mempringati tragedi 65
jangan sampai terjadi lagi!
 
salam, hl

Sobron Aidit <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: "Sobron Aidit" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sun, 16 Oct 2005 06:26:35 +0000
Subject: #sastra-pembebasan# CATATAN dari HOLLAND

Sobron Aidit :



C A T A T A N   dari  H O L L A N D


Hari Sabtu kemaren kami berkumpul di suatu Pertemuan yang diadakan oleh
suatu Panitya yang bernama PANITYA PERINGATAN 40 TAHUN TRAGEDI NASIONAL
PERISTIWA 1965. Ketika saya di Paris, ada tikpun dari Pak Umar dan juga dari
ponakan saya, Iba, apakah saya ikut pada rapat - pertemuan itu. Saya jawab (
sebenranya saya malu menjawabnya ) sebab saya tidak tahu akan hal itu.
Alasan lainnya memang saya tidak ada undangannya - saya tidak diundang. Hal
inipun mungkin karena teman-teman itu tidak tahu saya ada di mana - di Paris
atau di Holland. Tapi pokoknya saya jawab Pak Umar dan Iba, saya katakan
saya akan datang - dan saya menggunakan kereta-cepat Thalys. Tadinya maksud
semula mereka mengajak saya pakai mobilnya Iba - sama-sama. Tapi saya urung
ikut - karena saya hanya akan sampai Rotterdam saja - padahal rumah kami kan
di Almere yang masih puluhan km jauhnya. Dalam hati saya lebih baiklah saya
pakai kereta - biar bayar dan biar mahal - tapi hati senang - tidak
tergantung orang - bebas!

Maka itulah sebabnya, sebenarnya saya belum mau ke Holland. Tetapi
mengetahui bahwa pertemuan itu sangat penting dan bersejarah dan lagi saya
dengar akan banyak berdatangan teman-teman dari berbagai penjuru Eropa -
maka saya bertekad akan datang - akan menghadirinya. Lagi pula yang paling
penting : bukankah saya ini juga adalah salah seorang korban dari kekejaman
akibat sejarah-gelap-bangsa tahun 1965 itu - yang sampai kini sampai
generasi ketiga kami tetap belum sah buat pulang!

Jadi betapa pentingnya pertemuan ini - walaupun saya tidak diundang dan
tidak ada catatan yang akan hadir sebagai si sobron aidit - ya nggak apalah!

Saya ke Holland hari Kemisnya dan pertemuan pada Hari Sabtu-nya. Kami datang
berdua dengan anak saya Nita - ini generasi keduanya. Anaknya, Berry ada
pertandingan sepakbola setiap hari Sabtu, jadi tidak bisa hadir - sebagai
generasi ketiga!

Dan betapa menggembirakannya pertemuan itu. Berdatangan teman-teman dari
Swedia - Jerman - Perancis ( lebih dari 9 orang ). Dan ternyata pertemuan
itu bukan hanya semata-mata buat kami - orang-orang korban dari 65 itu.
Tetapi banyak juga dari angkatan muda - angkatan adik-adik dan anak-anak
kami yang bagaikan darah segar - sehat - kuat dan cerdas. Juga ada orang
asingnya sebagai tamu dan memerlukan hadir di tengah kami. Ada teman Belanda
dari Amnesty Internasional dan ada teman-teman dari negara tetangga kita.

Dan kami saling berpelukan - saling mencurahkan kekangenan - saling
berjabatan tangan dengan sangat erat - bagaikan sulit buat melepaskannya.
Kenapa? Karena ada di antara kami yang tidak bertemu selama belasan tahun 
sampai puluhan tahun. Jadi pertemuan ini merupakan tempat - wadah - arena
pertemuan kami para korban 65 itu. Dan betapa hati takkan trenyuh dan ngilu
- sedih. Karena banyak di antara kami yang sudah berumur 80 tahun sampai 90
tahun! Dan sebagai ukuran usia manusia - adalah wajar pabila mereka itu -
teman-teman kami itu sudah pada renta - pikun - bingungan atau sejenisnya.
Tetapi ternayata tidak! Mereka tetap dengan mata yang bersinar memandang ke
depan - ke satu sama lain - tidak saya lihat ada semangat loyo dan bersifat
menyerah!
Padahal ada di antara teman kami itu yang sudah pakai kursi-roda karena
sudah tidak kuatnya berjalan dan berdiri!

Dan ada yang tidak saya sangka. Orang-orang yang tadinya atau dulunya selalu
saja pabila berpidato berpanjang-panjang bahkan sedikit membosankan - pada
hari itu - semua pada pandai dan tahu diri. Orang yang saya sangkakan akan
pidato paling sedikit 1 jam - hari itu dia hanya berpidato 20 menit! Katanya
yang saya dengar beritanya - sang pemibicara bukan main sibuknya buat
menyingkat pidatonya agar pendek - singkat dan jelas dan dimengerti oleh
banyak teman. Dia adalah guru sejarah saya di Akademi Aliarcham ketika di
Jakarta tahun 1957 di Japad - Jalan Padang - Manggarai.

Ketika pertemuan itu - ada juga pembacaan puisi yang berkenaan dengan
peristiwa 65 itu. Dua orang penyair kami - Mawie Ananta Joni dan Heri Latief
- dengan suaranya yang lantang - mengaum - dan menarik, membacakan puisinya.
Saya sendiri juga membacakan puisi saya yang sudah saya siarkan di internet
ini : KENANGAN BUAT KITA - 60 Tahun Kemerdekaan dan 40 Tahun Penyiksaan dan
Pembunuhan.

Ada pameran buku - dan bagian ini yang saya paling tertarik. Ada satu buku
pelajaran yang dulu digunakan di SMTP = Sekolah Menengah Tingkat Pertama
buat kelas 3. Ini dalam rangka matapelajaran PSPB - sejarah nasional bangsa.
Di situ tertulis, apa pikiranmu dan pendapatmu terhadap orang-orang PKI ini?
Di sana ada 4 jawaban yang harus dipilih oleh setiap siswa. Dari empat
pertanyaan intu antaranya
a) sebaiknya orang-orang itu diasingkan saja di suatu tempat buat
selama-lamanya dan tidak perlu diberi makan
b) dihukum mati saja semua
c) diusir saja ke negeri-negeri sosialis dan komunis

Tiap siswa bolel memilih jawaban dengan mencoret apa yang dia mau. Sudah
tentu saya tidak tahu apa jawaban mereka. Siapa tahu ada juga yang menjawab
nomor b)!

Demikianlah pengajaran yang diberikan Orba terhadap siswa di negara dan
negerinya! Dan kami ini yang sedang mengadakan pertemuan ini - siapa tahu
terkena dari jawaban nomor c)!


Pertemuan ini dimulai pada jam 11.00 sampai jam 17.00. Tetapi nyatanya jauh
sebelum jam 11.00 sudah banyak yang datang, karena memang sangat antusias
buat menghadirinya - buat bertemu dengan banyak teman yang sudah begitu lama
terpisah satu sama lain. Dan jauh sesudah jam 17.00 - seakan-akan banyak
yang belum mau pulang - sebab belum tuntas rasa kekangenan dan kerinduan.
Masih ngobrol - masih saling berjabatan tangan yang erat dan lama. Masih
banyak terkandung kerinduan. Akh - teman saya Martini - dulu dia ini istri
Marda - salah seorang pengawal Bang Amat. Dulu setiap pagi kami jalan dan
lari-lari kecil ketika masih hidup di desa tahun 1970 - 35 tahun yang lalu.
Dia datang dari Swedia bersama rombongannya. Akh - kami bepelukan - dan kami
sudah sama tua - tetapi perasaan kami tetap terasa dekat. Suaminya - sedang
sakit dan tidak bisa datang.

Rasanya pertemuan sekali ini jauh lebih syahdu dan penuh kenangan antara
kami - pabila diban dingkan dengan pertemuan setiap Tahun Baru yang kami
adakan bersama. Mungkin karena pertemuan begini sangat dekat dan menyangkut
nasib kami secara kebersamaan - sama-sama terkena TAP no 25 tahun 1966 itu -
gila!! Si Yusril yang dulu memerlukan datang sendiri ke Holland buat
"membujuk dan mengajak" kami pulang - hanya busa bir saja - meruap sebentar
- akhirnya pupus sendiri! Brantakan! Hanya angin sepoi yang menipu dan dusta
sebagaimana biasa ada di tanahair kita - sampai kini,-

-----------------------------------------------

Holland,-  16 Oktober 05,-


Informasi tentang KUDETA 65/Coup d'etat '65
Klik:
http://www.progind.net/  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
 


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke