From: [EMAIL PROTECTED]
Date: Sun May 16, 2004 12:29 am
Subject: Seorang sahabat Wiji Thukul - Linda C
Seorang sahabat, Wiji Thukul
Linda Christanty
15.34, Selasa, 23 Juni 1998
MARCEL tidak kembali juga. Dia seperti serpihan dari
pesawat luar angkasa yang meledak di ruang hampa,
lepas dari jangkauan grafitasi bumi. Hilang. Begitu
pula, Sadeli. Kata H, menurut Mulya Loebis, Sadeli
mungkin sudah dieksekusi. Jati dan Reza sudah kembali.
Nezar, Aan, dan Mugi bebas bersyarat. Kata beberapa
kawan, Marcel disembunyikan para pastor di Filipina.
Tapi, aku tidak percaya. Menurut kawan-kawan, dia
hilang di Tangerang (setelah bertemu A). Aku pernah
sekali melihat ibunya muncul di televisi. Sepasang
mata perempuan itu redup berair. Bagaimana ia bisa
memahat sepasang mata yang selalu bersinar dan
terus-terang pada wajah putranya? N sempat bercerita
tentang 103 mayat korban penembakan serta penganiayaan
yang mengambang di Kali Bekasi, beberapa waktu setelah
kasus penembakan 12 mahasiswa Trisakti. Berita ini
ditayangkan Horison. Apakah mereka berdua ada di
antara mayat-mayat itu?
Marcel adalah nama lain untuk Bimo Petrus Anugerah,
sedang Sadeli adalah nama alias untuk Herman
Hendrawan. Keduanya tercatat sebagai aktivis Partai
Rakyat Demokratik yang hilang di masa pemerintah
Soeharto. Catatan harian ini ditulis sebulan setelah
Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai
presiden dan meninggalkan sejarah kekerasan yang
panjang selama periode kekuasaannya. Setelah evakuasi
berkali-kali dalam keadaan yang tak menentu, juga
membakar berkas-berkas maupun dokumen demi menjaga
kerahasiaan gerakan waktu itu, ganjil rasanya
menemukan catatan semacam ini di tumpukan buku di masa
tenang.
Ada sebelas kawan saya yang diculik militer di masa
Soeharto. Empat orang tidak kembali dan seorang
ditemukan sudah menjadi mayat di jalanan. Tapi,
anehnya, catatan itu menunjukkan bahwa saya maupun
kawan lain tak pernah membicarakan Wiji Thukul sebagai
orang keempat. Kami tak menganggapnya sebagai kawan
yang mengalami penghilangan paksa, tak pernah menaruh
curiga ia turut menjadi korban. Saya -dan mungkin
banyak teman- mengira ia tengah bersembunyi di Solo
atau berada di suatu tempat, tapi situasi politik
waktu itu membuat kawan yang melindunginya
merahasiakan keber-adaannya dari yang lain. Ini juga
hal biasa dalam partai. Tak semua hal perlu diketahui
semua orang agar usia perjuangan bisa panjang.
Ternyata prasangka serupa terjadi pada istri Thukul,
Sipon. Saya mendengar Mbak Pon menyangka ada kawan
yang menyembunyikan suaminya dari kejaran militer.
Namun, setelah sekian lama Thukul tak ada,
masing-masing pihak mulai saling bertanya. Ternyata
Thukul memang tak disembunyikan pihak mana pun, Sipon
ataupun orang-orang PRD. Sejak itu pencarian Thukul
mulai dilakukan. Keluarga dan kawan-kawan Thukul
mendatangi lembaga bantuan hukum, mulai percaya bahwa
Thukul memang termasuk orang-orang yang hilang di masa
Soeharto. Pencarian ini terkesan sangat terlambat.
Thukul bahkan tak termasuk dalam daftar orang hilang
yang poster-posternya disebarkan Komisi Orang Hilang
dan Tindak Kekerasan, yang suatu kali pernah
terpampang di berbagai tembok kota dan rumah-rumah.
