Rabu, 21 Des 2005
Eks Tapol Bakal Didata Ulang
SIDOARJO - Status eks tahanan politik (eks tapol) sudah lama dihapus. Namun, Pemkab Sidoarjo justru berencana mendata ulang para eks tapol yang tinggal di wilayahnya. Itu tecermin dalam kebijakan pemkab pada draf Arah dan Kebijakan Umum (AKU) APBD 2006.
Di bidang kependudukan, sasaran kebijakan pendapatan dan belanja pemkab adalah tercapainya kualitas penataan administrasi kependudukan. Salah satu indikator dan targetnya adalah inventarisasi penduduk WNA (warga negara asing) dan mantan G 30 S/PKI.
Instansi pelaksananya Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispenduk Capil) serta Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglinmas). "Tapi, kami tidak membidangi pendataan penduduk eks tapol," tandas Kepala Dispenduk Capil Sidoarjo Achmad Sujiyanto kemarin.
Achmad yang berbicara didampingi Kasubdin Kependudukan Agustiningsih menambahkan, dia hanya merencanakan pendataan ulang para WNA di Sidoarjo. "Ini sesuai dengan Permendagri Nomor 28 Tahun 2005 yang mengatur penduduk WNA. Kalau soal eks tapol, itu kewenangan Bakesbanglinmas," tuturnya.
Di bagian lain, sejumlah anggota dewan bersuara keras menentang rencana kebijakan Pemkab Sidoarjo itu. "Status eks tapol kan sudah lama dihapus. Sejak zaman Presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Kok sekarang dibangkitkan lagi," komentar Iswahyudi, anggota FPDIP DPRD Sidoarjo.
"Itu sama saja mengebiri hak-hak warga. Pemkab Sidoarjo sama saja dengan mengabaikan aturan pemerintah," imbuh Iswahyudi dengan nada tinggi.
Nyaris senada, Ketua DPC PDIP Sidoarjo yang juga Ketua Komisi B DPRD Sidoarjo mengatakan, rencana kebijakan pemkab yang tertuang dalam draf AKU APBD 2006 itu tak sesuai dengan visi misi Bupati Win Hendrarso. "Kasihan, mereka (eks tapol G 30 S/PKI, Red) kok terus-terusan dimarginalkan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bakesbanglinmas Sidoarjo Moentiono menjelaskan, yang tertuang dalam draf AKU APBD 2006 itu sebenarnya bukan mendata ulang para eks tapol di Sidoarjo. Melainkan pengarsipan ulang data-data mereka.
"Akan kami berkas lagi, lalu kami masukkan dalam data komputer. Supaya data-data mereka nggak hilang sebelum berkasnya dimusnahkan. Mungkin suatu saat dibutuhkan," bebernya.
Tapi, cukup banyakkah eks tapol di Sidoarjo? "Saya nggak tahu persis jumlahnya. Yang jelas, hampir merata di seluruh desa, ada eks tapolnya. Kalau berkasnya sendiri, ada satu ruangan penuh," ujarnya. (sat)
***
Di bidang kependudukan, sasaran kebijakan pendapatan dan belanja pemkab adalah tercapainya kualitas penataan administrasi kependudukan. Salah satu indikator dan targetnya adalah inventarisasi penduduk WNA (warga negara asing) dan mantan G 30 S/PKI.
Instansi pelaksananya Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispenduk Capil) serta Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanglinmas). "Tapi, kami tidak membidangi pendataan penduduk eks tapol," tandas Kepala Dispenduk Capil Sidoarjo Achmad Sujiyanto kemarin.
Achmad yang berbicara didampingi Kasubdin Kependudukan Agustiningsih menambahkan, dia hanya merencanakan pendataan ulang para WNA di Sidoarjo. "Ini sesuai dengan Permendagri Nomor 28 Tahun 2005 yang mengatur penduduk WNA. Kalau soal eks tapol, itu kewenangan Bakesbanglinmas," tuturnya.
Di bagian lain, sejumlah anggota dewan bersuara keras menentang rencana kebijakan Pemkab Sidoarjo itu. "Status eks tapol kan sudah lama dihapus. Sejak zaman Presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid). Kok sekarang dibangkitkan lagi," komentar Iswahyudi, anggota FPDIP DPRD Sidoarjo.
"Itu sama saja mengebiri hak-hak warga. Pemkab Sidoarjo sama saja dengan mengabaikan aturan pemerintah," imbuh Iswahyudi dengan nada tinggi.
Nyaris senada, Ketua DPC PDIP Sidoarjo yang juga Ketua Komisi B DPRD Sidoarjo mengatakan, rencana kebijakan pemkab yang tertuang dalam draf AKU APBD 2006 itu tak sesuai dengan visi misi Bupati Win Hendrarso. "Kasihan, mereka (eks tapol G 30 S/PKI, Red) kok terus-terusan dimarginalkan," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bakesbanglinmas Sidoarjo Moentiono menjelaskan, yang tertuang dalam draf AKU APBD 2006 itu sebenarnya bukan mendata ulang para eks tapol di Sidoarjo. Melainkan pengarsipan ulang data-data mereka.
"Akan kami berkas lagi, lalu kami masukkan dalam data komputer. Supaya data-data mereka nggak hilang sebelum berkasnya dimusnahkan. Mungkin suatu saat dibutuhkan," bebernya.
Tapi, cukup banyakkah eks tapol di Sidoarjo? "Saya nggak tahu persis jumlahnya. Yang jelas, hampir merata di seluruh desa, ada eks tapolnya. Kalau berkasnya sendiri, ada satu ruangan penuh," ujarnya. (sat)
***
Selasa, 13 Des 2005
Hari HAM Internasional di Mata Keluarga Wiji Tukul
Hari HAM Internasional di Mata Keluarga Wiji Tukul
Hibur Diri, dengan Ajari Anaknya Tentang HAM
Beban Sujirah alias Sipon --istri aktivis Wiji Tukul-- semakin berat, seiring makin dewasanya anak-anak mereka. Tapi, darah keturunan aktivis hak asazi manusia (HAM) yang mulai mengalir ke anaknya, bisa menghibur dia.
ACHMAD HUSSAIN, Solo
----
Menjadi ibu sekaligus ayah jelas bukan beban enteng bagi seorang wanita sederhana seperti Sipon. Tidak semua wanita bisa malakoninya. Tapi, istri Wiji Tukul ini begitu tegar seperti puisi-puisi yang dibacakan Tukul, saat "memberontak" terhadap ketidakadilan kekuasaan.
Kabar Tukul masih hidup dan menggelandang di Depok, DKI Jakarta, sempat membuat shock keluarga. Tapi, toh hidup harus tetap berjalan. "Anak saya yang SD kadang-kadang sampai demam kalau mulai bertanya soal bapaknya. Namun, sudahlah. Semua saya lakoni dengan sabar," ujar Sipon.
Ibu dari Fitri Nganti Wani yang siswi SMA dan Fajar Merah yang masih duduk di bangku SD ini berujar merasakan berat menjalani hidupnya saat ini. Apalagi, dia hanya punya keahlian menjahit pakaian. Pelanggan yang menjahitkan pakaian kepadanya tidak pernah tetap apalagi teratur, dari tahun ke tahun.
Terlebih, setelah harga bahan baker minyak (BBM) naik, pelanggannya makin berkurang. KEndati demikian, sesuai didikan suaminya, dia tak mau menggantungkan hidup pada orang lain. Kenyataannya, tegas dia, dengan modal iman dan sabar semua bias berjalan. Meski kadang Sipon harus gali lobang tutup lobang.
Tak hanya anak lelakinya yang duduk di SD yang kadang demam, Fitri yang sudah beranjak dewasa terkadang juga sedih mengingat Tukul. Apalagi, saat ini pelajaran HAM digalakkan di sekolah. Di saat itulah Fitri selalu teringat Tukul.
Dasar Sipon, sebagai aktivis HAM dia tidak bisa melupakan wacana itu dalam kehidupan kesehariannya. Di tengah beratnya beban hidup, dia masih mencoba memberikan pemahaman kepada kedua keturunannya soal HAM.
Untuk menghibur anak-anaknya, kadang dia berdiskusi soal HAM di rumah. Tujuan dia, anak-anaknya paham akan apa yang diperjuangkan sang ayah. Menurut wanita, yang juga menulis puluhan judul puisi ini, bakat seni dan kekritisan Tukul mulai menurun kepada Fitri. Anak sulungnya itu dikenal mahir membaca puisi.
Apa Sipon berharap Fitri dan Fajar akan meniru ayahnya yang kritis? Sipon mengaku tak memaksa anak. Dia memberikan kebebasan berekspresi pada anak-anaknya, sesuai keinginan mereka.
Yang penting, Sipon masih terus berusaha mengetahui kepastian nasib suaminya. Walaupun terkadang Sipon berusaha mulai mengurangi segala sesuatu yang membuatnya mudah teringat masa lalu. Misalnya, saat koran ini bertanya soal lukisan sosok Tukul berukuran 40 kali 30 centimeter di dinding, Sipon pun enggan berkomentar soal lukisan ini.
Matanya malah menerawang ke lukisan kanvas, bergambar seorang pria berkaos putih dan berambut sedikit gondrong itu. "Saat menggelar acara doa kecil-kecilan bagi Tukul 23 oktober lalu, sebenarnya mau saya turunkan (lukisan itu). Tapi belum sempat," ujar mantan anggota teater Jagat ini sembari beringsut mendekati lukisan itu.
Acara doa itu memang diadakan untuk mendoakan Tukul, dimanapun dia berada. Tapi, jika dia melihat lukisan itu, teringat lah banyak cerita soal suaminya. Termasuk, saat-saat Tukul baru saja ditinggal pergi menghilang suaminya.
Seperti, sepeninggal Tukul dia juga pernah diinterogasi tentara untuk ditanya ihwal keberadaan Tukul. Padahal dia mengaku tidak tahu benar. Yang diingatnya dari Tukul hanya satu. Tukul terakhir berkata bahwa dia akan kembali jika Indonesia sudah aman. Padahal, menurutnya Sipon, Indonesia belum aman. Itu terjadi selama para pelanggar HAM tak jelas pengusutannya. Buktinya, aktivis Kontras Munir juga tewas.
Kendati demikian, di tengah keputusasaan akan nasib suaminya Sipon mengaku memaafkan siapapun orang yang "menghilangkan" Wiji Tukul. Pendiri Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) ini hanya meminta semua pelanggaran HAM diusut dan dihentikan. "Kalau memang Tukul diculik, saya akan memaafkan. Tidak ada gunanya balas dendam. Tapi tolong akui (kalau Tukul diculik oleh siapapun)," ucap lirih keluar dari mulut Sipon.
Wanita yang mengaku tak akan berpolitik --meski pernah ditawari untuk masuk partai politik-- tidak akan mendendam. Di tengah kesibukannya menjahit, Sipon masih menyisakan waktu melatih teater, untuk menutupi kegalauannya jika mengingat Tukul.(*)
Beban Sujirah alias Sipon --istri aktivis Wiji Tukul-- semakin berat, seiring makin dewasanya anak-anak mereka. Tapi, darah keturunan aktivis hak asazi manusia (HAM) yang mulai mengalir ke anaknya, bisa menghibur dia.
ACHMAD HUSSAIN, Solo
----
Menjadi ibu sekaligus ayah jelas bukan beban enteng bagi seorang wanita sederhana seperti Sipon. Tidak semua wanita bisa malakoninya. Tapi, istri Wiji Tukul ini begitu tegar seperti puisi-puisi yang dibacakan Tukul, saat "memberontak" terhadap ketidakadilan kekuasaan.
Kabar Tukul masih hidup dan menggelandang di Depok, DKI Jakarta, sempat membuat shock keluarga. Tapi, toh hidup harus tetap berjalan. "Anak saya yang SD kadang-kadang sampai demam kalau mulai bertanya soal bapaknya. Namun, sudahlah. Semua saya lakoni dengan sabar," ujar Sipon.
Ibu dari Fitri Nganti Wani yang siswi SMA dan Fajar Merah yang masih duduk di bangku SD ini berujar merasakan berat menjalani hidupnya saat ini. Apalagi, dia hanya punya keahlian menjahit pakaian. Pelanggan yang menjahitkan pakaian kepadanya tidak pernah tetap apalagi teratur, dari tahun ke tahun.
Terlebih, setelah harga bahan baker minyak (BBM) naik, pelanggannya makin berkurang. KEndati demikian, sesuai didikan suaminya, dia tak mau menggantungkan hidup pada orang lain. Kenyataannya, tegas dia, dengan modal iman dan sabar semua bias berjalan. Meski kadang Sipon harus gali lobang tutup lobang.
Tak hanya anak lelakinya yang duduk di SD yang kadang demam, Fitri yang sudah beranjak dewasa terkadang juga sedih mengingat Tukul. Apalagi, saat ini pelajaran HAM digalakkan di sekolah. Di saat itulah Fitri selalu teringat Tukul.
Dasar Sipon, sebagai aktivis HAM dia tidak bisa melupakan wacana itu dalam kehidupan kesehariannya. Di tengah beratnya beban hidup, dia masih mencoba memberikan pemahaman kepada kedua keturunannya soal HAM.
Untuk menghibur anak-anaknya, kadang dia berdiskusi soal HAM di rumah. Tujuan dia, anak-anaknya paham akan apa yang diperjuangkan sang ayah. Menurut wanita, yang juga menulis puluhan judul puisi ini, bakat seni dan kekritisan Tukul mulai menurun kepada Fitri. Anak sulungnya itu dikenal mahir membaca puisi.
Apa Sipon berharap Fitri dan Fajar akan meniru ayahnya yang kritis? Sipon mengaku tak memaksa anak. Dia memberikan kebebasan berekspresi pada anak-anaknya, sesuai keinginan mereka.
Yang penting, Sipon masih terus berusaha mengetahui kepastian nasib suaminya. Walaupun terkadang Sipon berusaha mulai mengurangi segala sesuatu yang membuatnya mudah teringat masa lalu. Misalnya, saat koran ini bertanya soal lukisan sosok Tukul berukuran 40 kali 30 centimeter di dinding, Sipon pun enggan berkomentar soal lukisan ini.
Matanya malah menerawang ke lukisan kanvas, bergambar seorang pria berkaos putih dan berambut sedikit gondrong itu. "Saat menggelar acara doa kecil-kecilan bagi Tukul 23 oktober lalu, sebenarnya mau saya turunkan (lukisan itu). Tapi belum sempat," ujar mantan anggota teater Jagat ini sembari beringsut mendekati lukisan itu.
Acara doa itu memang diadakan untuk mendoakan Tukul, dimanapun dia berada. Tapi, jika dia melihat lukisan itu, teringat lah banyak cerita soal suaminya. Termasuk, saat-saat Tukul baru saja ditinggal pergi menghilang suaminya.
Seperti, sepeninggal Tukul dia juga pernah diinterogasi tentara untuk ditanya ihwal keberadaan Tukul. Padahal dia mengaku tidak tahu benar. Yang diingatnya dari Tukul hanya satu. Tukul terakhir berkata bahwa dia akan kembali jika Indonesia sudah aman. Padahal, menurutnya Sipon, Indonesia belum aman. Itu terjadi selama para pelanggar HAM tak jelas pengusutannya. Buktinya, aktivis Kontras Munir juga tewas.
Kendati demikian, di tengah keputusasaan akan nasib suaminya Sipon mengaku memaafkan siapapun orang yang "menghilangkan" Wiji Tukul. Pendiri Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) ini hanya meminta semua pelanggaran HAM diusut dan dihentikan. "Kalau memang Tukul diculik, saya akan memaafkan. Tidak ada gunanya balas dendam. Tapi tolong akui (kalau Tukul diculik oleh siapapun)," ucap lirih keluar dari mulut Sipon.
Wanita yang mengaku tak akan berpolitik --meski pernah ditawari untuk masuk partai politik-- tidak akan mendendam. Di tengah kesibukannya menjahit, Sipon masih menyisakan waktu melatih teater, untuk menutupi kegalauannya jika mengingat Tukul.(*)
Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
Yahoo! for Good - Make a difference this year.
JAKER(Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat)
***************************************
sekretariat:
JL.Tebet Timur Dalam IID No.10 Jakarta Selatan 12820 Indonesia
telp/fax: +62218292842
email:<[EMAIL PROTECTED]>
People's Cultural Network
"Semua orang adalah seniman,setiap tempat adalah panggung!"
YAHOO! GROUPS LINKS
- Visit your group "jaker" on the web.
- To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
- Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

