Media Indonesia
Senin, 01 November 2004
OPINI
 
Kabinet SBY dan Krisis di DPR
Muhammad Qodari, Direktur Riset, Lembaga Survei Indonesia

APA kesan yang kita tangkap dari pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam dua pekan ini? Dalam menangkap kesan itu saya kira kita harus membaginya pada dua tingkatan: tingkat publik dan tingkat elite. Pembagian ini penting karena apa yang dipersepsikan publik belum tentu sama dengan apa yang dipersepsikan elite, padahal keduanya sama penting.

Persepsi publik

cara terbaik untuk mengukur persepsi publik adalah dengan menyelenggarakan survei atau jajak pendapat secara nasional. Lembaga Survei Indonesia (LSI) belum punya data opini publik tentang respons masyarakat terhadap susunan kabinet SBY dan program 100 hari pemerintahan mereka pada awal November ini. Survei LSI baru akan diselenggarakan awal November ini.

Namun dari survei terbatas lewat telepon di sejumlah kota oleh salah satu harian nasional, terungkap data bahwa respons publik terhadap kabinet secara keseluruhan cukup baik. Tingkat keyakinan terhadap kemampuan kabinet untuk memperbaiki keadaan terhitung tinggi. Respons terhadap ke tiga puluh enam anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) cukup beragam sebagaimana beragamnya tingkat pengenalan masyarakat terhadap sosok anggota kabinet. Apakah hasil survei nasional LSI akan sama atau berbeda, kita tunggu saja hasilnya.

Sembari menunggu hasil survei, secara instingtif saya menduga respons publik terhadap kabinet dan program 100 harinya akan positif. Respons positif ini disebabkan dua hal. Pertama, sebagai akibat sampingan dari kepercayaan publik yang tinggi terhadap SBY. Survei LSI bulan Oktober 2004 menunjukkan keyakinan publik yang tinggi terhadap kemampuan presiden baru mengatasi persoalan politik, ekonomi dan hukum. Karena masih dalam suasana bulan madu, lepas apa dan bagaimana susunan kabinet, citra kabinet terselamatkan oleh keyakinan publik terhadap SBY.

Kedua, sebagai akibat statement dan move politik yang populis dari SBY dan para menterinya. SBY misalnya mencanangkan penangkapan koruptor besar sebagai program 100 hari pertama bidang hukum. Ia mengunjungi Kejaksaan Agung dan Kantor Bea Cukai. Kunjungan itu penting karena secara simbolik Kejaksaan Agung adalah ujung tombak penanganan kasus korupsi dan Bea Cukai adalah pusat praktik korupsi.

Persepsi elite

Masalahnya persepsi publik tidak selalu sejalan dengan persepsi elite. Terdapat kesan bahwa elite tidak begitu terpuaskan oleh kinerja Presiden SBY dalam dua pekan ini. Elite ini sendiri harus dibagi lagi ke dalam dua kelompok. Kelompok in-group adalah mereka menjadi tim sukses SBY selama kampanye yang lalu serta partai-partai yang mendukung pencalonannya (Koalisi Kerakyatan). Kelompok out-group adalah elite yang berseberangan dengannya (Koalisi Kebangsaan).

Ada kabar tidak mengenakkan bahwa timbul kekecewaan di kelompok pendukung SBY karena penyusunan kabinet yang kurang akomodatif. Sejumlah individu yang telah mendampingi SBY semenjak lama misalnya, tidak terakomodasi padahal yang bersangkutan memenuhi syarat kapabilitas, integritas dan akseptabilitas menjadi menteri. Kelebihan orang-orang ini dibanding sebagian mereka yang belakangan ditunjuk masuk kabinet adalah loyalitas yang sudah teruji. Kiranya presiden membutuhkan pembantu yang dapat dipercaya dan paham betul gaya komunikasi SBY.

Kekecewaan itu juga merambat ke partai politik. Khususnya Partai Demokrat yang didirikan dan menjadi penyokong SBY semenjak awal. Partai yang menguasai 52 kursi DPR ini hanya mendapatkan dua kursi kabinet dan Ketua Umumnya, Subur Budhisantoso, tidak terakomodasi dalam pemerintahan. Bandingkan dengan PBB, misalnya. Partai ini hanya menguasai 11 kursi namun mendapatkan dua, Ketua Umum Yusril Ihza dan Sekjen MS Kaban. Bahkan ada yang menyebut tiga bila Abdurrahman Saleh, Jaksa Agung, yang mantan petinggi PBB ikut dihitung.

Kekecewaan ini berbahaya. Sebagai presiden minoritas, SBY bukan hanya harus memperkuat kaki di parlemen. Tapi juga di kabinet. Penunjukan orang-orang yang bukan hanya kapabel tapi telah terbukti kesetiaannya pada SBY amat penting dalam konteks politik sekarang yang penuh tarik-menarik kepentingan. Saat ini ada tiga hal yang bisa dilakukan SBY untuk memperbaiki keadaan. Pertama, mencarikan tempat yang tepat bagi orang-orang kepercayaannya. Kedua, melakukan komunikasi politik dengan PD. Ketiga, membangun kepercayaan dengan orang-orang yang telanjur ditunjuknya sebagai menteri.

