HARSUTEJO TENTANG BUKU

                                                            �PERJALANAN HIDUP SAYA�  

 

Berbagai komentar atau pendapat tentang terbitnya buku �Perjalanan hidup Saya�, yang diluncurkan pada tanggal 1 Februari 2005, masih terus muncul di media pers Indonesia atau dalam Internet. Sesudah tulisan Ignatius Haryanto (peneliti di Lembaga Studi Pers dan Pembangnan � LSPP, Jakarta) yang dimuat dalam harian Kompas tanggal 23 April 2005, menyusul tulisan Harsutejo yang disebarkan lewat Wahana tanggal 27 April 2005.

 

Seperti diketahui,  Harsutejo adalah penulis sejumlah buku dan artikel-artikel, di antaranya buku  � G30S, sejarah yang digelapkan : tangan berdarah CIA dan rejim Suharto � (penerbitan Hasta Mitra). Ia juga sudah menterjemahkan buku-buku , antara lain buku-bukunya Bob Hering dari negeri Belanda mengenai Bung Karno dan Husni Thamrin.

 

Bagi mereka yang kebetulan tidak membaca siaran dalam Wahana itu di bawah ini disajikan tulisannya mengenai buku � Perjalanan Hidup Saya � :

 

 

 

A Umar Said, Perjalanan Hidup Saya

(Catatan Seorang Peminat)

                                                                                      Oleh: Harsutejo

 

Pejuang Sejak Muda

 

Telah banyak resensi buku tersebut ditulis orang, baik yang menyambut dengan antusias maupun yang mengritiknya. Pengantar Rosihan Anwar (yang banyak dikecam dalam berbagai milis), berharap Umar Said melakukan katarsis, pembersihan jiwa, sebelum melakukan rekonsiliasi. Mungkin yang dimaksud adalah rekonsiliasi antara lain dengan Rosihan Anwar sendiri yang tidak perlu melakukan pembersihan jiwa karena sudah bersih. Sedang pihak Umar Said perlu karena telah dikotori keyakinan komunisnya di masa lampau. Barangkali itulah yang dimaksud Rosihan dengan bahasa lebih sederhana.

 

Dalam tulisan yang cukup bernas (Kompas 23 April 2005:46), Ignatius Haryanto, peneliti di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) yang sedang mempersiapkan buku Bibliografi Pers Indonesia, membuat kritik sehat tentang periode sampai 1965 yang penuh konflik ideologis, �Sayang karena justru orang sepenting Umar Said tak menyinggung soal itu� sebagai episode penting yang luput ditulis. Tulisan ini bukan resensi, tetapi sekedar catatan seorang peminat.

 

Kegiatan Umar Said di sepanjang hidupnya merupakan kegiatan seorang pejuang yang mencintai tanahairnya tanpa batas, tanpa menyerah yang telah dimulainya dengan ikut serta dalam pertempuran Surabaya 1945. Dengan segala macam kendala, kesulitan hidup sehari-hari di negeri orang dan ancaman sebagai seorang eksil yang dipandang sebagai cecunguk tengik oleh pemerintah diktator militer Indonesia, ia terus-menerus berjuang dalam jalur keyakinannya. Ini semua dapat kita simak dalam perjalanan hidupnya, terutama selama di luar negeri, sampai dewasa ini.

 

Sementara orang di Indonesia menunjuk bahwa pembebasan tapol G30S terutama karena upaya pihak Inggris dan AS. Seperti jelas dapat kita ikuti dalam buku ini upaya itu pertama-tama dilakukan oleh para eksil termasuk upaya keras Carmel Budihardjo dari London dengan bantuan internasional. Tekanan internasional ini yang membuat AS turun tangan berdasarkan kepentingannya sendiri.

 

 

Keluarga dan Resto Indonesia

 

Liku-liku berkumpulnya kembali Umar Said bersama keluarga, seorang isteri dan dua orang anaknya setelah belasan tahun berpisah karena tragedi G30S 1965, sesuatu yang tidak lepas dari upaya sang sahabat, Joesoef Isak, amat menyentuh. Dalam hal ini tak berlebihan jika dia merasa amat beruntung terbanding teman-teman lain, terlebih dengan kawan-kawan di Indonesia yang tercerai-berai tanpa bisa utuh kembali, bahkan setengah tumpas dan tumpas sama sekali, sebagian tanpa diketahui rimbanya. Masih merasa beruntung dalam kesulitan, rupanya ini salah satu kebijakan Jawa (barangkali uga suku lain) dalam menyiasati tekanan hantaman godam kehidupan.

 

Kisah berliku tentang pendirian Restoran Indonesia bersama sejumlah teman eksil di Paris sampai boleh dibilang sukses menghidupi mereka, diuraikan dengan cukup rinci. Pada gilirannya usaha bersama berbentuk koperasi ini bukan saja sebagai topangan hidup anggota dan pekerjanya (dengan bantuan sukarela tanpa bayar dari sejumlah sahabat asing), tetapi juga menjadi duta Indonesia di Eropa dalam artian nyata bersamaaan dengan permusuhan yang dilakukan oleh kedutaan Indonesia yang resmi. Bagian ini cukup menarik.

 

Banyak teman korban Orde Baru di Indonesia yang selepas sebagai tapol sekitar 1978, juga mencoba peruntungan dalam dunia bisnis. Dengan berbagai kesulitan yang bukan alang kepalang dihadapinya dari pihak penguasa, beberapa orang cukup berhasil dalam lingkup yang tetap terbatas. Tetapi tidak ada usaha kolektif sesama korban, seperti koperasi misalnya, yang berhasil hidup panjang, apalagi berkembang. Rupanya dalam hal ini teman-teman di Indonesia perlu belajar dari Pak Umar Said dkk.

 

 

Percikan Menunggu Api

 

Saya sendiri sebagai pembaca yang menyambut penerbitan bukunya, berharap banyak di antaranya tentang periode Tiongkok yang dijalaninya selama 7 tahun, termasuk masa yang disebut sebagai �Revolusi Kebudayaan�. Periode ini cukup panjang dengan pergolakan begitu besar yang terjadi di Tiongkok yang ditulisnya sebagai RBKP, tanpa diberikan artinya singkatan ini, kami (atau lebih tepat saya) di Indonesia mengharapkan sekali kupasan cukup mendalam atas pengalaman tersebut. Di Indonesia orang hanya mendapatkan informasi berat sebelah dari pers Barat tentang periode itu. Sayang bahwa kita hanya mendapatkan 8 (delapan) halaman, dan praktis hanya 4 (empat) halaman saja yang mencatat periode itu di antaranya disebutkan, �...walaupun kehidupan kami baik, namun terasa sekali bahwa kebebasan terbatas sekali waktu itu.� Ditulisnya tentang penghinaan terhadap seorang Marsekal Peng Teh Huai yang disuruh jongkok dan ditarik rambutnya oleh para pemuda Garda Merah, �Pengalaman ini merupakan ingatan yang tidak selalu menyenangkan�. Kami dapat menyaksikan sejumlah adegan semacam ini dalam sebuah film Amerika, kini mendapatkan konfirmasi buku tersebut.

 

Selanjutnya kita tidak akan mendapatkan jawaban terhadap apa sebenarnya yang terjadi di RRT ketika itu, apa sebab orang-orang Indonesia (yang notabene umumnya dari golongan kiri, suatu istilah yang masih hidup sampai saat ini) justru beramai-ramai hijrah, sebagian besar ke negeri-negeri Barat yang kapitalis? (Di samping Hongkong yang ketika itu masih di bawah Inggris). Apa di sana lebih bebas? Negeri itu lebih memperhatikan hak asasi? Atau orang-orang Indonesia itu sebenarnya diusir secara halus? Karena RRT hendak melakukan pendekatan dengan penguasa Orde Baru? Masih banyak pertanyaan yang lain seperti tentang solidaritas internasional dan kepentingan tiap negara dsb. Pertanyaan ini berlaku juga bagi teman-teman yang juga melakukan eksodus dari Vietnam dan Korea Utara. Bagaimana dengan kawan-kawan yang (pernah) tinggal di Uni Soviet dan negeri-negeri sosialis Eropa Timur? Ketika keluar dari RRT, penulis menyebutkan tentang urusan palsu memalsu surat keterangan termasuk cap paspor, suatu dunia yang cukup diakrabi juga oleh para korban rezim Orba yang menjadi buron atau dan yang berusaha berkelit di Indonesia

.

Di samping dari media Barat yang tentunya sulit untuk kita harapkan tulisan seimbang, maka kita di Indonesia telah mendapatkan informasi berbentuk karya sastra dari Sobron Aidit (tentang RRT), Utuy Tatang Sontani (RRT dan Uni Soviet), Asahan Alham (Vietnam), pengalaman sejumlah teman yang hijrah ke Hongkong yang termuat dalam beberapa milis. Ada juga naskah buku tentang Korea Utara yang penulisnya nampaknya masih ragu untuk menerbitkannya. Adakah naskah lain dari teman-teman yang berisi analisis yang lebih mendalam? Di Indonesia sejumlah korban rezim Orba telah menerbitkan pengalamannya dalam bentuk sastra, memoar, atau pembelaan seperti Pramoedya Ananta Toer, Carmel Budihardjo (dari Inggris), Sulami, Sujinah, Abdul Latief, Omar Dani, Hersri Setiawan, Putu Oka Sukanta, Heru Atmodjo, Adam Supardjan, Hd Haryo Sasongko, Kresno Saroso dsb. Di samping itu telah terbit himpunan sejumlah sejarah lisan. Masih ada sejumlah naskah yang belum sempat terbit (hampir dapat dipastikan karena kendala keuangan) meskipun telah beberapa tahun selesai ditulis seperti naskah dokter Sumiyarsi, Ir DSM Sastrosudirdjo, Harsutejo, Suparman dan saya kira masih banyak yang lain. Para korban ini diharapkan menulis segala sesuatunya secara jujur dan apa adanya.

 

Sesudah pengantar, penulis memang memberikan catatan, �Ada hal-hal yang memang dengan sengaja tidak ditulis atau tidak dicantumkan dalam tulisan ini, disebabkan oleh pertimbangan-pertimbangan tertentu.� Kita hanya bisa menebak-nebak, tetapi bersama itu berharap bahwa Bung Umar Said masih menyimpan sesuatu yang mungkin akan diluncurkan pada waktunya. Menurut bahasa puitis sejumlah pemuda dari Radio Komunitas Suara Independen,  Malang, maka baru percikan-percikan api, belum apinya. Kita tunggu.

 

Bekasi, April 2005

 



JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




Yahoo! Groups Links

Kirim email ke