JIKA LAHIR, NGUTANG
Nyaris tepat pukul tujuh pagi, ketika di hadapan ada sepiring ketela
rambat goreng tepung masih lumayan panas, kemarin dibawa Indun dari
dusun Nggaras, tadi baru saja digorengnya; untuk sarapan sebab nasi
dan sayur belum ada, dan ini kali adalah kali kesekian banyak;
peristiwa nasional kenegaraan yang menjangkau tapi tak terjangkau
orang pinggiran sudah tak lagi mensensasi sebuah alam pikiran
keluarga yang pada suatu pemilu mereka tidak mendatangi TPS dan satu
anaknya yang sedang suka menelusuri tradisi anarkhi lokal asli telah
kehilangan KTP tanpa ada gelagat niatan untuk mengurus �
Oom Tarijan, demikian sebutan kolonialnya, dan Pak Cilik, demikian
familiernya, sebab merupakan suami kedua dari Bulik Parti; adik Ibu
yang ditinggal pergi suami pertamanya, datang dengan sudah
berseragam; tukang ojek, yaitu berupa jaket kulit setengah imitasi
model perca itu.
Perlunya pagi-pagi sudah ke rumah kami adalah mau pinjam uang, sebab
anak menantunya; Sulih yang manis dan buruh di PT. K di kota Ungaran
sana, masih tertahan di rumah sakit bersalin setelah melahirkan
anaknya yang pertama; kurang 350 ribu rupiah.
Tapi sayang, sungguh kami sedang sama bokeknya pula. Dan sungguh di
pagi-pagi yang sama pula kami sambil mengenyam-ngenyam ketela goreng
gurih-gurih manis tak lain sedang mendaftar cadangan kreditur jika
nanti siang harapan kami pada mBak Sri Tumpi di Ranjung itu luput.
Rum Rum Ruuummm � Motor Lik Tarijan sudah berlalu. Suara derumnya
lantas tiba-tiba menjadi semacam gumaman khayal yang kurang lebih
artinya :
Kali-kali saja sebentar nanti bakal ada hartawan dermawan mau
mengojek dan lantas sepanjang perjalanan kami ngobrol-ngobrol,
dimana akan kuceritakanlah problemaku ini; problema orang jelata
melahirkan; serba salah, antara kegembiraan-pengharapan oleh sebab
kanak-kanak tergolek polos menjanjikan itu, dengan keposingan-cemas
oleh sebab seabrek tuntutan pembiayaannya sekarang juga dan kelak.
Optimisme-pesimisme �
Dan Sang Hartawan Dermawan demi mendengar penuturan pengojek yang
mengantarnya pun berkata pendek saja : Nih, cukup ? �
Namun lalu � Cuiiit � Decitnya rem berkampas usang dari motor Lik
Tarijan pun seakan menjadi keluh yang menyergah gumaman dengan jenis
bahasa yang lain lagi, bahasa yang meratapkan kenyataan dan langsung
membunuhi khayalan :
Mana ada, hartawan dermawan mengojek !
Nyaris terjadi tabrakan. Begini; jika dari rumahku lantas kita ke
kanan, 25an meter saja, akanlah sampai di jalan kampung � tapi
aspal. Kalau ambil kiri 50an meter adalah menuju jalan besar, yang
persis di depan jembatan sebagai mulut jalan kampung ini; adalah
pangkalan ojek Lik Tarijan. Kalau ambil kanan akan terus makin masuk
ke pelosok-pelosok lereng Selatan Gunung Merbabu, dan tak ada
transportasi umum selain ojek.
Meskipun hanya jalan arah ke pelosok-pelosok lereng gunung, namun
selalu ada mobil-mobil berplat kota besar yang naik. Tidak banyak
tapi selalu. Tetapi mobil-mobil ini tidak ada urusannya dengan
kepelosokan dan orang-orang pelosok. Mobil-mobil ini akan naik terus
kurang lebih 5 kilo hingga mentok di pertigaan terakhir,
Jika ke kanan akan mengikuti jalan pintas yang nanti bertemu dengan
jalan utama menuju tempat pariwisata semacam Puncak di Jawa Barat.
Jika ke kiri, dan terus hingga lewat beberapa dusun, dan lantas
mentok di pertigaan kecil, dan mengambil kanan, teruuus � mendaki �
Sampailah di sebuah biara � pertapaan, yang ditinggali oleh suster-
suster Trapis gereja katolik. Nah, mobil-mobil tadi ke situlah
tujuannya; kurang lebih orang kaya mencari ketenangan jiwa,
demikian.
Dan salah satu mobil itu, sedan hebat yang hanya kulihat di iklan
koran bersama perempuan bahenol mejeng yang entah apa hubungan
keduanya, yang pagi-pagi sudah meluncur dari Semarang jauh di Timur
Laut sana, belok kanan pelan-pelan melewati jembatan, terus meluncur
lagi dengan salib fiber yang bergoyang-goyang pada tangkai spion
dalam, seperti tasbih, boneka atau juga cindera berupa tanda pangkat
taruna akademi militer � Sekitar 50an meter �
Mendadak nongol seorang pengendara motor dari kanan, dari tikungan
buntu yang hanya menuju ke rumah yang baru saja di datangi
pengendara motor itu. Namun dari sudut pandang lain / sebaliknya,
bisa juga dikatakan : mendadak melintas sebuah mobil dari kiri, dan
seterusnya.
Siapa meleng, dua-duanya meleng ? Siapa ceroboh, dua-duanya
ceroboh ? Siapa salah, dua-duanya salah ? Yang jelas, reflek
pengojek membuatnya mengerem sekaligus depan-belakang seraya banting
stang ke kiri. Namun tepat di situ adalah tanah berpasir karena
belum lama ada proyek gorong-gorong, dan menggelosorlah motor itu
dengan seluruh bagian roda depan masuk lobang gorong-gorong yang
ditelantarkan tak bertutup oleh kontraktor.
Sedang mobilnya ? Juga membikin refleknya sendiri; nyaris masuk
parit di kiri jalan sepanjang lapangan kecil tempat menjemur krupuk,
lantas mengegos ke kanan dan stabil lagi dan meneruskan perjalanan
ke pertapaan di atas sana.
Kami keluar mengikuti orang-orang dari pangkalan material yang baru
pulang dari mengambil pasir di Klaten. Barulah tahu kalau yang
terkapar itu Lik Tarijan, tidak berdarah tapi barangkali keseleo.
Dan slebor depan motornya terbaret sedikit.
Antara kesakitan dan geram, Lik Tarijan maunya mengejar, tapi Bapak
menenangkan. Apalagi jalan saja masih susah. Maka motor kutuntun ke
depan rumah. Lik Tarijan biar istirahat dulu. Indun membikinkan lagi
segelas teh kental manis. Ketela goreng di piring yang masih lima
biji cepat berpindah ke perut Lik Tarijan.
Ha Ha Ha � Aku bilang :
"Nanti dicegat pas turun Lik � Asal tidak lewat Kopeng saja � Ha Ha
Ha �"
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/