalam fungsi sosialnya, dimana selalu dinilai oleh opini umum sebagai instansi yang berpihak pada tujuan kepentingan "pro" atau pun "kontra"nya. Sehingga ini bisa mengakibatkan adanya konsekuensi logika yang menjadi sangat menyedihkan ataupun yang menyenangkan. Proses perkembangan ini akan mengingatkan kita kembali pada sejarah dari proses lahirnya dan perkembangan LSM di Indonesia yang dimana proses ini tidak lepas dari sejarah perkembangan GM, Gerakan Mahasiswa jaman ORBA di Indonesia. Alur GM dalam periode 80 s/d 90 an yang telah dikenal sebagai kaum opposan ORBA tentu telah mendapat sambutan baik dan kepercayaan dari pihak Donor Internasional (DI) guna ditugaskan sebagai para inisiatif membentuk LSM non-Grejais biarpun sejak lahirnya ORBA, kepercayaan para DI itu pada sebelumnya telah dilimpahkan kepercayaannya kepada penganut aliran Missionaris yang diwakili oleh para wakil Grejais. Bahkan para prominen Militer, seperti a.l. Benny Murdanipun juga ikut bersedia mengikuti jejak langkah para pemberi Donor Internasional dengan cara mensupport para Prister (Rohaniawan) dalam tubuh TNI. Dengan begitu para LSM Grejais pun menjadi tambah eksis dan mendapatkan tempat spesial dalam posisi sosial yang lebih leluasa, untuk memanisfestasikan "Jiwa Humanism" terhadap kaum yang dirugikan. Tentu ini harus dengan persyaratan bahwa secara prinsip dari visi dan missinya tidak bertentangan pada tujuan kerohanian dan kemanusiaan. Kemunculan LSM non-Grejais tersebut tentu ketika itu dinilai sudah mampu untuk menunjukan sikap visi dan missinya untuk kepentingan "kerakyatan" dan bersimpati pada kaum korban HAM, mengingat para DI yang tergabung pada negara yang berkepentingan masih merasa "salah tingkah" guna memajukan kepentingan investasinya terhadap Indonesia tanpa dihalangi oleh kekuatan ORMAS. Sehingga dengan begitu para LSM tersebut menganggap dirinya bisa mendapatkan fungsi gandanya yaitu, disamping LSM bisa menunjukan sikap keberpihakannya juga harus berprinsip pada membangun kontrol mekanismenya guna meneliti dampak sosial dari hasil penyalah gunaan kepentingan Investasi para Negara yang punya sumber Dana. Dengan begitu muncullah LSM besar alias Big Non-Governmental Organizations yang beroperasi di skala nasional dengan Dana besar dan para LSM-kecil/ Little NGO's yang hanya melibatkan sekelompok kecil SUKARELAWAN dan bertugas untuk penanganan satu proyek disatu kota atau wilayah. Dengan begitu Littke NGO'S automatis dinilai dan berfungsi sebagai para pengabdi terhadap ABDI DALEMnya. Dengan begitu kemampuan LSM-Grejais yang hanya sebatas pada visi dan missi guna pengembangan Agama dan "Kemanusiaan"nya pada akhirnya mengalami krisis kepercayaan atau dianggap kalah bersaing dengan para LSM non-Grejais. Ini lantaran LSM-Grejais oleh para Negara Industri dan Pemberi Dana dianggap tidak mampu lagi merespons dampak dari perkembangan tuntutan zaman, yaitu proses Demokratisasi dalam negrinya yang dinilai sebagai proses "hukum alamiah" akan memunculkan dan menguatnya ORMAS. Kebahayaan "Hukum Alamiah" yang dianggap oleh mereka sebagai penghalang terdepan bagi kaum insvestor negara pemberi Dana. Kita jangan melupakan, konteks pemikiran kaum pemberi dana yang dimana juga sebagai pencetus pembuatan konsep LSM negaranya sendiri setelah perang Dunia ke II. Pencanangan Konsep LSM ini di Negara Industri bertujuan untuk melemahkan element militansi gerakan massa di di Negaranya masing-masing, seperti di Eropa Barat, Jepang ataupun Amerika. Sedang , pada waktu yang bersamaan, alur GM yang berorientasi pada pembentukan ORMASpun juga bermunculan dan GM-TURBA pun mulai terbentuk dan bergabung di berbagai sektor sosial guna menyatukan dirinya dalam Ormas untuk merespon berbagai konflik sosial di pedesaan dan di perkotaan. Dengan begitu GM-TURBA pun juga bertujuan untuk meningkatkan SDM Masyarakat. Beberapa dari pendapat umum menilai, bahwa keterlibatan kaum LSM besar atas penanganan kasus korban kekerasan rejim ORBA, yang diwakili Soeharto dan antek-anteknya, hanyalah berfungsi sebagai "jaringan Konglomerat Penjual Kemiskinan". Ini mengingat visi dan missi dari LSM Besar hanyalah berfungsi sebagai pemberi "laporan keuangan dari Donor dan Laporan kerja Proyek". Nah, bang Sonnny, La Luta ingin juga cepat membaca kelanjutan Esei anda yang membahas tentang ORMAS VERSUS LSM. La Luta Continua! --- In [EMAIL PROTECTED], Agung Yudhawiranata <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > lumayan, > cuma satu hal mendasar yg penulis artikel ini lupakan: batasan definitif > elemen2 tulisannya. > apa itu LSM? apa saja macamnya? LSM yang seperti apa yang dimaksud dlm > artikel? dianggapnya pembaca sudah paham betul dunia LSM, apa bedanya LSM > dengan NGO? apa itu LSM plat merah? > begitu juga soal donor2an. kan ada yang G2G, ada yang G2C, ada yang C2C. > musti dijelasin juga dong. gak bisa digebyah uyah semua. > lagian nulis soal LSM kok referensinya buku bikinan tentara. Itu kan sama > aja nulis soal tentara referensinya buku bikinan panglima GAM. hehehe > > ay. > > > ----- Original Message ----- > From: "heri latief" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]>; <[EMAIL PROTECTED]>; > <[EMAIL PROTECTED]> > Sent: Wednesday, June 23, 2004 06:23 > Subject: [musyawarah-burung] LSM, Suara Donor atau Suara Rakyat? (esei Sonny > Wibisono) > > > > Date: Tue, 22 Jun 2004 18:42:15 +0700 > > From: "Sonny Wibisono" <[EMAIL PROTECTED]> > > Subject: LSM, Suara Donor atau Suara Rakyat? > > ----------------- > > > > SUARA PEMBARUAN DAILY - Selasa, 22 Juni 04 > > > > LSM, Suara Donor atau Suara Rakyat? > > Oleh Sonny Wibisono > > > > DALAM pelaksanaan Pemilu 2004, Indonesia mendapatkan > > bantuan dana dari > > negara-negara donor sebesar Rp 32 miliar. Bantuan > > tersebut diberikan > > kepada > > 28 institusi yang sebagian besar adalah Lembaga > > Swadaya Masyarakat > > (LSM) > > yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Dana > > tersebut digunakan > > untuk > > pendidikan pemilih bagi pemilih pemula dan diseminasi > > informasi Pemilu > > 2004. > > > > Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan ke-28 institusi > > yang mendapat > > dana > > tersebut melalui seleksi dan kompetisi yang ketat. > > Sumbangan bagi > > proses > > pemilu tahun ini banyak mengalir dari negara-negara > > asing yang > > kebanyakan > > dikoordinasi Badan Pembangunan PBB (UNDP) di > > Indonesia. > > > > Bantuan dari negara asing kepada LSM bukannya tidak > > pernah > > dipermasalahkan > > sebelumnya selama ini. Di awal tahun, Kastaf AD > > Jenderal Ryamizard > > Ryacudu > > bahkan menuding LSM selalu berkait dengan kegiatan > > intelijen asing di > > Indonesia. > > > > Diingatkannya pula kepada para aktivis LSM untuk > > berhati-hati kepada > > pihak > > asing yang memberikan bantuan. Pada saat itu memang > > tidak diungkapkan > > LSM > > serta pihak asing mana yang berhubungan dan terkait > > dengan aktivitas > > intelijen tersebut. > > > > Yang menjadi pertanyaan, sesungguhnya untuk siapakah > > LSM tersebut > > bekerja, > > apakah mereka bekerja secara murni untuk kepentingan > > nasional atau > > justru > > sebaliknya, secara sadar atau tidak, mereka bekerja > > untuk asing? > > > > Dalam bukunya: "Mengungkap Tabu Intelejen: Teror, > > Motif dan Rezim" > > (Panta > > Rhei, 2001), AC Manullang (mantan Direktur Bakin) > > mengingatkan agar > > intelejen kita cekatan menghadapi gerak-gerik > > intelejen pihak lawan > > yang > > melakukan penetrasi dan infiltrasi secara clandestine > > atau tersamar ke > > berbagai elemen masyarakat. > > > > Ditambahkan pula olehnya, kegiatan clandestine > > tersebut sangat luas > > sasarannya, perwakilan suatu negara di negara lain, > > pihak imigrasi, > > bank, > > dan lainnya dapat dimanfaatkan untuk mengumpulkan > > bahan keterangan yang > > diinginkan Dengan kata lain, LSM, terlebih lagi yang > > kegiatannya > > didanai > > oleh pihak asing, termasuk di dalamnya. > > > > Data yang diperoleh di Departemen Dalam Negeri > > mencatat, hingga tahun > > 2002, > > jumlah LSM di Indonesia mencapai angka 13.500 LSM. > > Angka tersebut tentu > > saja > > belum termasuk LSM yang tidak tercatat. Dan memang, > > dari jumlah > > tersebut, 90 > > persen LSM yang ada di Indonesia didanai oleh pihak > > asing (Kompas, 13 > > Januari 2003). > > > > > > Pemberdayaan > > > > Lembaga swadaya masyarakat atau disebut pula > > Organisasi Non-Pemerintah > > (Ornop) didefinisikan sebagai lembaga-lembaga yang > > berada di luar > > sektor > > pemerintah maupun bisnis swasta, yang bergerak dalam > > berbagai kegiatan > > pembangunan atau pembelaan kepentingan umum, dan > > menekankan pencarian > > pola-pola alternatif serta pemberdayaan masyarakat. > > > > Jenis kegiatan LSM mulai dari advokasi publik, pekerja > > sosial, > > pemberdayaan > > dan penyadaran, bantuan kemanusiaan, lingkungan hidup, > > hak konsumen > > hingga > > soal penggusuran rumah. Selama ini memang LSM > > diidentikkan dengan pihak > > yang > > berseberangan dengan pemerintah. > > > > Banyak memang LSM yang lantang menyuarakan dan > > (katanya) > > mengatasnamakan > > kepentingan rakyat. Apalagi bila ada kebijakan > > pemerintah yang > > dilahirkan > > ternyata dinilai merugikan kepentingan rakyat, > > merekapun ramai > > berteriak. > > > > Vox populi vox dei, dan bukankah suara rakyat adalah > > suara Tuhan. > > Tetapi > > apakah keberadaan mereka memang semata-mata untuk > > menyuarakan > > kepentingan > > dan memperjuangkan nasib rakyat? Memang, semenjak > > rezim Orde Baru > > tumbang, > > LSM tumbuh bagaikan cendawan di musim hujan. Nyatanya > > memang tidak > > semua LSM > > yang berdiri tersebut benar-benar murni karena > > kepentingan rakyat. > > Berdirinya mereka sebagian disebabkan pula oleh > > persyaratan-persyaratan > > yang > > diterapkan oleh lembaga keuangan internasional. > > > > Ambil contoh Bank Dunia, yang mensyaratkan perlunya > > pemerintah bekerja > > sama > > dengan LSM dalam proyek yang akan mereka kucurkan. > > Maka tak heran bila > > akhirnya muncul LSM 'jadi-jadian' dan juga LSM yang > > dinamakan pelat > > merah. > > Dengan kata lain, munculnya LSM disebabkan dua hal: > > pertama, karena > > kebutuhan riil masyarakat, dan kedua, karena adanya > > kucuran dana dari > > lembaga donor (funding). > > > > > > Bila pada akhirnya pihak donor mengucurkan dananya > > kepada para LSM > > tersebut, > > baik secara langsung ataupun tidak, apakah memang > > tidak terdapat agenda > > tersembunyi dari pihak donor tersebut ataupun dari > > negara yang > > diwakilinya? > > > > Yang jelas, pihak lembaga donor yang mengucurkan > > bantuannya tidak akan > > sembarangan dalam menyetujui proposal program yang > > ditawarkan oleh > > pihak > > LSM. Mereka akan memilah dan memilih program yang > > memang dirasakan > > 'pas' > > bagi mereka. > > > > Disadari atau tidak, agenda dari lembaga donor yang > > sesungguhnya > > dijalankan. > > Memang, ketergantungan LSM pada pihak asing tidak baik > > jika berlangsung > > secara terus menerus, apalagi bersifat permanen. > > Ketergantungan ini > > bukan > > hanya makin melekatkan citra bahwa LSM merupakan > > kepanjangan tangan > > pihak > > asing, tetapi juga dapat mengubah tujuan awal dan > > ideologi yang > > diperjuangkan oleh LSM tersebut. > > > > Perlu dipikirkan penggalangan dana yang berasal dari > > publik, yang tentu > > saja > > harus disertai akuntabilitas dan transparansi keuangan > > lembaga yang > > dikelolanya. Hal ini memang bukan pekerjaan yang > > mudah, tetapi bukan > > sesuatu > > yang mustahil. Banyak contoh yang dapat kita jumpai, > > lembaga-lembaga > > yang > > terorganisasi dengan baik tanpa adanya bantuan pihak > > asing. > > > > Umumnya, LSM tersebut berbentuk yayasan yang dipimpin > > oleh tokoh > > masyarakat, > > pengusaha, atau berafiliasi dengan perusahaan > > tertentu, yang juga > > bekerja > > secara profesional dengan mengusung prinsip-prinsip > > good governance. > > Tujuan > > dibentuknya LSM salah satunya untuk melakukan fungsi > > kontrol terhadap > > lembaga pemerintahan. > > > > Jangan sampai fungsi ini melenceng hanya karena > > ketergantungan dari > > pihak > > donor, ketergantungan secara bertahap harus dikurangi. > > Perlu dipikirkan > > dengan seksama, bagaimana menggalang kekuatan domestik > > untuk membiayai > > kegiatan LSM. Dalam hal ini, pemerintah sebaiknya juga > > menetapkan > > beberapa > > langkah yang mendorong kemandirian penggalangan sumber > > dana publik bagi > > LSM. > > > > Hal ini misalnya dengan diberlakukannya pembebasan > > pajak (tax > > exemption) > > pada sumbangan-sumbangan perseorangan atau perusahaan > > yang diberikan > > untuk > > organisasi-organisasi non-pemerintah. Dan berlaku pula > > bagi bantuan > > yang > > ditujukan untuk yayasan yang dananya bersumber dari > > masyarakat > > setempat, > > juga bagi upaya pengumpulan dana, serta bagi > > usaha-usaha setempat yang > > dijalankan oleh organisasi-organisasi non-pemerintah. > > > > Pemerintah tentu saja harus menetapkan kriteria yang > > lebih ketat dengan > > diberlakukannya pembebasan pajak tersebut, dan juga > > dapat menuntut > > transparansi yang lebih besar soal pertanggungjawaban > > keuangan > > organisasi > > non-pemerintah tersebut. Dengan bertumpunya sumber dan > > penggalangan > > dana > > pada kekuatan domestik, maka akan menghilangkan > > ketergantungan LSM dari > > donor asing, sehingga tidak ada lagi saling curiga, > > dan tidak ada lagi > > saling tuding. > > > > Para penggiat LSM juga perlu melakukan reorientasi > > dalam memperoleh > > dana > > dari donor, menengadahkan tangan kepada pihak donor > > dengan tarif dolar > > atau > > pound memang memang membuat dada ini terasa nyaman. > > Tetapi biar > > bagaimanapun > > juga, kepentingan nasional tetap harus dinomor satukan > > dan menjadi > > prioritas > > utama untuk diperjuangkan. > > > > > > Penulis adalah peneliti di Perkumpulan Membangun > > Kembali Indonesia > > (PMKI). > > > > Last modified: 22/6/04 > > > > > > > > > > ===== > > heri latief > > > > http://www.geocities.com/herilatief/ > > [EMAIL PROTECTED] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar. Now with Pop-Up Blocker. Get it for free! http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IotolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung ! Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan ! Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan ******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke : [EMAIL PROTECTED] (langganan) website http://www.geocities.com/jaker_pusat ( underconstructions) Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jaker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