Siapakah Wiji Thukul ini? Mengapa ia hilang? Siapa
yang menghilangkannya?
Saya mendengar nama Thukul pertama kali pada 1994.
Ketika itu pembentukan Persatuan Rakyat Demokratik
baru saja selesai dan Wiji Thukul terpilih menjadi
ketua divisi budaya organisasi ini. Ada teman yang
menyarankan saya untuk bertemu Thukul. "Mungkin,
kalian bisa melakukan sesuatu lewat seni dan budaya,"
katanya. Ia juga menunjukkan sejumlah sajak Thukul
yang saya pikir menyalahi unsur-unsur estetika yang
saya pelajari di fakultas sastra. Sajak-sajak itu
tidak puitis dan pasti terkesan vulgar bagi banyak
mahasiswa di fakultas saya di masa Orde Baru. Bagi
mereka, sulit membayangkan keindahan dalam keadaan
yang kumuh dan miskin seperti kehidupan buruh, tukang
becak, atau masyarakat urban. Tak bakal ada keindahan
dalam got yang bau dan keringat yang mengucur deras,
yang bisa memicu kelahiran karya sastra. Kemiskinan
dan penderitaan hanya melahirkan lembaran pamflet,
bukan sajak atau puisi. Saya juga pernah punya
anggapan semacam itu, bahwa keindahan sejati hanya
terkandung dalam kisah-kisah cinta yang wangi.
Keindahan tak bisa beriringan dengan protes yang
mengandung kemarahan, tuntutan, dan kekecewaan,
seperti apa yang disebut Thukul puisi.
Teori-teori kesusastraan yang saya pelajari tak
berpihak pada sajak Thukul. Samuel Tylor Coloridge
(1772-1834), sastrawan di masa romantik telah menyebut
sajak sejenis karangan yang berlawanan dengan karya
sains, bersifat memberi kesenangan langsung. Padahal,
sajak Thukul lebih menimbulkan rasa gelisah ketimbang
kesenangan. Riffaterre, misalnya, mendefinisikan sajak
sebagai 'mengatakan sesuatu tapi artinya lain'.
Definisi ini tak cocok dengan sajak Thukul yang lugas,
terang, dan tak suka main sembunyi-sembunyi itu.
Sajak dalam buku-buku teori sastra disyaratkan
memiliki ciri tertentu, antara lain berbentuk monolog
aku-lirik dan bermakna konotatif. Sajak harus
mengandung metafora, simile, atau alegori. Pendeknya,
untuk memahami sebuah sajak, tidak gampang.
Teori-teori tersebut tidak tepat untuk sajak-sajak
Thukul. Sajak-sajaknya tak pernah bermain kiasan atau
perbandingan yang rumit.
Suara-suara itu tak bisa dipenjarakan
di sana bersemayam kemerdekaan
apabila engkau memaksa diam
aku siapkan untukmu: pemberontakan!
Dalam bait Sajak Suara itu Thukul menyuarakan rasa
ketertindasan rakyat kecil di masa Soeharto, yang
dirinya pun menjadi bagian dari mereka. Seni bagi
Thukul adalah seni yang terlibat, menyatu dalam
dinamika masyarakatnya, bukan kumpulan imajinasi
belaka.
Pada tahun itu juga saya berangkat ke Solo dan menemui
Thukul di Kampung Kalangan bersama Raharja Waluya
Jati, kawan aktivis di Yogyakarta. Kami memasuki
pemukiman kumuh di tengah kota, yang dihuni para buruh
pabrik, tukang becak, kuli rendahan, dan orang-orang
yang paling tak diperhitungkan pendapatnya dalam
sebuah pemerintahan otoriter. Di tengah kampung inilah
sajak-sajak Thukul lahir. Thukul tak hanya menyuarakan
kesengsaraan mereka, tapi juga membangkitkan semangat
untuk melawan ketidakadilan itu. Sajak-sajaknya bukan
semata-mata hardikan pada kekuasaan, tapi juga jalan
keluar bagi orang yang ditindas, jalan yang tak
disukai penguasa, jalan melawan.
Kami melihat anak-anak kecil bertelanjang kaki
berlarian di bawah terik matahari, menghirup hawa
busuk yang menguap dari limbah industri. Kami berhenti
di muka sebuah rumah sewaan dan seorang pria kurus
berkaos oblong putih merek Swan menyambut di ambang
pintu. Betapa ringkihnya orang ini, pikir saya, tak
sepadan dengan keberanian sajak-sajaknya. Bicaranya
pelat dan derai tawa terdengar di ujung
kalimat-kalimatnya. Thukul tinggal dengan seorang
istri dan dua anak yang masih balita, Nganti Wani dan
Fajar Merah. Dia menyuguhkan singkong rebus pada
tamunya.
Kehidupannya miskin. Rumah itu berlantai tanah. Di
ruang muka membentang sehelai plastik biru bahan tenda
pedagang kaki lima yang berfungsi sebagai alas duduk.
Sebuah mesin jahit berada di tengah ruangan tersebut,
alat pencari nafkah si penghuni rumah. Kamar mandi
berbau tak sedap terletak di luar, tanpa kran air
ledeng.
Tapi, Thukul punya sebuah ruang istimewa;
perpustakaan. Ini satu-satunya kemewahan. Di sana ada
buku Antonio Gramsci, Bertolt Brecht, Raymond
Williams, Marx,�. Kebanyakan buku berbahasa Inggris.
Beberapa anak kampung tengah bertandang ke rumah
Thukul ketika kami datang. Mereka belajar menggambar
dengan teknik cukil kayu. Saya masih ingat salah
seorang yang ramah dan suka bertanya. Namanya,
Trontong. Nganti Wani kelihatan paling kecil, menyela
di antara mereka.
Anak-anak tersebut tergabung dalam Sanggar Suka
Banjir. Mereka belajar menggambar, mengarang, membaca,
dan bermain teater di situ. Thukul mengajarkan apa
yang tak mereka peroleh di sekolah, yaitu
mengekspresikan dengan jujur perasaan serta pengalaman
sehari-hari mereka. Semua karya bertumpu pada hal-hal
nyata. Bahkan, suatu hari sanggar ini mementaskan
lakon tentang banjir dan di akhir pertunjukannya
pemain serta penonton beramai-ramai mengunjungi rumah
lurah untuk mengadukan tanggul yang jebol. Melalui
permainan, Thukul telah menanamkan rasa percaya diri
pada anak-anak kampung agar tak gentar menyatakan
kebenaran. Dalam keterbatasan selalu ada jalan.
Kelompok teater dari luar Indonesia juga pernah
berkunjung ke Sanggar Suka Banjir dan membagi
pengetahuan baru untuk anak-anak tersebut. Kampung
Kalangan yang sempit seakan berubah luas, memberi
anak-anak miskin itu kegembiraan.
Thukul juga melatih buruh-buruh pabrik bermain teater.
Konsep sebuah teater buruh di Afrika Selatan
mengilhaminya. Buruh-buruh memerankan pengusaha,
satpam, mandor, supervisor, dan diri mereka sendiri.
Buruh yang memerankan majikan berdebat dengan buruh
yang memerankan dirinya. Mereka belajar bernegosisasi
lewat teater. Selama ini para buruh merasa tak punya
kemampuan menjelaskan tuntutan mereka di hadapan
pengusaha atau pihak departemen tenaga kerja yang
mereka sebut 'orang-orang pintar' itu. Kalimat-kalimat
mereka selalu dipatahkan dengan kelihaian pengusaha
berargumentasi. Tuntutan-tuntutan kesejahteraan mereka
tak dipenuhi. Thukul melatih buruh-buruh berbicara,
membangkitkan rasa percaya diri mereka untuk
berhadapan langsung dengan pemilik modal yang
menentukan upah mereka dalam kehidupan nyata. Latihan
ini semacam simulasi. Meski pengusaha punya pembela
hukum, buruh-buruh tak perlu gentar. Dengan bersatu,
kekuatan mereka akan lebih besar dan didengar. Thukul
melakukan pengorganisasian buruh dengan cara ini untuk
PRD, mengajak para buruh berjuang untuk memperoleh
hak-haknya.
