Acara Sarasehan mengenai �Indonesia Pasca Pemilu 2004: Prospek Situasi Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya� telah diselenggarakan oleh KBRI - Belgia pada hari Jumat, 6 Agustus 2004 Pukul 18.30 � selesai Di Aula Kedutaan Besar RI di Brussel, Avenue de Tervuren 294 1150 Brussel (tel. 02 777 20 14)
Bapak Sulaiman Abdulmanan Duta Besar RI bertindak sebagai pembahas dan pemandu acara. Acara Sarasehan dianggap sekaligus oleh beliau sebagai salah satu program acara untuk menyambut HUT kemerdekaan Indonesia 2004,
Dalam acara Sarasehan tersebut hadir sebagai Pembicara antara lain:
1. Mulyadi (staf magang pada KBRI Brussel) yang memberikan tinjauan mengenai prospek demokrasi dan tantangan presiden terpilih. Pembahasan pokok mengenai pertanyaan: "Kenapa SBY menang dan Bagaimana nasib proses demokratisasi di Indonesia pasca Pemilu 2004?"
Kemenangan SBY pada pemilihan capres putaran pertama berpengaruh pada 3 faktor Momentum, yaitu pertama didasari oleh keresahan dan kekecewaan rakyat terhadap kebijakan pemerintahan Megawati. Ke dua, SBY menggunakan momentum melalui media massa, cetak maupun dunia cyber, sebagai figur yang 'Teraniaya' oleh pemerintahan Megawati. ke tiga, penampilan sebagai figur yang mampu berkomunikatif secara langsung kepada rakyat dan bagi golongan yang merindukan keamanan atas bahaya desintegrasi di NKRI.
Sebagai tantangan proses Demokratisasi yang mana menganggap kalangan di tingkat elite yang berhaluan Nasional maupun Agama secara "ideologi" masih belum selesai. Disisi lain juga dinilai bahwa sistim demokrasi sampai sa�t ini berfungsi masih di level prosedural, yang mana dipahami sebagai keberhasilan hanya untuk mengadakan pemilu legislatif dan pilpres. Sementara itu peranan politik elite di Indonesia masih didominasi oleh sistim 'politik dagang sapi'. Bahkan Golongan LSM dan pressure groups yang diharapkan mampu sebagai motor penggerak proses demokratisasi pun cenderung berperan sebagai pendukung/-pembantu kepentingan politik elite...
2. Boebs Hudiyana (konsultan ekonomi) yang meninjau masalah dari aspek ekonomi. Pembahasan pokok mengenai tantangan ekonomi Indonesia menghadapi globalisasi ekonomi, yang mana di dominasi oleh sistim hak pemilikan dan hukum pasar rejim Kapitalisme Liberal. Peranan masyarakat Industri yang berlaku sejak tahun 1945 sampai 2045 dianggap sebagai figur yang mempunyai hak pemilikan JASA dan technology. Hak pemilikan tersebut sifatnya menunjang kepentingan perusahaan multinasional yang bergerak dibidang Informasi Technology, Bio-Technology dan Technology Industry Complex lainnya. Sementara itu sarat-sarat dari kepentingannya di Indonesia sebenarnya dianggap sudah memenuhi kriteria seperti sumber kekayaan alam dan sumber daya manusia yang memadai. Namun tantangan yang masih dihadapinya adalah keberadaan sistim oligarki yang mengandalkan pada kekuatan komplot dari segelintir manusia dari militer, pengusaha nasional dan politisi. Sistim ini yang memaksakan praktek KKN, yang mana dianggap merugikan kepentingan kaum Perusahaan Multinasional.
Sedangkan disisi lain, Sektor Ekonomi Rakyat yang mengandalkan kegiatan ekonomi sektor informal telah berhasil secara mandiri menangani persoalan krisis ekonomi yang dihadapi Indonesia sejak 1997. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang banyak itu diharapkan daya kreatifitas Rakyatnya akan mendapat perhatian khusus, misalnya dalam peningkatan sarana training pendidikan ekonomi kerakyatan. Pendidikan bagi kaum pekerja pabrik dimaksudkan untuk mampu bersaing dengan kaum buruh negara dunia ketiga lainnya serta negara Europa timur.
3. Heriansyah Latief (penyair, tinggal di Belanda) memberikan pandangannya mengenai warna ekspresi budaya Indonesia, dan membacakan puisi-puisinya. Sehubungan dengan ini saya kirimkan makalah yang ditulis berupa esei oleh Heri Latief.
3. Heriansyah Latief (penyair, tinggal di Belanda) memberikan pandangannya mengenai warna ekspresi budaya Indonesia, dan membacakan puisi-puisinya. Sehubungan dengan ini saya kirimkan makalah yang ditulis berupa esei oleh Heri Latief.
La Luta Continua!
---------------------------------------------------------------------------------
Warna Ekspresi Budaya Kita Era Pasca Pemilu 2004
Sodara-sodara sebangsa dan setanah air yang terhormat,
asalamualaikum wr wb.
Dalam kesempatan ini saya coba mengulas, mengupas dan
nyari-kata-kata yang pas untuk mengerti perkara �warna
ekspresi kebudayan kita era pasca pemilu 2004�.
Saya mulai dengan pertanyaan pertama, apakah kita
punya yang namanya kebudayaan? Jika ada, apa warnanya?
Lalu apa ciri khas kebudayaan kita ini?
Banyak yang bilang bahwa warna hijau mendominasi warna
kebudayaan kita. Mulai dari hijaunya Dollar, sampai
hijaunya warna simbolik dari agama, dan jangan lupa
juga sang pemilik warna hijau yang punya senjata�
Tanpa kita sadari, ciri khas kebudayaan kita adalah
�Sex , Drugs en Dangdut�. Sexnya kita sudah maklum,
panas, model postmo yang g�lo, drugsnya sudah
mencapai taraf kecanduan yang gawat. Dangdutnya adalah
Inulisme yang bergoyang menggoda nafsu imajinasimu.
Kenapa rupanya? apakah kita ini mau jujurdan mau
melihat kenyataan di depan mata kita? atau kita hanya
sanggup memanjakan ilusi yang terlalu sering bermimpi
tentang negeri yang alamnya telah dirusak oleh
racunnya Merkuri, sehingga matahati kita seringkali
kelilipan, membiarkan kecurangan terjadi di depan
mata, dan silau hatinuraninya akibat dirayu oleh
gemerlapnya sinarnya emas dan sexynya berlian.
Seperti istilah yang sering kita dengar, �mencari
sesuap nasi dan segenggam berlian�, maka kebudayaan
�bergaya-kaya� hidupnya itu diongkosi oleh kemiskinan
ra�yat, kita terbiasa melupakan kejadian yang salah,
dan memuja-muji kebudayaan �l�ng-bet alias
mel�ng-sabet�, Korupsi telah menjadi karakter jahat
bangsa kita, yang telah menjalar kian-kemari, sehingga
ada yang berteriak: kita perlu orang yang bernama Zhu!
Supaya para perampok yang telah merajah kas negara,
mendapatkan hukuman yang bakalan mengagetkan kenekatan
para wong maling yang sudah terlalu rakus nyolong
uangnya ra�yat Indonesia.
Kita rasakan refleksinya kekecewaan ra�yat pada
kekuasaan dalam sebuah puisi dari Wiji Thukul yang
berjudul:
SAJAK UNTUK BUNG DADI
Ini tanahmu juga
Rumah-rumah yang berdesakan
Manusia dan nestapa
Kampung halaman gadis-gadis muda
Buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
Dengan gaji tak pantas
Kampung orang-orang kecil
Yang dibikin bingung
Oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
Dibikin tunduk mengangguk
Bungkuk
Ini tanah airmu
Di sini kita bukan turis
Wiji Thukul
Malam pemilu �87
Sorogenen, Solo
(dari buku kumpulan puisi Wiji Thukul, "Het Lied Van
De Grasspollen" atau "Nyanyian Akar Rumput, penerbit
Wertheim Stichting en Rozenberg Publisher)
Bayangkanlah, puisi Wiji Thukul itu dibikin tahun
1987, dimana pemerintahan Orba lagi ganas merajalela,
lalu ada tukang vernis mebel yang bicara atas nama
tanah airnya, bicara soal kepincangan sosial, lalu
ra'yat dipaksa untuk "nrimo" sesuai dengan kastanya,
klasnya, dan turis asing pun nyatanya memang
di-istimewakan kerna mereka membawa segepok Dollar,
yang bisa membeli harga dirimu!
Ini kenyataan sampai sekarang, modal yang dari Barat
jadi pujaan berat, biarpun modal itu dengan rakusnya
merajah hasil alam negeri kita, tapi masih banyak
orang yang percaya bahwasanya modal itu datang untuk
membantu kita, padahal sudah kita lihat, puluhan tahun
modal asing bermain-main di tanah air kita, tapi gaji
buruh tak pernah beringsut dari standard upah minimum,
yang sangat minim, sehingga tak mungkin buruh
Indonesia bisa hidup secara layak. Gajinya buruh kita
sangat kecil dibandingkan keuntungan yang
berlipatganda dari para pemodal yang gila hijaunya
dollar, sehingga tega membunuh seorang aktivis buruh
yang bernama:
MARSINAH
Pada Marsinah kita lihat sejarah
Penindasan, yang sengaja dilupakan
Sengaja dilupakan nama Marsinah demi hijaunya Dollar,
inilah salah satu warna kebudayaan kita juga, iaitu
�kebudayaan doyan lupa�. Sejenis Amnesia sejarah.
Mungkin kerna kita takut pada realitas yang ganas!
Yang telah menciptakan perang sodara, pembataian liar
yang terorganisir, dan ketakutan yang dihalalkan oleh
para pengikut dari golongan sesat, yang ingin
terus-terusan menyesatkan jalan pikiran kita, kerna
kekuasaan yang disalahgunakan hanya akan menuai panen
destabilisasi kehidupan masyarakat, yang berakibatkan
frustrasi, depresi dan agresi. Munculah kebudayaan
kekerasan. Kita terbiasa membaca berita tentang
seorang maling kecil yang dibakar di jalanan,
sedangkan kasus korupsi bermilyar-milyar rupiah itu
bisa diatur secara �Cosa Nostra� alias Urusan Kita�,
jadi jelaslah ceritanya, korupsi adalah cikal bakalnya
proses kehancuran bangsa kita.
Korupsi telah menjadi idolanya bangsa yang pernah
dijajah, dan ini memang tidak terlalu mengejutkan,
lalu sepertinya kita lupa juga bahwa kita pernah
dipaksa untuk memerankan peranan sebagai budak, dan
sekarang malahan bergaya seperti para bekas
penjajahnya, iaitu bersikap yang sama, MENINDAS, demi
hijaunya Dollar hasil korupsi yang nampaknya memang
telah direstui YANG DIATAS�
Penindasan pun berwarna merah berdarah. Kebudayaan
kekerasan telah dijadikan kebiasaan jelek. Siapa yang
punya senjata dan Dollar bisa memaksakan kehendaknya.
Contohnya: pembunuhan dan penyiksaan lahir batin
terhadap jutaan ra�yat, diantaranya Tragedi 65, yang
sampai sekarang tak pernah tuntas menjawap pertanyaan
dari para korban-korban dan keluarganya. Apalagi jika
kita bicara soal Tragedi 98, kita akan menabrak
kerasnya tembok kekuasaan yang beku, kaku dan
berkepala batu.
Lengkaplah sudah, hijaunya warna ekspresi kebudayaan
kita yang punya ciri khas: Sex, Drugs, en Dangdut.
Mari kita kupas sedikit soal Sex bangsa kita sekarang,
yang terbiasa dengan semboyan �tiban duluan-urusan
belakangan�, dan bila ada tuntutan kerna perut sang
dara membengkak akibat cinta, maka solusinya adalah
pembunuhan, contohnya: kasus mahasiswi Trisakti yang
dijerat lehernya oleh sang pacar.
Ini kah yang namanya �moral budaya� kita sekarang dan
yang akan datang?
Setelah mengalami masa 32 tahun dijajah oleh bangsa
sendiri, sekarang kita masih suka bangga bermental
budak dan mengagung-agungkan warisan tradisi KKN.
Sodara-sodara yth, apakah kita lupa dengan cita-cita
para orang tua kita, para pejuang kemerdekaan yang
ingin bebas dari cengkraman dan jeratan sang penjajah
Belanda yang kejam itu, dimana mereka telah berjuang
mempertaruhkan nyawanya demi kemerdekaan bangsanya,
bangsa Indonesia.
Kita memang sudah merdeka dari penjajahan asing, semua
orang juga tau bahwa masalah korupsi adalah salah satu
warisan bobrok dari kelakuan jorok sang penjajah yang
telah menularkan virus korupsinya VOC. Bayangkanlah,
apa betul budaya korupsi kita itu di dapat juga dari
hasil warisan sang penjajah? Pertanyaan yang mustinya
kita bisa menjawapnya secara rasionil.
Begitulah, sejak rempah-rempah kita dicari-cari dan
diketemukan oleh orang dari Barat, sejak itu kita
punya yang namanya �koktil kebudayaan�.
KOKTIL KEBUDAYAAN KITA?
jawabnya adalah sex, drugs en dangdut!
ini kenyataan, ini realitas!
kehidupan gesek-gesekan bebas ganas
aktif terjadi melilit rayuan frustrasi
sirnanya cinta terbelit kemiskinan
jual diri, jual nama, jual tampang
hanya untuk selembar kertas bernama uang!
oya?!
puisi cerita tentang uang, sex dan cinta
manusia punya alasan alamiah, nafsu
yang suka melampaui batas-batas hayalan
ujung-ujungnya pasti menuai kekecewaan
keraguan dan putus asa
salah siapa jika semua itu jadi bencana?
penyakit menyandu hayalan semu
tipikal makhluk berkaki dua berotak beku
kurang piknik namanya?
atau overdosis rasa ketidakpercayaan?
ketika kebudayaan kita diseruduk politik globalisasi
maka rakusnya korupsi tingkat tinggi makin sakti!
di bawah sana orang ikut-ikutan pesta orgienya gongli
liuer, liar, wild, ganas dan nafunya bertanduk!
lengkaplah sudah jamannya "anarki-korupsi"
siapa yang tak ikut main, ditendang! mental!
kebudayaan kita sekarang adalah koktil keganasan
akibat tindakan jahat yang tak pernah dibuktikan
padahal
bukti di depan mata batin kita
lengkap dengan laporan ilmiah berjudul "empiris"
apalagi yang kurang j�k?
uang! doku, dokat, duit
bisa membeli semua yang terjepit
itulah semboyannya
sex, drugs en dangdut
adalah koktil kebudayaan kita
Salam, Heri Latief
Amsterdam, 5 Juli 2004
=====
heri latief
http://www.herilatief.tk/
[EMAIL PROTECTED]
Sodara-sodara sebangsa dan setanah air yang terhormat,
asalamualaikum wr wb.
Dalam kesempatan ini saya coba mengulas, mengupas dan
nyari-kata-kata yang pas untuk mengerti perkara �warna
ekspresi kebudayan kita era pasca pemilu 2004�.
Saya mulai dengan pertanyaan pertama, apakah kita
punya yang namanya kebudayaan? Jika ada, apa warnanya?
Lalu apa ciri khas kebudayaan kita ini?
Banyak yang bilang bahwa warna hijau mendominasi warna
kebudayaan kita. Mulai dari hijaunya Dollar, sampai
hijaunya warna simbolik dari agama, dan jangan lupa
juga sang pemilik warna hijau yang punya senjata�
Tanpa kita sadari, ciri khas kebudayaan kita adalah
�Sex , Drugs en Dangdut�. Sexnya kita sudah maklum,
panas, model postmo yang g�lo, drugsnya sudah
mencapai taraf kecanduan yang gawat. Dangdutnya adalah
Inulisme yang bergoyang menggoda nafsu imajinasimu.
Kenapa rupanya? apakah kita ini mau jujurdan mau
melihat kenyataan di depan mata kita? atau kita hanya
sanggup memanjakan ilusi yang terlalu sering bermimpi
tentang negeri yang alamnya telah dirusak oleh
racunnya Merkuri, sehingga matahati kita seringkali
kelilipan, membiarkan kecurangan terjadi di depan
mata, dan silau hatinuraninya akibat dirayu oleh
gemerlapnya sinarnya emas dan sexynya berlian.
Seperti istilah yang sering kita dengar, �mencari
sesuap nasi dan segenggam berlian�, maka kebudayaan
�bergaya-kaya� hidupnya itu diongkosi oleh kemiskinan
ra�yat, kita terbiasa melupakan kejadian yang salah,
dan memuja-muji kebudayaan �l�ng-bet alias
mel�ng-sabet�, Korupsi telah menjadi karakter jahat
bangsa kita, yang telah menjalar kian-kemari, sehingga
ada yang berteriak: kita perlu orang yang bernama Zhu!
Supaya para perampok yang telah merajah kas negara,
mendapatkan hukuman yang bakalan mengagetkan kenekatan
para wong maling yang sudah terlalu rakus nyolong
uangnya ra�yat Indonesia.
Kita rasakan refleksinya kekecewaan ra�yat pada
kekuasaan dalam sebuah puisi dari Wiji Thukul yang
berjudul:
SAJAK UNTUK BUNG DADI
Ini tanahmu juga
Rumah-rumah yang berdesakan
Manusia dan nestapa
Kampung halaman gadis-gadis muda
Buruh-buruh berangkat pagi pulang sore
Dengan gaji tak pantas
Kampung orang-orang kecil
Yang dibikin bingung
Oleh surat-surat izin dan kebijaksanaan
Dibikin tunduk mengangguk
Bungkuk
Ini tanah airmu
Di sini kita bukan turis
Wiji Thukul
Malam pemilu �87
Sorogenen, Solo
(dari buku kumpulan puisi Wiji Thukul, "Het Lied Van
De Grasspollen" atau "Nyanyian Akar Rumput, penerbit
Wertheim Stichting en Rozenberg Publisher)
Bayangkanlah, puisi Wiji Thukul itu dibikin tahun
1987, dimana pemerintahan Orba lagi ganas merajalela,
lalu ada tukang vernis mebel yang bicara atas nama
tanah airnya, bicara soal kepincangan sosial, lalu
ra'yat dipaksa untuk "nrimo" sesuai dengan kastanya,
klasnya, dan turis asing pun nyatanya memang
di-istimewakan kerna mereka membawa segepok Dollar,
yang bisa membeli harga dirimu!
Ini kenyataan sampai sekarang, modal yang dari Barat
jadi pujaan berat, biarpun modal itu dengan rakusnya
merajah hasil alam negeri kita, tapi masih banyak
orang yang percaya bahwasanya modal itu datang untuk
membantu kita, padahal sudah kita lihat, puluhan tahun
modal asing bermain-main di tanah air kita, tapi gaji
buruh tak pernah beringsut dari standard upah minimum,
yang sangat minim, sehingga tak mungkin buruh
Indonesia bisa hidup secara layak. Gajinya buruh kita
sangat kecil dibandingkan keuntungan yang
berlipatganda dari para pemodal yang gila hijaunya
dollar, sehingga tega membunuh seorang aktivis buruh
yang bernama:
MARSINAH
Pada Marsinah kita lihat sejarah
Penindasan, yang sengaja dilupakan
Sengaja dilupakan nama Marsinah demi hijaunya Dollar,
inilah salah satu warna kebudayaan kita juga, iaitu
�kebudayaan doyan lupa�. Sejenis Amnesia sejarah.
Mungkin kerna kita takut pada realitas yang ganas!
Yang telah menciptakan perang sodara, pembataian liar
yang terorganisir, dan ketakutan yang dihalalkan oleh
para pengikut dari golongan sesat, yang ingin
terus-terusan menyesatkan jalan pikiran kita, kerna
kekuasaan yang disalahgunakan hanya akan menuai panen
destabilisasi kehidupan masyarakat, yang berakibatkan
frustrasi, depresi dan agresi. Munculah kebudayaan
kekerasan. Kita terbiasa membaca berita tentang
seorang maling kecil yang dibakar di jalanan,
sedangkan kasus korupsi bermilyar-milyar rupiah itu
bisa diatur secara �Cosa Nostra� alias Urusan Kita�,
jadi jelaslah ceritanya, korupsi adalah cikal bakalnya
proses kehancuran bangsa kita.
Korupsi telah menjadi idolanya bangsa yang pernah
dijajah, dan ini memang tidak terlalu mengejutkan,
lalu sepertinya kita lupa juga bahwa kita pernah
dipaksa untuk memerankan peranan sebagai budak, dan
sekarang malahan bergaya seperti para bekas
penjajahnya, iaitu bersikap yang sama, MENINDAS, demi
hijaunya Dollar hasil korupsi yang nampaknya memang
telah direstui YANG DIATAS�
Penindasan pun berwarna merah berdarah. Kebudayaan
kekerasan telah dijadikan kebiasaan jelek. Siapa yang
punya senjata dan Dollar bisa memaksakan kehendaknya.
Contohnya: pembunuhan dan penyiksaan lahir batin
terhadap jutaan ra�yat, diantaranya Tragedi 65, yang
sampai sekarang tak pernah tuntas menjawap pertanyaan
dari para korban-korban dan keluarganya. Apalagi jika
kita bicara soal Tragedi 98, kita akan menabrak
kerasnya tembok kekuasaan yang beku, kaku dan
berkepala batu.
Lengkaplah sudah, hijaunya warna ekspresi kebudayaan
kita yang punya ciri khas: Sex, Drugs, en Dangdut.
Mari kita kupas sedikit soal Sex bangsa kita sekarang,
yang terbiasa dengan semboyan �tiban duluan-urusan
belakangan�, dan bila ada tuntutan kerna perut sang
dara membengkak akibat cinta, maka solusinya adalah
pembunuhan, contohnya: kasus mahasiswi Trisakti yang
dijerat lehernya oleh sang pacar.
Ini kah yang namanya �moral budaya� kita sekarang dan
yang akan datang?
Setelah mengalami masa 32 tahun dijajah oleh bangsa
sendiri, sekarang kita masih suka bangga bermental
budak dan mengagung-agungkan warisan tradisi KKN.
Sodara-sodara yth, apakah kita lupa dengan cita-cita
para orang tua kita, para pejuang kemerdekaan yang
ingin bebas dari cengkraman dan jeratan sang penjajah
Belanda yang kejam itu, dimana mereka telah berjuang
mempertaruhkan nyawanya demi kemerdekaan bangsanya,
bangsa Indonesia.
Kita memang sudah merdeka dari penjajahan asing, semua
orang juga tau bahwa masalah korupsi adalah salah satu
warisan bobrok dari kelakuan jorok sang penjajah yang
telah menularkan virus korupsinya VOC. Bayangkanlah,
apa betul budaya korupsi kita itu di dapat juga dari
hasil warisan sang penjajah? Pertanyaan yang mustinya
kita bisa menjawapnya secara rasionil.
Begitulah, sejak rempah-rempah kita dicari-cari dan
diketemukan oleh orang dari Barat, sejak itu kita
punya yang namanya �koktil kebudayaan�.
KOKTIL KEBUDAYAAN KITA?
jawabnya adalah sex, drugs en dangdut!
ini kenyataan, ini realitas!
kehidupan gesek-gesekan bebas ganas
aktif terjadi melilit rayuan frustrasi
sirnanya cinta terbelit kemiskinan
jual diri, jual nama, jual tampang
hanya untuk selembar kertas bernama uang!
oya?!
puisi cerita tentang uang, sex dan cinta
manusia punya alasan alamiah, nafsu
yang suka melampaui batas-batas hayalan
ujung-ujungnya pasti menuai kekecewaan
keraguan dan putus asa
salah siapa jika semua itu jadi bencana?
penyakit menyandu hayalan semu
tipikal makhluk berkaki dua berotak beku
kurang piknik namanya?
atau overdosis rasa ketidakpercayaan?
ketika kebudayaan kita diseruduk politik globalisasi
maka rakusnya korupsi tingkat tinggi makin sakti!
di bawah sana orang ikut-ikutan pesta orgienya gongli
liuer, liar, wild, ganas dan nafunya bertanduk!
lengkaplah sudah jamannya "anarki-korupsi"
siapa yang tak ikut main, ditendang! mental!
kebudayaan kita sekarang adalah koktil keganasan
akibat tindakan jahat yang tak pernah dibuktikan
padahal
bukti di depan mata batin kita
lengkap dengan laporan ilmiah berjudul "empiris"
apalagi yang kurang j�k?
uang! doku, dokat, duit
bisa membeli semua yang terjepit
itulah semboyannya
sex, drugs en dangdut
adalah koktil kebudayaan kita
Salam, Heri Latief
Amsterdam, 5 Juli 2004
=====
heri latief
http://www.herilatief.tk/
[EMAIL PROTECTED]
Do you Yahoo!?
New and Improved Yahoo! Mail - 100MB free storage!
Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)
website http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)
| Yahoo! Groups Sponsor | |
|
|
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

