Pembunuh Sadis Itu Bernama Kemiskinan Kompas, Sabtu, 02 April 2005
Dita Indah Sari Badannya tinggi besar, rambutnya hitam tipis dan disanggul. Bibirnya juga tipis dengan mata tajam. Usianya saat itu 42 tahun. Saya bertemu ibu Astini di Rumah Tahanan Medaeng Agustus 1996, sehari setelah saya dipindahkan ke sana. Menurut saya, wajahnya cukup manis. Tidak menakutkan seperti digambarkan petugas polisi saat saya ditahan di kantor polisi sejak awal Juli. Sejak hari itu, saya dan Ibu Astini hidup dalam tahanan yang sama, meski tidak satu kamar. Saya adalah tahanan politik dengan tuduhan tindak pidana subversi, sedangkan Ibu Astini terdakwa kasus pembunuhan yang memutilasi korbannya. Kami datang dari latar belakang sosial yang tidak ada kesamaannya, seperti juga penghuni rumah tahanan (rutan) lainnya. Meski tidak terlalu lancar menulis, Ibu Astini cukup bisa membaca dan senang berbicara. Kadang-kadang saya habiskan waktu untuk ngobrol dengan dia, di kamarnya, di bawah jemuran baju yang airnya masih menetes atau saat nonton teve. Dia selalu bicara tentang ketiga anaknya, yaitu Lastri, Tedy, dan Uwik. Juga tentang Pak Supilin, suaminya. Seperti umumnya ibu, dia paham secara rinci kesukaan, tingkah laku, dan kebiasaan suami dan anaknya. Ngobrol dengan saya, dia berusaha berbicara dalam bahasa Indonesia yang utuh, meski sering gagal. Maka, pembicaraan sering terinterupsi dengan upaya menerjemahkan kata-kata dari bahasa Jawa suroboyoan, sering melibatkan orang ketiga dan keempat, yang akhirnya larut dalam obrolan. Yang membuat saya terguncang bukan kekejamannya, meski saya ngeri dengan semua itu. Bukan mutilasinya atau genangan darah dan tas keresek hitam tempat mengangkut potongan-potongan badan yang dilempar ke sungai atau tong sampah. Atau berapa kaleng karbol untuk membersihkan sisa ceceran darah. Saya telah membaca sejarah negeri ini, dan lelah dengan ratusan kisah kekejaman. Ribuan orang di Surabaya dibantai hidup-hidup oleh Sultan Agung Raja Mataram pada tahun 1614 dalam upayanya menghancurkan Negara Bandar Surabaya. Hanya dalam hitungan hari di tahun 1740, kompeni Belanda membunuh hampir 10.000 orang etnis Tionghoa di Batavia. Berapa ratus ribu manusia yang tewas pada tahun 1965 di seluruh negeri, dengan kekejaman tiada tara? Di Timor-Timur? Di Aceh? Kisah Astini kian meyakinkan, tekanan sosial-ekonomi yang dialaminya setiap hari membawa dampak amat dramatis, menghasilkan perubahan drastis terhadap pemikiran, tindakan, dan pegangan nilai. Kesulitan ekonomi dan kemiskinan menimbulkan kepanikan dan ketegangan hati Astini. Biaya kursus dan sekolah anak- anaknya ditutup dengan menggadaikan baju atau berutang. Pak Supilin tak bisa menyumbang banyak, karena ia hanya bekerja di bengkel. Tiga anaknya harus makan, sekolah, beli sepatu, seragam, dan baju. Anak-anaknya enggan berangkat sekolah karena malu ditagih uang bayaran. Kreditor rutin datang menagih utang, dan biasanya mereka marah jika Bu Astini terlambat membayar utang. Belum lagi jika ada anaknya yang sakit dan harus ke dokter. Laci lemarinya penuh dengan surat gadai yang belum tertebus kembali. Kisah keluarga Astini adalah potret puluhan juta keluarga miskin di Indonesia. Sebagai tahanan politik yang ditangkap karena demonstrasi buruh, saya tahu persis gaji buruh di sektor formal, sama sekali tidak mampu menutupi kebutuhan hidup sendiri. Mendengar ceritanya, saya bertambah ngenes karena Ibu Astini dan Pak Supilin bekerja di sektor informal sehingga tiap bulan mereka tidak ada penghasilan rutin. Maka, orang miskin seperti dilarang sakit dan sekolah. Setelah Ibu Astini masuk kantor polisi, untung ada pendeta dan polisi yang baik hati, bersedia memberi beasiswa bagi anak- anaknya. Problem itu teratasi meski memakan korban. Kasus ini menghentakkan hati banyak orang sehingga Ibu Astini lalu menerima sumbangan untuk anak-anaknya. Kepada saya, ia berkata, ini bentuk pengorbanannya bagi anak-anak dengan cara lain. SAYA tidak setuju. Kegagalan pemerintah menyediakan pelayanan kesehatan dan pendidikan cuma-cuma bagi orang miskin memicu banyak komplikasi dan agresivitas sosial. Jutaan keluarga harus berjuang dengan caranya masing-masing agar dapat bertahan hidup dan tetap sekolah. Bukan pemerintah, tetapi keluarga-keluarga miskin yang akhirnya mengambil alih beban krisis ke pundaknya, dan tiap orang punya daya tahan berbeda-beda. Kemiskinan dapat menjerumuskan orang pada pilihan-pilihan ekstrem untuk bertahan hidup. Bukan berarti setiap orang miskin pasti berwatak brutal dan kriminal. Namun, dalam situasi tidak normal dan tekanan hidup ekstrem, ekspektasi yang ideal atas tingkah laku tiap orang adalah pandangan yang kurang adil. Meningkatnya angka kriminalitas selama beberapa tahun ini, terutama sejak krisis ekonomi, harus dianalisis lebih kritis. Saya merasa ada yang tidak adil. "Pengorbanan" yang disebut Astini semestinya tidak perlu ada. Semestinya tidak perlu ada jiwa melayang dan orang yang mati oleh regu tembak untuk membayar uang sekolah tiap bulan jika semuanya disediakan cuma-cuma dan murah oleh pemerintah. Astini tidak paham, tetapi inilah yang melandasi keputusan saya untuk membantu menyusun pleidoinya di penjara, selain yang telah disusun oleh kedua pengacaranya. Saya tidak punya pretensi membenarkan tindakan Ibu Astini. Bagaimanapun, ia telah dieksekusi regu tembak. Dan ia melakukan pembunuhan, sebuah kesalahan yang layak diberi hukuman. Dalam pleidoi yang saya tulis berdasarkan pengakuannya, Sri Astutik, Rahayu, dan Pudjiastuti datang ke rumah Ibu Astini untuk menagih utang dan ia membunuh mereka karena "marah dengan kata-kata mereka saat menagih utang". Ia ingin saya menulis semua nama itu dalam pleidoinya. Setengah dari halaman pleidoi berisi pengakuan atas tindakannya. Dua setengah halaman sisanya berisi penjelasan kepada majelis hakim dan jaksa penuntut umum tentang latar belakang kemiskinan sosial dan ekonomi keluarga yang terus terakumulasi, hingga berujung pada tindakan pembunuhan sadis karena gelap mata. Alinea terakhir berbicara tentang permohonan agar ia tidak dijatuhi hukuman mati. Kami menulisnya bukan agar masyarakat memaklumi tindakan Astini. Kami menulis kepada majelis hakim agar mereka menatap persoalan ini dari sisi berbeda, bukan dari sisi keadilan formal dalam KUHP, kemarahan, apalagi "balas dendam" untuk memberi efek jera. Kekuasaan yang abai terhadap kemiskinan rakyatnyalah yang lebih mendesak dibuat "jera". Kita telah melihat cukup banyak kematian dan pembunuhan, yang tidak perlu ditambah lagi. SETELAH Rutan Medaeng terbakar pada Juli 1997, hanya saya dan Ibu Astini yang dipindah ke Lembaga Pemasyarakatan Wanita Sukun Malang. Selama beberapa hari saya tinggal satu kamar dengannya dalam sel karantina, sebelum dipindah ke blok khusus. Kami tidak bicara banyak. Saya amat kecewa dengan putusan pengadilan. Bu Astini menghabiskan waktunya dengan shalat lima waktu, shalat sunnah rawatib dan tahajud hingga fajar dan menghafal doa-doa. Pada siang hari kami duduk bersama, menyulam, merajut, sore harinya kami mengaji dan ikut ceramah agama. Dia bertambah kurus, tetapi jarang menangis. Saya tidak tega menyinggung soal pleidoi lagi atau menawarkan diri membuat pleidoi baru untuk permohonan bandingnya. Beberapa tahun setelah bebas, saya mendengar permohonan grasinya ditolak Presiden Megawati tanggal 9 Juli 2004. Megawati juga menolak permohonan grasi tujuh narapidana mati kasus narkotika. Pada hari Minggu dini hari, 20 Maret, Astini dieksekusi di Surabaya. Hingga hari ini, saya tidak percaya ada manusia di bumi ini yang cukup bijaksana untuk menentukan siapa yang boleh mati dan siapa yang berhak hidup. Pembunuhan tetap pembunuhan, meski atas nama negara. Albert Camus, novelis Perancis dan Pemenang Hadiah Nobel tahun 1957, menyatakan, "Balas dendam berkaitan dengan alam dan insting, bukan dengan hukum. Hukum, pada dasarnya tidak boleh tunduk pada aturan-aturan yang sama dengan alam�. Eksekusi Astini tidak mengembalikan para korban yang telah ia bunuh ke tengah keluarganya. Membunuh seseorang yang telah membunuh orang lain, meski didukung pemerintah, berarti memberi napas pada rantai kekerasan yang menakutkan. Dita Indah Sari Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik (PRD) Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat) *************************************** sekretariat: JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia telp/fax: +62218292842 email:[EMAIL PROTECTED] People's Cultural Network "Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!" Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/jaker/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