Pada Agustus 1994, setelah beberapa kali bertemu, kami
sepakat membangun Jaringan Kerja Kesenian Rakyat dan
sepakat berpihak pada rakyat tertindas dalam
karya-karya kami. Bentuk jaringan dipilih berdasarkan
kondisi dunia kesenian saat itu, yang para pekerjanya
jauh dari pengalaman berorganisasi dan sukar
berdisiplin, menganggap organisasi identik dengan
pe-nyeragaman yang bisa mematikan kebebasan berkreasi
mereka. Orang tak punya referensi tentang organisasi
kesenian yang modern, selain paguyuban. Setidaknya,
bentuk jaringan ini tak membuat mereka merasa
dikekang.
Pengetahuan berorganisasi memang telah dihancurkan
sejak peristiwa 1965. Pemerintah Soeharto membubarkan
puluhan partai maupun organ sektoralnya menjadi tiga
partai yang telah mereka tentukan, yaitu Partai
Persatuan Pembangunan, Partai Demokrasi Indonesia, dan
Golongan Karya. Orde Baru tak memberi kebebasan pada
rakyat untuk mendirikan organisasi dan berbeda
pendapat. Rakyat yang terorganisasi bisa mempunyai
kekuatan untuk mengancam kekuasaan, punya posisi tawar
yang besar. Negara menciptakan organisasi untuk
mengontrol rakyat, menciptakan ketakutan bahwa dengan
tak masuk partai Golongan Karya atau Serikat Pekerja
Seluruh Indonesia, misalnya, nasib seseorang bisa
buruk. Zaman itu tak banyak seniman yang berani
berseberangan dengan pemerintah Orde Baru. Wiji Thukul
tergolong mereka yang langka itu.
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi
Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri
Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!
Dalam keyakinan kami
Di manapun tirani harus tumbang!
Thukul menggunakan kiasan 'tembok' untuk penguasa, dan
'bunga' untuk rakyat yang dirampas tanah dan rumahnya
dalam sajak Bunga dan Tembok tadi. Sikapnya terhadap
tirani jelas tergambar dalam sajak: harus tumbang!
Thukul sudah dianggap menentang pemerintah jauh
sebelum ia terlibat dalam partai. Baginya perlawanan
terhadap ketidakadilan adalah naluri. Ia mempraktikkan
sikap ini pertama-tama pada lingkungan terdekatnya.
Thukul mengajak warga kampung beramai-ramai memprotes
keberadaan limbah pabrik bumbu masak yang menyebarkan
bau busuk. Akibatnya, ia harus berhadapan dengan
aparat setempat. Sajaknya tak hanya bernada
perlawanan, tapi juga mengajak orang untuk bersatu
melawan, mulai dari melawan pemilik pabrik sampai
pemerintah, mulai dari menentang tentara rendahan
sampai jenderal.
Pada 1989, Badan Koordinasi Intelijen Negara,
menelepon Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta
lantaran lembaga ini dianggap merekomendasikan
aktivitas berkesenian Thukul. "Kata BAKIN, Wiji Thukul
itu 'kan orang yang mau mendongkel negara kita," ujar
Jaap Erkelens dari Koninklijk Instituut Voor Taal,
Land en Volkenkunde, yang juga teman baik Thukul,
mengulang cerita orang lembaga tersebut.
"Thukul juga sudah langganan ditangkap dan disiksa
Koramil setempat," kata Erkelens. Bahkan, pada masa
itu, Thukul sempat ditahan Koramil di Solo gara-gara
menerima paket buku dari Belanda. Pihak kantor pos
yang bekerja sama dengan militer telah melaporkan soal
kiriman tersebut.
"Sajak-sajak Thukul itu berisi protes sosial, yang
dalam hal ini terbentur pada politisi," kata Erkelens,
lagi.
Di dalam negeri Thukul dimusuhi, tapi sajak-sajak
tersebut membuat Thukul memperoleh penghargaan
Wertheim Encourage Award yang pertama pada 1991
bersama penyair WS Rendra. Penghargaan ini dibuat
sebagai penghormatan pada sosiolog Belanda Willem
Frederik Wertheim, yang anti-kolonialisme dan tak suka
pada prilaku pemerintah Soeharto. Ketika Inter
Governmental Group on Indonesia (sekarang Consultative
Group on Indonesia), sebuah lembaga donor yang
diprakarsai pemerintah Belanda berdiri pada 1967,
Wertheim menulis artikel berjudul "Tuan Sudah
Kembali", memperingatkan orang akan bentuk
kolonialisme baru yang lebih maju dan tersembunyi.
Untuk mempopulerkan Jaringan Kerja Kesenian Rakyat,
masih pada 1994, organisasi ini mendukung pameran
pelukis Moelyono di Yogyakarta. Pameran Moelyono
bertema kehidupan nelayan. Kartu-kartu pos yang
dilukis anak-anak nelayan turut dipamerkan.
Kartu-kartu tersebut menunjukkan sikap aparat atau
rentenir yang terjadi di sekeliling mereka, juga
intimidasi dan ketidakadilan yang berlangsung
sehari-hari. Bila Thukul hidup dengan anak-anak kaum
miskin di perkotaan, Moelyono dekat dengan anak-anak
nelayan di wilayah pantai Tulung Agung, Jawa Timur.
Pada tahun ini juga, aksi petani terjadi di Ngawi,
Jawa Timur. Thukul yang memimpin massa dan melakukan
orasi ditangkap serta dipukuli militer.
Dalam aksi-aksi massa semacam inilah, sajak-sajak
Thukul sering dibacakan. Aksi yang terkadang memakan
waktu berjam-jam dan tak jarang di tengah terik
matahari membuat pembacaan sajak menjadi hiburan,
selain memberi semangat dan ketidakgentaran menghadapi
militer yang selalu menghadang tiap aksi protes.
Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak
wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak
Suara, dan Bunga dan Tembok (ketiganya ada dalam
antologi Mencari Tanah Lapang yang diterbitkan oleh
Manus Amici, Belanda, pada 1994. Tapi, sesungguhnya
antologi tersebut diterbitkan oleh kerjasama KITLV dan
penerbit Hasta Mitra, Jakarta. Nama penerbit fiktif
Manus Amici digunakan untuk menghindar dari pelarangan
pemerintah Orde Baru).
Peringatan
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!
1994 merupakan tahun yang ramai bagi situasi nasional.
Tiga media massa, Tempo, Detik, dan Editor dibredel.
Aksi protes berlangsung di Jakarta dan berbagai kota.
Para jurnalis turun ke jalan bersama mahasiswa dan
organisasi pro demokrasi seperti Pijar, SMID, Formaci,
Aldera, dan sebagainya. Akhirnya, tak semua rencana
bisa berjalan mulus untuk kesenian dan Jaringan.
Seiring situasi politik Indonesia yang makin represif
di masa Soeharto, PRD berkonsentrasi pada
peng-organisasian kaum buruh dan mendukung perjuangan
rakyat Timor Timur untuk merebut kemerdekaannya. Pada
Mei 1995, Pusat Perjuangan Buruh Indonesia, onderbouw
partai, melakukan aksi mogok bersama sekitar 5000
buruh PT Great River di gedung DPR RI, Jakarta,
disusul aksi lompat pagar kedutaan beberapa negara
tetangga bersama para aktivis Timor Timur yang anti
integrasi. Pada tahun yang sama Thukul memimpin
pemogokan buruh-buruh PT Sritex di Sukoharjo,
Surakarta. Dalam aksi buruh Sritex ini Thukul nyaris
buta akibat kekerasan aparat.
