Peluncuran buku Putu Oka Sukanta,
Di Atas Siang Di Bawah Malam, Sketsa Perempuan dan Renungan
Seorang Eks Tapol
Di Atas Siang Di Bawah Malam, Sketsa Perempuan dan Renungan
Seorang Eks Tapol
Gagas Media, Jakarta, 2004, 223 + xix halaman Rp25.000,-
Oleh: Harsutejo
Peluncuran buku tersebut telah dilaksanakan pada 3 Agustus 2004 di Goethe Institut, Jl Sam Ratulangi, Jakarta dalam suatu acara seni yang semarak. Hadirin yang hampir 200 orang itu mayoritas terdiri dari anak muda dan komunitas seni yang umumnya dapat memberikan apresiasi yang cukup baik, di samping sejumlah teman dan sahabat penulis yang baru saja berulang tahun ke 65.
Buku ini merupakan kumpulan puisi dan prosa seniman Putu Oka dengan salah satu titik berat temanya tentang perempuan, atau lebih tepat lagi tentang kemanusiaan sebagaimana karya Putu yang lain. Tidak aneh karena si penulis memiliki segudang pengalaman yang telah berhasil diendapkannya sebagai eks tapol Orde Baru yang telah mendekam selama 10 tahun dalam penjara, di samping sebagai aktivis kemanusiaan yang di antaranya aktif dalam pengobatan akupungtur, pelestarian dan pengembangan tanaman obat dengan sanggar kerja di Cipaku, Bogor. Perjalanan kesenimanannya telah dicatat sejak 1950-an di Bali, berlanjut pada 1960-an dengan karya-karyanya di Harian Rakjat dan Zaman Baru, yang satu harian PKI yang lain majalah budaya Lekra. Oka mengaku bahwa sejak tulisan-tulisannya dimuat kedua media itu maka media lain menolak tulisannya. Pengalamannya sebagai tapol telah dituangkannya dalam sebuah novel tebal lebih dari 500 halaman, Merajut Harkat yang telah diterbitkan oleh
Pustaka Pelajar & Jendela Budaya, Yogyakarta pada 1999.
Berbeda dengan acara peluncuran buku politik yang biasanya diisi dengan sambutan yang menggebu dan umpan balik hadirin yang emosional dan penuh retorika, maka malam itu benar-benar malam seni yang mengalun nyaman, kadang mencekam menggugah empati kemanusiaan kita. Acara yang lancar itu diisi dengan pembacaan surat sebagai bagian dari prosa, pemutaran film tentang profil dan kehidupan sang seniman, pentas 9 adegan novelet, alunan suara Bung Ripto bersama Mbak Tatik (Titik?), pembacaan puisi oleh Rieke Dyah Pitaloka (yang tersohor sebagai Oneng dalam sinetron Bajaj Bajuri), dan diskusi buku oleh tokoh dan aktivis perempuan Debra Yatim dan Sita Ari Purnami. Debra menamai Putu Oka juga sebagai feminis, pembela harkat perempuan. Yang pasti seniman dan aktivis Putu Oka Sukanta pembela harkat kemanusiaan. Sosok yang gagah tegap, dengan muka cerah itu mudah-mudahan terus berkarya dalam sejumlah jalur yang telah dipilihnya. Nampaknya sang seniman menikmati peran yang
diembannya, bravo Bung Putu Oka!
Bekasi, 5 Agustus 2004.
--- End forwarded message ---
--- End forwarded message ---
Do you Yahoo!?
Take Yahoo! Mail with you! Get it on your mobile phone.
Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)
website http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

