Note: forwarded message attached.


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---

KEBENARAN PSIKOLOGI/PSIKOLOGI KEBENARAN

 

OLEH:

AUDIFAX

 

 

BTW, ketika mulai berkembang aliran transformatif, yang sering jadi pertanyaan dalam diri saya, apakah hal ini merupakan perkembangan progresif dari psikologi atau justru kemunduran (kembali ke alam filsafat)? Ataukah hal ini karena imbas dari berkembangnya aliran new age akhir-akhir ini?[1]

Kutipan di atas diposting oleh Nur Agustinus member di “milis psikologi” ([EMAIL PROTECTED]). Sayang, beliau hanya memposting pertanyaan tersebut di “milis psikologi”, meski ada pertanyaan beliau mengenai apa yang disebutnya sebagai “aliran transformatif”. Tetapi tak apa, ada sesuatu yang saya rasa bisa diangkat sebagai pembelajaran bagi kita semua di milis ini.

Kalimat Sdr. Nur Agustinus itu, memperkuat tesis yang saya kemukakan pada esei berjudul: ‘Psikologi Positif: Sebuah Kegenitan Baru?; yaitu:

Dalam pendidikan psikologi Indonesia, pelajaran filsafat hampir di semua perguruan tinggi Cuma sebagai tempelan. Para mahasiswanya pun mungkin banyak yang tidak tahu apa hubungan dan kegunaan pelajaran filsafat[2].

Pada arus mainstream psikologi di Indonesia, bisa jadi pelaku-pelakunya cuma memelajari secara parsial atau yang pada beberapa diskusi saya istilahkan sebagai bergenit-genit saja. Ungkapan Nur Agustinus itu mungkin salah satu contoh yang parah ketika mengatakan bahwa dengan memelajari filsafat, berarti mundur ke masa lampau. Dalam ungkapannya itu terkandung makna yang menurut saya menjadi chauvinisme psikologi, bahwa seakan psikologi adalah ilmu masa kini dan filsafat ilmu masa lampau yang bisa juga diimplikasikan psikologi sudah lebih maju dari filsafat.

Saya rasa orang-orang filsafat akan menertawakan ungkapan Nur Agustinus itu. Apalagi jika ternyata mereka tahu bahwa aliran-aliran Neo-psikoanalisa justru lebih dikuasai oleh orang-orang di Fakultas Filsafat ketimbang orang-orang Fakultas Psikologi. (Mungkin akan lebih lucu lagi kalau beliaunya ternyata tak menguasai filsafat, ilmu yang menurutnya kalah maju dari psikologi). Saya sendiri sebagai seorang yang belajar psikologi merasa sungguh ironis pernyataan itu karena menandakan yang mengucapkan tak menguasai sama sekali keterkaitan antara filsafat dan psikologi. Padahal, Filsafat justru adalah ilmu yang paling dekat dengan psikologi serta memberi kontribusi besar bagi pemahaman akan psikologi itu sendiri.

Sayang, psikologi justru cenderung memahami ilmunya secara parsial dan tak melihat keterkaitannya dengan filsafat. Bahkan sebagian tak tahu bahwa pemikiran-pemikiran psikologi tak hanya berkembang dari pemikiran filsafat, tapi juga hingga saat ini berkembang bersama pemikiran filsafat. Tokoh-tokoh psikoanalisa, humanistik, hingga psikologi transpersonal banyak yang tak bisa dibadakan lagi dengan filsafat. Ironisnya, biasanya orang-orang psikologi lantas mencari gampangnya dengan mengatakan itu filsafat sebagai pembenaran ketakmampuan mereka mengikuti rumitnya pemikiran-pemikiran baru itu. Psikologi lantas hanya bergenit-genit dengan trend, misalnya Hypnosis yang begitu menjadi kegenitan setelah Romy Rafael (yang bukan psikolog) menunjukkan kepiawaiannya bermain-main dengan psike di depan hidung para psikolog. Sebelum ini ada NLP. Dan bila ditelusuri lagi ada sejumlah kegenitan lain yang terus menerus muncul tapi tak pernah dipahami hingga mendalam. Mirip dengan kegenitan-kegenitan ABG yang mengucapkan berbagai kata-kata baru yang sebenarnya tak ada artinya, seperti: “Kacian dech loe”, So What gitu Loh”; yang sebenarnya tak ada artinya tapi membuat keranjingan mengucapkan. 

Ketika dihadapkan pada argumen seperti ini, orang-orang psikologi ini biasanya bersembunyi di balik premis “kebebasan memilih”. Mau bergenit-genit atau mendalami sampai ke akarnya adalah sebuah pilihan bebas bagi siapa saja. Tak ada yang melarang, bebas-bebas saja. Pun bebas-bebas saja mengklaim psikologi lebih maju dri filsafat. Melarikan ke arah premis “kebebasan memilih” sebenarnya merupakan pelarian, karena masalahnya memang bukan perlu dilarang atau bebas, bukan pula masalah hak-kewajiban. Hanya orang bodoh (dan tengah lari dari kebodohannya) yang melarikan pemikiran-pemikiran pada esei ini pada premis “kebebasan memilih”. Dan itulah Inti permasalahannya, kualitas sebagai “manusia psikologi” yang tercermin dari ulahnya. Klaim-klaim atas psikologi itulah yang akan membuat terlihat seperti apa kualitas seseorang.

Psikologi seperti tergambar dalam kutipan pernyataan Nur Agustinus, adalah psikologi yang terjebak dalam klaim kebenaran yang meletakkan ilmunya lebih baik dari ilmu lain (setidaknya satu sudah jelas ditemukan, yaitu menganggap lebih maju dari filsafat). Ini adalah klaim-klaim yang justru mematikan mereka dalam kebenaran-kebenaran palsu. Sosok-sosok yang menekuni psikologi semacam ini, tak lebih dari pesolek-pesolek yang bergenit-genit dengan berbagai “make-up psikologi” sembari berdiri di pinggir arus keramaian dunia industri; menunggu panggilan dari para pelanggan yang ingin hasratnya akan “kebenaran” dipuaskan oleh kegenitan-kegenitan yang dipertontonkan sang psikolog.

Padahal kebenaran tak pernah bisa dibuat seseorang. Kebenaran justru menemukan kesejatiannya dalam pencarian, dalam upaya pembelajaran plural yang tak terkotak-kotak. Psikologi membutuhkan perubahan dalam  “gaya”menginterpretasi kebenaran. Jika dalam psikologi ada “gaya” dalam menginterpetasi kebenaran, maka gaya itu semestinya  plural sehingga siapapun yang diinterpretasi oleh orang psikologi, tak mati dalam universalitas dan keuniversalan keyakinan yang mengungkung. Kebenaran yang selalu diletakkan dalam pencarian dan kerendahatian bahwa manusia, termasuk ilmuwan psikologi, perlu untuk selalu belajar, karena keterbatasan dirinya. Kebenaran dalam psikologi, hanya bisa didapatkan dengan cara memahami Psikologi Kebenaran.

 

Bagaimana cermatan anda?

 



CATATAN-CATATAN:

[1] Posting tanggal 10 Oktober 2005 pukul  8:13 amOnline Documents: http://groups.yahoo.com/group/psikologi/message/23260

[2] Audifax; (2005); Psikologi Positif: Sebuah kegenitan baru?; Online documents: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/1909


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
--- End Message ---

Kirim email ke