--- In [EMAIL PROTECTED], "HKSIS" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
----- Original Message -----
From: hersri setiawan
To: HKSIS
Sent: Tuesday, May 31, 2005 9:46 PM
Subject: Bedah Buku Basuki Resobowo
Pengantar:
Teks Hersri Setiawan di bawah ini disiapkan untuk diskusi / bedah
buku Basuki Resobowo, Bercermin Di Muka Kaca [Seniman, Seni, dan
Masyarakat], yang diselenggarakan oleh "Diskusi Bulan Purnama" dari
Komunitas JKB [Jaringan Kerja Budaya] pada 23 Mei 2005 di Jalan
Garuda Taman Mini Jakarta. Sebelum itu buku yang sama juga sudah
didiskusikan, dengan pengantar diskusi Hersri Setiawan,
diselenggarakan oleh Penerbit "Komunitas Ombak" Yogyakarta bersama
Pusdep [Pusat Studi Sejarah Dan Etika Politik] pada 7 mei 2005 di
Aula Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
1. Pribadi Basuki Resobowo
Basuki Resobowo, selanjutnya BR, sebagai sepatah nama seorang
seniman, saya kenal sejak tahun 1946, ketika kota Yogyakarta menjadi
ibukota RI, yang juga dikenal dalam julukannya "Ibukota Revolusi".
Ketika itu sanggar "Pelukis Rakyat" belum berdiri, yang ada baru satu
sanggar dan satu organisasi pelukis, yi. sanggar SIM dan organisasi
pelukis "PTPI" [Pusat Tenaga Pelukis Indonesia]. "SIM" sebagai bagian
dari "Biro Perjuangan" [tepatnya BP Daerah XXV yang wilayahnya
meliputi Yogyakarta dan "Dulang Mas", kelak menjadi "TNI Masyarakat
Daerah XXV"], dan "PTPI sebagai bagian dari Kementerian Penerangan
RI.
Wajah masyarakat Ibukota Revolusi ketika itu, tidak
menyimpang dari namanya, adalah wajah dari hasrat yang satu, yi.
hasrat untuk merebut dan membela kemerdekaan. Sehingga bentuk
pernyataannya pun satu, yi. pernyataan semangat perjuangan. Di setiap
bidang kosong di gerbong-gerbong dan tembok bangunan, misalnya, penuh
dengan tulisan semboyan dan lukisan-lukisan perjuangan. Misalnya,
sisi dalam tembok timur dan selatan kraton Yogyakarta, berubah
menjadi kanvas Lukisan Revolusi, atau "Revolusi dalam Lukisan",
sepanjang 2 km dan tinggi 4 m. Di bawah setiap bagian lukisan yang
berangkai-rangkai itu bertanda atau "PTPI" atau "SIM", dan diikuti
dengan nama si pelukis yang mengerjakannya, di antaranya Abdulsalam
dan BR.
Di samping mempunyai SIM, Bagian Propaganda Biro Perjuangan
XXV juga mempunyai "Petera" [Penghibur Tentara dan Rakyat], yang pada
setiap Sabtu petang/malam memberi hiburan/tontonan berupa lagu
kroncong dan hiburan, sebagai pendahuluan dan selingan untuk acara
pokok yaitu pementasan cerita sandiwara. Pertunjukan itu benar-benar
untuk tentara dan rakyat, yang duduk membaur bersama-sama tanpa
pandang pangkat dan kedudukan, siapa datang awal dia punya hak untuk
mencari tempat yang dikehendakinya. Pertunjukan berlangsung di "Balai
Prajurit" di Jalan Ngabean [sekarang Jalan KHA Dahlan], dan selalu
diawali dengan "Lagu Petera" sebagai pembuka acara[1]. Lagu dan lakon
sandiwara yang dihidangkan tentu saja selalu dalam semangat
perjuangan untuk merebut dan membela kemerdekaan [misal: lagu
kr. "Sri Dewi Kemerdekaan", lagu sindiran terhadap para
avonturir "Sepanjang Malioboro Raya", lakon "Pertempuran
Surabaya", "Norma Rantai Mas" dll]. Di trotoar depan gedung ini,
setiap hari Jumat sudah dipasang "poster kepang" yang mencantumkan
nama para aktor dan aktris yang akan tampil pada pementasan petang
hari berikut. Nama BR kembalu kujumpai - tentu saja bersama nama
sutradara/penulis lakon yang produktif saat itu, Dahlan Lanisi.
BR kemudian saya kenal melalui sketsa-sketsanya di majalah
BMKN "Indonesia", melalui omslag "Habis Gelap Terbitlah Terang"
[Armijn Pane] dan "Atheis" [Achdiat Kartamihardja]. Itu sepanjang
tahun-tahun sampai 1956, sebelum saya giat dalam Lekra. Sosok BR baru
saya kenal langsung, ketika saya sudah memimpin Lekra Jawa Tengah.
Kenal langsung, tapi dalam kedudukan dia sebagai "orang pusat" dan
saya "orang daerah". Pengenalan saya hanya kadangkala jika saya
sedang "ke pusat", dan dalam kedudukan ibarat perkenalan
antara "pamen" dan "pati".
Ternyata BR seorang yang lugu, apa adanya, kalau bicara
suaranya lirih bernada halus [cenderung "klemak-klemek" yang
dibencinya!], tapi sorot matanya tajam menyinarkan wataknya yang
keras. Jika ia marah, sinar matanya mendadak menyala-nyala, suaranya
tetap lirih tapi nadanya menjadi tinggi dan kasar. Endapan khazanah
hidup keseharian yang tertimbun dari kampung Tangkiwood dan Pasar
Senen yang ia susuri dan sisiri siang-malam, seketika membeludak dan
mengalir seperti magma panas menyala. Ini pernah saya dengar - antara
lain -- di Cidurian 19, ketika ia memaki-maki Joebaar Ajoeb [padahal
yang dimaki tidak ada di hadapannya]; dan ketika ia mengejek Agam
Wispi yang kencing di belakang bis di depan KBRI di Den Haag.
Wataknya yang lugu, apa adanya, lalu menggejala dalam
perangai yang keras-kepala dan tindak-tanduk yang na�f - untuk tidak
mengatakan "ngawur". Misalnya ketika ia di Amsterdam merekrut
beberapa anggota PKI dari kalangan orang muda Indonesia dan Belanda
[!], dengan mengambil sumpah mereka di ruang keldernya pada tahun-
tahun awal 1980; ketika di setiap kesempatan unjuk-rasa, di mana saja
ia selalu berkalung karton lebar bertuliskan "P.K.I"; dan ketika ia
mendirikan "PKI Cabang Amsterdam", beberapa hari sesudah berita
eksekusi Ruslan Wijayasastra.
Namun betapapun, semuanya itu menunjukkan tentang semangat
dia yang tak pernah pudar, dan sikap serta komitmen dia pada ideologi
dan perjuangan yang pantang surut.
2. Seniman Basuki Resobowo
Di mata kritikus sastra HB Jassin BR adalah seorang pelukis
ekspresionis, seperti juga kawannya satu angkatan: Affandi. Jassin
justru tidak menyebut nama S.Sudjojono, selanjutnya SS, tokoh yang di
sana-sini dalam buku "Seniman, Seni, dan Masyarakat" BR, dijunjungnya
sebagai seniman ekspresionis modern Indonesia paling matang dan utuh,
dan justru itu SS diakuinya pula sebagai tokoh pelopor senirupa
Indonesia modern. Tapi BR sendiri menolak disebut seniman
ekspresionis. Katanya: "Aku tidak percaya 'isme' lain-lain,
selain 'liberalisme pembebasan secara Barat'. Artinya aku hanya ingin
betul-betul bersandar pada refleksi seni, yaitu harus langsung bisa
menangkap hakikat obyek" [hal. 100 "SSdM"]. Kata-kata BR itu tidak
berbeda dari pendapat Van Gogh yang mengatakan: [menjadi tugas
seniman untuk melukiskan] "perasaan-perasaan manusiawi yang mendasar -
sukacita, dukacita, amarah dan rasatakut".
Kita tahu Van Gogh adalah datuk seniman ekspresionis yang paling
wibawa di sepanjang sejarah dunia senirupa. Sejarah perjalanan
ekspresionisme modern dalam senirupa, yang mencuat pada awal abad ke-
20 itu, dapat dilacak kembali pada perkembangan senirupa di Eropa
Barat [khususnya Perancis] dari akhir abad ke-19, tegasnya pada tahun
1880, yaitu pada tiga tokoh seniman terkemuka: Gauguin, Toulouse-
Lautrec, dan Van Gogh[2]. Tampil sebagai reaksi terhadap
impresionisme, ekspresionisme sengaja lebih mengutamakan pengungkapan
emosi atau perasaan secara intens, sehingga demi tujuan emosional
dunia wujud alam nyata sengaja didistorsi dan didesak oleh bahasa
simbol-simbol.
Sekitar medio tahun 1950-an, ketika mulai bergaul dengan
para pelukis dari sanggar "Pelukis Rakyat" di Sentulreja dan "SIM"
di "Pekapalan", di sudut timurlaut Alun-Alun Lor Yogya, saya
mendengar dan merasakan betapa kawan-kawan pelukis - anak-anak Hendra
Gunawan dan SS itu - mengagumi Gauguin dan terutama Van Gogh, dan
berusaha memahami serta mempelajari karya-karya mereka. Terasa sekali
betapa dalam pengaruh Van Gogh pada mereka. Dengan tidak mengurangi
hormat saya pada Affandi, tapi lukisan "Matahari" Affandi yang unik
itu sangat mengingatkan saya pada lukisan-lukisan "Bunga Matahari"
Van Gogh. Lukisan "Sampan-sampan di Saint Marie - de la Mer"
mengingatkan saya pada lukisan bertema sama dari Batara Lubis dan
Juski Hakim - tentu saja di atas latar yang berbeda, yaitu entah di
Tambak Lorok Semarang atau Batang Pekalongan.
Apalagi antara BR dan Van Gogh. Kedua mereka sama-sama suka
melukis pemandangan dengan lembar-lembar awan menggelantung, kering
kosong pada BR dan gelap muram pada Van Gogh. Juga mereka sama-sama
suka melukis manusia, entah dalam kelompok atau dalam sosok seorang
diri, yang - karena jeritan ekspresionisme mereka - selalu
memberitakan kisah dramatik dari kerasnya kehidupan. Lihatlah,
misalnya, "Aardappeleters" dan "Boerin bij het vuur zittend" [Van
Gogh] dan "Tanjidor" dan "Tukang Becak" [BR].
Sebagai seniman "liar", sebelum giat di dalam Lekra, BR
tidak bisa dipisahkan dari Chairil Anwar. Mereka pelukis dan
sastrawan yang lahir dari satu jaman yang sama: Jaman Jepang.
Keduanya mempunyai gaya pernyataan seni yang sama: ekspresionisme;
keduanya mempunyai gaya pembawaan hidup yang sama, "gaya bohemian"
yang bertitik rendez-vous yang sama: Pasar Senen. Chairil
bergelandangan di tengah "akar rumput" sebagai kredo kesenimanannya
untuk bisa berkata: "isi gelas sepenuhnya, lantas kosongkan". BR
berbuat yang sama sebagai jalan untuk [mengikuti peristilahan
dia] "meeleven" [ikut mengalami] dan "beleven" [ikut merasai]
kehidupan "akar rumput", sebagai kredo dari pengakuannya sebagai
seniman "kiri" malah lebih dari itu: seniman "marxis". Dengan
menggelandangkan diri di tengah akar rumput itu ia ingin, dalam kata-
kata Van Gogh, menangkap "perasaan-perasaan manusiawi yang paling
dasar".
Dari pengalamannya menghadapi kerasnya kehidupan di tengah
kelompok seniman bohemian usai masa perang kemerdekaan sampai
lahirnya Lekra, ditambah dengan pengalaman kerasnya perbenturan
dengan sesama emigran ketika di RRT dan belakangan di Eropa Barat,
khususnya di Belanda, BR memperoleh satu ungkapan penyimpul: "la vie
est la misere". Chairil tidak mau peduli dengan semuanya itu. Karena
baginya "aku"-nyalah di atas segala-galanya. Dan "aku" Chairil itu
adalah "aku" yang "binatang jalang", lebih dari itu bahkan "dari
kumpulannya terbuang". Adapun Van Gogh, yang kehidupan pribadinya
terus-menerus dilanda frustrasi dan kepedihan, serta hidup di tengah
arus putting-beliung pergantian abad yang dahsyat, barangkali bisa
menangkap pesan kehidupan yang sama seperti BR. Tapi, berbeda dari
BR, ia tidak bisa mengendalikan, apalagi mengatasi "la misere"
kehidupan itu. Van Gogh mengakhiri hidupnya dengan menembak diri
sendiri.
BR terus meneruskan langkahnya, meskipun dengan tertatih-tatih dan
merasa diri sebagai "single fighter". Dan dengan congkaknya ia
memandang SS dan Affandi dengan kecut, karena dalam anggapannya
mereka ini telah hanyut dalam arus selera burjuasi.
3. Seniman, Seni, dan Masyarakat
Pada tahun 1947 pernah terbit sebuah buku tipis, berformat A-4
berkulit hijau dengan judul mirip: Seni, Seniman dan Masyarakat.
Semacam bunga-rampai esai dari beberapa seniman dari berbagai bidang
seni dan kebudayaan, tapi yang paling penting adalah karangan SS yang
berjudul sama seperti judul buku bunga-rampai ini. Dalam esainya itu
SS ingin menegaskan tentang hubungan dan peranan timbal-balik antara
seni, seniman dan masyarakat, yang dalam hubungan ini ia - antara
lain -- mengemukakan dalil-dalilnya, bahwa "seni ialah jiwa yang
ketok"; "yang benar selalu indah", dan sebaliknya "yang indah tidak
selalu benar".
BR dengan "Seniman, Seni, dan Masyarakat" [1994], yang ditulisnya
hampir setengah abad sesudah esai SS [1947], mengajukan pendiriannya
dengan lebih tegas. Yaitu bahwa "seni" dan "politik" tidak bisa
saling dipisahkan, dan bahwa seni harus dijiwai "Marxisme" jika
hendak mengabdi kepada rakyat - walaupun ia tidak cukup jelas
memberikan uraian tentangnya.
Ditilik dari sudut tema esai panjang BR ini bukan lagi perihal baru.
Prapanca menulis Negarakertagama sengaja untuk persembahan bagi
penguasa politik yang diabdinya, yaitu raja Hayam Wuruk. Sedah dan
Panuluh menyadur beberapa parwa Bharatayuddha, untuk mengagungkan
junjungan mereka, Jayabhaya, raja Kediri. Ranggawarsita dipecat dari
kedudukannya sebagai pujangga penutup kraton Surakarta, dan pulang
kembali ke kediamannya di kampung Kedunglumbu, karena dua kitab
karangannya "Sabdatama" dan "Sabdajati" yang tidak menjadi perkenan
raja.
Pendek kata sudah sejak "jaman klasik" sastra dan politik sudah sama-
sama hidup dalam satu tarikan napas yang sama. Seakan-akan tanpa
soal. Seolah-olah memang begitulah semestinya. Pujangga Empu Sedah
dikisas, Juru Sungging Prabangkara diusir dari telatah kerajaan,
Pujangga Ranggawarsita dipecat dari jabatan. Semua peristiwa politik.
Tidak pernah "dibikin rame". Politik dalam kaitan seni "menjadi
perkara" dan "dibikin rame" sejatinya baru sejak "kemarin sore",
yaitu sejak tanggal 17 Agustus tahun 1950 ketika Lekra [Lembaga
Kebudayaan Rakyat] lahir dan bergerak menguliti musang berbulu
domba"Sticusa" [Stichting voor Culturele Samenwerking], yang tidak
lain berarti "menggempur" sisi kulturil dari butir-butir isi
Perjanjian KMB. Lekra lalu dituding sebagai bencana pembawa hantu-
politik di dalam seni, pertama-tama dan terutama oleh jubir Sticusa
yang bernama Wiratmo Sukito.
Lekra memang bukan sekedar organisasi kebudayaan. Tapi pertama-tama
dan terutama ia adalah gerakan politik kebudayaan[3] atau gerakan
kebudayaan yang berpolitik. Justru karena itulah rezim militer orde
baru tidak mau berlambat-lambat bertindak. Segera sesudah Lekra
dilarang, pimpinan dan anggotanya dibunuhi, diburu dan
dipenjarakan, "Uril" [Urusan Moril] dibentuk di kesatuan-kesatuan
militer/AD, termasuk di Kostrad dan Kodam-Kodam. Para seniman
ternama, dan juga dalang kondang, segera dihimpun - baik di pusat
maupun di daerah-daerah - termasuk Sampan Hismanto, Bagong
Kussudiardjo, F.X. Sutopo [pencipta lagu "Lebur"], Ki Nartosabdo dan
banyak tokoh seniman lainnya.
Memang benar bahwa rezim orde baru telah membersihkan politik "kiri"
dari dunia seni. Tapi bukannya "seni non-politik", seperti dalih
politik kaum Manikebu, yang hendak dibangun oleh rezim orde baru.
Melainkan justru seni yang sarat dengan politik - tentu saja politik
orba bin golkar bin militer! Sedemikian rupa sehingga tapol dalang
Tristuti Rachmadi Suryosaputro pun, harus ikut berkampanye pemilu
dengan mempergelarkan lakon "Wahyu Waringin Kencana", di Desa
Savanajaya Unit IV Pulau Buru.
Di atas latar belakang dunia seni di tanahair yang demikian itu, maka
esai panjang BR sejatinya membawa pesan yang [maaf!] sudah usang.
Malahan sudah sekian tahun Ariel Heriyanto, melalui "sastra
kontekstual", berusaha mendudukkan kembali komitmen social sastra dan
seni, Mas Oyik [Satyagraha Hoerip] sudah sekian lama dituduh sebagai
membangun "Neo Lekra", dan "sastra perlawanan" Widji Thukul telah
marak berkibar-kibar.
Pada tahun 1994, ketika BR di Belanda menulis esainya, para seniman
dan sastrawan "a-politik" di tanahair sudah kehilangan dalih untuk
menolak politik dalam seni. Melawan tidak mampu, menerima tidak mau.
Apakah karena itu, maka sebagian mereka lalu mencari trobosan masuk
pasaran seni dan sastra dengan mengeksplorasi seks, sekaligus untuk
mempedaya [kalau malah bukan mentorpedir secara halus] wacana gender
dan feminisme yang sedang marak.
Mengapa BR menulis tema tua "seni, seniman dan masyarakat"? Pertama,
sebagai bagian dari serangkaian panjang tulisan-tulisannya tentang
seni dan kebudayaan. Kedua, terdorong oleh dua alasan. Alasan
pertama, ia naik-pitam terhadap mentornya, SS, yang ditudingnya
telah "memisahkan seni dari politik".
Mengamati selisih pendapat dua seniman kiri [marxis] ini saya menjadi
bingung, Sementara SS berkata "melukis di mana pun bisa", BR
berkata "tanpa lahan tanahair pelukis akan kekeringan". Siapa di
antara mereka yang benar-benar seniman marxis. SS tidak salah, jika
kita berpegang pada dalil, bahwa "menjadi marxis berarti sekaligus
menjadi internasionalis". Itu berarti, bahwa "cinta tanahair"
sesungguhnya bukan berarti "cinta tanah" dan "cinta air" di mana
seseorang tinggal, melainkan harus berarti "cinta rakyat" di mana
seseorang tinggal. BR tentu tidak bisa menyalahkan dalil ini. Tapi,
sampai di sini, barangkali BR merasa dihadapkan pada dua masalah
besar yang sulit dia jawab. Pertama, rakyat Belanda [atau Eropa
Barat] itu yang mana; dan, kedua, seandainya pun pertanyaan ini sudah
terjawab, bagaimana untuk bisa "meeleven" dan "beleven" bersama
rakyat setempat dengan kemampuan berbahasa yang "pas-pasan".
Kenyataannya BR memang lalu lebih banyak menulis ketimbang melukis,
lebih banyak melukis karikatur "masyarakat sendiri" [masyarakat
emigran Indonesia] ketimbang melukis sketsa. Seperti halnya Agam
Wispi lebih banyak membikin sajak-sajak eksperimen bentuk [sasafas],
atau sajak-sajak kaleidoskopik "amstel-amsteledam-amsterdam".
Alasan kedua, kekesalan BR pada sesama kawan "emigran politik" [hal.
66-85, yang terbukti lebih panjang dari bab-bab terpenting buku ini,
yaitu "Seni dan Politik", hal.10-19, dan "Marxisme dalam Seni", hal.
19-24]. Perbedaan pandangan dan sikap BR dengan sesama emigran
setanah-air ditegaskannya melalui kalimatnya yang
menyatakan: "menjadi emigran politik bukan suatu korban atau nasib
risiko perjuangan, tapi justru menjadi tanggungjawab daripadanya"
[hal. 67]. Sementara itu kawan-kawannya sesama emigran di mana-mana
dengan suara tinggi selalu mengaku diri dan menyatakan
sebagai "korban orde baru".
4. Penutup
Arti penting penerbitan buku ini, dan buku-buku lain semacam ini,
pertama, sebagai sumbangan untuk dokumentasi tentang sebagian kisah
emigran politik Indonesia di mancanegara. Kedua, sebagai sumbangan
untuk pengumpulan bahan sejarah tutur dari orang-orang sebangsa dan
setanahair yang telah kehilangan lahan untuk berkembang dan
kehilangan mimbar untuk berbicara. Ketiga, justru pada saat sekarang,
ketika lembaga yang bernama KKR segera akan terbentuk, yang agaknya
bakal menjadi tengara tentang "perang sejarah" [pinjam istilah Asvi
Warman Adam] akan menggejala sengit.***
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Petera, Petera / kini kami telah siap sedia / menghidangkan
hiburan / kepada tentara dan rakyat / Hiburan Petera / yang sederhana
ini / mudah-mudahan semuanya / dapatlah bersrti //
[2] Sebagai ilustrasi, bandingkan dengan dunia seni sastra, yaitu
bangkitnya "Angkatan '80" [De Tachtigers] di Belanda yang menjadi
acuan setengah-hati atau secara oportunistik St Takdir
Alisjahbana/Pujangga Baru. Angkatan '80 adalah tonggak kemenangan
kaum burjuasi Eropa Barat, sesudah jatuh-bangun sejak Revolusi
Perancis [1789], melalui Revolusi Juli 1830 dan revolusi Februari
1848, yang di Indonesia datang membawa "UU Agraria" 1870,dan politik
penjajahan model baru yang berselubung "politik etis". Takdir dkk
hanya terpesona pada "Belanda yang maju", tapi tidak mampu atau
sengaja tidak mau menangkap semangat pembebasan burjuasi yang telah
menyulut api perang kemerdekaan nasional di Belgia, di negara-negara
Afrika Utara. Lukisan "Hutan Terbakar" dan "Perkelahian Mati-Matian"
Rd Saleh, menurut interpretasi S.S, diilhami oleh semangat perang
kemerdekaan di Afrika Utara itu, semangat pembebasan burjuasi Eropa
Barat akhir abad ke-19.
[3] Sebagai ilustrasi saya ingin bercerita sedikit tentang Suyud,
pencipta lagu dan tari Jawa, antara lain, "Blanja Wurung". Begitu
juga tentang lagu "Ayo Maju", ciptaan Djoni Trisno [anggota
sanggar "Pelukis Rakyat"]
----- Original Message -----
From: hersri setiawan
To: HKSIS
Sent: Tuesday, May 31, 2005 9:46 PM
Subject: Bedah Buku Basuki Resobowo
Pengantar:
Teks Hersri Setiawan di bawah ini disiapkan untuk diskusi / bedah
buku Basuki Resobowo, Bercermin Di Muka Kaca [Seniman, Seni, dan
Masyarakat], yang diselenggarakan oleh "Diskusi Bulan Purnama" dari
Komunitas JKB [Jaringan Kerja Budaya] pada 23 Mei 2005 di Jalan
Garuda Taman Mini Jakarta. Sebelum itu buku yang sama juga sudah
didiskusikan, dengan pengantar diskusi Hersri Setiawan,
diselenggarakan oleh Penerbit "Komunitas Ombak" Yogyakarta bersama
Pusdep [Pusat Studi Sejarah Dan Etika Politik] pada 7 mei 2005 di
Aula Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
1. Pribadi Basuki Resobowo
Basuki Resobowo, selanjutnya BR, sebagai sepatah nama seorang
seniman, saya kenal sejak tahun 1946, ketika kota Yogyakarta menjadi
ibukota RI, yang juga dikenal dalam julukannya "Ibukota Revolusi".
Ketika itu sanggar "Pelukis Rakyat" belum berdiri, yang ada baru satu
sanggar dan satu organisasi pelukis, yi. sanggar SIM dan organisasi
pelukis "PTPI" [Pusat Tenaga Pelukis Indonesia]. "SIM" sebagai bagian
dari "Biro Perjuangan" [tepatnya BP Daerah XXV yang wilayahnya
meliputi Yogyakarta dan "Dulang Mas", kelak menjadi "TNI Masyarakat
Daerah XXV"], dan "PTPI sebagai bagian dari Kementerian Penerangan
RI.
Wajah masyarakat Ibukota Revolusi ketika itu, tidak
menyimpang dari namanya, adalah wajah dari hasrat yang satu, yi.
hasrat untuk merebut dan membela kemerdekaan. Sehingga bentuk
pernyataannya pun satu, yi. pernyataan semangat perjuangan. Di setiap
bidang kosong di gerbong-gerbong dan tembok bangunan, misalnya, penuh
dengan tulisan semboyan dan lukisan-lukisan perjuangan. Misalnya,
sisi dalam tembok timur dan selatan kraton Yogyakarta, berubah
menjadi kanvas Lukisan Revolusi, atau "Revolusi dalam Lukisan",
sepanjang 2 km dan tinggi 4 m. Di bawah setiap bagian lukisan yang
berangkai-rangkai itu bertanda atau "PTPI" atau "SIM", dan diikuti
dengan nama si pelukis yang mengerjakannya, di antaranya Abdulsalam
dan BR.
Di samping mempunyai SIM, Bagian Propaganda Biro Perjuangan
XXV juga mempunyai "Petera" [Penghibur Tentara dan Rakyat], yang pada
setiap Sabtu petang/malam memberi hiburan/tontonan berupa lagu
kroncong dan hiburan, sebagai pendahuluan dan selingan untuk acara
pokok yaitu pementasan cerita sandiwara. Pertunjukan itu benar-benar
untuk tentara dan rakyat, yang duduk membaur bersama-sama tanpa
pandang pangkat dan kedudukan, siapa datang awal dia punya hak untuk
mencari tempat yang dikehendakinya. Pertunjukan berlangsung di "Balai
Prajurit" di Jalan Ngabean [sekarang Jalan KHA Dahlan], dan selalu
diawali dengan "Lagu Petera" sebagai pembuka acara[1]. Lagu dan lakon
sandiwara yang dihidangkan tentu saja selalu dalam semangat
perjuangan untuk merebut dan membela kemerdekaan [misal: lagu
kr. "Sri Dewi Kemerdekaan", lagu sindiran terhadap para
avonturir "Sepanjang Malioboro Raya", lakon "Pertempuran
Surabaya", "Norma Rantai Mas" dll]. Di trotoar depan gedung ini,
setiap hari Jumat sudah dipasang "poster kepang" yang mencantumkan
nama para aktor dan aktris yang akan tampil pada pementasan petang
hari berikut. Nama BR kembalu kujumpai - tentu saja bersama nama
sutradara/penulis lakon yang produktif saat itu, Dahlan Lanisi.
BR kemudian saya kenal melalui sketsa-sketsanya di majalah
BMKN "Indonesia", melalui omslag "Habis Gelap Terbitlah Terang"
[Armijn Pane] dan "Atheis" [Achdiat Kartamihardja]. Itu sepanjang
tahun-tahun sampai 1956, sebelum saya giat dalam Lekra. Sosok BR baru
saya kenal langsung, ketika saya sudah memimpin Lekra Jawa Tengah.
Kenal langsung, tapi dalam kedudukan dia sebagai "orang pusat" dan
saya "orang daerah". Pengenalan saya hanya kadangkala jika saya
sedang "ke pusat", dan dalam kedudukan ibarat perkenalan
antara "pamen" dan "pati".
Ternyata BR seorang yang lugu, apa adanya, kalau bicara
suaranya lirih bernada halus [cenderung "klemak-klemek" yang
dibencinya!], tapi sorot matanya tajam menyinarkan wataknya yang
keras. Jika ia marah, sinar matanya mendadak menyala-nyala, suaranya
tetap lirih tapi nadanya menjadi tinggi dan kasar. Endapan khazanah
hidup keseharian yang tertimbun dari kampung Tangkiwood dan Pasar
Senen yang ia susuri dan sisiri siang-malam, seketika membeludak dan
mengalir seperti magma panas menyala. Ini pernah saya dengar - antara
lain -- di Cidurian 19, ketika ia memaki-maki Joebaar Ajoeb [padahal
yang dimaki tidak ada di hadapannya]; dan ketika ia mengejek Agam
Wispi yang kencing di belakang bis di depan KBRI di Den Haag.
Wataknya yang lugu, apa adanya, lalu menggejala dalam
perangai yang keras-kepala dan tindak-tanduk yang na�f - untuk tidak
mengatakan "ngawur". Misalnya ketika ia di Amsterdam merekrut
beberapa anggota PKI dari kalangan orang muda Indonesia dan Belanda
[!], dengan mengambil sumpah mereka di ruang keldernya pada tahun-
tahun awal 1980; ketika di setiap kesempatan unjuk-rasa, di mana saja
ia selalu berkalung karton lebar bertuliskan "P.K.I"; dan ketika ia
mendirikan "PKI Cabang Amsterdam", beberapa hari sesudah berita
eksekusi Ruslan Wijayasastra.
Namun betapapun, semuanya itu menunjukkan tentang semangat
dia yang tak pernah pudar, dan sikap serta komitmen dia pada ideologi
dan perjuangan yang pantang surut.
2. Seniman Basuki Resobowo
Di mata kritikus sastra HB Jassin BR adalah seorang pelukis
ekspresionis, seperti juga kawannya satu angkatan: Affandi. Jassin
justru tidak menyebut nama S.Sudjojono, selanjutnya SS, tokoh yang di
sana-sini dalam buku "Seniman, Seni, dan Masyarakat" BR, dijunjungnya
sebagai seniman ekspresionis modern Indonesia paling matang dan utuh,
dan justru itu SS diakuinya pula sebagai tokoh pelopor senirupa
Indonesia modern. Tapi BR sendiri menolak disebut seniman
ekspresionis. Katanya: "Aku tidak percaya 'isme' lain-lain,
selain 'liberalisme pembebasan secara Barat'. Artinya aku hanya ingin
betul-betul bersandar pada refleksi seni, yaitu harus langsung bisa
menangkap hakikat obyek" [hal. 100 "SSdM"]. Kata-kata BR itu tidak
berbeda dari pendapat Van Gogh yang mengatakan: [menjadi tugas
seniman untuk melukiskan] "perasaan-perasaan manusiawi yang mendasar -
sukacita, dukacita, amarah dan rasatakut".
Kita tahu Van Gogh adalah datuk seniman ekspresionis yang paling
wibawa di sepanjang sejarah dunia senirupa. Sejarah perjalanan
ekspresionisme modern dalam senirupa, yang mencuat pada awal abad ke-
20 itu, dapat dilacak kembali pada perkembangan senirupa di Eropa
Barat [khususnya Perancis] dari akhir abad ke-19, tegasnya pada tahun
1880, yaitu pada tiga tokoh seniman terkemuka: Gauguin, Toulouse-
Lautrec, dan Van Gogh[2]. Tampil sebagai reaksi terhadap
impresionisme, ekspresionisme sengaja lebih mengutamakan pengungkapan
emosi atau perasaan secara intens, sehingga demi tujuan emosional
dunia wujud alam nyata sengaja didistorsi dan didesak oleh bahasa
simbol-simbol.
Sekitar medio tahun 1950-an, ketika mulai bergaul dengan
para pelukis dari sanggar "Pelukis Rakyat" di Sentulreja dan "SIM"
di "Pekapalan", di sudut timurlaut Alun-Alun Lor Yogya, saya
mendengar dan merasakan betapa kawan-kawan pelukis - anak-anak Hendra
Gunawan dan SS itu - mengagumi Gauguin dan terutama Van Gogh, dan
berusaha memahami serta mempelajari karya-karya mereka. Terasa sekali
betapa dalam pengaruh Van Gogh pada mereka. Dengan tidak mengurangi
hormat saya pada Affandi, tapi lukisan "Matahari" Affandi yang unik
itu sangat mengingatkan saya pada lukisan-lukisan "Bunga Matahari"
Van Gogh. Lukisan "Sampan-sampan di Saint Marie - de la Mer"
mengingatkan saya pada lukisan bertema sama dari Batara Lubis dan
Juski Hakim - tentu saja di atas latar yang berbeda, yaitu entah di
Tambak Lorok Semarang atau Batang Pekalongan.
Apalagi antara BR dan Van Gogh. Kedua mereka sama-sama suka
melukis pemandangan dengan lembar-lembar awan menggelantung, kering
kosong pada BR dan gelap muram pada Van Gogh. Juga mereka sama-sama
suka melukis manusia, entah dalam kelompok atau dalam sosok seorang
diri, yang - karena jeritan ekspresionisme mereka - selalu
memberitakan kisah dramatik dari kerasnya kehidupan. Lihatlah,
misalnya, "Aardappeleters" dan "Boerin bij het vuur zittend" [Van
Gogh] dan "Tanjidor" dan "Tukang Becak" [BR].
Sebagai seniman "liar", sebelum giat di dalam Lekra, BR
tidak bisa dipisahkan dari Chairil Anwar. Mereka pelukis dan
sastrawan yang lahir dari satu jaman yang sama: Jaman Jepang.
Keduanya mempunyai gaya pernyataan seni yang sama: ekspresionisme;
keduanya mempunyai gaya pembawaan hidup yang sama, "gaya bohemian"
yang bertitik rendez-vous yang sama: Pasar Senen. Chairil
bergelandangan di tengah "akar rumput" sebagai kredo kesenimanannya
untuk bisa berkata: "isi gelas sepenuhnya, lantas kosongkan". BR
berbuat yang sama sebagai jalan untuk [mengikuti peristilahan
dia] "meeleven" [ikut mengalami] dan "beleven" [ikut merasai]
kehidupan "akar rumput", sebagai kredo dari pengakuannya sebagai
seniman "kiri" malah lebih dari itu: seniman "marxis". Dengan
menggelandangkan diri di tengah akar rumput itu ia ingin, dalam kata-
kata Van Gogh, menangkap "perasaan-perasaan manusiawi yang paling
dasar".
Dari pengalamannya menghadapi kerasnya kehidupan di tengah
kelompok seniman bohemian usai masa perang kemerdekaan sampai
lahirnya Lekra, ditambah dengan pengalaman kerasnya perbenturan
dengan sesama emigran ketika di RRT dan belakangan di Eropa Barat,
khususnya di Belanda, BR memperoleh satu ungkapan penyimpul: "la vie
est la misere". Chairil tidak mau peduli dengan semuanya itu. Karena
baginya "aku"-nyalah di atas segala-galanya. Dan "aku" Chairil itu
adalah "aku" yang "binatang jalang", lebih dari itu bahkan "dari
kumpulannya terbuang". Adapun Van Gogh, yang kehidupan pribadinya
terus-menerus dilanda frustrasi dan kepedihan, serta hidup di tengah
arus putting-beliung pergantian abad yang dahsyat, barangkali bisa
menangkap pesan kehidupan yang sama seperti BR. Tapi, berbeda dari
BR, ia tidak bisa mengendalikan, apalagi mengatasi "la misere"
kehidupan itu. Van Gogh mengakhiri hidupnya dengan menembak diri
sendiri.
BR terus meneruskan langkahnya, meskipun dengan tertatih-tatih dan
merasa diri sebagai "single fighter". Dan dengan congkaknya ia
memandang SS dan Affandi dengan kecut, karena dalam anggapannya
mereka ini telah hanyut dalam arus selera burjuasi.
3. Seniman, Seni, dan Masyarakat
Pada tahun 1947 pernah terbit sebuah buku tipis, berformat A-4
berkulit hijau dengan judul mirip: Seni, Seniman dan Masyarakat.
Semacam bunga-rampai esai dari beberapa seniman dari berbagai bidang
seni dan kebudayaan, tapi yang paling penting adalah karangan SS yang
berjudul sama seperti judul buku bunga-rampai ini. Dalam esainya itu
SS ingin menegaskan tentang hubungan dan peranan timbal-balik antara
seni, seniman dan masyarakat, yang dalam hubungan ini ia - antara
lain -- mengemukakan dalil-dalilnya, bahwa "seni ialah jiwa yang
ketok"; "yang benar selalu indah", dan sebaliknya "yang indah tidak
selalu benar".
BR dengan "Seniman, Seni, dan Masyarakat" [1994], yang ditulisnya
hampir setengah abad sesudah esai SS [1947], mengajukan pendiriannya
dengan lebih tegas. Yaitu bahwa "seni" dan "politik" tidak bisa
saling dipisahkan, dan bahwa seni harus dijiwai "Marxisme" jika
hendak mengabdi kepada rakyat - walaupun ia tidak cukup jelas
memberikan uraian tentangnya.
Ditilik dari sudut tema esai panjang BR ini bukan lagi perihal baru.
Prapanca menulis Negarakertagama sengaja untuk persembahan bagi
penguasa politik yang diabdinya, yaitu raja Hayam Wuruk. Sedah dan
Panuluh menyadur beberapa parwa Bharatayuddha, untuk mengagungkan
junjungan mereka, Jayabhaya, raja Kediri. Ranggawarsita dipecat dari
kedudukannya sebagai pujangga penutup kraton Surakarta, dan pulang
kembali ke kediamannya di kampung Kedunglumbu, karena dua kitab
karangannya "Sabdatama" dan "Sabdajati" yang tidak menjadi perkenan
raja.
Pendek kata sudah sejak "jaman klasik" sastra dan politik sudah sama-
sama hidup dalam satu tarikan napas yang sama. Seakan-akan tanpa
soal. Seolah-olah memang begitulah semestinya. Pujangga Empu Sedah
dikisas, Juru Sungging Prabangkara diusir dari telatah kerajaan,
Pujangga Ranggawarsita dipecat dari jabatan. Semua peristiwa politik.
Tidak pernah "dibikin rame". Politik dalam kaitan seni "menjadi
perkara" dan "dibikin rame" sejatinya baru sejak "kemarin sore",
yaitu sejak tanggal 17 Agustus tahun 1950 ketika Lekra [Lembaga
Kebudayaan Rakyat] lahir dan bergerak menguliti musang berbulu
domba"Sticusa" [Stichting voor Culturele Samenwerking], yang tidak
lain berarti "menggempur" sisi kulturil dari butir-butir isi
Perjanjian KMB. Lekra lalu dituding sebagai bencana pembawa hantu-
politik di dalam seni, pertama-tama dan terutama oleh jubir Sticusa
yang bernama Wiratmo Sukito.
Lekra memang bukan sekedar organisasi kebudayaan. Tapi pertama-tama
dan terutama ia adalah gerakan politik kebudayaan[3] atau gerakan
kebudayaan yang berpolitik. Justru karena itulah rezim militer orde
baru tidak mau berlambat-lambat bertindak. Segera sesudah Lekra
dilarang, pimpinan dan anggotanya dibunuhi, diburu dan
dipenjarakan, "Uril" [Urusan Moril] dibentuk di kesatuan-kesatuan
militer/AD, termasuk di Kostrad dan Kodam-Kodam. Para seniman
ternama, dan juga dalang kondang, segera dihimpun - baik di pusat
maupun di daerah-daerah - termasuk Sampan Hismanto, Bagong
Kussudiardjo, F.X. Sutopo [pencipta lagu "Lebur"], Ki Nartosabdo dan
banyak tokoh seniman lainnya.
Memang benar bahwa rezim orde baru telah membersihkan politik "kiri"
dari dunia seni. Tapi bukannya "seni non-politik", seperti dalih
politik kaum Manikebu, yang hendak dibangun oleh rezim orde baru.
Melainkan justru seni yang sarat dengan politik - tentu saja politik
orba bin golkar bin militer! Sedemikian rupa sehingga tapol dalang
Tristuti Rachmadi Suryosaputro pun, harus ikut berkampanye pemilu
dengan mempergelarkan lakon "Wahyu Waringin Kencana", di Desa
Savanajaya Unit IV Pulau Buru.
Di atas latar belakang dunia seni di tanahair yang demikian itu, maka
esai panjang BR sejatinya membawa pesan yang [maaf!] sudah usang.
