Minggu, 03 April 2005

Membuka Tabir Hati

Oleh : KH Didin Hafidhuddin

Berbagai musibah dahsyat terus menerus menerpa, menimpa, dan menerjang masyarakat dan bangsa kita. Baru saja tanggal 26 Maret 2005 dijadikan hari akhir tahapan emergency bagi korban gempa bumi dan badai tsunami, khususnya di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), kita dikejutkan pula oleh gempa bumi yang berkekuatan di atas 8,2 Skala Richter. Musibah tersebut terjadi pada hari Senin tanggal 28 Maret 2005 dan menghancurkan kota-kota di Pulau Nias (Sumatra Utara) dan Simeuleu (NAD). Ribuan korban penduduk meninggal dunia, ribuan pula yang menderita luka-luka berat maupun ringan, rumah-rumah, dan bangunan lainnya hancur dan rata dengan tanah. Diduga gempa susulan akan terjadi, bahkan peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dany Hilman Natawijaya, (Republika, 31 Maret 2005), yakin gempa dahsyat berikutnya akan menimpa kepulauan Mentawai, disusul pula gelombang tsunami yang sangat dahsyat.

Kita semua berlindung kepada Allah SWT, mudah-mudahan musibah ini tidak berkembang menjadi azab dan siksa-Nya yang menimpa masyarakat dan bangsa kita. Sebab, jika sudah menjadi azab, maka akan menimpa siapa pun juga, apakah orang yang baik ataukah orang jahat. Perhatikan firman-Nya dalam surat Al-Anfaal ayat 25: "Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang yang zahalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya." Hanya saja ujung dan akibat dari azab itu yang berbeda. Bagi orang yang beriman dan beramal saleh, akan membersihkan segala dosa dan kesalahannya, dan jika meninggal dunia maka akan mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya. Sedangkan bagi orang jahat dan tidak beriman, maka akan menjadi azab dan malapetaka yang kekal dan abadi. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Kematian mendadak (sakit atau terkena musibah) bagi orang yang beriman merupakan istirahat abadi, sedangkan bagi orang yang kafir merupakan sebuah penyesalan yang abadi pula."

Suasana Batin
Suasana batin yang perlu kita bangun bersama sekarang adalah kekhawatiran hal itu akan menjadi sebuah kenyataan, musibah menjadi azab yang datang tanpa diduga dan terduga sebelumnya. Suasana itu dibangun antara lain dengan cara bertaubat, beristighfar, menyadari dan memperbaiki berbagai kekeliruan dan kesalahan, serta terus menerus meningkatkan amal saleh bagi kepentingan masyarakat dan bangsa, sekarang maupun di masa mendatang. Perhatikan firman-Nya dalam QS AL A'raaf ayat 97, 98, dan 99: "Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang yang merugi."

Tabir dan penutup hati dibuka
Dari pengalaman sejarah, seperti diungkapkan dalam ayat Alquran dan secara emperik, kita sering melihat dan merasakan, betapa banyak orang (para pemimpin, pejabat, para tokoh, maupun masyarakat biasa) yang seolah-olah tertutup mata hatinya, tidak terlihat adanya "sense of crisis" maupun "sense of musibah". Hatinya tidak bergeming, tetap dalam kecongkakan dan kesombongan kepada Allah SWT dengan melakukan berbagai perbuatan maksiat. Kezaliman dan perbuatan aniaya kepada sesama manusia tetap saja berlangsung. Perbuatan korupsi dan mengambil kesempatan dalam kesempitan terus saja terjadi. Bantuan dan sumbangan dari berbagai pihak, sengaja diselewengkan untuk kepentingan pribadinya. Berbagai stasiun televisi terus saja memunculkan secara vulgar acara hura-hura yang sama sekali tidak mencerminkan keprihatinan bahkan justru sebaliknya, seolah-olah bangsa kita tidak sedang mengalami musibah. Sebagian elite partai politik terus saja asyik masyuk dengan urusan internalnya, yang kadangkala dibumbui dengan berbagai kemelut dan pertengkaran.

Karena itu tabir dan katup hati harus segera dibuka, agar kepekaan tumbuh dan berkembang. Bezikir, bertasbih, merenung, dan melihat berbagai fenomena alam dan sosial yang terjadi, serta memberikan pertolongan dan bantuan bagi yang tertimpa musibah, merupakan bagian penting dari upaya membuka katup dan tabirnya. Jika tidak, memang hati kita benar-benar tertutup dan buta, sebagaimana dinyatakan Allah SWT dalam QS Al Hajj ayat 46:"Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang ada di dalam dada."

Hati yang buta tidak mampu melihat berbagai ayat Allah SWT akan berkembang menjadi hati yang keras dan sombong, serta berbagai penyakit turunan lainya, yang semuanya akan menghancurkan amal perbuatan baik yang pernah dilakukan. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Daelami dari 'Addi bin Hatim, Rasulullah bersabda: "Terdapat enam sifat buruk yang akan menghancurkan amal perbuatan baik: Terlalu sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, keras kepala dan hati yang sombong, cinta dunia, memiliki sedikit rasa malu, terlalu panjang dan tinggi angan-angan, dan terus menerus berlaku zalim kepada orang lain." Dengan sebuah ilustrasi yang menarik, Alquran menggambarkan hati yang buta tersebut dengan batu yang keras, bahkan lebih keras dari padanya, hal ini sebagaimana diungkap dalam surat Al Baqoroh ayat 74: "Kemudian setelah itu hati kalian menjadi kasar dan keras seperti batu, bahlan lebih keras lagi. Karena sesungguhnya di antara batu itu ada yang mengalirkan air sehingga menjadi sungai. Dan di antaranya sungguh ada yang terbelah, lalu keluar dari belahannya mata air. Dan di antaranya pula sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kalian kerjakan."

Semoga hati, pendengaran, dan penglihatan kita semua tetap terbuka dan terjaga, agar berbagai peristiwa tersebut dapat meningkatkan kualitas iman dan amal saleh, dan kita semua dijauhkan dari malapetaka dan azab Allah SWT.


Kirim email ke