Salemba Tengah, 29 Maret 2005
 

 

DARI LAUNCHING BUKU DAN HAPPENING ARTS  "Dunia Di Balik Jeruji"

Jakarta, Kamis Putih, 24  Maret 2005

 

kutundukan kepalaku

kepadamu kawan

yang dijebloskan

kepenjara negara

hormatku untuk kalian

sangat dalam

 

Wiji Thukul

 

 

Pada hari Kamis (putih), 24 Maret, pukul  19.00-22.30 WIB  telah diselenggarkan rangkaian acara  dalam rangka peluncuran buku karya Wilson. � Dunia Dibalik Jeruji; Catatan Perlawanan� (Resistbook, Februari 2005).  Acara ini dadakan di  rumah/studio Dolorosa Sinaga  yang dikenal sebagai tempat  acara Diskusi Bulan Purnama (DBP) di Jalan Pondok Gede Raya No 40, Persimpangan Taman Mini-Pondok Gede, Garuda, Jakarta Timur.

 

Peluncuran buku ini dikemas dalam  bentuk happening arts  yang mengkombinasikan  slide, paduan suara, sambutan, kuis, pementasan teater tunggal  PM Toh (Agus Nuramal) dan  musik-lagu perjuangan dari kelompok  musik Marginal.  Kepanitian acara ini merupakan koloborasi dari berbagai lembaga seperti; Yayasan Sosial Indonesia untuk Kemanusiaan (YSIK); Jaringan Kerja Budaya (JKB); Komite Korban Orba (KKO); Off Stream, Perhimpunan Praxis dan ELSAM. Acara ini juga didukung dalam pelaksanaannya oleh Dolorosa Sinaga dan Arjuna, Sanggar AKar dan  Kelompok Musik Marginal.

 

 

Jalannya Acara

 

Hujan lebat  yang sepanjang sore mengguyur Jakarta mulai berhenti sektiar pukul 17.00 WIB sore, meskipun gerimis kecil masih  terasa  membasahi daun-daun dan mobil di jalan-jalan.  Halaman rumah dan studio Dolo menjadi becek dan dipenuhi genangan air disana-sini.  Tapi tim perlengkapan dan artistic sudah merapikan seluruh persiapan acara dan tempat.  Menjelang magrib, para undangan  mulai berdatangan, sementara hidangan makan malam berupa soto komplit, jajanan tradisionil, kacang kulit, kripik singkong, aqua, kopi (dua jenis pahit dan tidak), teh (dua jenis,pahit dan tidk),  aqua gelas  mulai disiapkan.  Anjing-anjing peliharaan Dolo tampak mondar-mandir disekitar meja makan,  tidak tahan melihat menu makan malan yang disajikan.  Sementara seksi acara  (Agung Ayu, Sinnal, Hiqmah dan Iwan Pilat)   sudah merampungkan  rencana cara. Daftar orang-orang yang harus diucapkan terimakasih sudah diserahkan oleh Agung Ayu kepada Wilson. Sementara panitia yang lain dengan kaus bergambar jeruji dan kutipan puisi thukul tampak mulai sibuk menyiapkan acara.

 

Pukul 19.00 WIB  acara makan malam dibuka oleh panitia.  Para tamu yang  berdatangan semakin banyak, sekitar 100 orang sudah mulai datang, jumlahnya terus bertambah ketika cara dimulai, hingga mencapai sekitar 200 orang. Sebuah jumlah yang  cukup banyak, mengingat lokasi acara yang jauh dan hujan yang mengguyur Jakarta sejak siang hingga sore hari.

 

Di bawah udara basah  para undangan tampak mulai menikmati makan malam dan saling menyapa satu sama lain. Tampak hadir  antara lain; Ibu Ade dari Tim Relawan Kemanusiaan; Ibu Gartini dan keluarga dari USAID; Rombongan Yappika; Rombongan dari ELSAM; para mantan napol  1965; para mantan napol PRD; para mantan anggota SMID dari Semarang, Surabaya dan Yogyakarta; staf VHR;  Ikohi dan Kontras; Mbak Pon, istri Wiji Tukul; Eli Salomo  dkk ( mantan komandan Forkot yang sekarang kerja di YLBHI); Simon mantan komandan (sekjen) LMND; Vijay dkk dari PRD; Panel  Barus dkk dari Sentral Production; Daniel Hutagulung dkk dari Berantas dan YLBHI; ANdi K Yuwono dari Praxis (sendirian bung?); Joesoef Isak dari  penerbit Hasta Mitra;  Distributor buku progresif  DOea Lentera;  para aktivis JKB; Paduan suara Sanggar Akar; Para pemusik dari kelompok Marginal; Agus Nuramal (dengan  Daihatsu bak terbukanya yang di design menjadi panggung pertunjukan);  Budiman Sudjatmiko (mantan napol PRD dan sekarang  aktif di PDIP); Keluarga Wilson; Perwakilan STN Kerawang; Kawan-akwan dari KASBI dan PRP; Ndaru  dkk (dari PDS Organiser); Thamrin dari   lembaga donor FNS ;  dll .

 

Jam 20.00 WIB acara resmi di buka oleh pembawa acara Iwan Pilat,  mantan napol PRD yang sekarang menjadi delaer motor-motor produk Cina, dan memang kerap jadi MC di berbagai acara.  Sementara di latar belakang, dengan layar berukuran  sekitar tiga kali lima meter  bermunculan foto-foto persidangan dan kegiatan napol PRD di penjara Cipinang.  Lalu  acara dibuka  dengan paduan suara Sanggar Akar  pimpinan Agung  Ayu  yang menyanyikan lagu  perjuangan gerakan demokrasi � Darah Juang�.

 

Setelah  itu dilanjutkan dengan acara sedikit sambutan dari penulis buku.  Dalam sambutannya dikatakan bahwa buku ini  merupakan pengalaman  seluruh tapol/napol yang secara khusus  pernah mendekam di LP Cipinang. Juga diceritakan sekilas tentang berbagai aktivitas penelitian di penjara seperti menulis tentang aktivitas Xanana Gusmao; mengumpulkan data tentang situasi penjara, terlibat dalam  penulisan buku  bersama Kolonel Latief, napol PKI  yang  membuktikan keterlibatan Soeharto. Sebagai penutup dikatakan juga bahwa  hal paling penting yang didapat dri penajra adalah �bahwa kemanusiaan  merupakan sesuatu yang  sangat penting dalam sebuah perjuangan.  Perjuangan politik dan ideologi  akan menjadi lengkap bila dilekatkna pada kemanusiaan begitu  juga sebaliknya,  gerakan kemanusiaan akan menjadi lengkap bila ia dilekatkan pada politik atau ideologi pembebasan.�

 

Selanjutnya adalah acara simbolis penyerahan buku kepada beberapa orang yang dianggap   penting dalam membantu  para tapol/napol dengan berbagai cara yang dimungkinkan  atau  pernah menjadi korban politik Orba.  Buku pertama diserahkan kepada  Bpk Oey Hay Djoen, mantan Napol PKI  yang baru saja menjadi editor buku �Kapital Buku I� karya Karl Marx; Setelah itu hadir ibu Gartini, staf USAID  yang digerakan oleh humanisme dan ajaran kristaninya  selalu membesuk kami setiap hari besukan bahkan menurut Iwan sang MC � lebih sering membesuk kami kepenjara daripada kegereja�; lalu ibu Ade, oma yagn dulu bergabung dalam Tim Relawan Kemanusiaan, yang mengatakan  agar para aktivis Ham dan mantan Napol juga memikirkanpara napol yang ada sekarang seperti para napol GAM yang disebar diberbagai penjara pulau Jawa; Lalu muncul Ibu Ida, mantan ketua PRD Depok dan ibunda Wilson; Lalu  tampil Hilmar Farid Setiadi (Fay) dari JKB, orang yang dulu banyak menyimpan dokumen penjara  Wilson dan terlibat dalam berbagai kampanye pembebasan tapol/napol; Lalu tampil Mbak Pon, istri Wiji Thukul, yang  kutipan puisinya  menjadi pembuka artikel pertama dan disablom dalam kaos panitia. Ia mengatakan �  kalau menjadi napol masih jelas keberadaannya, tapi kalau seperti Wiji Thukul, saya tidak tau dimana ia disembunyikan�; Lalu  tampil  Petrus  Hari Harianto, mantan napol PRD yang sekarnag sakit  parah terkena Diabetes dan Lever dan sekarang hidup dengan menjual buku; Terakhir tampil seorang  gadis SMU bernama Kartika, aktivis Sanggar Akar   yang dikenal kritis dan gemar membaca buku-buku progresif.  Setelah serah terima simbolis selesai,  paduan suara kembali  hadir dengan lagu-lagu perjuangannya.

