« Ajakan
renungan » A. Umar Said
(Bagian
kedua dari dua tulisan.
Tulisan
ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak/)
SOAL TNI-AD DAN PERISTIWA MUNIR
(2)
KESEMPATAN
BAIK UNTUK BERSIHKAN DIRI
Mengingat
sejarah TNI-AD yang sudah buruk di bidang HAM dan reputasi yang negatif di
banyak bidang selama ini, seyogyanya pimpinan TNI-AD menggunakan peristiwa
pembunuhan Munir dan 14 aktivis dalam tahun 1998 sebagai kesempatan yang baik
sekali untuk membersihkan diri dan menjunjung tinggi-tinggi nama baik TNI-AD.
Pembersihan diri ini bisa dilakukan dengan mengusahakan --dengan sungguh-sungguh dan secara
transparan terbongkarnya sampai tuntas peristiwa pembunuhan Munir dan 14
aktivis.
Nama
baik atau kehormatan TNI-AD tidak mungkin ditegakkan dengan segala usaha untuk
mencegah terbongkarnya kasus pembunuhan Munir dan 14 aktivis penentang Orde Baru
itu. Nama baik dan kehormatan TNI-AD
- yang sudah sejak lama tidak harum
- akan lebih-lebih makin busuk lagi di mata banyak orang, dengan masih
ditutup-tutupinya keterlibatan unusur-unsur militer dalam kasus-kasus
tersebut.
Mengingat
banyaknya kesalahan dan kejahatan oleh berbagai unsur militer selama ini, dan
sudah terpuruknya citra TNI-AD sejak lama, maka dibongkarnya kasus-kasus Munir
dan 14 aktivis (apalagi kalau dengan usaha aktif dan sukarela dari pimpinan
TNI-AD sendiri!) tidak akan membikin lebih jeleknya nama atau martabat TNI-AD.
Bahkan sebaliknya, akan membikin banyak orang menaruh harapan besar bahwa TNI-AD
akan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang banyak dipraktekkan selama masa
Orde Baru.
Banyak
orang akan menghargai tinggi-tinggi pimpinan TNI-AD seandainya mereka
bekerja-sama erat dan memberikan bantuan sebesar-besarnya - dan setulus-tulusnya! - kepada Tim Pencari Fakta (TPF) kasus
Munir. Membongkar segala keburukan dan memberantas kebusukan yang sudah lama
terjadi di kalangan TNI-AD bukanlah berarti mencoreng muka sendiri, melainkan
suatu tindakan terpuji yang justru diperlukan sekali untuk menyelamatkan nama baik dan martabat
TNI.
BERBAGAI KEJAHATAN TNI-AD BUKAN RAHASIA LAGI
Sebab, berbagai kejahatan, kesalahan, pelanggaran TNI-AD bukanlah rahasia lagi bagi umum di Indonesia (dan juga bagi luarnegeri). Sejarah buruk Orde Baru selama 32 tahun adalah, pada pokoknya, sejarah buruk TNI-AD. Dan sejarah buruk ini sudah diketahui banyak orang dari berbagai kalangan. Bukan saja di kalangan pakar-pakar (Indonesia dan asing) dan diplomat-diplomat, melainkan juga ornop-ornop. Banyak sekali informasi dan berbagai tulisan mengenai TNI-AD dan ABRI yang sudah beredar di dunia.
Contohnya
adalah apa yang bisa kita temukan dengan membuka Internet dan mencari
macam-macam informasi melalui Google. Kalau kita ketik dalam Google ABRI and Human Rights maka akan
tercantum segala macam bahan dan informasi (campur aduk) sebanyak 65.000 bahan .
Kalau kita ketik TNI-AD pembunuhan 1560 bahan. Kalau kita ketik TNI-AD
massacre ada 73 bahan. Kalau kita ketik TNI-AD dan HAM ada 930 bahan. TNI-AD
Human rights ada 670 bahan.
Kalau pimpinan TNI-AD masih tetap terus berkeras untuk menutup-nutupi segala kejahatan, atau pelanggaran, atau kesalahan, yang dilakukan oleh anak buah mereka, ini hanya akan berarti bahwa pimpinan TNI-AD akan membiarkan TNI-AD tetap dibenci sebagian besar rakyat kita. Kebencian banyak orang terhadap segala keburukan dan kebusukan TNI-AD ini mungkin tidak selalu nampak tercermin pada muka mereka, tetapi tersembunyi dalam relung-relung hati mereka yang dalam.
DOSA-DOSA
TNI-AD TERLALU BESAR DAN BANYAK
Sebagai
bangsa dan negara, kita memang perlu mempunyai tentara, seperti banyak bangsa
dan negara lainnya di dunia. Apalagi negara kita yang terdiri dari 17.000 pulau
besar dan kecil dan lebih dari 300 sukubangsa dan bahasa daerah, dan yang sedang
menghadapi berbagai masalah rumit dan pelik. Dalam situasi yang penuh dengan
berbagai kesulitan sebagai akibat warisan keburukan dan kebusukan rezim militer
Orde Baru puluhan tahun, kita memerlukan adanya tentara yang berbeda sama sekali
dengan TNI-AD-nya jaman Suharto.
Kita
memerlukan tentara yang modern dan profesional seperti yang dipunyai banyak
negara di dunia, yang juga diperlengkapi dengan senjata yang selayaknya.
