Media Indonesia
Selasa, 09 November 2004
 
Bermain Api dengan TNI?
Indra J Piliang, Analis politik CSIS, Jakarta

DI LUAR perdebatan hukum dan perundang-undangan menyangkut pengangkatan Panglima TNI, sebetulnya apa yang hendak dipertaruhkan? Mengapa Komisi I bentukan Koalisi Kebangsaan dengan sangat lugas menyatakan keabsahan Jenderal Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI, sementara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan Panglima TNI tetap Jenderal Endriartono Sutarto? Ada apa di balik surat-menyurat antara lembaga kepresidenan dan DPR itu?

Wacana pergantian Panglima TNI pertama kali disebutkan oleh Agung Laksono setelah terpilih menjadi Ketua DPR. Wacana itu mengalir, lantas berujung pada sejumlah hal. Pertama, kondisi "dualisme" panglima TNI pilihan Senayan dan Istana. Kedua, penggunaan hak interpelasi oleh sejumlah anggota DPR atas presiden menyangkut kontroversi pemilihan panglima TNI. Ketiga, dualisme politik dalam tubuh DPR akibat ketidaksepakatan menyangkut pemilihan pimpinan komisi.

Setelah itu, publik pun sepertinya ingin dibelah dengan dualisme serupa. Namun, sebagian besar membiarkan perbedaan pendapat itu menjadi tontonan belaka. Publik yang sudah dewasa ini seakan mengambil jarak dengan apa yang terjadi di Istana dan Senayan. Tidak ada lagi parade kebulatan tekad atau aksi-aksi demonstrasi yang berujung pada terlibatnya massa dalam perseteruan politik elite.

***

Implikasi yang sebetulnya tidak diharapkan adalah munculnya simpati yang berlebihan terhadap nasib Panglima TNI, serta institusi TNI secara umum. Anggapan awam akan mengatakan bahwa politikus telah semena-mena mengobrak-abrik TNI. Di tengah upaya untuk menjadikan TNI kian profesional, lalu meninggalkan tradisi pretorianismenya, justru terlihat politikus mencoba memasuki wilayah yang dulu angker, yakni meletakkan TNI dalam otoritas sipil.

Belajar dari sejarah, "pembangkangan" militer pertama terjadi ketika Presiden Soekarno lebih memilih jalur diplomasi ketika menghadapi aksi militer kedua Belanda. Ketika Jenderal Sudirman memutuskan untuk melakukan perang gerilya dalam keadaan sakit paru-paru basah, justru politikus sipil menyiapkan sejumlah dokumen perdamaian di meja perundingan. Dalam saat itulah, Jenderal Sudirman mengukuhkan simbol sebagai tentara rakyat. Pemanfaatan yang dilakukan politikus sipil juga terjadi, termasuk oleh Tan Malaka yang membentuk Persatuan Perjuangan dengan agenda Merdeka 100% yang -- semula -- didukung oleh Jenderal Sudirman.

Pada akhirnya, ketika kemerdekaan berhasil diraih lewat meja perundingan, sekaligus operasi militer lewat pendudukan Yogyakarta, otoritas politik kembali ke tangan pemerintahan sipil. Muhammad Hatta sebagai Menteri Pertahanan tercatat sebagai salah satu yang menempatkan sendi-sendi profesionalisme militer. Namun, lagi-lagi perseteruan politik menyebabkan militer melakukan pembangkangan. Jatuh-bangunnya kabinet hasil Pemilu 1955 yang demokratis, ternyata hanya menghasilkan politikus kawakan sebagai singa-singa podium. Mereka berkelahi di gedung parlemen, namun tak juga mencapai keputusan.

Bedanya dengan politikus sekarang, para politikus masa lalu itu memperdebatkan dasar-dasar negara, sembari menyodorkan argumen-argumen luar biasa yang masih tercatat sampai hari ini. Tentara kala itu diwajibkan memadamkan banyak pemberontakan, termasuk yang dilakukan oleh elemen militer sendiri di daerah-daerah. Sementara, politikus sibuk "lempar-lemparan kata" di kursinya masing-masing.

***

Kini, apakah politikus sipil tidak belajar dari sejarah militer Indonesia itu? Perdebatan tentang posisi Panglima TNI oleh kelompok politikus yang secara "sosiologis" pernah dekat dengan militer hanya akan membawa kepada keadaan yang kontraproduktif. Seolah, terdapat rencana yang samar-samar betapa politisasi jabatan panglima TNI akan mengundang kembali TNI memasuki ranah politik. Di tengah lemahnya kemampuan personil militer akibat anggaran yang minim dan persenjataan yang tua, pola "main mata" ini hanya akan memundurkan kembali jarum jam yang sudah bergerak menuju masyarakat demokratis dalam kerangka supremasi sipil. Politikus sipil hendaknya sadar betapa mereka sedang bermain api yang belum tentu mampu mereka padamkan.

Untunglah, TNI sekarang memiliki para jenderal yang berwawasan luas, lantas terbiasa dengan perbedaan pendapat. Lingkungan eksternal yang berubah, termasuk tatanan dunia baru yang kurang memberi tempat kepada munculnya tentara sebagai pengendali otoritas pemerintahan, kian menyadarkan TNI betapa "panggilan politik" TNI bukanlah berpolitik itu sendiri. Sejumlah keluhan yang sudah dikeluarkan oleh berbagai pihak di Cilangkap menunjukkan, betapa kebutuhan militer sekarang bukanlah berpolitik, melainkan membenahi kemampuan personil, termasuk kenaikan anggaran, perbaikan persenjataan, serta kualitas hidup prajurit militer rendahan yang relatif menikmati gaji minim.

Ketika politikus sipil membutakan diri dengan soal-soal konkret yang dihadapi oleh militer itu, lantas hanya bermain di wilayah politik adiluhung, jangan-jangan arus balik sejarah sedang disediakan jalan pulang. Peta besar yang terhidang inilah yang harus dipikirkan oleh politikus sipil di Senayan. Jangan sampai akibat tindak-tanduk mereka justru akan membuat nasib jutaan rakyat kiat terjengkang ke dalam pola baru hubungan sipil-militer yang saling menundukkan.

Sayangnya, kita tidak menyaksikan adanya ideolog-ideolog baru di Senayan yang betul-betul berpikir secara jernih akan akibat-akibat politik dari tindak-tanduk mereka. Perdebatan soal tanggal, pasal, dan lain-lainnya yang digelar sekarang terlihat tidak substantif. Padahal, Indonesia memerlukan praktisi-praktisi politik yang betul-betul mempunyai pandangan luas, tidak hanya sekedar bertarung tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, melainkan apakah kebenaran atau kesalahan itu mampu membawa kemaslahatan bagi Indonesia sebagai sebuah republik.

Wilayah pertarungan gagasan menyangkut panglima TNI sekarang sudah kian kontra-produktif. Sebelum menyinggung soal-soal yang bisa membangkitkan naluri politik TNI, selayaknya langkah-langkah akomodatif dilakukan oleh politikus di Senayan. Alih-alih menyelesaikan masalah, penggunaan hak interpelasi terkesan hanya sekedar unjuk peran sebagai pihak yang mempunyai kekuasaan untuk mengontrol jalannya pemerintahan. Contoh kecil, apakah DPR melakukan interpelasi kepada presiden, ketika begitu banyak kebocoran anggaran di departemen-departemen pemerintah? Apakah ada interpelasi, ketika nasib seorang TKW sedang menghadapi hukuman mati di negeri seberang? Pekerjaan politik bukan hanya menyangkut soal "besar" seperti kedudukan Panglima TNI, melainkan juga soal "kecil" menyangkut nasib seorang anak yang kehilangan keluarganya di medan perang di Aceh. Sampai kapan DPR hanya mengurus soal-soal "besar" itu?***



Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra  seperti puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau diskusi di [EMAIL PROTECTED] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)

website  http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke