Acara 30 Oktober 2004 di Schakel Diemen � Indonesia Media:

 

�KEBEBASAN PERS HARUS DIPERJUANGKAN�

 

 kata  pengantar  Moderator.  JOESOEF ISAK dan Hasta Mitra

 

Joesoef Isak:

  • Joesoef Isak dilahirkan pada tanggal 15 Juli tahun 1928 di Kampung Ketapang, Jakarta.
  • Pada masa kemerdekaan beliau bekerja pada surat kabar Berita Indonesia dibawah pimpinan Suaridi Tahsin. Dan kemudian beliau bergabung dengan  surat kabar Merdeka dibawah Pimpinan B.M.Diah. Pak Joesoef Isak pun dikenal sebagai pendukung gerakan Radikal Nasionalisme Soekarno.
  • Setelah kudeta tahun 1965 menyebabkan salah satu pembunuhan Massal paling berdarah dalam sejarah Modern, juga Pak Joesoef Isak pun menjadi korban kekejaman sistim Orde Baru yang ketika itu dikuasai oleh Soeharto. Pak Joesoef dipenjarakan dari tahun 1967 sampai dengan tahun 1977 di rumah tahanan Salemba tanpa proses hukum.
  • April 1980, setelah dibebaskan, Pak Joesoef Isak terlibat sebagai salah satu pendiri penerbit dan editor Hasta Mitra yang setahun kemudian, yaitu tepatnya pada tanggal 29 Mei 1981 buku terbitannya dilarang pemerintahaan Soeharto. Beliau dikenal karena komitmennya terhadap dunia penerbit karya sastra Pulau Buru walau pun ditentang secara politis dan diancam oleh sistim pemerintahan Orde Baru dibawah kekuasaan rejim Soeharto.

Penerbit Hasta Mitra:

Hasta Mitra didirikan tahun 1980 oleh tiga orang mantan tahanan politik tahun 1965, yakni oleh Joesoef Isak,  Pramoedya Ananta Toer dan  almarhum Hasjim Rahman. Memang ketika itu telah  disadari bahwa organisasi penerbitnya yang didirikan adalah untuk menyebarluaskan karya-karya kreatif para mantan tapol yang tidak mungkin diterima oleh penerbit-penerbit yang sudah ada.

 

Ketika tahun 1980 penerbitan Hasta Mitra yang pertama, yaitu sebuah buku berjudul Bumi Manusia Karya pertama dari rangkaian tetralogi buah pena Pramoedya Ananta Toer.  Penerbit Hasta Mitra ini mendapat sambutan masyarakat,  dan terjual 60.000 eksemplar hanya dalam waktu enam bulan.

 

Namun alhasil, enam bulan setelah terbit, Kejaksaan Agung melarang peredaran Bumi Manusia. Nasib tidak berbeda juga menimpa karya-karya Pram berikutnya, termasuk tetralogi Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Bahkan, ketiga karya terakhir ini langsung dilarang oleh Kejaksaan Agung hanya 1-2 bulan setelah terbit. Dan setahun kemudian 29 Mei 1981 buku-buku karya terbitan Hasta Mitra dilarang oleh pemerintahan Soeharto dan bahkan pelarangan terbit tersebut sampai sa�t ini masih diberlakukan.

 

Pelarangan demi pelarangan yang dialami Hasta Mitra ini tentu mengandung makna dari misi � kebebasan Pers harus diperjuangkan� bagi Pak Joesoef Isak dan kawan-kawan pendiri secara umum maupun pada khususnya, yang untuk mempertahankan kebebasan media dan pers di dunia pernerbitan. Karena ini sangat berhubungan erat dengan  persoalan yang tidak lepas dengan sejarah Hasta Mitra, yaitu makna dari visi sejarah perjuangan penegakan hak asasi manusia di Indonesia.

 

Untuk itu Pak Joesoef Isak, yang sebagai salah satu dari TRIO pendiri Hasta Mitra, dimohon kesediaannya untuk menceritakan lebih lengkap kepada kamikami mengenai suka dan dukanya demi menyelamatkan dan mempertahankan serta mengembangkan Hasta Mitra  sebagai penerbit yang pada kenyataannya sampai mendapat pengakuan internasional tahun ini. Kenyataan atas keberhasilan Hasta Mitra mendapatkan penghargaan Internasional dari Asosiasi Penerbit Amerika karena di nilai sebagai salah satu penerbit yang mempertahankan Kebebasan Penerbitan dan untuk Kebebasan berekspresi di Indonesia maupun di seluruh dunia.  Yang mana Anugerah peghargaan ini diserahkan pada tanggal 20 April yang lalu oleh International Freedom to Publish Committee � IFTPC (Komite  internasional untuk Kebebasan Menerbitkan) di bawah Association of American Publishers (AAP), dalam rangka acara gala tahunan dari PEN � persatuan penulis dunia di Pierre Hotel di New York.

 

Ini  penting bagi kami yang dari generasi muda untuk bisa belajar dari pengalaman hidup perjuangan Pak Joesoef Isak ,yang juga dikenal karena komitmennya terhadap dunia Media Pers maupun penerbit karya sastra,  walau pun ditentang secara politis dan di bawah ancaman keselamatan dirinya dan keluarganya.

 

Dengan begitu, ijinkan kami untuk mengajukan beberapa  Pertanyaan sebagai berikut:

  1. Sehubungan dengan Hak kebebasan Pers sejak periode dibawah pemerintahan Presiden pertama  Soekarno, Pak Joesoef sebagai wartawan muda lalu terjun dan bergerak dalam organisasi kewartawanan, seperti menjabat sebagai Ketua Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia, PWI Cabang Jakarta (1959-1963) serta Wakil Presiden International Organization of Journalist. Ini tentunya dialami melalui berbagai fase proses perjuangan untuk hak kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Melalui proses tersebut hingga tumbuh dan terbentuk kesadaran politik. Apakah Bung Joesoef Isak bersedia menceritakan proses perjalanan perjuangannya tersebut?

 

  1. Seputar G30S/1965 dan periode Orde Baru: Sebagai pengalaman Pak Joesoef Isak yang sebagai salah satu pendiri penerbit Hasta Mitra yang dinilai alternatief dan progressief tentunya mengalami tantangan pembredelan dan sensor untuk menuju kebebasan pers. Tentunya ini juga berkaitan dengan penggunaan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang ada sampai sekarang merupakan peranti HUKUM WARISAN KOLONIAL yang  mana didalamnya ada beberapa hal tidak melindungi Kebebasan Pers. Bagaimana tanggapan Pak Joesoef?

 

3. Sehubungan dengan pengharapan bung Joesoef Isak yang mencita-citakan generasi baru Indonesia untuk tetap mempunyai  �Nafas Kemerdekaan Indonesia� . Bagaimana pandangan perspektief perkembangan kesadaran politik Masyarakat Indonesia, sa�at ini dan untuk mendatang, menurut Pak Joesoef Isak? Apakah Bapak masih optimis Bahwasanya generasi baru sa�t ini ataupun untuk mendatang masih mampu memiliki JATIDIRI sebagai bangsa yang MERDEKA untuk BERDIKARI yang mana, MISALNYA tetap peduli dalam tuntutan Penegakan Hukum untuk Keadilan Sosial dan untuk meningkatkan kesejahteraan Rakyat di Indonesia? Yang ini tentunya juga pernah di cita-citakan oleh presiden pertama Soekarno.

Amsterdam, 30 Oktober 2004

-------------------------------------------------------------------------


Do you Yahoo!?
Yahoo! Mail � CNET Editors' Choice 2004. Tell them what you think.

Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)

website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke