Ass.Wr.Wb.
Jamaah,
Artikel di bawah ini cocok nggak ya buat dipasang di Mading Ar-Royyan?
Tapi, ada yang tersinggung nggak ya, kalau ya bakal berabe deh.
Padahal maksudnya itu baik. Isinya juga cukup bagus!

Wass / Jaerony.-

----- Original Message -----
From: "Admin Jilbab Online" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Tuesday, May 03, 2005 3:48 PM
Subject: [assunnah] ::Kisah:: Jeritan seorang Perawan Tua


JERITAN SEORANG PERAWAN TUA

 Fenomena bertambahnya jumlah wanita yang terlambat menikah (perawan tua) >
menjadi satu perkara yang menakutkan saat ini, mengancam kebanyakan
pemudi-pemudi di masyarakat kita yang Islami, bahkan di seluruh dunia.
Berikut ini marilah kita mendengarkan salah satu jeritan mereka :

Majalah Al-Usrah edisi 80 Dzulqa'dah 1420 H menuliskan jeritan seorang
perawan tua dari Madinah Munawaroh,"Semula saya sangat bimbang sebelum
menulis untuk kalian karena ketakutan terhadap kaum wanita karena saya tahu
bahwasanya mereka akan mengatakan bahwa aku ini sudah gila, atau kesurupan.
Akan tetapi, realita yang aku alami dan dialami pula oleh
sejumlah besar perawan-perawan tua, yang tidak seorang pun mengetahuinya,
membuatku memberanikan diri. Saya akan menuliskan kisahku ini dengan
ringkas.

Ketika umurku mulai mendekati 20 tahun, saya seperti gadis lainnya
memimpikan seorang pemuda yang multazim dan berakhlak mulia. Dahulu saya
membangun pemikiran serta harapan-harapan; bagaimana kami hidup nanti dan
bagaimana kami mendidik anak-anak kami... dan.. dan...

Saya adalah salah seorang yang sangat memerangi ta'adud (poligami). Hanya
semata mendengar orang berkata kepadaku, "Fulan menikah lagi yang kedua",
tanpa sadar saya mendoakan agar ia celaka. Saya berkata, "Kalau saya adalah
istrinya -yang pertama- pastilah saya akan mencampakkannya, sebagaimana ia
telah mencampakkanku'. Saya sering berdiskusi dengan
saudaraku dan terkadang dengan pamanku mengenai masalah ta'addud. Mereka
berusaha agar saya mau menerima ta'addud, sementara saya tetap keras kepala
tidak mau menerima syari'at ta'addud. Saya katakan kepada mereka, 'Mustahil
wanita lain akan bersama denganku mendampingi suamiku". Terkadang saya
menjadi penyebab munculnya problema-problema antara
suami-istri karena ia ingin memadu istri pertamanya; saya menghasutnya
sehingga ia melawan kepada suaminya.

Begitulah, hari terus berlalu sedangkan aku masih menanti pemuda impianku.
Saya menanti... akan tetapi ia belum juga datang dan saya masih terus
menanti. Hampir 30 tahun umurku dalam penantian. Telah lewat 30 tahun... oh
Illahi, apa yang harus kuperbuat? Apakah saya harus keluar untuk mencari
pengantin laki-laki? Saya tidak sanggup, orang-orang akan berkata wanita ini
tidak punya malu. Jadi, apa yang akan saya kerjakan? Tidak ada yang bisa
saya perbuat, selain dari menunggu.

Pada suatu hari ketika saya sedang duduk-duduk, saya mendengar salah seorang
dari wanita berkata, 'Fulanah jadi perawan tua". Aku berkata kepada diriku
sendiri, "Kasihan Fulanah jadi perawan tua", akan tetapi... fulanah yang
dimaksud itu ternyata aku. Ya Illahi! Sesungguhnya itu adalah namaku... saya
telah menjadi perawan tua. Bagaimanapun saya melukiskannya kepada kalian,
kalian tidak akan bisa merasakannya. Saya dihadapkan pada sebuah kenyataan
sebagai perawan tua. Saya mulai mengulang kembali perhitungan-perhitunganku,
apa yang saya kerjakan?

Waktu terus berlalu, hari silih berganti, dan saya ingin menjerit. Saya
ingin seorang suami, seorang laki-laki tempat saya bernaung di bawah
naungannya, membantuku menyelesaikan problema-problemaku... Saudaraku yang
laki-laki memang tidak melalaikanku sedikit pun, tetapi dia bukan seperti
seorang suami. Saya ingin hidup; ingin melahirkan, dan menikmati kehidupan.
Akan tetapi, saya tidak sanggup mengucapkan perkataan ini kepada kaum
laki-laki. Mereka akan mengatakan, "Wanita ini tidak malu". Tidak ada yang
bisa saya lakukan selain daripada diam. Saya tertawa... akan tetapi bukan
dari hatiku. Apakah kalian ingin saya tertawa, sedangkan tanganku
menggenggam bara api? Saya tidak sanggup...

Suatu hari, saudaraku yang paling besar mendatangiku dan berkata, "Hari ini
telah datang calon pengantin, tapi saya menolaknya..." Tanpa terasa saya
berkata, "Kenapa kamu lakukan? Itu tidak boleh!" Ia berkata kepadaku,
"Dikarenakan ia menginginkanmu sebagai istri kedua, dan saya tahu kalau kamu
sangat memerangi ta'addud (poligami)". Hampir saja saya
berteriak di hadapannya, "Kenapa kamu tidak menyetujuinya?" Saya rela
menjadi istri kedua, atau ketiga, atau keempat... Kedua tanganku di dalam
api. Saya setuju, ya saya yang dulu memerangi ta'addud, sekarang
menerimanya. Saudaraku berkata, "Sudah terlambat"

Sekarang saya mengetahui hikmah dalam ta'addud. Satu hikmah ini telah
membuatku menerima, bagaimana dengan hikmah-hikmah yang lain? Ya ALlah,
ampunilah dosaku. Sesungguhnya saya dahulu tidak mengetahui. Kata-kata ini
saya tujukan untuk kaum laki-laki, "Berta'addud-lah, nikahilah satu, dua,
tiga, atau empat dengan syarat mampu dan adil. Saya ingatkan kalian dengan
firman-Nya, "... Maka nikahilah olehmu apa yang baik bagimu dari wanita,
dua, atau tiga, atau empat, maka jika kalian takut tidak mampu berlaku adil,
maka satu..." Selamatkanlah kami. Kami adalah manusia seperti kalian,
merasakan juga kepedihan. Tutupilah kami, kasihanilah kami."

Dan kata-kata berikut saya tujukan kepada saudariku muslimah yang telah
bersuami, "Syukurilah nikmat ini karena kamu tidak merasakan panasnya api
menjadi perawan tua. Saya harap kamu tidak marah apabila suamimu ingin
menikah lagi dengan wanita lain. Janganlah kamu mencegahnya, akan tetapi
doronglah ia. Saya tahu bahwa ini sangat berat atasmu. Akan tetapi,
harapkanlah pahala di sisi ALlah. Lihatlah keadaan suadarimu yang menjadi
perawan tua, wanita yang dicerai, dan janda yang ditinggal mati; siapa yang
akan mengayomi mereka? Anggaplah ia saudarimu, kamu pasti akan mendapatkan
pahala yang sangat besar dengan kesabaranmu"

Engkau mungkin mengatakan kepadaku, "Akan datang seorang bujangan yang akan
menikahinya". Saya katakan kepadamu, "Lihatlah sensus penduduk. Sesungguhnya
jumlah wanita lebih banyak daripada laki-laki. Jika setiap laki-laki menikah
dengan satu wanita, niscaya banyak dari wanita-wanita kita yang menjadi
perawan tua. Jangan hanya memikirkan diri sendiri saja. Akan tetapi,
pikirkan juga saudarimu. Anggaplah dirimu berada dalam posisinya".

Engkau mungkin juga mengatakan, "Semua itu tidak penting bagiku, yang
penting suamiku tidak menikah lagi." Saya katakan kepadamu, "Tangan yang
berada di air tidak seperti tangan yang berada di bara api. Ini mungkin
terjadi. Jika suamimu menikah lagi dengan wanita lain, ketahuilah bahwasanya
dunia ini adalah fana, akhiratlah yang kekal. Janganlah kamu
egois, dan janganlah kamu halangi saudarimu dari nikmat ini. Tidak akan
sempurna keimanan seseorang sehingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang
ia cintai untuk dirinya sendiri". (1)

Demi ALlah, kalau kamu merasakan api menjadi perawan tua, kemudian kamu
menikah, kamu pasti akan berkata kepada suamimu "Menikahlah dengan saudariku
dan jagalah ia". Ya ALlah, sesungguhnya kami memohon kepadamu kemuliaan,
kesucian, dan suami yang shalih"

A.A.N -Madinah

 1. HR. Bukhari dalam kitan Iman no 13 dan Muslim no 45.

 Disalin oleh Jilbab Online dari buku "Istriku Menikahkanku", As-Sayid
bin Abdul Aziz As-Sa'dani, Darul Falah, cet. Agustus 2004

:=:=:=:=:=:=:=:=:=:=:=:=:
JILBAB ONLINE
 Portal Muslimah Indonesia
(http://www.jilbab.or.id)



--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke