DARI LAUNCHING BUKU DAN HAPPENING ARTS "Dunia Di Balik Jeruji"
Pada hari Kamis (putih), 24 Maret, pukul 19.00-22.30 WIB telah diselenggarkan rangkaian acara dalam rangka peluncuran buku karya
Peluncuran buku ini dikemas dalam bentuk happening arts yang mengkombinasikan slide, paduan suara, sambutan, kuis, pementasan teater tunggal PM Toh (Agus Nuramal) dan musik-lagu perjuangan dari kelompok musik Marginal. Kepanitian acara ini merupakan koloborasi dari berbagai lembaga seperti; Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK); Jaringan Kerja Budaya (JKB); Komite Korban Orba (KKO); Off Stream, Perhimpunan Praxis dan ELSAM. Acara ini juga didukung dalam pelaksanaannya oleh Dolorosa Sinaga dan Arjuna, Sanggar AKar dan Kelompok Musik Marginal.
Jalannya Acara
Hujan lebat yang sepanjang sore mengguyur
Pukul 19.00 WIB acara makan malam dibuka oleh panitia.
Di bawah udara basah para undangan tampak mulai menikmati makan malam dan saling menyapa satu sama lain. Tampak hadir antara lain; Ibu Ade dari Tim Relawan Kemanusiaan; Ibu Gartini dan keluarga dari USAID; Rombongan Yappika; Rombongan dari ELSAM; para mantan napol 1965; para mantan napol PRD; para mantan anggota SMID dari Semarang, Surabaya dan Yogyakarta; staf VHR; Ikohi dan Kontras; Mbak Pon, istri Wiji Tukul; Eli Salomo dkk ( mantan komandan Forkot yang sekarang kerja di YLBHI); Simon mantan komandan (sekjen) LMND; Vijay dkk dari PRD; Panel Barus dkk dari Sentral Production; Daniel Hutagulung dkk dari
Berantas dan YLBHI; ANdi K Yuwono dari Praxis (sendirian bung?); Joesoef Isak dari penerbit Hasta Mitra; Distributor buku progresif DOea Lentera; para aktivis JKB; Paduan suara Sanggar Akar; Para pemusik dari kelompok Marginal; Agus Nuramal (dengan Daihatsu bak terbukanya yang di design menjadi panggung pertunjukan); Budiman Sudjatmiko (mantan napol PRD dan sekarang aktif di PDIP); Keluarga Wilson; Perwakilan STN Kerawang; Kawan-akwan dari KASBI dan PRP; Ndaru dkk (dari PDS Organiser); Thamrin dari lembaga donor FNS ; dll
.
Jam 20.00 WIB acara resmi di buka oleh pembawa acara Iwan Pilat, mantan napol PRD yang sekarang menjadi delaer motor-motor produk Cina, dan memang kerap jadi MC di berbagai acara. Sementara di latar belakang, dengan layar berukuran sekitar tiga kali
Setelah itu dilanjutkan dengan acara sedikit sambutan dari penulis buku. Dalam sambutannya dikatakan bahwa buku ini merupakan pengalaman seluruh tapol/napol yang secara khusus pernah mendekam di LP Cipinang. Juga diceritakan sekilas tentang berbagai aktivitas penelitian di penjara seperti menulis tentang aktivitas Xanana Gusmao; mengumpulkan data tentang situasi penjara, terlibat dalam penulisan buku bersama Kolonel Latief, napol PKI yang membuktikan keterlibatan Soeharto.
Sebagai penutup dikatakan juga bahwa hal paling penting yang didapat dri penajra adalah �bahwa kemanusiaan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam sebuah perjuangan. Perjuangan politik dan ideologi akan menjadi lengkap bila dilekatkna pada kemanusiaan begitu juga sebaliknya, gerakan kemanusiaan akan menjadi lengkap bila ia dilekatkan pada politik atau ideologi pembebasan.�
Selanjutnya adalah acara simbolis penyerahan buku kepada beberapa orang yang dianggap penting dalam membantu para tapol/napol dengan berbagai cara yang dimungkinkan atau pernah menjadi korban politik Orba. Buku pertama diserahkan kepada Bpk Oey Hay Djoen, mantan Napol PKI yang baru saja menjadi editor buku �Kapital Buku I� karya Karl Marx; Setelah itu hadir ibu Gartini, staf USAID yang digerakan oleh humanisme dan ajaran
kristaninya selalu membesuk kami setiap hari besukan bahkan menurut Iwan sang MC � lebih sering membesuk kami kepenjara daripada kegereja�; lalu ibu Ade, oma yagn dulu bergabung dalam Tim Relawan Kemanusiaan, yang mengatakan agar para aktivis Ham dan mantan Napol juga memikirkanpara napol yang ada sekarang seperti para napol GAM yang disebar diberbagai penjara pulau Jawa; Lalu muncul Ibu Ida, mantan ketua PRD Depok dan ibunda Wilson; Lalu tampil Hilmar Farid Setiadi (Fay) dari JKB, orang yang dulu banyak menyimpan dokumen penjara Wilson dan terlibat dalam berbagai kampanye pembebasan tapol/napol; Lalu tampil Mbak Pon, istri Wiji Thukul, yang kutipan puisinya menjadi pembuka artikel pertama dan disablom dalam kaos
panitia. Ia mengatakan � kalau menjadi napol masih jelas keberadaannya, tapi kalau seperti Wiji Thukul, saya tidak tau dimana ia disembunyikan�; Lalu tampil Petrus Hari Harianto, mantan napol PRD yang sekarnag sakit parah terkena Diabetes dan Lever dan sekarang hidup dengan menjual buku; Terakhir tampil seorang gadis SMU bernama Kartika, aktivis Sanggar Akar yang dikenal kritis dan gemar membaca buku-buku progresif. Setelah serah terima simbolis selesai, paduan suara kembali hadir dengan lagu-lagu perjuangannya.
Kelar acara serah terima buku, dilanjutkan dengan sambutan dari Joesoef Isak, dari penerbit Hasta Mitra dan memberikan pengantar dalam buku Dunia Di Balik Jeruji�. Dalam sambutanya Joesoef Isak tidak mengulang pengantarnya tapi ingin menyampaikan pesan kepada para napol PKI agar tidak terilusi dengan janji-janji dan rehabilitasi dan kompensasi dari pemerintah yang ada sekarang ataupun dari para elit/partai politik yang ada sekarang. Kompensasi dan rehabilitasi hanya bisa diraih
bila kekuasaan politik telah dikuasai oleh unsur-unsur kearkyatan dan progresif.� Setelah itu Alex Flor dari INFID dan Indonesia Watch yang bermarkas di
Setelah itu dilanjutkan dengan komentar dari berbagai orang terhadap napol PRD dan penulis. Tampil memberikan komentar pak Isa, suami ibu Gartini dari USAID yagn secara khusus mengomentari Budiman; lalu Daniel Hutagalung dari YLBHI yang mengucapkan selamat dan mengngatkan akan pentingnya tradisi menulis son; lalu komentar Margiono dari VHR yang mengatakan bahwa latar belakang akdemis sejarah dari Wilson membuat dia sangat rajin mencatat da mengumpulkan dokumen, termasuk ketika di penjara dan ketika aktif di partai dahulu; lalu komentar dari Thamrin, perwakilan dari FNS yang mengucapakan selamat; terakhir komentar dari Irwan Firdaus, wartawan AP dan aktivis JKB yang mengucapkan selamat.
Setelah komentar dari peserta hadir acara kuiz interaktif dengan hadiah buku, kaos dan agenda dari panitia.
Usai kuis acara dilanjutkan dengan pentas teater tunggal PM Toh (Agus Nuramal) . PM Toh hadir kepentas dengan mendirikan pentas diatas mobil Daihatsu bak terbuka yagn di desain dalam bentuk �kotak televisi� ala PM Toh. � Kalau televisi PM Toh yang di tivi bisa lihat yang nonton tivi, yang nonton tivi bisa lihat yang didalam tivi�, begitu ujarnya. Hari itu ia membaca secara kreatif
Seharusnya pementasan PM Toh menjadi acara terakhir, namun mendadak muncul Budiman Sudjatmiko, mantan ketua umum dan Napol PRD yagn sekarang aktiv di PDIP pimpinan Megawati. Sejak awal acara memang sudah banyak kasak-kusuk yang menanyakan soal Budiman. Kehadirnnya dalam acara tersebut membuktikan bahwa Budiman tetap menggangap para napol PRD sebagai kawannya, apapun aktivitasnya sekarang. Ia tidak memberikan sambutan n politik, tapi hanya menekankan bahwa dokumen ini penting,
karena belum ada yang menuliskannya. � Bila tidak dituliskan Willson, entah apa akan ada yang menuliskannya�. Diskusi politik yang seru terjadi setelah acara ditutup oleh paduan suara. Budiman sebagai mahluk politik, betul-betul muncul dalam wajah aslinya, sayang sebagain besar peserta sudah pulang dan mengantuk, maklum karena diskusi serius baru terjadi setelah
Acara ditutup dengan ucapan terimakasih dari MC dan paduan suara. Namun diberbagai sudut diskusi-diskusi serius justru baru dimulai dan� minuman penghangat� mulai beredar dari gelas-gelas plastik. Udara dingin dan diskusi panas terus berlangsung hingga subuh, melupakan bulan purnama yang sendirian.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam II D No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax:+62 21 8292842
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
Yahoo! Groups Links
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
[EMAIL PROTECTED]