Banyak seniman di masa Orde Baru tak setuju pada sikap
Thukul ini. Mereka menganggap seni tak bisa
dicampuradukkan dengan politik. Seni untuk seni dan
politik hanya mengotori kesuciannya. Tapi, di seluruh
dunia selalu ada masa saat orang terpaksa berhadapan
dengan sistem yang menindas dan seniman ikut
terpanggil menentangnya. Jose Rizal, pahlawan rakyat
Filipina, yang dieksekusi penjajah Spanyol, juga
seorang sastrawan besar. Nikolai Vaptsarov, pemimpin
rakyat Bulgaria menentang fasisme, juga penyair yang
sangat terkenal di negerinya. Fransisco Borja da
Costa, penyair Timor Lorosae, yang mati ditembak
tentara Indonesia, sajak-sajaknya telah menjadi lagu
rakyat Timor Timur. Pablo Neruda, penyair Chile, harus
berhadapan dengan pemerintah militer Augusto Pinochet.
Di masa Soeharto, orang tak bisa sendirian menentang
kesewenang-wenangan itu dan mereka merasa perlu
bersatu dalam perjuangan yang terorganisasi. Thukul
memilih bergabung dalam PRD.
Pada Juni 1996 Pusat Perjuangan Buruh Indonesia dan
PRD memimpin aksi mogok buruh di dua kawasan industri
di Surabaya. Tiga aktivis PRD, Dita Indah Sari, Coen
Husain Pontoh, dan Soleh, ditangkap dan dipenjarakan.
Percepatan politik melawan pemerintah Soeharto terjadi
pada tahun yang sama. Pemicunya datang dari masalah
internal Partai Demokrasi Indonesia. Partai
ber-lambang banteng ini terpecah menjadi dua kubu, pro
Soerjadi dan pro Megawati Soekarno. Kelompok pro
Soejadi yang didukung pemerintah, militer, dan
sejumlah pengusaha menjegal Megawati naik ke kursi
ketua dengan melakukan kongres tandingan. Massa
pendukung Megawati protes. Mereka membuka panggung
demokrasi di kantor dewan pimpinan pusat partai itu,
di Jalan Diponegoro 76, Jakarta Pusat. Tokoh-tokoh
oposisi ikut berorasi di sana, seperti Gus Dur,
Budiman Sudjatmiko, Mochtar Pakpahan, dan Sri Bintang
Pamungkas. Pemerintah Orde Baru merasa terganggu.
Kehadiran Mega dianggap bisa menjadi simbol perlawanan
grass root ini, setidaknya mengingatkan orang pada
keberpihakan Soekarno terhadap kaum miskin dulu.
Momentum untuk mengakhiri kekuasaan Orde Baru yang
korup sebagian bersandar pada massa yang militan
tersebut. PRD memutuskan untuk mendukung perjuangan
mereka. Tapi, pemerintah melihat hal ini tak
menguntungkan. Pemerintah kemudian mengeluarkan teori
tentang kuda Troya (Taktik Troya menaklukkan Sparta
dengan mengirim kuda kayu raksasa yang ternyata berisi
prajurit Troya). PRD dianggap menunggangi massa PDI
yang besar itu untuk menghadapi pemerintah Soeharto.
Pada 27 Juli 1996, preman yang didukung aparat
menyerbu kantor PDI di Jalan Dipo-negoro, Jakarta
Pusat. Mereka mengenakan kaos PDI pro Soerjadi.
Keterangan resmi Komisi Nasional Hak-Hak Asasi Manusia
menyebutkan 23 orang hilang, lima meninggal dunia, dan
149 luka-luka akibat serangan itu. Namun, korban yang
jatuh lebih banyak.
PRD dituduh sebagai dalang peristiwa 27 Juli. Struktur
dan bagan organisasi serta nama sejumlah kawan
disiarkan di televisi. Pada 10 Agustus 1996, Budiman
Sudjatmiko dan pengurus lain ditangkap dan ditahan.
Kepemimpinan partai diambil alih sebuah komite
tertutup. Taktik perjuangan berubah menjadi bawah
tanah.
Saya kehilangan kontak dengan Wiji Thukul pada masa
ini. Ia menghilang, tak berkoordinasi. Saya kira, hal
ini wajar terjadi. Ini pengalaman pertama kami
menerima serangan cukup besar dari pemerintah. Saya
tak yakin kawan-kawan di daerah punya kesiapan lebih
baik. Jadi, Thukul memutuskan menyelamatkan diri dulu
sambil membangun kontak kembali. Komunikasi organisasi
dengan kota-kota lain dilakukan lewat internet.
Berita-berita tentang situasi politik Indonesia yang
tak dimuat media mainstream disebarkan media
alternatif seperti Siar dan Kabar dari Pijar ke publik
lewat milis Apakabar, yang dikelola John McDougall.
Pada awal 1997, kami menemukan kembali puisi-puisi
Thukul di internet. Ia tak menyebutkan keberadaannya.
Tapi, sebagian puisinya berganti warna, lebih murung
dan kontemplatif, meski masih bernada protes sosial.
Situasi pelarian dan rasa terasing terlihat dalam
sajaknya yang bertutur soal-soal sepele, seperti
berebut ikan dengan seekor kucing atau membeli pakaian
loak. Saya kira, situasi dalam pelarian tidak
menyenangkan hatinya. Belakangan saya baru tahu kalau
ia pergi ke Kalimantan dan hampir setengah tahun
tinggal di sana.
Pemilihan umum 1997 di ambang pintu. Pemerintah Orde
Baru makin memperkuat diri. Partai Persatuan
Pembangunan, yang berbasiskan umat Islam, mulai tak
sejalan dengan kebijakan pemerintah. Sebelumnya partai
ini dikenal konservatif. Massa pendukung Megawati
berusaha bangkit pasca 27 Juli, berusaha
berkonsolidasi. Kini pemerintah Soeharto menjadi musuh
bersama. Elite-elite politik yang semula mendukung
Soeharto mulai berbalik arah, melihat desakan rakyat
dan mahasiswa yang besar menuntut kemundurannya dari
kursi presiden. Harmoko, juru bicaranya yang baik,
ikut memancing di air keruh. Ia menghimbau Soeharto
mundur di televisi.
Wiji Thukul telah kembali dari Kalimantan dan ia
diminta membantu kawan-kawan di Jakarta. Saya kembali
bekerja bersama Thukul. Tapi, pada November 1997,
Thukul meminta izin untuk pulang ke Solo pada saya. Ia
berjanji menghubungi saya lagi seminggu kemudian.
Janji tersebut tidak dipenuhinya. Itulah kontak
terakhir saya dengan Thukul.
"Terakhir kali saya ketemu dia Desember 1997," kata
Jaap Erkelens. Namun, sejumlah orang masih melihatnya
di Jakarta pada April 1998. "Pada Mei 1998, ia
benar-benar menghilang," lanjut Erkelens. Mbak Pon
juga terakhir bertemu Thukul pada akhir 1997. "Waktu
itu Desember, mau ulang tahun anaknya Fajar," katanya.
Mei 1998, Soeharto turun. Kerusuhan terjadi di
Jakarta. Di tengah aksi massa yang menuntut
pemerintahan transisi meledak kerusuhan anti etnis
Tionghoa. Banyak toko dibakar dan dijarah. Ratusan
perempuan Tionghoa diperkosa. Juni 1998, sebulan
setelah Soeharto turun, kerusuhan bertema sejenis
telah menjalar ke beberapa daerah. Mochtar Pakpahan
dari Serikat Buruh Seluruh Indonesia membuat
pernyataan di media massa bahwa Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia berada di balik kerusuhan-kerusuhan
itu. Pernyataan ini dibalas Amien Rais dengan tak
kalah emosional. Amin menuduh Mochtar itu PKI dan
komunis. Akibatnya, di masjid-masjid dipasang
pengumuman bahwa gerakan buruh harus diwaspadai,
karena komunis berada di belakangnya. Ada juga yang
menyebutkan Thukul dihilangkan aparat pada masa ini.
Ia dilenyapkan sebagai konsekuensi aktivitas
politiknya, yang menjadikan seni sebagai cara. Thukul
hilang dari tengah istri dan anak-anak yang
dicintainya, hilang dari tengah massa yang dibela.
Dalam kumpulan puisi yang ia tulis saat jadi pelarian
dulu terdapat sebuah puisi berjudul Catatan, yang
mengungkap detik-detik menjelang perpisahannya dengan
sang istri dan pesan untuk anak-anaknya.
Gerimis menderas tengah malam ini
Dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi
Dalam sunyi hati menggigit lagi
Ingat
Saat pergi
Cuma pelukan
Dan pipi kiri kananmu
Kucium
Tak sempat mencium anak-anak
Khawatir
Membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)
Bertanya apa mereka saat terjaga
Aku tak ada (seminggu sesudah itu
Sebulan sesudah itu
Dan ternyata lebih panjang dari yang kalian
harapkan!)
Dada mengepal perasaan
Waktu itu
Cuma berbisik beberapa patah kata
Di depan pintu
Kau lepas aku
Meskim matamu tak terima
Karena waktu sempit
Aku harus gesit
Genap � tahun aku pergi
Aku masih bisa merasakan
Bergegasnya pukulan jantung
Dan langkahku
Karena penguasa fasis
Yang gelap mata
Aku pasti pulang
Mungkin tengah malam dini
Mungkin subuh hari
Pasti
Dan mungkin
Tapi jangan
Kau tunggu
Aku pasti pulang dan pasti pergi lagi
Karena hak
Telah dikoyak-koyak
Tidak di kampus
Tidak di pabrik
Tidak di pengadilan
Bahkan rumah pun
Mereka masuki
Muka kita sudah diinjak!
Kalau kelak anak-anak bertanya mengapa
Dan aku jarang pulang
Katakan
Ayahmu tak ingin jadi pahlawan
Tapi dipaksa menjadi penjahat
Oleh penguasa
Yang sewenang-wenang
Kalau mereka bertanya
"Apa yang dicari?"
jawab dan katakan
dia pergi untuk merampok haknya
yang dirampas dan dicuri
Pencarian orang-orang hilang terus dilakukan sampai
hari ini. Tapi, selama lima tahun berjalan belum ada
titik terang. Sejumlah anggota Komando Pasukan Khusus
yang tergabung dalam Tim Mawar telah diadili, tapi
mereka mengaku semua aktivis yang mereka culik telah
dibebaskan dan dalam keadaan hidup. Prabowo Subianto
juga menegaskan hal serupa. Wiji Thukul dan
orang-orang yang hilang itu seolah terkubur bersama
kejatuhan Soeharto.
Bagaimana nasib Mbak Pon, Wani, Fajar, dan anak-anak
Sanggar Suka Banjir itu sekarang?
Mbak Pon masih menjahit baju-baju pesanan dengan mesin
jahit tuanya untuk membiayai keluarga. Nganti Wani
telah tumbuh jadi gadis remaja yang suka menulis puisi
seperti ayahnya. Fajar Merah sudah masuk sekolah.
Trontong, sahabat kecil Thukul itu, kini sudah dewasa.
"Dia sekarang jadi buruh," kata Mas Slamet, teman
Thukul, yang mengajari anak-anak menggambar. Dan
Thukul tak bisa menyaksikan ini.
Jakarta, November 2002
__________________________________
Do you Yahoo!?
Check out the new Yahoo! Front Page.
www.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/IotolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya
pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti
puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan
kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau
diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi
maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)
website http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/