 

Kelar acara serah terima buku,  dilanjutkan dengan sambutan dari Joesoef Isak,  dari penerbit Hasta Mitra dan  memberikan pengantar dalam buku  Dunia Di Balik Jeruji�.  Dalam sambutanya Joesoef Isak tidak mengulang pengantarnya tapi ingin menyampaikan pesan kepada para napol PKI  agar tidak terilusi dengan janji-janji dan  rehabilitasi dan kompensasi dari pemerintah yang ada sekarang  ataupun dari para elit/partai politik yang ada sekarang.  Kompensasi dan rehabilitasi hanya bisa diraih bila kekuasaan politik  telah dikuasai oleh unsur-unsur kearkyatan dan progresif.� Setelah  itu Alex Flor dari INFID dan Indonesia Watch yang bermarkas di Berlin, Jerman dan kawan lama penulis buku juga didaulat memberikan sedikit sambutan.

 

Setelah itu  dilanjutkan dengan komentar dari  berbagai orang terhadap napol PRD dan penulis.  Tampil memberikan komentar pak Isa, suami ibu Gartini dari USAID  yagn secara khusus  mengomentari Budiman; lalu  Daniel Hutagalung dari YLBHI  yang mengucapkan selamat dan mengngatkan akan pentingnya tradisi menulis son; lalu  komentar Margiono dari VHR  yang mengatakan bahwa latar belakang akdemis sejarah dari Wilson membuat dia sangat rajin mencatat da mengumpulkan dokumen, termasuk ketika di penjara dan ketika aktif di partai dahulu; lalu komentar dari Thamrin, perwakilan dari FNS yang mengucapakan selamat; terakhir komentar dari Irwan Firdaus, wartawan AP dan aktivis JKB yang mengucapkan selamat.

 

Setelah komentar dari peserta hadir acara kuiz interaktif dengan hadiah buku, kaos dan agenda dari panitia.  Para peserta diminta menjawab lima pertanyaan seputar kehidupan napol dipenjara Cipinang.  

 

Usai kuis acara dilanjutkan dengan pentas teater tunggal PM Toh (Agus Nuramal) .  PM Toh  hadir kepentas dengan mendirikan pentas diatas mobil Daihatsu bak terbuka  yagn di desain  dalam bentuk  �kotak televisi� ala PM Toh. � Kalau televisi PM Toh yang di tivi bisa  lihat yang  nonton tivi, yang nonton tivi bisa lihat yang didalam tivi�, begitu ujarnya.  Hari itu ia  membaca secara kreatif surat untuk Dita Sari  yang  terdapat dalam buku pada halaman 197-199.  Dengan menggunakan efek cahaya untuk menggambarkan pergeseran waktu dan berbagai benda sehari-hari untuk menggambarkan suasana didalam penjara , PM Toh mengajak peserta untuk �mentertawakan� dunia penjara.  Ia berhasil membawa suasana penjara yang angker menjadi suatu �institusi yang konyol� dan  layak untuk ditertawakan oleh  para aktivis (dan publik).

 

Seharusnya pementasan PM Toh menjadi  acara terakhir, namun mendadak muncul Budiman Sudjatmiko, mantan ketua umum dan Napol PRD  yagn sekarang aktiv di PDIP pimpinan Megawati.  Sejak awal acara memang sudah banyak kasak-kusuk yang menanyakan soal Budiman. Kehadirnnya  dalam acara tersebut  membuktikan bahwa Budiman  tetap  menggangap para napol PRD sebagai kawannya, apapun aktivitasnya sekarang.  Ia tidak memberikan  sambutan n politik, tapi hanya menekankan bahwa dokumen ini penting, karena belum ada yang menuliskannya. � Bila tidak dituliskan Willson, entah apa akan ada yang menuliskannya�. Diskusi politik yang seru terjadi setelah acara ditutup oleh paduan suara. Budiman sebagai mahluk politik, betul-betul muncul dalam wajah aslinya, sayang sebagain besar peserta sudah pulang dan mengantuk,  maklum karena diskusi serius baru terjadi setelah midnight.

 

Acara ditutup dengan ucapan terimakasih dari  MC dan  paduan suara. Namun diberbagai sudut diskusi-diskusi serius justru baru dimulai dan� minuman penghangat� mulai  beredar dari gelas-gelas plastik. Udara dingin dan diskusi panas  terus berlangsung hingga subuh, melupakan bulan purnama  yang sendirian.

 

 

Salam

 

 

Wilson

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam II D No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax:+62 21 8292842

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke