Note: forwarded message attached.


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---

The End of Psychology

 

Oleh:

Audifax[1]

 

“Setiap individu adalah unik”

Premis itu menjadi pegangan yang seringkali didengung-dengungkan di kalangan orang-orang yang menekuni psikologi. Di bangku kuliah di Fakultas-fakultas Psikologi, para mahasiswa/i diajarkan bahwa “setiap individu adalah unik”. Tapi pernahkah dicermati bahwa inkonsistensi logik juga terjadi dalam penerapan di ruang-ruang kuliah maupun masyarakat luas? Pernahkah terpikir bahwa premis itu bisa memporak-porandakan semua pendidikan psikologi yang diselenggarakan di Indonesia? Mari kita telaah lebih jauh.

Orang Lain (Liyan) dan Keluasannya

Jika saya menganggap “tiap individu adalah unik”, maka ada “sesuatu yang tak terhingga” di luar saya. Ini karena ada begitu banyak individu di luar saya dan masing-masing darinya unik. Bahkan terus lahir individu-individu baru yang juga unik. Dalam akumulasi begitu banyaknya individu unik, maka Orang di luar saya (selanjutnya akan saya sebut “Liyan”) adalah hamparan laut tiada bertepi.

Sementara dalam psikologi, kita belajar “understanding human being” melalui berbagai tokoh, definisi, teori, mazhab dan sejenisnya; yang kelak akan digunakan untuk menjelaskan Liyan. Para mahasiswa/i psikologi dituntut untuk menguasai setiap mata kuliah yang isinya teori, mazhab dan diharapkan menguasai apa yang diajarkan secara total. Seberapa total penguasaan, akan tampak pada nilai kelulusan dari mata kuliah tersebut. Jika anda lulus dengan nilai “A”, itu mencerminkan suatu tingkat totalitas penguasaan tertentu yang lebih baik dari nilai ‘B”. Kelulusan demi kelulusan setelah menziarahi sejumlah ruang perkuliahan, pada puncaknya akan bermuara pada diperolehnya gelar kesarjanaan psikologi atau S. Psi. Jadi gelar itu adalah “kelulusan puncak” atau akumulasi dari semua kelulusan yang pernah dicapai. Sementara kelulusan itu sendiri merupakan simbol totalitas penguasaan.

Lalu, mari kita kembali pada premis bahwa “tiap individu adalah unik” sehingga Liyan adalah sesuatu yang tak terhingga. Totalitas penguasaan atas konsep manusia yang dibangun dengan susah payah, seketika runtuh ketika “Saya” berjumpa dengan ‘Liyan”. Ini karena Liyan bukan “Manusia Pavlov”, ‘Manusia Behavioristik”, “Manusia Psikoanalisa”, dan semua konsep-konsep “manusia” yang telah dibangun dalam benak lulusan psikologi. Bangunan itu runtuh ketika “Yang tak terhingga”, yang bukan bagian dari konsep yang ada dalam diri “saya”, menyapa “saya” dan mengajak “saya” keluar dari diri “saya”.

“Liyan” menampakkan diri dalam keunikan yang tak dapat direduksi oleh “Saya”. “Saya” tak dapat menghampiri “Liyan” dengan bertolak dari kerangka “aku”. Liyan sama sekali lain dengan teori-teori. “Liyan” adalah pendatang, orang asing (stranger), yang mendatangi, mengajak agar “saya” memperlakukannya sebagaimana adanya dia.

Inilah momentum yang kerap justru terabaikan dalam relasi. Hubungan dengan orang lain sering dipahami dan ditempatkan sebagai hubungan egalitarian antar subyek. “Saya” adalah yang lain bagi “Dia”, maka kita setara. Dalam relasi psikolog klien pun demikian. Dia (klien) harus hormat karena saya (psikolog) yang menguasai ilmu jiwa dan saya (psikolog) hormati anda (klien) karena konsumen adalah raja. (beberapa hubungan bahkan bisa jadi tak setara).

Padahal, kembali pada pemahaman bahwa “Liyan” adalah sesuatu yang tak terbatas, maka “saya” tak bisa menempatkan diri sebagai subjek dalam posisi relasi tersebut. “Liyan” hadir mengundang “saya” untuk menyelami dimensinya yang tak terhingga. Menyelami dan menyelami, hanya itu yang bisa “Saya” lakukan. Hubungan dengan “Liyan” adalah hubungan dengan misteri. Kehadiran “Liyan” justru menunda kehadiran “Saya” dan melenyapkan “Saya” dalam pencarian dan pencarian tak terhingga akan “Liyan”.

Inilah yang oleh Emmanuel Levinas disebut sebagai alteritas. Suatu sapaan yang bukan bertujuan untuk menjadi negasi dari konsep yang ada dalam diri, tapi mengundang “saya” untuk keluar dari imanensi dan mengalami “transendensi” bersama “Liyan”[2]. Manusia pada dasarnya terbentuk dari elemen yang sebenarnya adalah konsep-konsep yang pernah dipelajarinya. Konsep-konsep inilah yang digunakan untuk membangun diri dan kerapkali juga digunakan untuk memahami orang lain. Manusia terbenam dalam elemen-elemen ini seperti dijelaskan Jacques Lacan sebagai keterbenaman manusia dalam imaji-imaji yang membuatnya semakin terasing dari diri.

Namun bagi Levinas, elemen adalah suatu pra-kondisi bagi pemisahan subjek dari elemen. Subjek pada dasarnya tenggelam dalam ke-liyan-an (otherness) elemen-elemen yang dimasukkan dalam dirinya, membawa elemen-elemen itu ke dalam suatu rentang identitas dan kesamaan, sehingga bisa disimpulkan bahwa subjek hidup dari elemen-elemen itu[3]. Namun, ketika berjumpa dengan Liyan, maka manusia disapa dan diajak untuk keluar dari imanensi elemen-elemen dan masuk dalam transendensi, dalam sesuatu yang tak terbatas.

“Matinya Manusia” dalam Psikologi

Dalam Psikologi, manusia kerap sudah terlebih dulu mati sebelum ajal menjemputnya. Ini terjadi ketika ia menjadi korban definisi-definisi atau hasil-hasil pengukuran yang tak bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi ketika dihadapkan pada premis “setiap individu adalah unik”. Manusia-manusia ini menjadi mati karena ia tak lebih dari kerumunan. dalam kerumunan, manusia itu dianggap sama saja semuanya, sehingga keunikannya yang hidup dan menghidupinya serta merta dicerabut dengan mengatasnamakan ilmu pengetahuan yang bernama psikologi.

Inilah sebuah kesalahan yang menurut Hans-Georg Gadamer sering terjadi pada ilmu-ilmu humaniora dan penerapannya pada fenomena moral dan sosial. Para “penguasa ilmu” itu mencoba memberi penekanan pada kesamaan-kesamaan, keteraturan-keteraturan, dan kompromi-kompromi terhadap sebuah hukum yang dianggap memungkinkan untuk memprediksikan fenomena dan proses individual. Padahal dalam fenomena yang sebenarnya, tujuan ini tidak selalu bisa dicapai dengan hasil yang sama, namun orang lantas mengajukan alasan bahwa kesamaan itu ada tetapi tidak bisa selalu diperoleh dalam kuantifikasi memadai. Di sini sebenarnya orang tidak menemukan sebab untuk pengaruh-pengaruh khusus, yang unik pada individu, tapi hanya menegaskan kesamaan-kesamaan[4].

Jika “Liyan” adalah sesuatu yang tak terbatas, maka “saya” itu tak bisa menggeneralisasikan treatment atau program karena dalam ketakterbatasannya akan berimplikasi pada ketakmampuan “saya” untuk meng-handle efek yang ditimbulkan karena akan juga terjadi keluasan efek yang tak terbatas akibat akumulasi keunikan individu satu dengan yang lain. Tak ada urusannya pula mengubah pola pikir orang Aceh seperti pernah diungkapkan seorang member milis. Karena ada banyak orang Aceh dan masing-masing adalah individu yang unik, sehingga efeknya akan berbeda-beda. Mereka bukan “kerumunan” orang Aceh, tapi individu demi individu yang berbeda satu sama lain. Begitu pula akan sungguh naif ketika “saya” men-download” berbagai teori atau alat tes dari internet lantas menerapkan begitu saja pada sekerumunan orang, karena mereka bukan kerumunan, mereka adalah “Liyan” yang memiliki ketakterbatasan.

Poskrip

Nah, sekarang bisa dilihat bahwa premis “setiap individu adalah unik” telah memporak-porandakan hampir semua yang diajarkan di ruang perkuliahan oleh dosen-dosen di Fakultas Psikologi. Jika “setiap manusia adalah unik”, tak perlu mahasiswa disuruh menghafal catatan-catatan dari dosen. Apa yang perlu dibiasakan adalah “ketulusan” atau “genuinity” ketika berhadapan dengan orang lain. Segenap ketulusan dan genuinitas untuk menyelami apa adanya, tanpa pretensi apa-apa, dan membiarkan serta memperlakukan sebagaimana adanya tampaknya akan lebih pas untuk jargon “memanusiakan manusia” yang seringkali pula saya dengar di psikologi.

Esei “The End of Psychology” bukanlah judgement, penyembuhan, propaganda, apalagi manifesto. Ini hanyalah sebuah paparan pemikiran mengenai inkonsistensi logik yang sangat manusiawi untuk dipertanyakan (justru manusia sudah kehilangan kemanusiaannya jika tak mempertanyakan lagi inkonsistensi-inkonsistensi semacam ini). “The End of Psychology” bisa jadi merupakan gambaran sebuah “gaya” pendekatan manusia dalam psikologi yang membuat manusia mati dalam definisi yang semestinya gaya itu diakhiri; sekaligus awalan bagi munculnya “gaya” yang lebih menempatkan manusia dalam kemanusiaannya, yaitu ketakterbatasan, kesementaraan, dan pertumbuhan.

 

Bagaimana cermatan anda?

 

© Audifax – 12 Oktober 2005

 

NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun untuk berdiskusi dengan saya di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)

 



CATATAN-CATATAN:

 

[1] Peneliti; Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA)-Surabaya

[2] Muhammad Al-Fayyadl; (2005); Derrrida; Yogyakarta: LKIS; hal.150

[3] Immo Pekkarinen; The Many Faces of Woman-The Place of Woman in Emmanuel Levinas´s Totality and Infinity; retrieved 6 Oktober 2005 pukul 18.05 WIB; online documents: http://www.saunalahti.fi/immopek/elevinasa.htm

[4] Hans-Georg Gadamer; (2004); Kebenaran dan Metode; saduran Ahmad Saidah; Yogyakata: Pustaka Pelajar; hal 4


Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
--- End Message ---

Kirim email ke