SEWAKTU `GILIRAN'
Begitu istilahnya, terutama akrab di telinga sewaktu aku masih kecil
lucu dan manis dan meteran listrik masih model lama yang kalau
njeglek suaranya keras sekali dan listrik rumahan di kampung kami
masih rata-rata paling-paling 60 watt, tivi musti pakai aki.
Giliran. Tak lain pemadaman listrik untuk daerah tertentu, entah
untuk perawatan, perbaikan maupun distribusi. Ini rutin dan secara
bergilir; makanya `giliran'.
Tadi listrik mati. Mulai sekitar 23.00 sampai sekitar 01.00. Tentu
saja saya sudah tak kecil lagi. Mungkin belum terlalu tua, tapi
sudah lumayan paham tentang persiasatan kehidupan, termasuk tentu;
aliran-aliran listrik siasat. Mungkin juga belum terlalu matang,
tapi paling sedikit meski secara retorika saya nisbikan, praktisnya
adalah bahwa saya telah memilih.
Pilihan yang memberi saya arah untuk, misalnya; mengomentari sebuah
acara bincang santai tivi swasta yang kali ini menghadirkan seorang
jendral angkatan darat tak pernah senyum dari sebuah negara yang
punya sejarah panjang militerisme � fasisme (dan belum lagi usai) ,
dengan sinyalemen; "Itu cuma siasat humas belaka, supaya sipil
kebanyakan jadi suka (dipimpin) sama tentara, mana pas lagi banyak
protes RUU tentara lagi" �
Atau untuk opsir NYPD John Mc Claine yang seorang diri membereskan
krisis pembajakan bandara Dulles, dengan sinisme : "Pesan moral
kemanusiaan hanya tulisan kosong di koran pembungkus martabak �
genre kemasan melo-heroic a la Holywood yang pas untuk Bruce Willis;
ikon Super America; yang sangat laku" �
Atau tentang acara open house seorang presiden baru yang melimpah
pengunjungnya dari segala lapisan masyarakat sampai ada yang satu
dusun menyewa bis, kubilang; "Ooo � Reproduksi paternalisme,
reifikasi kepemimpinan rasional; Mataram-Majapahit tapi demokrasi,
Ooo �" �
Atau mentertawai diri sendiri mengenai kegiatan a la pemberantasan
buta hurup Paolo Freire di pelosok Lembu, kabupaten Semarang,
begini : "Uh, boro-boro mimpi anarkhi Zapatista, ini kudu
pemberantasan melek hurup Babad (Penguasa-penguasa) Tanah Jawa dulu
nih �" �
Atau ya mengomentari padamnya listrik kali ini sebagai tak lain
sedang ada kegiatan yang butuh listrik banyak dan kegiatan itu punya
kuasa politik dan atau ekonomi untuk diprioritaskan dengan
menomerduakan (atau bahkan menomersekiankan ?!) listrik-listrik
rumahan kampung kebanyakan �
Dan sebenarnya, pilihan yang saya maksudkan ini sudah pada tingkatan
setidaknya lebih dari sekedar moderat, jika untuk menyebut radikal
adalah `terlalu wah'; mengingat bahwa kalau anda misalnya
menganalisa corak komentar atau pendapat saya maka akan anda temukan
bahwa saya tak terlalu mementingkan data praktis penguat argumen
saya. Artinya saya lebih cenderung menyampaikan sebuah esensi; pola
dasar dari relasi kekuatan-kekuatan yang bekerja pada tak hanya
sejumlah fakta, melainkan semua fakta. Ini saya sebut pendirian.
Begitulah. Ibu suka bilang, "Kamu itu ya bakal setres seumur-umur,
lha wong pohon sengon depan rumah saja kamu hubungkan dengan apa ?
Neolib neolib apa ? � Cari istrilah sana ! Dengan ada yang mengurusi
kamu, setidaknya satu saja soal dunia ini terpecahkan �"
Hemmm � Beginilah oh nasibku. 2 jam giliran saja tambah sekian
paragrap di kepalaku yang sudah benjol-benjol luar dalam oleh puluh
tahun paragrap kebangsatan luar dalam. Tapi bagaimanapun; dengan
begini ada sedikit bahagiaku dalam kungkungan ketidak-bahagiaanku,
meskipun orang-orang berpendapat sebaliknya � Terserah.
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/