« Ajakan renungan » A. Umar Said
(Bagian
pertama dari dua tulisan.
Tulisan
ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak/)
SOAL TNI-AD DAN PERISTIWA MUNIR
Akhir-akhir
ini dalam pers Indonesia banyak disebut-sebut nama Wiranto, Prabowo Subiyanto,
Syafrie Syamsuddin, dan Hendropriyono, dalam berita-berita yang berkaitan dengan
kasus pembunuhan Munir dan dihilangkannya sejumlah penentang-penentang rezim
militer Orde Baru. Dengan tersiarnya bermacam-macam pernyataan dan komentar yang
diberikan oleh tokoh-tokoh mantan petinggi militer mengenai terlibat atau
tidaknya BIN (Badan Intelijen Negara) dengan pembunuhan Munir dan tanggungjawab
perwira-perwira tinggi TNI-AD (atau ABRI waktu Orde Baru) tentang hilangnya
pemuda/mahasiswa dalam tahun 1998, maka jelaslah bahwa di mata banyak orang
citra TNI-AD tidak makin membaik.
Sikap
yang diperlihatkan (dan pernyataan-pernyataan) oleh Wiranto, Prabowo, dan Hendropriyono
(dan tokoh-tokoh militer lainnya) di berbagai kesempatan menunjukkan bahwa - pada dasarnya, atau pada intinya
- TNI-AD belumlah banyak
berobah dari TNI-AD pada jamannya
Suharto dulu. Beberapa waktu yang lalu, ketika Suharto baru terguling dari
kekuasaannya, banyak tokoh militer yang gembar-gembor juga bahwa TNI-pun harus
menjalankan reformasi. Memang, karena santernya kritik-kritik tajam dan pedas
sekali yang dilancarkan oleh banyak fihak terhadap ABRI, ada sejumlah
langkah-langkah perobahan yang telah terpaksa (!!!) diadakan di kalangan
militer.
Sekarang ini, kalangan militer (terutama
TNI-AD) memang sudah tidak bisa lagi berbuat semau-mau mereka seperti waktu
rezim militernya Suharto berkuasa
secara mutlak selama 32 tahun. Tetapi, masih terlalu banyak borok-borok dan terlalu kuat kebiasaan buruk yang
sudah melekat begitu lama di kalangan militer. Dan terlalu besar kenikmatan
yang mereka peroleh - sering sekali secara tidak sah atau
secara haram ! - (terutama tingkat atasannya) selama puluhan tahun. Turunnya
rezim militer Orde Baru terhitung belum terlalu lama, baru 7 tahun saja. Dan
lagi, reformasi yang tadinya sudah disanjung-sanjung begitu tinggi oleh semua
kalangan dan golongan (termasuk di MPR dan DPR) , sekarang sudah mati di tengah
jalan, atau semaput dan kelenger tidak berkutik lagi.
KEBUSUKAN SEKARANG ADALAH PRODUK ORBA
Kalau
direnungkan dalam-dalam, maka akan kelihatanlah bahwa perspektif negara dan
bangsa kita dalam jangka dekat tidak menimbulkan optimisme. Baru saja Orde
Barunya Suharto disuruh gulung tikar oleh gerakan nasional pemuda dan mahasiswa
(dan juga oleh desakan luarnegeri), dan sekarang neo-Orde Baru sudah mulai
nongol unjuk muka di ambang pintu. Wakil Presiden RI kita adalah Ketua Umum
GOLKAR, dan Ketua DPR kita adalah juga tokoh utama GOLKAR. Di DPR dan di banyak
DPRD partai GOLKAR memainkan peran yang sangat penting, bahkan menentukan. Itu
semua merupakan suatu gejala yang memberi isyarat tidak baik bagi perkembangan
situasi politik, ekonomi dan sosial di negeri kita di masa datang.
Sebab,
GOLKAR adalah partai atau kekuatan politik yang pernah (bersama-sama golongan
militer) mengangkangi negara dan bangsa kita selama lebih dari 32 tahun. Ini
kurun waktu yang panjang sekali, dan jarang ditemukan tandingannya di dunia!
Sementara itu, kita semua sudah merasakan atau melihat sendiri betapa besar
kerusakan parah yang dibikin Orde Baru selama puluhan tahun itu. Kalau kita
gunakan fikiran jernih dan hati yang bersih, maka akan nyatalah dalam
penglihatan kita bahwa sebagian terbesar borok-borok mental dan segala pembusukan moral yang
sekarang ini sedang melanda sebagian bangsa kita adalah terutama sekali produk
atau warisan kebusukan sistem Orde
Baru.
Dari
tersiarnya sekarang begitu banyak berita tentang korupsi yang sudah terjadi di
mana-mana, menunjukkan dengan jelas bahwa sebagian terbesar para pelaku korupsi
itu adalah orang-orang yang dalam waktu 32 tahun Orde Baru pernah mendapat
didikan politik dan rohani di sekolah-sekolah, dan universitas (atau pesantren).
Dan kalau diteliti lebih jauh maka akan terbuktilah bahwa banyak di antara para
koruptor itu (memang, tidak semuanya!) adalah orang-orang yang menjadi anggota
atau simpatisan GOLKAR dan pendukung Orde Baru. Dan, mendukung Orde Baru pada
umumnya juga berarti anti-Bung Karno dan anti-PKI.
GOLKAR
DAN TNI-AD PENCIPTA ORDE
BARU
Dengan bahasa sederhana atau kalimat-kalimat polos bolehlah kiranya dikatakan bahwa GOLKAR dan TNI-AD adalah sesungguhnya satu jiwa dengan Orde Baru, atau, bahwa GOLKAR dan TNI-AD adalah jiwanya Orde Baru. Kalau kita buka dokumen-dokumen atau suratkabar dan majalah yang selama terbit dalam jaman Orde Baru, maka akan nampaklah dengan jelas sekali bahwa GOLKAR dan TNI-AD tidak bisa dipisahkan dari Orde Barunya Suharto. Ini adalah suatu kenyataan sejarah. Dan kenyataan sejarah ini tidak bisa dihapus atau disulap dengan mudah begitu saja.
Perlulah
kiranya bangsa kita selalu ingat
(termasuk generasi-generasi yang akan datang) bahwa TNI-AD adalah
pencipta utama rezim militer Orde Barunya Suharto. Dan perlu pula selalu kita
sadari bahwa dalam waktu lebih dari
32 tahun, rezim militer Orde Baru telah melakukan banyak sekali kesalahan berat,
serta beraneka ragam pelanggaran HAM yang parah dan secara besar-besaran. Oleh
karena itulah banyak sekali kalangan di antara rakyat Indonesia sudah menajiskan
Orde Baru. Sebenarnya, menajiskan Orde Baru, berarti juga menajiskan jiwa atau
penciptanya yang utama, yaitu tokoh-tokoh TNI-AD (tidak semuanya, memang). Juga
GOLKAR.
Tetapi,
karena baik GOLKAR maupun TNI-AD masih mempunyai sisa-sisa kekuatan (politik,
uang, dan jaring-jaringan pengaruh) sebagai hasil rekayasa bathil dan segala
usaha atau praktek haram selama puluhan tahun, maka unsur-unsur bangsa yang
busuk ini masih bisa mempamerkan muka manis yang mempesonakan (dan
memperdayakan!) banyak orang. Dengan menggunakan (dan menyalahgunakan !)
pengaruh, uang, kekuasaan, atau rekayasa yang macam-macam, mereka masih bisa
melakukan terus-menerus penipuan sambil juga membuat terus berbagai kerusakan
dan kerugian bagi negara dan bangsa, sampai sekarang.
TNI-AD MASIH SEPERTI DULU JUGA
Selama
ini kerusakan moral dan pembusukan rohani atau dekadensi mental sudah banyak
terjadi di bidang eksekutif, legislatif dan judikatif. Tidak hanya gubernur dan
bupati atau walikota yang menjadi maling-maling harta publik, tetapi juga para
hakim dan jaksa (dan pengacara) sudah merosot menjadi penjahat-penjahat.
Contohnya : pembebasan Nurdin Halid oleh Pengadilan Jakarta Selatan menimbulkan
kesan (atau dugaan) bahwa sesuatu yang kotor dan busuk sekali telah terjadi sekitar perkara ini.
(Nurdin Halid, tokoh Golkar Sulawesi Selatan yang juga Ketua Umum Koperasi Dagang Indonesia dituduh
menyelewengkan dana sebesar Rp 169
miliar).
Kebejatan
moral atau ketidakjujuran yang berkaitan dengan dunia hukum dan peradilan tidak hanya
tercermin dalam penanganan perkara-perkara korupsi yang menyangkut dana
trilyunan atau bermiliar-miliar rupiah (antara lain : kasus KPU, kasus BPK,
kasus mantan Gubernur Puteh, kasus mantan Menteri Agama) tetapi juga dalam
penanganan kasus-kasus pelanggaran HAM dan korupsi yang dilakukan oleh kalangan
militer.
Apa
yang diperlihatkan oleh sejumlah tokoh-tokoh militer (TNI-AD) akhir-akhir ini
adalah contoh yang menyolok sekali (dan juga menyakitkan hati banyak orang).
Misalnya, Markas Besar TNI telah melarang Wiranto datang ke Komnas Ham untuk
memberi keterangan tentang hilangnya 14 orang penentang Orde Baru dalam tahun
1997-98. Mabes TNI, melalui Badan Pembinaan Hukum Mabes TNI, mengajukan alasan
bahwa panggilan Komnas Ham itu bertentangan dengan prosedur hukum, karena hukum
tidak berlaku surut atau seribu satu macam alasan lainnya.
Orang
mudah mendapat kesan bahwa Mabes TNI hanya mencari-cari dalih untuk mencegah
dihadapkannya Wiranto (sebagai Panglima TNI sewaktu peristiwa pembunuhan 14
aktivis penentang Orde Baru), kepada Komnas Ham. Sedangkan, sudah
terang-benderang bagi banyak orang yang bernalar sehat dan berhati jujur bahwa
hilangnya 14 aktivis itu adalah karena tindakan unsur-unsur TNI-AD. Mengingat situasi
politik pada waktu itu dan
berdasarkan praktek-praktek yang sudah lama pula dijalankan TNI-AD, maka logika
yang paling sederhana pun akan menarik kesimpulan bahwa 14 aktivis itu telah
diculik dan kemudian dibunuh oleh oknum-oknum militer. Dan, karenanya, Wiranto, sebagai Panglima ABRI waktu
itu, memang sudah sepatutnya dimintai tanggungjawab, atau, setidak-tidaknya,
dimintai keterangan.
NEGARA
DALAM NEGARA
Contoh
lainnya : mantan Danjen Kopassus
Letjen (pur) Prabowo Subianto, dan Letjen Syafrie Syamsuddin (yang sekarang
menjadi Sekjen Departemen Pertahanan), juga menolak panggilan Komnas Ham untuk
memberikan keterangan tentang hilangnya 14 aktivis, dan berlindung dibawah
payung Babinkum (Badan Pembinaan Hukum) TNI. Letjen Syafrie Syamsuddin pernah
menjadi Pangdam Jaya waktu terjadi peristiwa penculikan dan pembunuhan para
aktivis itu.
Penolakan
petinggi-petinggi TNI-AD terhadap panggilan Komnas Ham dan larangan Mabes TNI
terhadap mereka untuk memberi keterangan tentang pembunuhan 14 aktivis dan Munir
menunjukkan bahwa TNI-AD masih seperti di jaman berjayanya rezim militer
Suharto selama puluhan tahun menganggap diri mereka sebagai kelas istimewa dan
tersendiri dalam negara kita. Mereka masih menganggap diri mereka (secara keliru !) mempunyai hak dan
kewajiban yang jauh lebih besar atau jauh lebih tinggi dari pada bagian-bagian
lainnya dari bangsa dan negara kita. Oleh karena itu mereka menuntut pula (juga
secara keliru!) perlakuan yang istimewa dari pada bagian-bagian bangsa kita
lainnya.
Apapun
dalih yang dikemukakan Mabes TNI dan petinggi-petinggi TNI-AD tersebut di atas,
banyak orang mempunyai kesan bahwa sikap mereka itu justru hanya mempertontonkan
arogansi yang kelewat batas. Mereka menganggap diri mereka bagian bangsa yang
paling berjasa, lebih dari pada orang-orang dari golongan lainnya. Dengan alasan
(dan juga dalih) membela tanah-air,
menjaga keutuhan negara RI, mempertahakan keamanan, mereka menganggap diri
mereka sebagai pahlawan bangsa, yang berhak mendapat perlakuan istimewa. Dalam
jangka yang lama sekali, TNI-AD sudah merupakan negara tersendiri dalam negara
RI. Mereka merupakan masyarakat tertutup, dan orang luar dilarang melongok
ke dalamnya.
SEJARAH YANG TIDAK
MEMBANGGAKAN
Mabes
TNI atau Babinkum atau berbagai tokoh TNI-AD bisa saja secara gemilang
berhasil menggunakan (tepatnya: menyalahgunakan) serentetan dalih palsu dan segudang
alasan prosedur hukum untuk mencegah terbongkarnya berbagai kejahatan atau
pelanggaran di kalangan militer. Untuk itu dana yang diperlukan bisa disediakan
oleh orang-orang semacam Tommy Winata dll, atau sumber-sumber lainnya. Di
samping itu, dapat saja dikerahkan
beramai-ramai sejumlah besar
ahli-ahli hukum yang bersedia menjalankan missi mereka. Dan, selalu
saja ada celah-celah hukum yang bisa ditempuh dan dicari-cari, meskipun dengan
cara-cara dan alasan-alasan yang justru melanggar hukum, menentang kebenaran,
dan melawan kejujuran.
Mungkin
sekali (sekali lagi, mungkin sekali !) bahwa Wiranto, Prabowo,Syafrie Syamsuddin
(atau tokoh-tokoh militer lainnya, seperti Hendropriyono, mantan kepala BIN)
tidak akan pernah berhasil dimintai pertanggungan jawab atas terjadinya berbagai
pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan oleh kalangan militer. Dan mungkin
sekali pula bahwa Mabes TNI akan tetap terus berhasil melindungi atau
menyelamatkan tokoh-tokohnya yang korup atau berbuat kejahatan atau pelanggaran.
Tetapi, ini tidak berarti bahwa citra TNI-AD akan menjadi baik di mata banyak
orang. Bahkan sebaliknya! Nama baik atau kehormatan TNI-AD yang sudah rusak
dan busuk selama puluhan tahun ini akan makin rusak dan makin busuk sama
sekali.
Perlu
jelas-jelas kita ingat bersama bahwa sejarah TNI (terutama TNI-AD) sejak
digulingkannya Bung Karno dan pembunuhan besar-besaran terhadap jutaan kaum kiri
Indonesia, dan kemudian selama Orde Baru, adalah sejarah yang sama sekali tidak
bisa menjadi kebanggaan bangsa Indonesia, sebagai akibat ulah para petingginya.
Banyak di antara tokoh-tokoh TNI-AD telah merupakan pengkhianat terhadap Bung
Karno, atau terhadap revolusi, atau terhadap rakyat Indonesia. Banyak di antara
mereka yang telah pernah menjadi sekutu atau kakitangan kaum imperialis,
terutama imperialis AS. Banyak juga di antara mereka yang korup dan memperkaya diri demi
keluarga mereka (banyak yang sampai mempunyai dua tiga rumah mewah dan tiga
sampai empat mobil dan anak-anaknya di sekolah luarnegeri), di tengah-tengah
kehidupan sulit para prajurit
bawahan mereka.
PENELANJANGAN
KEBUSUKAN ADALAH PERLU
Kalau
ditelusuri perjalanan perjuangan rakyat Indonesia, terutama sejak 1965, maka
sekarang kelihatan dengan jelas bahwa sebagian besar TNI-AD merupakan kekuatan
yang reaksioner, yang kontra-revolusioner, yang anti-Rakyat. Mereka yang
reaksioner atau kontra-revolusioner ini telah - selama puluhan tahun pula !
- merusak dan membusukkan
sendi-sendi penting bangsa kita. Kerusakan dan pembusukan yang dilakukan oleh
TNI-AD lewat sistem Orde Baru ini
sudah demikian luasnya dan demikian parahnya, sehingga sampai sekarang
pun masih kelihatan secara nyata di berbagai bidang kehidupan
bangsa.
Oleh karena itulah, kiranya perlu
terus-menerus diungkap secara lebih gamblang lagi, bahwa kesalahan, kebusukan,
penyelewengan, pelanggaran, dan segala macam kejahatan yang dilakukan Orde Baru
selama puluhan tahun sebagian terbesar justru telah dilakukan oleh tokoh-tokoh
ABRI (terutama TNI-AD), atau,
setidak-tidaknya, menjadi tanggungjawab mereka. Penelanjang-bulatan
segala keburukan dan kejahatan oknum-oknum TNI-AD adalah perlu untuk justru
menyelamatkan tentara kita dan negara kita. Ini merupakan kewajiban sebagai
warganegara RI, dan juga merupakan hak sebagai rakyat, pemegang kedaulatan
tertinggi di Republik kita.
Sekarang
ini, memang TNI-AD sudah tidak bisa berbuat semau-mau mereka seperti ketika
masih jaya-jayanya Orde Baru.
Tetapi oknum-oknum busuk di kalangan mereka masih berusaha terus untuk
melanjutkan praktek-praktek buruk yang biasa mereka jalankan selama puluhan
tahun yang lalu. Contoh yang jelas dan gamblang adalah peristiwa pembunuhan
Munir, yang sekarang menjadi sorotan opini publik dalamnegeri maupun luarnegeri.
KECURIGAAN
BERDASARKAN PENGALAMAN SEJARAH
Apa
dalam kasus ini BIN terlibat sebagai institusi atau tidak, dan apakah Letjen
(pur) Hendropriyono bisa dan berani
memberi keterangan sejujur-jujurnya, masih menjadi soal yang dipertanyakan. Juga
apakah anak buah Garuda yang bernama Polycarpus itu ada hubungannya dengan BIN
dan ia telah berbuat karena ada orang yang menyuruhnya adalah cerita menarik
yang mungkin akan kita dengar bersama-sama di kemudian
hari.
Dengan
berbagai cara dan melalui berbagai rekayasa (secara terbuka atau secara
tertutup) mungkin saja nantinya BIN bisa
membersihkan diri dari tuduhan terlibat pembunuhan Munir. Tetapi,
walaupun BIN secara resminya dinyatakan tidak terlibat dalam kasus pembunuhan
Munir ini, bagaimanapun juga, kecurigaan banyak orang masih akan tetap terus
melekat terhadap BIN. Sebab, sudah terlalu banyak indikasi yang menuding ke arah
BIN (harap baca kumpulan berita militer di bawah judul Wiranto, Prabowo dan
Syafrie dipaggil Komnas HAM dalam website http://perso.club-internet.fr/kontak).
Kecurigaan
banyak orang terhadap unsur-unsur dari kalangan militer atau tuduhan kepada
kalangan BIN dalam kasus pembunuhan Munir ini didasarkan kepada pengalaman
sejarah TNI-AD sejak tahun 1965, antara lain : dengan adanya pembantaian
besar-besaran dan sewenang-wenang terhadap orang-orang kiri tidak bersalah,
penculikan dan pembunuhan sejumlah besar orang di Lampung, di Haur Koneng
(Majalengka), di Tanjung Priok, di Timor Timur, peristiwa rasial Mei 1998,
peristiwa penyerbuan gedung PDI-P di Jakarta, hilangnya anak-anak PRD, dan
banyak kasus-kasus lainnya.
Kalau dalam masa-masa lalu (ketika rezim militer Orde Baru masih merajalela sepenuhnya) sebagian terbesar kasus penculikan dan pembunuhan yang dilakukan unsur-unsur militer tidak pernah digugat atau dibongkar, maka sekarang ini terbuka kemungkinan untuk mempersoalkan atau menggugat kematian Munir, dan juga hilangnya 14 aktivis. Meskipun Hendropriyono bisa saja mengeluarkan macam-macam pernyataan mengenai kematian Munir dan mungkin-tidaknya keterlibatan orang-orang BIN, (termasuk pernyataannya yang aneh dan lucu bahwa sebagai kepala BIN ia tidak bisa dan tidak boleh tahu banyak tentang pekerjaan intel karena sistem kerja yang harus berdasarkan kompartimen) itu semuanya tidak bisa menghilangkan dugaan banyak orang bahwa Munir telah dibunuh oleh unsur-unsur militer dan khususnya oleh orang-orang BIN. (bersambung ke tulisan kedua)
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
Yahoo! Groups Links
- To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/jaker/
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

