Note: forwarded message attached.


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---

TUHAN DALAM PANGGUNG KEHIDUPAN

OLEH:

AUDIFAX[1]

 

“Dunia ini panggung sandiwara”, begitu kata Achmad Albar dalam lagu yang populer di medio 1970-an itu. Ya. Dalam banyak hal, dunia memang mirip panggung, seperti dijelaskan oleh sosiolog Erving Goffman dalam teori Dramaturgi. Saat ini pula, momen Lebaran menyajikan suatu panggung yang mementaskan suatu drama kehidupan. Banyak orang memilih pulang kampung, bahkan menolak iming-iming gaji yang dilipatgandakan jika tetap bekerja saat libur Lebaran. Perputaran uang di masa Lebaran meningkat. Panggung bernuansa religius dan berlatar pertemuan dengan keluarga ini, menenggelamkan begitu saja kenaikan BBM dan berbagai krisis yang menerpa negeri ini. Orang berbondong-bondong meninggalkan sejenak panggung kehidupan yang digelutinya setiap hari, untuk menuju sebuah panggung kehidupan lain yang lebih kecil.

Sebuah panggung kehidupan lain memang selalu dibangun dan dirayakan saat Lebaran. Meski sekejab, namun panggung kecil itu mampu membasuh peluh, derita, bahkan airmata dari panggung kehidupan lain yang dilakoni sehari-hari. Semua uang hasil kerja yang dikumpulkan, dihabiskan, dibagikan, dibelanjakan pada episode kebahagiaan dan religius yang tengah dipentaskan di panggung kecil ini. Sebuah pementasan yang walau sekejab namun memiliki arti; sebelum mereka balik ke panggung keseharian untuk kembali mengumpulkan uang dan kembali dihabiskan, dibagikan, dibelanjakan pada Lebaran berikut. Sepintas, ini mungkin tampak layaknya suatu sirkularitas kesia-siaan. Sebuah drama kesia-siaan layaknya Sisifus yang mendorong batu ke atas bukit hanya untuk melihat batu itu mengelinding jatuh ke bawah. Seperti itu pulalah yang terjadi pada banyak orang yang kembali bekerja, mengumpulkan uang untuk Lebaran berikutnya. Mereka layaknya Sisifus yang kembali mengangkat batu yang menggelinding jatuh itu kembali ke atas bukit. Sebuah sirkulasi yang terkesan absurd dan sia-sia karena selalu kembali ke titik nol.

Namun dalam kesia-siaan itulah, manusia justru menemukan pemaknaan hidupnya. Albert Camus (1999) dalam bukunya “Mite Sisifus” mengatakan bahwa kebahagiaan dan absurditas adalah dua putra dari satu bumi. Keduanya tidak terpisahkan. Ini adalah drama kehidupan yang mengajarkan bahwa semuanya belum tuntas dan tak pernah tuntas. Sebuah pesan yang mengatakan bahwa takdir memang menjadi urusan manusia yang harus ditangani di antara manusia. Justru dalam sirkularitas absurd itulah terletak seluruh kegembiraan bisu Sisifus. Nasibnya adalah miliknya. Batunya adalah bendanya. Begitu pula manusia absurd yang ada dalam sirkularitas panggung kecil dan panggung besar itu, ketika ia merenungi kepedihannya, meminta maaf dan memberi maaf, dan kembali pada titik nol, maka semua berhala kehidupan akan membisu. Dalam dunia yang tiba-tiba dikembalikan pada kebisuannya, bermunculanlah suara-suara kecil dari semesta yang terkagum-kagum. Panggilan-panggilan tak sadar dan rahasia, undangan dari semua wajah, dan rasa bahagia yang menyertai suasana; semua itu adalah suatu pembalikan dan ganjaran kemenangan.

Inilah makna terdalam dari “kemenangan” dalam kehidupan. Ketika justru dalam kefanaan, kesia-siaan, sirkularitas absurd yang menghantar pada nihilisme, manusia justru menemukan pemaknaan hidupnya. Dalam pertemuan dengan keluarga, dalam keharuan, pemaafan kesalahan, dan warna-warni religius Lebaran. Di sinilah Tuhan hadir bukan sekedar sebagai ritualitas, namun menemukan maknanya yang terdalam pada kehidupan.

Gilles Deleuze dan Felix Guattari dalam “What is Philosophy?” (1994) menjelaskan bahwa yang bersifat transenden, vertikal, selestial, mesti selalu mengalah dan tunduk pada suatu jenis rotasi agar dapat tergoreskan pada tataran Alam-pemikiran imanen. Entitas yang vertikal selestial mendarat pada dataran pemikiran melalui cara spiral. Di sini berpikir mengimplikasikan proyeksi sesuatu yang transenden pada tataran imanensi (yang datar[an], vertikal). Transendensi sebenarnya “kosong” pada dirinya sendiri, kepenuhannya terjadi ketika ia mampu turun jauh dan melintasi berbagai level-level hirarkis yang terproyeksikan secara bersamaan pada wilayah suatu tataran, yaitu suatu dimensi yang berkorespondensi dengan suatu gerakan tak terbatas. Tuhan yang transenden akan tetap kosong, atau setidaknya lenyap (abskonditus), seandainya tidak diproyeksikan pada tataran imanensi penciptaan di mana ia menelusuri tahapan-tahapan teofaninya. Transendensi yang diproyeksikan pada tataran imanensi, meratakan imanensi tersebut dan menghuninya dengan imaji simbolik.

Pada momen Lebaran inilah Tuhan yang transenden, mengalami kepenuhannya ketika hadir bersama kebahagiaan dalam pemaknaan terdalam akan imanensi kehidupan. Ketika justru dalam absurditas dan kesia-siaan ditemukan kebahagiaan yang membaur dengan religiusitas. Pada titik inilah Tuhan tak lagi mati dalam simbol-simbol seperti dikatakan Nietzche dan inilah titik di mana manusia dalam kefanaannya justru mengatasi kemanusiaannya.

Momen reflektif seperti ini, justru semakin mendapatkan artinya di antara banalitas. Inilah Tuhan yang hidup diantara tuhan-tuhan yang mati. Episode kebermaknaan kehidupan yang manusiawi ini semakin terasa artinya ketika bersanding dengan episode-episode lain yang berisikan bencana, kenaikan BBM, airmata, darah, kematian, kepalsuan serta berbagai retorika yang menutupi realita. Episode kebermaknaan kehidupan yang manusiawi ini menunjukkan bahwa Tuhan dan kemanusiawian belum mati seperti tergambar di episode-episode lain. Tuhanpun bukan sekedar simbol dan kosong dalam transendensinya seperti tergambar pada pementasan di panggung kehidupan lain.

Lebaran bersama keluarga ‘hanyalah’ sebuah panggung kecil di antara panggung-panggung besar yang sifatnya spectacle, banal, dan penuh silang sengkarut permasalahan. Dalam kehidupan, sebenarnya selalu tersedia panggung kecil-panggung kecil semacam ini. Pada panggung inilah manusia menyembul dari arus keseharian kehidupan. Memaafkan dan memberi maaf, bertemu keluarga dan merasakan makna di titik nol-nya. Sebuah makna yang justru ditemukan pada titik nol, dan bukan pada berbagai pencapaian simblis yang tanpa makna. Panggung seperti ini selalu diperlukan dan selalu ada dalam kehidupan manusia, meski juga tak selalu disadari. Panggung ini, walau kecil tapi berkemampuan menjadi suluh semangat. Tongkat yang menuntun dan menjadi pegangan untuk mengarungi perjalanan di panggung lain yang bisa jadi akan terasa sangat berat di tengah berbagai himpitan masalah, mulai dari kenaikan BBM, pengeboman, konflik, serta silang sengkarut masalah kehidupan. Sebuah panggung kecil yang kemegahannya hanya dapat dirasakan oleh mereka yang masih bisa merefleksikan hidupnya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.



[1] Peneliti-Institut Ilmu Sosial Alternatif (IISA)-Surabaya

 

 


Yahoo! FareChase - Search multiple travel sites in one click.
--- End Message ---

Kirim email ke