Tindakan-tindakan di atas menjadi semakin penting mengingat perkembangan yang terjadi di DPR beberapa hari ini. Dua perkembangan penting itu adalah: Pertama, penguasaan kursi-kursi pimpinan komisi DPR oleh Koalisi Kebangsaan. Kedua, penolakan (sebagian) anggota DPR atas surat Presiden SBY yang menarik surat Presiden Megawati mengenai pemberhentian Panglima TNI Endriartono Sutarto dan penggantiannya oleh Ryamizard Ryacudu.

Perkembangan yang kedua menunjukkan lepas dari persoalan prosedur pengiriman surat, Koalisi Kebangsaan membawa semangat perlawanan yang kental terhadap presiden SBY dan kebijakan yang dibuatnya. Semangat itu tampak dalam dua hal. Pertama, munculnya gerakan mengajukan interpelasi kepada presiden. Kedua, keluarnya statemen Soetardjo Soerjoguritno, Wakil Ketua DPR dari PDIP bahwa menurut DPR Panglima TNI kini adalah Ryamizard Ryacudu.

Penguasaan kursi ketua komisi DPR belum tuntas karena masih mendapatkan perlawanan dari Koalisi Kerakyatan. Koalisi Kerakyatan bersikeras tidak akan menghadiri rapat-rapat komisi yang dipimpin oleh pimpinan yang ada sekarang. Mereka juga mengatakan akan membuat semacam komisi tandingan. Adanya dualisme kepemimpinan di komisi-komisi DPR ini akan menjadi hambatan serius bagi pemerintahan SBY dalam waktu dekat bila tak juga ditemukan titik temu antara dua kubu yang berseberangan.

Bayangkan apabila pemerintah mengeluarkan sebuah kebijakan. Tanggapan komisi manakah yang akan dijadikan acuan oleh pemerintah: yang dikuasai Koalisi Kebangsaan atau Koalisi Kerakyatan? Bayangkan bila Menteri Pertahanan mengajukan usulan amendemen UU TNI dan UU Pertahanan sebagai upaya menempatkan TNI di bawah Departemen Pertahanan. Komisi versi siapakah yang akan diajak bicara? Atau soal surat SBY di atas, respons siapakah yang harus dijadikan acuan?

Krisis politik?

Ada dua skenario yang mungkin terjadi di depan. Pertama, andai DPR terus terbelah dua, sementara pemerintah membuat keputusan yang melibatkan DPR, secara naluriah pemerintah SBY akan memilih kubu Koalisi Kerakyatan. Koalisi Kebangsaan tentu akan protes. Saya tidak tahu apa yang bisa terjadi dan mungkin dilakukan Koalisi Kebangsaan untuk mencegah pembuatan kebijakan oleh pemerintah. Yang terburuk adalah bila Koalisi Kebangsaan memobilisasi pendukungnya di masyarakat. Aksi semacam ini dapat memancing reaksi tandingan dari pendukung presiden dan Koalisi Kerakyatan. Ujungnya adalah bentrokan massal.

Yang kedua, pembelahan politik yang terjadi di DPR bisa diselesaikan oleh kubu yang bertikai. Seharusnya pimpinan DPR menjadi pelopor penyelesaian krisis yang terjadi. Masalahnya, pucuk pimpinan DPR dikuasai wakil dari Koalisi Kebangsaan sehingga mereka menjadi bagian dari pertentangan yang terjadi. Sikap yang ditunjukkan Soetardjo Soerjoguritno di atas menunjukkan bagaimana pucuk pimpinan DPR justru menjadi peruncing konflik itu sendiri. Ini pula yang telah menimbulkan mosi tidak percaya dari Koalisi Kerakyatan terhadap pimpinan DPR sekarang. Mengharapkan penyelesaian konflik oleh pimpinan DPR telah menjadi konflik itu sendiri.

Apa yang terjadi dengan DPR sekarang ini telah berada di luar kerangka aturan hukum. Sebabnya, Koalisi Kebangsaan telah melanggar Tata Tertib (Tatib) DPR sebelumnya yang mengatur bahwa rapat paripurna harus dihadiri oleh separuh anggota DPR dan lebih separuh fraksi yang ada. Koalisi Kebangsaan bersikeras membuat Tatib baru yang mengatur bahwa rapat paripurna dapat diselenggarakan dengan dihadiri separuh fraksi saja dengan melanggar Tatib sebelumnya. Karena pembuatan Tatib baru dilakukan dengan melanggar Tatib sebelumnya, maka produk yang dihasilkannya menjadi anarkis. Hemat saya, anarki ini hanya bisa diselesaikan bila semua pihak bekerja kembali ke dalam kerangka yang diatur Tatib sebelumnya.***



Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)

website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke