Catatan A. Umar Said

 
(Tulisan ini ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak)
 

 

 

 

                PARTAI GOLKAR BERI PENGHARGAAN

                KEPADA SUHARTO ATAS JASANYA

 

 

 Berikut ini disajikan kutipan berita menarik dari Media Indonesia Online (24 November 2005) yang mungkin akan bisa menimbulkan kemarahan atau protes banyak orang, karena berbunyi sebagai berikut :

“Partai Golkar akan memberi penghargaan "Anugerah Bhakti Pratama" kepada mantan Presiden Soeharto atas jasanya terhadap Golkar selama menjadi penasehat di era Orde Baru. Hal itu diungkapkan Ketua Panitia Pelaksana Rapimnas ke-1 Golkar Burhanuddin Napitupulu di sela-sela Rapimnas Golkar di Jakarta, Kamis. Dia menjelaskan, selain penghargaan untuk Pak Harto, penghargaan ini juga diberikan kepada 45 tokoh nasional yang berasal dari Golkar. Mereka antara lain mantan Presiden BJ Habibie, mantan Mensesneg Moerdiono, mantan Menaker Cosmas Batubara dan mantan Menkeh Oetojo Oesman, mantan Menpen Harmoko dan tokoh PGRI Basyuni Suriadihardja.

Ia juga mengatakan Pak Harto telah menyatakan kesediaan untuk menerima penghargaan ini, namun belum dipastikan apakah pemimpin Orde Baru itu akan hadir atau tidak. Penghargaan akan diberikan oleh Ketua Umum DPP Golkar Jusuf Kalla pada puncak HUT ke-41 Golkar di Balai Kartini pada Sabtu (26/11). (kutipan selesai)

 

 

 TINDAKAN YANG PASTI MENIMBULKAN KEMARAHAN

 

 Adalah hak Partai Golkar untuk memberikan penghargaan kepada Suharto. Ini sesuai dengan kebiasaan atau ketentuan kehidupan demokratis yang harus sama-sama kita hormati. Namun demikian, adalah juga hak sepenuhnya bagi semua kalangan dan golongan untuk mengutarakan pendapat yang berlainan, bahkan yang berlawanan (!)  sama sekali dengan sikap Partai Golkar itu. Hal yang demikian itu juga sepenuhnya merupakan hak yang harus dihargai oleh semua fihak, dan terutama sekali oleh kalangan Partai Golkar.

 

Sebab, pemberian  penghargaan  “"Anugerah Bhakti Pratama"  oleh  Partai Golkar kepada Suharto ini bisa (bahkan, pasti !!!) menimbulkan berbagai macam reaksi dari banyak orang di banyak kalangan atau golongan bangsa.  Dari yang hanya mengutarakan kecaman atau ketidakpersetujuan mereka saja, sampai dengan yang melampiaskan kemarahan atau protes keras.

 

Perlu sama-sama kita ingat bahwa Jusuf Kalla,  yang memberikan penghargaan kepada Suharto ini resminya menduduki jabatan Wakil Presiden Republik Indonesia, yang juga merangkap sebagai Ketua Umum Golkar. Meskipun ketika memberikan penghargaan bisa dipakai dalih atau alasan bahwa ia melakukannya dalam kapasitasnya sebagai ketua Umum Golkar, tetapi pendapat umum akan tetap cenderung untuk melihatnya juga sebagai Wakil Presiden RI.

 

Jadi,  masalah penghargaan “Anugerah Bhakti Pratama” kepada Suharto oleh Partai Golkar ini bukanlah urusan kecil yang menyangkut “urusan intern” Golkar, tetapi adalah urusan yang mempunyai dimensi politik dan moral  (!!!)  yang besar sekali bagi bangsa seluruhnya.

 

Sebab, bagi banyak orang sudah jelas bahwa sesudah menjadi diktator rejim militer Orde Baru selama 32 tahun, Suharto telah dipaksa "turun tahta" dalam tahun 1998, berkat gerakan besar-besaran secara nasional oleh generasi muda.  Gerakan yang bersejarah dari generasi muda ini adalah manifestasi terpusat dari aspirasi rakyat luas yang sudah menajiskan Suharto dengan Orde Barunya.

 

Suharto sudah dicampakkan dari hati banyak orang, bahkan seringkali dihujat dan banyak dikutuk, oleh karena berbagai  kejahatan yang dilakukannya selama 32 tahun di bidang politik, ekonomi, sosial dan juga di bidang moral dan HAM. Ia merupakan orang yang harus bertanggungjawab dengan terbunuhnya sekitar 3 juta orang-orang tidak bersalah dalam tahun 1965, dan dipenjarakannya ratusan ribu orang (sekali lagi, orang yang tidak bersalah juga) selama puluhan tahun (ingat, antara lain : pulau Buru !!!). Sebagian dari  orang-orang yang dibunuh atau dipenjarakan secara sewenang-wenang itu adalah anggota atau simpatisan PKI dan sebagian lainnya lagi pendukung politik Presiden Sukarno. Suharto  harus dimintai pertanggungan jawabnya  terhadap penderitaan kira-kira 20 juta orang, yang merupakan keluarga - dekat dan jauh -  para korban pembunuhan besar-besaran 65 dan keluarga para eks-tapol, yang selama puluhan tahun diperlakukan secara tidak manusiawi.

 

 

BERBAGAI KEJAHATAN SUHARTO

 

Sekarang ini sudah menjadi makin jelas bagi banyak orang bahwa kejahatan atau kesalahan besar Suharto bukanlah hanya karena ia telah menghancurkan kekuatan PKI dengan pembunuhan dan pemenjaraan besar-besaran begitu banyak orang, tetapî juga karena ia telah melakukan pengkhianatan terhadap Presiden Sukarno.

 

Berbagai tindakan yang dilakukan TNI-AD di bawah Suharto sesudah terjadinya G30S, menunjukkan bahwa Presiden Sukarno pada permulaannya telah disrimpung, dijegal, diboikot oleh Suharto dkk untuk kemudian digulingkan dari kepresidenannya, dan akhirnya ditawan sebagai tapol  sampai wafatnya dalam keadaan yang menyedihkan.

 

Dengan menghancurkan Bung Karno sebagai pemimpin besar rakyat Indonesia, sebenarnya Suharto (dengan dukungan dari sebagian TNI-AD dan Golkar) telah mengkhianati Revolusi 45 dan juga mengkhianati cita-cita para pejuang kemerdekaan melawan kolonialisme dan imperialisme. Melalui persekongkolan dengan kekuatan nekolim,  yang dikepalai oleh AS,  Suharto dkk telah menghancurkan kekuatan anti-imperialisme bangsa Indonesia yang  berlandaskan politik Bung Karno.

 

Jadi, kalau ditinjau dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia sejak dirintis sebelum dan sesudah tahun-tahun 20an (ingat: Budi Utomo, Serikat Islam, Serikat Rakyat, pembrontakan PKI tahun 26, pembuangan Digul, Sumpah Pemuda tahun 1928, perjuangan Bung Karno sampai dibuang di Endeh dan Bengkulu) dan kemudian proklamasi 45, maka akan kelihatan jelaslah bahwa apa yang telah dilakukan Suharto adalah betul-betul merupakan pengkhianatan terhadap perjuangan yang sudah begitu panjang dari banyak kalangan dan golongan bangsa kita.

 

Sekarang ini, orang yang semacam inilah yang diberi penghargaan "Anugerah Bhakti Pratama" oleh Partai Golkar. Sungguh keterlaluan!

 

 

SUHARTO SAMA SEKALI BUKAN TOKOH DEMOKRATIS

 

Dipaksanya "turun tahta" Suharto dalam tahun 1998, menunjukkan dengan jelas bahwa "orang kuat" yang pernah jadi Presiden RI berturut-turut selama puluhan tahun, yang juga Panglima Tertinggi ABRI, dan yang juga pimpinan tertinggi Golkar, akhirnya diusir rakyat dari kedudukannya. Di mata banyak orang, Suharto sudah terbukti bahwa ia bukan seorang pemimpin yang berjiwa benar-benar demokratis, karena di bawah "kepemimpinannya"  selama 32 tahun kehidupan demokratis telah dicekiknya, kebebasan pers dibatasi dan kena sensor, kebebasan berorganisasi juga tidak ada.

 

Di bawah pemerintahannya  mengkritik terjadinya penyelewengan kekuasaan para pejabat rejim militer Orde Baru adalah merupakan taboo atau berbahaya sekali bagi yang berani melakukannya. Suharto membiarkan saja terjadinya penculikan dan pembunuhan secara gelap (oleh aparat-aparat militer) terhadap sejumlah besar para "pembangkang" Orde Baru. Selama di bawah pimpinannya, lembaga-lembaga negara dan aparat negara  seperti  DPR, Mahkamah Agung, Kejaksaan Agung, Mabes ABRI, BAPENAS, hanya merupakan tangan panjang atau stempel saja baginya.

 

Dalam jangka lama sekali, indoktrinasi "Pancasila" (yang palsu) dipaksakan secara sistematis, di samping sekaligus meniup-niupkan secara permanen hasutan "bahaya laten PKI", untuk melakukan terror terhadap segala yang berani bersikap kritis atau menentang politik Orde Baru.

 

Orang semacam inikah yang sekarang ini mendapat penghargaan Golkar "Anugerah Bhakti Pratama" ?

 

 

MENGAPA GOLKAR MENGHARGAI SUHARTO

 

Bahwa Golkar memberi penghargaan kepada Suharto adalah wajar. Sebab, sejarah Orde Baru selama 32 tahun sudah menunjukkan dengan jelas bahwa,  pada dasarnya, yang merupakan inti rejim militer ini, ialah persekutuan erat antara Golkar dan golongan militer (terutama TNI-AD) yang dikepalai oleh Suharto sebagai pemimpin tertinggi.

 

Kita semua sudah sama-sama menyaksikan atau mengalami sendiri juga, bahwa golongan militer inilah yang selama puluhan tahun telah mengangkangi secara ketat Republik Indonesia, dengan melakukan berbagai politik yang banyak membatasi kebebasan demokratis dan melakukan bermacam-macam teror di kalangan masyarakat. Dalam melaksanakan berbagai politik yang anti-demokratis dan anti-rakyat ini peran yang dimainkan oleh Golkar adalah besar sekali. Selama puluhan tahun Golkar adalah pendukung utama rejim milter Orde Baru. Sebenarnya, sudah sejak lama sekali, bolehlah dikatakan bahwa Golkar dan golongan militer (terutama TNI-AD) adalah satu dan senyawa.  Ini tidak mengherankan, karena Golkar yang telah lahir sebelum peristiwa 65 merupakan usaha segolongan perwira TNI-AD dalam rangka anti-Bung Karno dan anti-PKI.

 

Golongan militer (yang sebenarnya jumlahya sedikit sedikit sekali, yaitu sekitar 500.000 atau paling  banyak 700.000 orang) memerlukan alat untuk menggalang dukungan di kalangan rakyat, dan sekaligus untuk memasang pupur "demokrasi" bagi rejimnya. Itu sebabnya sejarah Golkar di masa Orde Baru adalah selalu "gemilang", sehingga selalu menang besar dalam "pemilu"  yang berturut-turut (sekitar 70 % suara) dan bisa menguasai secara mutlak di DPR dalam jangka puluhan tahun. (Kiranya, tidak usah dipaparkan lagi di sini bahwa "pemilu" selama Orde Baru itu semuanya palsu atau penuh dengan berbagai rekayasa)

 

Karena itu, secara padat singkat bisalah  dikatakan bahwa Golkar sepenuhya ikut bertanggungjawab terhadap segala kejahatan, segala kesalahan, segala kebusukan, yang telah dilakukan Orde Baru. Sebab, pada dasarnya, Orde Baru adalah satu dan senyawa dengan Golkar,  seperti halnya satu dan senyawanya TNI-AD dengan Golkar. Mungkin, ada orang yang akan mengatakan :"Betul itu semua, tetapi itu 'kan masa lalu". Apakah betul begitu ?

 

 

GOLKAR SEKARANG MEMBLEJETI DIRI

 

Dengan merenungkan hal-hal tersebut di atas, maka kiranya dapat kita lihat bahwa pemberian penghargaan "Anugerah Bhkati Pratama" oleh Golkar kepada Suharto bisa disamakan dengan pemblejetan diri,  dan tidak kepalang tanggung pula! Dengan tindakan yang demikian itu, Golkar sudah terang-terangan membuka diri bahwa sebenarnya Golkar yang sekarang ini adalah masih Golkar yang lama itu juga.

 

Tindakan Golkar ini juga merupakan tambahan bukti bahwa, pada hakekatnya, Golkar yang sekarang ini masih belum tersentuh oleh reformasi, yang pernah didengung-dengungkan oleh para tokohnya juga. Dari tindakan ini dapat pula ditarik kesimpulan bahwa bahaya restorasi Orde Baru sudah makin nyata muncul di ambang pintu,  kalau tidak bisa dikatakan sudah masuk rumah. Sebab, ketua umum Golkar adalah juga wakil presiden Republik Indonesia, dan ketua DPR adalah juga tokoh utama Golkar. Sebagian besar kursi DPR juga dikuasai Golkar. Dari banyak Gubernur, bupati dan walikota pun tidak sedikit yang anggota atau simpatisan Golkar.

 

Itu semua merupakan tanda-tanda bahwa perspektif jangka dekat negara dan bangsa Indonesia tidaklah bisa kita katakan cerah. Dari orang-orang yang sekarang masih mempunyai simpati  --  atau memupuk hubungan batin erat  -- dengan Golkar yang lama tidaklah  bisa diharapkan adanya perobahan besar menuju perbaikan. Tdan tokoh-tokoh utama Golkar jaman Orde Baru pada umumnya adalah orang-orang yang tidak sepantasnya atau tidak sepatutnya mendapat penghormatan dan penghargaan kita, berdasarkan pertimbangan politik dan moral (Harap perhatikan, nantinya, daftar 45 "tokoh nasional" yang diberi penghargaan oleh Jusuf Kalla).

 

Tindakan Golkar dengan memberikan “Anugerah Bhakti Pratama” kepada tokoh-tokoh Golkar masa Orde Baru (terutama kepada Suharto) sungguh merupakan cemooh bagi berbagai kalangan dan golongan bangsa yang selama ini sudah menunjukkan perlawanan mereka terhadap  segala kebusukan dan kejahatan yang pernah dilakukan selama puluhan tahun oleh Suharto dengan rejim militer Orde Barunya.

 

Paris, 25 November 2005

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke