++++++++++++++++++++++++++
----- Original Message -----
From: Julia Suryakusuma
To: PEREMPUAN
Sent: Wednesday, January 12, 2005
Subject: Menggugat Negara dan Kekuasaan dengan Seksualitas
Teman2, mudah2an belum bosan dgn resensi buku saya! :)
Salam, JIS
SURABAYA POS, 9 JANUARI 2005
Menggugat Negara dan Kekuasaan dengan Seksualitas
Sex, Power and Nation: An Anthology of Writings, 1979-2003
Julia I. Suryakusuma
Jakarta: Metafor Publishing, 2004
xxxvii + 454pp. Rp108.000,00
ISBN 979-3019-17-4
Diresensi oleh D�d� Oetomo
Sejak pergantian pemerintahan Republik Indonesia pada Hari Kenaikan
'Isa Almasih, 21 Mei 1998, yang membuka pintu air kebebasan di negeri
ini, terbit banyak buku yang dengan terbuka dan bebas membicarakan
seksualitas. Banyak pula buku yang membahas dan merenungkan penggunaan
kekuasaan di masa pemerintahan Soeharto (dan sebelumnya) yang
mengerikan. Masih juga banyak buku yang menyoal keadaan atau keutuhan
bangsa, sebagian dengan semangat baru yang merindukan kerukunan, yang
lain dengan semangat lama yang hendak mempertahankan kesatuan dengan
biaya apa pun.
Akan tetapi, jarang buku yang sekaligus menyoal seksualitas, kekuasaan
dan bangsa dalam konteks Indonesia dalam kelindannya yang rumit dan
kadang terkesan misterius. Buku Julia I. Suryakusuma-intelektual,
feminis, aktivis, tapi sekaligus juga susah dikotakkan-merupakan salah
satu dari buku yang langka dalam khazanah kepustakaan kita, yang
memerikan, membahas, menganalisis, menyoal, kalau perlu untuk membuat
kita resah, risau, bahkan muak dengan potret diri masyarakat kita yang
keluar dalam
tulisan-tulisan yang dikumpulkan di dalamnya, dengan cara menjalin
ketiga hal tadi dengan jernih dan jitu.
Inilah bunga rampai tulisan-tulisan Julia yang secara kronologis
merentangi tahun 1979 hingga 2003, mulai dari ringkasan tesis B.Sc.
Honours-nya dalam sosiologi di City University, London ("Odd
Bedfellows: Creativity & Politics: Literary Debates in Indonesia
1950-1965" [Pasangan Aneh:
Kreativitas dan Politik: Debat Sastra di Indonesia 1950-1965])
mengenai perdebatan sengit kaum Manifes Kebudayaan (Manikebu) dengan
Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), hingga artikel yang juga tentang
sastra ("The Sacred, Mundane and Profane: Women's Literary Writings in
Indonesia" [terjemahan dari "Yang Sakral, Duniawi dan Profan: Karya
Sastra Tiga Perempuan," Horison, Juni 2003]).
Memang patut disayangkan antologi ini terbit dalam bahasa Inggris,
sehingga banyak pembaca Indonesia sendiri akan susah menikmatinya.
Kita harapkan Julia dan/atau penerbitnya segera menerbitkan versi
Indonesianya.
Sebagian tulisan dalam bunga rampai ini dikerjakan dan diterbitkan di
bawah suasana represif masa pemerintahan Soeharto. Pada hemat saya,
yang istimewa dari tulisan-tulisan Julia yang ini adalah bahwa dia tetap
dengan berani menjadi seorang intelektual yang berintegritas: tetap
memerikan
keadaan sebagaimana didapatkannya melalui penelitian, menganalisisnya
dengan kombinasi subyektivitas dan obyektivitas yang cantik, walaupun tahu
risiko represi yang kemungkinan akan dialaminya.
Dalam pengantar antologi oleh Julia sendiri, "Julia's Passion"
(Semangat Julia), diceritakannya benturan-benturannya dengan aparat
teror Negara Orde Baru, khususnya waktu pada 1988 Negara menemukan
akan ada konferensi mengenai perempuan Indonesia di Leiden, Negeri
Belanda, di mana salah satu makalah yang dibentangkan membandingkan
Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) dengan PKK (Pendidikan
Kesejahteraan Keluarga). Dengan indah Julia menggambarkan episode demi
episode teror di Kantor Menteri Negeri Urusan Peranan Wanita (yang
dihadiri perwira-perwira Badan Koordinasi Intelijens Negara), rasa
takutnya tetapi sekaligus kenakalannya yang tidak kenal menyerah,
membuat dua versi makalah, satu yang lebih jinak untuk distribusi
resmi, dan tetap yang aslinya diedarkan dari tangan ke tangan. Julia
jujur soal rasa takutnya, dilemanya antara integritas intelektual dan
tuntutan dari keluarga, khususnya anak laki-lakinya, dalam suasana
teror seperti itu.
Dalam kata pengantar Wimar Witoelar, "Thinking Between the Boxes"
(Berpikir di Antara Kotak-kotak) kita berkenalan dengan Julia yang
memang tidak pernah dapat dikotakkan kala berpikir, berkata, menulis
atau bertindak, tetapi tetap jelas soal kotak-kotaknya dahulu,
sehingga sebagaimana dikatakan Wimar, kita sebagai pembaca setidaknya
akan tergoda untuk lompat-lompat antarkotak atau bahkan larut dengan
ajakan Julia dan melakukan hal yang serupa.
Dalam tulisan-tulisan Julia kita akan diusik soal nasionalisme kita
yang acapkali jadi jingoisme sempit. Sebagai anak diplomat yang
dibesarkan di berbagai negeri, umpamanya, Julia senantiasa dipandang
"asing," baik di Indonesia maupun di negeri tempat ayahnya ditugaskan.
Tetapi Julia dapat memanfaatkan "keasingan" ini dan justru
mengobrak-abrik (jangan salah, dengan indah dan cantik) kotak-kotak
kita yang kita kira sudah mapan, seperti dalam tulisan "A Marriage of
Inconvenience: Indonesian
Perceptions of the West" (Perkawinan Menyebalkan: Persepsi Indonesia
tentang Barat, aslinya terbit di Van Zorge Report, Februari 2002).
Relasi Julia dengan Indonesia pun diakuinya sebagai hubungan antara
cinta dan benci. Siapa orang Indonesia ataupun pengamat sekaligus
pencinta Indonesia yang tidak mengalami hal ini? Tetapi Julia tetap
menunjukkan kecintaannya pada Indonesia tetapi tidak kehilangan
obyektivitas kritis mengenai borok-borok masyarakat kita. Banyak
tulisan mengenai peristiwa-peristiwa di seputar pergantian
pemerintahan pada Mei 1998 dan proses penataan ulang demokrasi
sesudahnya yang dibedah habis oleh Julia dengan penuh semangat dan
emosi (passion) tetapi tetap tanpa kehilangan rasa cintanya pada
Indonesia. Barangkali kalau Ben Anderson dalam pengantar bukunya
Language and Power (Cornell U. P., 1991) menggambarkan pengalamannya
dengan Indonesia sesudah 1965 sebagai menyadari bahwa kekasih kita
ternyata seorang pembunuh, dalam hal Julia kita bisa berkata soal
mempunyai seorang pacar yang cakep, centil, nakal, yang kadang-kadang
menyebalkan, tetapi tetap membuat kita kembali ke dia lagi: begitu
mungkin relasi cinta-benci Julia pada Indonesia.
Ketika Indonesia sedang memulai demokratisasi, khususnya dalam Pemilu
1999, Julia dengan tajam memetakan partai-partai politik di Indonesia
yang puluhan jumlahnya waktu itu. Kadang dia bisa sinis dalam
tulisan-tulisan politiknya, tetapi dapat secara obyektif pula
menggambarkan keadaan yang sesungguhnya sebagaimana ditangkapnya,
seperti bagaimana dia menggambarkan krisis kepemimpinan kita, termasuk
soal Presiden Abdurrahman Wahid. Dalam hal ini Julia unik, karena
terlampau sering kita memuja-muja Gus Dur atau menyumpah-serapahinya,
kadang-kadang tanpa dasar.
Sebagai intelektual perempuan dan feminis, Julia menjadi seorang yang
langka karena dia tidak hanya berpikir, merenung dan berteori mengenai
posisi perempuan dalam masyarakat kita, tetapi juga memraktikkan
pikiran, renungan dan teorinya dalam kehidupan sehari-hari dan
aktivisme sosial. Dalam kata pengantarnya sendiri, Julia mengakui
sebagai jiwa bebas (free spirit). Julia tidak pernah mau mengorbankan
kebebasannya, di bawah ancaman teror seperti apa pun, sebagaimana kita
lihat tadi. Dalam hubungannya dengan almarhum suaminya pun, kebebasan
ini tidak pernah surut, dan karena itu dia berterima kasih kepada
almarhum.
Tulisan-tulisan mengenai buruh perkebunan, tenaga kerja wanita dalam
krisis ekonomi, ideologi ibuisme negara (bentuk vulgarnya Dharma
Wanita, PKK dan PP10/1983 yang mengenai pegawai negeri sipil)
merupakan karya-karya klasik yang patut dibaca terus untuk
mengingatkan kita bahwa Orde Baru masih merajalela di sekitar kita.
Julia juga tidak menghemat kata dalam menggambarkan perkosaan
terhadap perempuan (Tionghoa atau yang dianggap Tionghoa) pada Mei
1998, yang hanya merupakan puncak gunung es dari kekerasan terhadap
perempuan yang dipraktikkan oleh Negara dengan militeristismenya.
Judul seperti "Bayonetting the Vagina" (Merobek Vagina Dengan Bayonet)
memiliki nilai estetik kebahasaan tersendiri, membuat kita sekaligus
miris, marah, tetapi mendorong kita untuk bertindak menghentikannya.
Julia sadar sesadar-sadarnya mengenai posisinya sebagai penulis. Mulai
dari Stalin hingga Cisoux dikutipnya untuk meyakinkan kita bahwa
menulis adalah kegiatan yang dahsyat dan luar biasa, karena dengan
menulis kita sedang mengubah dunia dan sekaligus mengubah diri kita
sendiri.
Kesan saya membaca tulisan-tulisan Julia?
Keserakahan saya jadi muncul: saya ingin membaca lebih banyak
tulisannya, mengenai pelacuran dan perdagangan perempuan dalam
kaitannya dengan kekuasaan Negara, misalnya, yang pasti dapat
dilakukannya, atau mengenai orientasi seksual, yang dalam
diskusi-diskusi pribadi dengan saya selalu muncul.
Saya pikir kita boleh optimis, karena dalam antologi ini, yang
diterbitkan untuk
memperingati ulang tahun Julia yang ke-50, dia mengatakan bahwa hidup
baru mulai pada usia 50 (bukan 40, katanya).
Selamat membaca, selamat diusik dan dibuat miris, marah, menangis, dan
mudah-mudahan kemudian Saudara bergerak dengan semangat yang
ditimbulkannya.
Surabaya, 7 Januari 2005.
***
Semua orang adalah seniman setiap tempat adalah panggung !
Belajar dan berkarya senilah bersama Rakyat miskin untuk membangun budaya
pembebasan !
Silakan kawan kawan kirimkan karya seni berupa tulisan sastra seperti
puisi,cerpen, gambar gambar berupa lukisan, kartun ,komik ,atau undangan
kegiatan kebudayaan yang membangun budaya pembebasan
******Bergabung dan ramaikan diskusi Reboan di jaker (di dunia nyata) atau
diskusi di [email protected] (di dunia maya)! Untuk bergabung di diskusi
maya silakan kawan kawan kirim email kosong ke :
[EMAIL PROTECTED] (langganan)
website http://www.geocities.com/jaker_pusat
( underconstructions)
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/