IBRAHIM ISA dari BIJLMER
------------------------
30 Oktober 2004.
JOESOEF ISAK di DIEMEN - (1)
"KERINCUAN BERFIKIR" adalah --
Lebih serius terbanding KKN
Pagi tanggal 30 Okt ini, kami berdua, Murti dan saya, diundang oleh Stichting INDONSIA MEDIA ( Ketua: Arief Tahsin; Bendahara: Nanto Prasetyo), untuk menghadiri acara temu wicara masyarakat Indonesia dengan Joesoef Isak, Pemimpin Penerbit HASTA MITRA, yang sedang berada di Belanda. Ruangan gedung "Schakel" di Diemen penuh sesak oleh para hadirin.
Dalam pembicaraannya yang dari mula sampai akhir sangat menarik dan penting, Josoef Isak menyatakan a.l.:
'Kerincuan berfikir', yang merupakan suatu "denkfout", dikarenakan lebih 32 tahun represi rezim Orba, adalah lebih serius terbanding KKN. Pada suatu ketika Indonesia akan mampu menangani KKN, meskipun tidak sepenuhnya. Juga 'krismon' pada waktunya akan dapat diatasi, karena Indonesia adalah negeri yang kayaraya. Dalam temu-wicara dengan masyarakat Indonesia di Belanda hadir juga sementara teman yang datang dari Jerman.
Joesoef Isak, yang baru saja menghadiri Hari Sastra Indonesia, atas undangan khusus ASSOCIATION FRANCO-INDONESIENNE, PARIS, -- datang berkunjung ke Belanda, atas undangan Stichting INDONESIA MEDIA, Amsterdam. Esok pagi Joesoef Isak bersama istri akan meneruskan perjalanannya ke Stockhom, Swedia; kemudian ke Achen, Jerman.
Ketika Joesoef Isak berada di AS untuk menerima Jeri Leber Award dari Perkumpulan Penulis AS, PEN, kepadanya juga ditanyakan: Apa yang dimaksudkannya dengan "KERINCUAN BERFIKIR". Joesoef menyatakan bahwa itu adalah suatu 'DEKNFOUT' yang amat serius, yang bukan saja diidap oleh orang-orang biasa, tetapi juga oleh kaum cendekiawan kita, oleh para 'scholars'. Hal ini sampai saat inipun masih terus berlangsung. Sedangkan kaum cendekiawan bangsa seyogianya adalah yang berdiri paling depan dalam membawa bangsa ini ke kemajuan.
Joesoef menjelaskan: 'Kerincuan berfikir' adalah cara berfikir, yang menjadikan sesuatu yang direkayasa di dalam otak sendiri, sebagai suatu kebenaran, kemudian dianggap sebagai suatu kenyataan. Cara 'berfikir' ini hendak menjadikan abstraksi dalam fikiran sendiri sebagai suatu realita. Joesoef mengambil contoh, sbb: Ketika Jendral Suharto, dalam bulan Oktober 1965, mengambil oper kekuasan ditangannya, apa yang dilakukannya:
Pertama-tama, melakukan penangkapan terhadap puluhan wartawan yang dianggap beraliran Kiri dan yang dianggap mendukung politik Presiden Sukarno. Semua dijebloskan dalam penjara. Berikutnya, menguasai radio dan tv, memberangus, membereidel semua s.k./majalah, kecuali yang mendukung sang Jendral. Segera sesudah itu Suharto menyiarkan berita bahwa 'perempuan-perempuan Gerwani' dengan biadab menari-nari tanpa pakaian dimuka para jendral, menyiksanya, a.l. kemaluannya dipotong dsb, sebelum ditembak-mati. Kekejaman perempuan-perempuan Gerwani tsb dikatakan sebagai kekejaman PKI. Rekayasa ini, kebohongan ini, terus-menerus disiarkan dan dipompakan ke fikiran masyarakat, sehingga dianggap sebagai kebenaran, sebagai kenyataan.
Atas dasar itu, kita semua tahu, Jendral Suharto dan klik militernya didukung oleh kekuatan sosial politik yang sefaham, melakukan kampnye pemusnahan dan pembantain terhadap kaum Komunis dan yang dianggap Komunis.
Di zaman ORLA -- TNI-AD Sudah Berkuasa.
Bicara mengenai masalah yang sering dikemukakan oleh Orba dan juga para 'scholars', sebagai 'periode pemberangusan pers' di jaman Presiden Sukarno, Joesoef mengemukakan sbb:
Orba selalu mengatakan, dan ini diiikuti oleh cendekiawan dan para scholars, bahwa di zaman Demokrasi Terpimpin Presiden Sukarno, tidak ada kebebasan pers. Pemerintah Orlanya Presiden Sukarno adalah pemerintahan yang otoriter. Syahrir ditangkap, Muchtar Lubis ditangkap. Manikebu, dibubarkan, dsb. Mereka-mereka itu berfikir mensimpifikasikan hal ihwal.
Mereka-mereka itu tidak menyadari bahwa sesungguhnya paralel dengan kekuasaan pemerintahan Sukarno, terdapat kekuasan TNI-AD. Sejajar dengan gubernur, ada Kodam yang punya kekuasaan teritorial. Sejajar dengan Bupati, ada Kodim, dan sejajar dengan lurah ada Babinsa. Semua instansi militer tsb punya kekuasaan di wilayahnya masing-masing. Ini adalah konsep teritorial AD, yang memungkinkan tentara berkuasa disamping pemerintah sipil Presiden Sukarno. Jadi Presiden Sukarno tidak sepenuhnya berkuasa.
Dikatakan bahwa di zaman Orla ada dua kekuatan yang berhadapan yaitu kekuatan PKI dan kekuatan TNI. Padahal yang riil punya kuasa adalah TNI-AD. Sedangkan PKI, meskipun suatu partai politik yang besar, berpengaruh dan kuat, samasekali tidak punya kekuasan. Kedudukannya dalam hal ini sama dengan parpol lainnya.
Kalau memang benar Bung Karno itu dikatakan berkuasa penuh, bagaimana menerangkan bahwa s.k. Bintang Timur yang menyokong Bung Karno, dilarang oleh kekuasaan SOB. Sampai-sampai S. Tahsin, Pemimpin s.k. Bintang Timur, bersama Joesoef Isak, sebagai pimpinan PWI, ketika itu terpaksa harus khusus menemui Presiden Sukarno di Bogor, untuk minta agar beliau mengusahakan pencabutan pemberangusan s.k. Bintang Timur. Bagaimana pula bisa menjelaskan mengapa di zaman Bung Karno, Pramudya A. Toer sampai dipenjarakan, 1 tahun, padahal semua tahu Pramudya adalah pendukung konsep dan politik Presiden Sukarno. Jelas, ada kekuasaan sejajar yang dalam hal-hal tertentu malah lebih berkuasa dibanding pemerintahan sipil, karena pemberlakukan SOB. Kekuasaan itu adalah kekuasaan militer. Kekuasaan TNI-AD.
Beralih pembicraan ke situasi sesudah jatuhnya Jendral Suharto, Joesoef mengatakan bahwa salah satu kemenangan besar hasil gerakan Reformasi dan Demokratisasi, ialah: Adanya kebebasan bicara dan menulis. Joesoef menganjurkan pada siapa saja untuk menulis apa yang mereka ketahui mengenai G30S. Tigapuluh tahun lebih hanya ada satu saja versi mengenai G30S, hanya ada satu versi mengenai siapa dalangnya dsb. Versi satu-satunya yang dianggap benar itu adalah versi Orba, versi Suharto.
Sesudah jatuhnya Suharto, ketika ada kebebasan menulis dan mencetak, muncullah pelbagai versi tentang G30S. Ini gejala baik. Suatu kebangkitan fikiran kritis. Sudah menjadi pendapat masyrakat, bahwa selain versi Orba tentang G30S, ada versi-versi lainnya.
Ketika Suharto jatuh, meledaklah tuntutan agar dilakukan PELURUSAN SEJARAH. Suatu kemajuan besar.
Dengan membanjirnya tuntutan PELURUSAN SEJARAH oleh masyarakat luas, tamatlah kebohongan Suharto tentang peristiwa G30S, yang selama ini merupakan versi satu-satunya yang dianggap benar tentang G30S. Secara nasional diakui bahwa versi Suharto mengenai G30S, adalah suatu kebohongan besar. Ini merupakan kemajuan besar pemikiran kritis dalam masyarakat sesudah jatuhnya Suharto. Demikian Joesoef Isak. (Bersambung).
--- End forwarded message ---
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)
website http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)
| Yahoo! Groups Sponsor |
ADVERTISEMENT
![click here]() | |
![]() |
Yahoo! Groups Links