Malahan sudah sekian tahun Ariel Heriyanto, melalui "sastra
kontekstual", berusaha mendudukkan kembali komitmen social sastra dan
seni, Mas Oyik [Satyagraha Hoerip] sudah sekian lama dituduh sebagai
membangun "Neo Lekra", dan "sastra perlawanan" Widji Thukul telah
marak berkibar-kibar.
Pada tahun 1994, ketika BR di Belanda menulis esainya, para seniman
dan sastrawan "a-politik" di tanahair sudah kehilangan dalih untuk
menolak politik dalam seni. Melawan tidak mampu, menerima tidak mau.
Apakah karena itu, maka sebagian mereka lalu mencari trobosan masuk
pasaran seni dan sastra dengan mengeksplorasi seks, sekaligus untuk
mempedaya [kalau malah bukan mentorpedir secara halus] wacana gender
dan feminisme yang sedang marak.
Mengapa BR menulis tema tua "seni, seniman dan masyarakat"? Pertama,
sebagai bagian dari serangkaian panjang tulisan-tulisannya tentang
seni dan kebudayaan. Kedua, terdorong oleh dua alasan. Alasan
pertama, ia naik-pitam terhadap mentornya, SS, yang ditudingnya
telah "memisahkan seni dari politik".
Mengamati selisih pendapat dua seniman kiri [marxis] ini saya menjadi
bingung, Sementara SS berkata "melukis di mana pun bisa", BR
berkata "tanpa lahan tanahair pelukis akan kekeringan". Siapa di
antara mereka yang benar-benar seniman marxis. SS tidak salah, jika
kita berpegang pada dalil, bahwa "menjadi marxis berarti sekaligus
menjadi internasionalis". Itu berarti, bahwa "cinta tanahair"
sesungguhnya bukan berarti "cinta tanah" dan "cinta air" di mana
seseorang tinggal, melainkan harus berarti "cinta rakyat" di mana
seseorang tinggal. BR tentu tidak bisa menyalahkan dalil ini. Tapi,
sampai di sini, barangkali BR merasa dihadapkan pada dua masalah
besar yang sulit dia jawab. Pertama, rakyat Belanda [atau Eropa
Barat] itu yang mana; dan, kedua, seandainya pun pertanyaan ini sudah
terjawab, bagaimana untuk bisa "meeleven" dan "beleven" bersama
rakyat setempat dengan kemampuan berbahasa yang "pas-pasan".
Kenyataannya BR memang lalu lebih banyak menulis ketimbang melukis,
lebih banyak melukis karikatur "masyarakat sendiri" [masyarakat
emigran Indonesia] ketimbang melukis sketsa. Seperti halnya Agam
Wispi lebih banyak membikin sajak-sajak eksperimen bentuk [sasafas],
atau sajak-sajak kaleidoskopik "amstel-amsteledam-amsterdam".
Alasan kedua, kekesalan BR pada sesama kawan "emigran politik" [hal.
66-85, yang terbukti lebih panjang dari bab-bab terpenting buku ini,
yaitu "Seni dan Politik", hal.10-19, dan "Marxisme dalam Seni", hal.
19-24]. Perbedaan pandangan dan sikap BR dengan sesama emigran
setanah-air ditegaskannya melalui kalimatnya yang
menyatakan: "menjadi emigran politik bukan suatu korban atau nasib
risiko perjuangan, tapi justru menjadi tanggungjawab daripadanya"
[hal. 67]. Sementara itu kawan-kawannya sesama emigran di mana-mana
dengan suara tinggi selalu mengaku diri dan menyatakan
sebagai "korban orde baru".
4. Penutup
Arti penting penerbitan buku ini, dan buku-buku lain semacam ini,
pertama, sebagai sumbangan untuk dokumentasi tentang sebagian kisah
emigran politik Indonesia di mancanegara. Kedua, sebagai sumbangan
untuk pengumpulan bahan sejarah tutur dari orang-orang sebangsa dan
setanahair yang telah kehilangan lahan untuk berkembang dan
kehilangan mimbar untuk berbicara. Ketiga, justru pada saat sekarang,
ketika lembaga yang bernama KKR segera akan terbentuk, yang agaknya
bakal menjadi tengara tentang "perang sejarah" [pinjam istilah Asvi
Warman Adam] akan menggejala sengit.***
--------------------------------------------------------------------------------
[1] Petera, Petera / kini kami telah siap sedia / menghidangkan
hiburan / kepada tentara dan rakyat / Hiburan Petera / yang sederhana
ini / mudah-mudahan semuanya / dapatlah bersrti //
[2] Sebagai ilustrasi, bandingkan dengan dunia seni sastra, yaitu
bangkitnya "Angkatan '80" [De Tachtigers] di Belanda yang menjadi
acuan setengah-hati atau secara oportunistik St Takdir
Alisjahbana/Pujangga Baru. Angkatan '80 adalah tonggak kemenangan
kaum burjuasi Eropa Barat, sesudah jatuh-bangun sejak Revolusi
Perancis [1789], melalui Revolusi Juli 1830 dan revolusi Februari
1848, yang di Indonesia datang membawa "UU Agraria" 1870,dan politik
penjajahan model baru yang berselubung "politik etis". Takdir dkk
hanya terpesona pada "Belanda yang maju", tapi tidak mampu atau
sengaja tidak mau menangkap semangat pembebasan burjuasi yang telah
menyulut api perang kemerdekaan nasional di Belgia, di negara-negara
Afrika Utara. Lukisan "Hutan Terbakar" dan "Perkelahian Mati-Matian"
Rd Saleh, menurut interpretasi S.S, diilhami oleh semangat perang
kemerdekaan di Afrika Utara itu, semangat pembebasan burjuasi Eropa
Barat akhir abad ke-19.
[3] Sebagai ilustrasi saya ingin bercerita sedikit tentang Suyud,
pencipta lagu dan tari Jawa, antara lain, "Blanja Wurung". Begitu
juga tentang lagu "Ayo Maju", ciptaan Djoni Trisno [anggota
sanggar "Pelukis Rakyat"]
Discover Yahoo!
Get on-the-go sports scores, stock quotes, news & more. Check it out!
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