Republik kita perlu mempunyai
tentara yang bisa dihormati oleh seluruh bangsa, seperti kebanyakan
tentara lainnya di dunia. Seperti di banyak negara lainnya, sebaiknya tentara
kita bukan merupakan aparat negara yang lebih istimewa dari pada aparat-aparat
lainnya, seperti Angkatan Laut, Angkatan Udara, Kepolisian dan lain-lainnya.
Berdasarkan pengalaman pahit dan negatif di masa yang lalu, sebaiknya kedudukan
istimewa TNI-AD dan perlakuan khusus seperti yang dipraktekkan selama Orde Baru
tidak boleh terulang lagi.
Rasa
hormat banyak orang atau respek rakyat terhadap kalangan militer (khususnya
terhadap TNI-AD) akan datang dengan sendirinya, kalau betul-betul aparat negara
kita ini sudah dapat membersihkan
diri dari segala keburukan, segala kebusukan, segala dosa-dosa, dan segala aib
yang pernah diperbuat selama Orde Baru. Sebab, sudah terlalu banyak dan sudah
kelewatan besarnya dosa-dosa TNI-AD terhadap begitu banyak orang, sehingga tidak
mudah dilupakan dan dimaafkan begitu saja. Ini adalah sesuatu yang wajar dan
mudah dimengerti oleh semua orang yang mempunyai hati jernih dan nalar sehat
atau fikiran waras.
KASUS
KORBAN PERISTIWA 65
Contoh
yang baik kita ambil dalam rangka ini yalah masih terus menderitanya - secara pedih dan pahit sekali !
berjuta-juta orang korban peristiwa 65. Mereka yang tidak bersalah apa-apa sama
sekali itu dibunuhi secara sewenang-wenang, sehingga keluarga mereka menjadi
brantakan dan menderita berkepajangan. Banyak orang telah dijebloskan dalam
tahanan dalam jangka lama di seluruh Indonesia, dengan mendapat siksaan dan
perlakuan yang tidak berperkemanusiaan, antara lain di pulau Buru. Jutaan orang
ini (sampai sekarang!!! Sudah hampir 40 tahun) masih terus-menerus mengalami berbagai
penderitaan, sedangkan para algojo
mereka hidup bersenang-senang dalam kemewahan, yang sering sekali sebagai hasil
perbuatan haram.
Sekarang
sudah terjadi perobahan-perobahan di negeri kita, walaupun belum besar dan belum
mendalam bagi kehidupan rakyat banyak. Situasi internasional juga sudah dan
sedang terus-menerus mengalami pergantian dan pergeseran. Perang dingin sudah
lama selesai, dan persoalan baru sedang muncul di dunia, yaitu perlawanan - secara nasional dan
internasional - terhadap globalisasi dan neo-liberalisme, dan melawan
terrorisme. Dalam situasi yang demikian ini, GOLKAR dan TNI-AD sudah makin tidak
bisa lagi mengulangi seratus persen apa yang pernah mereka lakukan sewaktu rezim
militer Orde Baru. Tetapi, sejumlah unsur-unsur busuk dari bangsa kita ini masih
berusaha, dengan segala macam cara, untuk mengulangi kejahatan-kejahatan baru
mereka. Dan di antara kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan itu contohnya yang
paling menonjol adalah pembunuhan Munir, yang pelakunya (atau para pelakunya)
diduga oleh banyak orang terdiri dari
orang-orang BIN.
Mengingat
hal-hal yang tersebut di atas, maka tidak ada jalan lain bagi berbagai golongan
dalam masyarakat Indonesia kecuali sambil mengawasi dengan waspada segala
langkah pemerintahan presiden SBY juga terus mengadakan perlawanan (dalam
berbagai bentuk dan cara) terhadap sisa-sisa kekuatan Orde Baru, baik yang
tergabung dalam kalangan militer maupun yang menyelinap di kalangan GOLKAR dan
golongan-golongan lainnya. Memang, perlawanan ini tidak mudah dan mungkin harus
melalui proses yang panjang, berhubung kekuatan bathil ini sekarang masih
memiliki kekuasaan yang besar, pengaruh yang kuat, dan juga dana gelap (dan
haram!!!) yang melimpah-limpah.
KITA
AKAN BERSORAK HIDUP TNI-AD KITA!
Tetapi,
kalau kita lihat dalam jangka panjang, dan kita renungkan dalam-dalam, justru kekuasan besar yang mereka
kangkangi dengan rakus, dan pengaruh buruk yang mereka sebarkan kemana-mana, dan
dana haram yang mereka kumpulkan dengan cara korupsi itu semualah yang malahan merupakan titik lemah
mereka. Ini sudah ditunjukkan dengan gamblang oleh pengalaman rezim militer Orde Baru, yang
pernah merupakan kekuatan maha-dahsyat dan menakutkan, dan pernah membikin
terror permanen terhadap seluruh rakyat Indonesia selama puluhan tahun.
Singkatnya,
pimpinan TNI-AD sekarang ini (dengan dukungan dan dorongan semua tokoh bangsa,
termasuk presiden SBY) perlu dengan berani dan tegas untuk memberantas segala
aspek negatif dan praktek-praktek buruk yang lazim dipakai dalam masa Orde Baru,
kalau mau menjadikan TNI-AD sebagai
aparat negara yang dihargai, atau dihormati, atau dicintai rakyat banyak. Aspek
negatif dan praktek buruk ini juga mencakup berbagai kasus sekitar pembunuhan
Munir dan 14 aktivis.
Kalau
sudah sampai begitu, maka sudah sepatutnya bagi kita untuk ramai-ramai bersorak
dengan lantang dan gembira Hidup TNI-AD kita !.
Paris,
22 Juni 2005
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

