|
TUBUHNYA tinggi
gempal. Sutrisno namanya. Seperti anak muda lain di desanya, sang pemuda itu
ngiler ilmu kadigdayaan. Tidak mempan ditebas pedang dan tidak tembus
oleh peluru. Ia berkelana, berguru dari satu guru ke guru lain. Targetnya,
mempertebal ilmu kekebalan.
Niat Sutrisno kesampaian. Dengan ilmu kekebalannya, Sutrisno melakoni episode hidup "mursal", malang melintang di dunia hitam dan jauh dari nilai-nilai agama. Namun, tanpa sebab yang jelas, Sutrisno tiba-tiba saja mengidap sakit kepala nan sangat. "Saya sangat menderita," Sutrisno mengeluh sembari memegangi kepalanya. Dari para dukun yang didatangi, ia harus menjalani praktek-praktek leluhur, termasuk minum air got. Tapi dukun-dukun itu angkat tangan. Sutrisno berniat bunuh diri dengan menenggak racun serangga. "Sutrisno, kau bisa mengakhiri deritamu di dunia. Tapi itu cuma menambah penderitaan di akhirat. Kembalilah ke jalan yang benar." Suara itu akrab di telinga Sutrisno. Ia ingat sosok kiai di padepokan di kaki Gunung Muria, tempat ia pernah singgah. Lewat pertolongan seorang ustad, Sutrisno menjalani penyembuhan sesuai syariat: ruqyah --mengusir jin dan setan dengan membaca ayat-ayat Al-Quran dan hadis. "Allahumma anta robbi. La ilaha ila anta... (Ya Allah Engkau Tuhanku. Tiada Tuhan selain Engkau)," kalimat itu mengalir dari mulut sang ustad yang berjenggot. Sejurus kemudian, "Saya sembuh," kata Sutrisno, riang. Sejak itu, bersama sang istri, ia hidup "normal" seperti manusia lain. Kisah Sutrisno yang kembali ke jalan yang benar itu merupakan satu episode sinetron Astaghfirullah berjudul ''Ilmu Leluhur Bikin Sengsara''. Tayang di SCTV saban Senin pukul 20.30, sinetron bernuansa religius ini diproduksi oleh Sinemart. Menurut sang sutradara, Chaerul Umam, metode penyembuhan ala ruqyah sengaja diangkat untuk menghindarkan diri dari gangguan yang gaib, seperti santet, jin, dan gendam. Pesannya, kata Chaerul, agar masyarakat paham bahwa ada penyembuhan yang sesuai syariat Islam. Ini sekaligus sebagai bentuk kritik terhadap berbagai praktek pengobatan alternatif dengan memakai bantuan jin. Dengan melihat Astaghfirullah, ia berharap arah penyembuhan masyarakat jadi benar. "Bukan malah lari ke dukun," tutur Chaerul. Astaghfirullah hanyalah satu dari puluhan sinetron religius yang bertaburan di stasiun-stasiun televisi partikelir. Sinetron jenis ini mulai booming sejak Maret lalu. Toh, menurut Chaerul, ide pembuatan sinetron semacam ini sudah ada satu setengah tahun lalu. Saat itu, oleh seorang ustad, ia dikenalkan dengan kisah-kisah nyata manusia mencari penyembuhan diri di majalah Ghoib. "Ini menarik diangkat jadi sinetron," katanya. Ide itu pun ditawarkan ke sejumlah produser. Gayung tidak bersambut. "Ya, sudah," keluhnya. Ide itu terpendam tak terwujudkan. Sampai suatu ketika ia dipanggil Sinemart. Rumah produksi ini, kata Chaerul, memerlukan cerita-cerita sinetron religius seperti yang ada di stasiun TPI, yaitu Rahasia Ilahi. Ide lama pun digali dari kubur. Bangkitnya sinetron bernuansa religius diawali oleh keberhasilan TPI dengan sinetron Rahasia Ilahi-nya, Ramadan lalu. Sinetron ini hasil kerja bareng rumah produksi Kusuma Esa Permata Media dengan majalah Hidayah. Kisah-kisah religius berbalut mistik di majalah ini divisualkan ke layar kaca. Pada bagian akhir, dimunculkan Ustad Arifin Ilham dengan pesan-pesan religiusnya. Rahasia Ilahi kemudian dilanjutkan jadi program serial mingguan pada hari-hari biasa. Alasannya, tayangan ini di bulan puasa itu dinilai cukup berhasil. Di luar dugaan, serial lepas mingguan yang nongol setiap Senin malam itu ternyata membetot minat pemirsa. Bahkan Rahasia Ilahi melesat ke puncak, menggeser tayangan sinetron di televisi lain. Sejak pertengahan Maret hingga April, Rahasia Ilahi ditonton 40%-50% pemirsa. Rating-nya 14-15. Saat Rahasia Ilahi berada di puncak, masih bersama Kusuma Esa Permata Media, TPI meluncurkan Takdir Ilahi. Persis saudara tuanya, baru dua bulan tayang, sinetron ini melesat pula. Maklum, format tayangan keduanya hampir sama. Di bagian akhir ada filler yang diisi seorang ustad untuk menunjukkan hikmah cerita sinetron. Bedanya, kisah di Takdir Ilahi digali dari hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Menimbang selera pemirsa yang sedang tergila-gila pada sinetron religius, televisi lain beramai-ramai "menjiplak" Rahasia Ilahi. SCTV mengusung Astaghfirullah dan Kuasa Ilahi, TransTV meluncurkan Taubat, Lativi membuat Azab Ilahi, dan RCTI menayangkan Tuhan Ada di Mana-mana. Formatnya tidak jauh beda, yakni diangkat dari kisah nyata di media massa atau kiriman pengalaman seseorang. Bahkan jam tayangnya bersamaan. Bedanya pada pemain dan ustad. Astaghfirullah, misalnya, mengusung Ustad Jefry Al-Buchori dan pemain populer seperti Maudy Koesnaedi dan Krisna Mukti. Khudori, Alfian, dan Ajeng Ritzki Pitakasari [Televisi, Gatra Nomor 31 Beredar Senin, 13 Juni 2005 |

