Note: forwarded message attached.


Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping

JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>

People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"




YAHOO! GROUPS LINKS




--- Begin Message ---
YESUS, HARRY POTTER, ....AND THE WORLD [STILL] NEED A HERO
Oleh:
AUDIFAX[1]
 
There's a hero
If you look inside your heart
You don't have to be afraid
Of what you are
 
There's an answer
If you reach into your soul
And the sorrow that you know
Will melt away
 
And then a hero comes along
With the strength to carry on
And you cast your fears aside
And you know you can survive
 
 
(dikutip dari lagu “Hero”, Mariah Carey)
Di wajah dunia yang semakin tua ini, tergurat pula kisah-kisah yang menahbiskan munculnya sosok-sosok hero[2]. Sejumlah kisah, baik nyata maupun fiksi, baik dongeng, cerita rakyat, atau true story; telah menghadirkan sejumlah hero yang menandai perjalanan kehidupan umat manusia. Tak peduli berawal dari sesuatu yang memang pernah terjadi ataupun hanya cerita rekaan, kisah-kisah ini kemudian berubah menjadi mite karena kekuatan mitologis dari kisah itu, berikut hero-hero di dalamnya.
Sejumlah hero dalam kisah itu bahkan menunjukkan pola yang hampir sama. Perhatikan sejumlah ciri berikut:
1.      Ramalan atau nujuman mengenai kelahiran sang hero
2.      Kelahiran sang hero dalam suatu yang bersifat kedewaan, kebangsawanan, atau kerajaan. Biasanya lahir pula dalam masa chaos.
3.      Hero adalah sosok yang ditinggalkan, diberikan atau dilarung/dibuang di air.
4.      Ditolong dan diadopsi oleh sosok yang menggantikan orang tuanya
5.      Kembali ke tanah kelahiran ayahnya, di mana sang hero akan membuktikan keberhargaan/kebernilaian dirinya
6.      Hero mengklaim hak yang inheren dengan kelahirannya dan diberi penghargaan atas jasanya.
7.      Hero adalah anak yang terpisah dari orang tua, umumnya adalah putra dari seorang raja.
Sosok tokoh yang memenuhi seluruhnya atau sebgaian besar dari ciri-ciri itu dalam kisahnya, memiliki kecenderungan untuk dinobatkan menjadi hero. Setidaknya bisa kita temui sejumlah nama, mulai dari Yesus, Musa, Karna, Luke Skywalker, Superman, hingga Harry Potter. Ini menunjukkan bahwa terjadi keberulangan untuk menahbiskan sosok dengan karakter tertentu menjadi hero (oops..jadi ini sebabnya Megawati dan SBY jadi presiden?).
Sampai di sini, kita bisa sampai pada suatu pemikiran bahwa manusia memiliki satu sisi ketergantungan pada sosok dengan kekuatan yang perkasa untuk menyelamatkannya (atau setidaknya bisa diharapkan untuk menyelamatkan). Namun, ada sisi lain yang menarik, yaitu tak adanya fakta bahwa konsep mengenai adanya kekuatan yang lebih perkasa ini datang langsung dari sang kekuatan tersebut. Konsep ini, dengan demikian lebih merupakan suatu yang dimunculkan manusia untuk menandai adanya suatu pencarian, discovery, harapan, persepsi, dan intuisi; yang tak lepas dari sesuatu yang meletakkan manusia pada suatu realitas mistis[3].
Carl Gustav Jung pernah menjelaskan mengenai Imago Dei. Ini adalah imaji mengenai sosok Tuhan yang tertanam dalam jiwa setiap manusia, bahkan mereka yang ateis sekalipun. Mendorong manusia untuk menempatkan entitas tertentu sebagai kekuatan yang berada di atasnya[4]. Inilah salah satu penyebab manusia selalu menempatkan suatu kekuatan yang lebih perkasa sebagai idola. Penempatan yang simbolis dan membuat sosok itu mampu menginspirasi manusia yang menempatkannya. Berarti, hero-hero ini sebenarnya bukan dipasok dari luar, melainkan berasal dari dalam diri manusia, atau lebih tepatnyadari alam nirsadar manusia.
Beberapa waktu lalu, Leonardo Rimba me-reply esei saya “Harry Potter vs Joseph Ratzinger”. Ada salah satu tulisan yang menarik dari Leonardo, yaitu: “Saya bisa melihat diri saya sendiri di dalam seorang Harry Potter, tidakkah Anda?” [5]. Ini menunjukkan bahwa dalam diri manusialah imaji-imaji akan hero atau kekuatan yang perkasa, memmeroleh eksistensinya. Manusia membutuhkan hero-hero itu untuk menginspirasi kehidupannya. Baik tampil dalam agama maumpun novel, hero-hero itu begitu didambakan. Baik hero agama maupun novel, semuanya mitologis dan simbolik serta tak pernah [lagi] hadir dalam kehidupan nyata.
Namun, hero-hero akan selalu bermunculan, di sepanjang jaman dan berbagai tempat berbeda. Karena manusia memang membutuhkan kehadiran mereka. Jika tak ditemui dalam dunia nyata, manusia bisa membuatnya dari kisah-kisah fiksi. Ini karena dunia membutuhkan kehadiran hero sebagai simbol yang membawa spirit akan penyelamatan. Sebuah penyelamatan, berarti sebuah harapan. Ini karena hero-hero itu juga hidup di alam nirsadar kolektif sebagai arketipe dan hanya berganti rupa dalam setipa pemunculannya.
Maka, kontroversi-kontroversi antara hero yang satu dengan yang lain semestinya tak perlu terjadi karena mereka semua berasal dari bayangan arkais yang sama. Bahkan antara Yesus dan Harry Potter pun keduanya sama-sama hero yang berkemampuan menginspirasi. Meributkan masalah magic dalam kisah Harry Potterpun kemudian menjadi tidak relevan. Magic, sama juga dengan hero, adalah hal yang inheren dalam psike manusia. Bahkan anak-anak pertama kali mengenal magic bukan dari novel, tapi dari dongeng, Kitab Suci dan ajaran agama. Di sana anak-anak dipertemukan dengan sejumlah cerita mengenai orang yang berbicara dengan ular, membelah lautan, merubah air menjadi anggur, bercakap-cakap dengan setan, membangkitkan orang dari mati, serta bangkit dari mati dan naik ke surga.
Dalam kefanaannya, manusia sebenarnya sama saja, tak peduli ia Kristen, Katolik, Islam, Tao, Hindu, Budha, atau penggemar Harry Potter; semuanya membutuhkan hadirnya hero-hero itu untuk memaknakan hidupnya, untuk menumbuhkan harapan dalam hidupnya, untuk menjaga agar hidupnya tak terjebak dalam nihilisme. Namun pada akhirnya, bukan hero-hero itu yang menentukan hidup manusia, tak juga Yesus, Muhammad, Budha, atau Harry Potter; melainkan keputusan demi keputusan manusia dalam setiap peristiwa kehidupan yang dijalaninya.
 
So when you feel like hope is gone
Look inside you and be strong
And you'll finally see the truth
That a hero lies in you
 
 


CATATAN-CATATAN:
 
[1] Peneliti; Penulis buku “Mite Harry Potter” (diterbitkan Jalasutra, 2005).
[2] Ada pengertian khusus mengenai hero yang sering saya gunakan dalam esei ini. Kendati kerap dirujuk sebagai terjemahannya, ‘hero’ berbeda dengan ‘pahlawan’. Istilah ‘hero’ berkonotasi pada sosok yang [setidaknya dianggap] berkemampuan menyelamatkan dan menjadi idola/pujaan. (lihat The Last Action Hero? Atau lagu berjudul ‘Hero’) Jika diterjemahkan menjadi pahlawan saya kok merasa ada meaning yang sedikit melenceng. Istilah ‘pahlawan’ cenderung berkonotasi pada orang yang mengorbankan sesuatu dari dirinya untuk kepentingan orang banyak. Jika kita menyebut kata ‘pahlawan’, maka akan segera berasosiasi dengan misalnya: guru, Pangeran Diponegoro, pahlawan revolusi, dan sejenisnya. Agaknya ini terkait dengan cara pandang/konsep mengenai pahlawan itu sendiri yang mungkin berbeda antara Indonesia dan Barat. Sebenarnya saya lebih prefer untuk tetap menggunakan istilah hero. Bagi orang indonesia, melabel Harry Potter dengan pahlawan, mungkin akan melenceng, seperti juga kita tidak dapat mengatakan bahwa Nabi Musa, Yesus, adalah pahlawan.
[3] Audifax; (2005) Mite Harry Potter – Psikosemiotika dan Misteri Simbol di Balik Kisah Harry Potter; Jogjakarta& Bandung: Jalasutra; hal. 210
[4] Carl Gustav Jung; (1989); Memperkenalkan Psikologi Analistis: Pendekatan terhadap Ketaksadaran; saduran G. Cremers; Jakarta:penerbit Gramedia; hal. 147
[5] Leonardo Rimba; (2005) reply pada esei ‘Harry Potter vs Joseph Ratzinger’; online documents: http://groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif/message/3428
 
 
 
 
© Audifax – 13 Desember 2005
 
 
 
Penjelasan lebih lengkap mengenai Harry Potter, ada pada penelitian saya yang telah diterbitkan Penerbit Jalasutra dalam buku berjudul: “Mite Harry Potter – Psikosemiotika dan Misteri Simbol di balik Kisah Harry Potter”, lengkap beserta detil tafsirnya, ikon demi ikon, scene demi scene.
 
Afirmasi, sanggahan, atau Diskusi dengan penulis mengenai penelitian Harry Potter atau esei ini, bisa dilakukan di forum milis Psikologi Transformatif di: www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif.
 
Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. Melalui esei ini pula saya mengundang siapapun yang tertarik untuk berdiskusi dengan saya untuk bergabung di milis psikologi transformatif (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif)
 
 
 


Yahoo! Shopping
Find Great Deals on Holiday Gifts at Yahoo! Shopping
--- End Message ---

Kirim email ke