----- Original Message ----- 
From: "Muhammad Andres Irawan" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Saturday, October 01, 2005 7:36 PM

Akhirnya diterapkan sudah, kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga
BBM per 1 oktober 2005
pemerintah beranggapan harga minyak dunia yang fluktuatif menyebabkan
beban subsidi yang harus ditanggung negara lewat APBN mengalami
lonjakan besar, yang mana akhirnya mau tidak mau pemerintah mencabut
subsidi dari BBM yang digunakan oleh masyarakat

Dengan janji pemberian dana kompensasi BBM kepada masyarakat sebesar
1,2 juta setahun yang diberikan sebesar 300ribu rupiah per 3 bulan
selama 4 kali  maka pemerintah berharap dapat mengurangi subisidi BBM
yang mereka gembar-gemborkan bahwa subsidi BBM selama ini hanya
dinikmati oleh masyarakat menengah ke atas.

Pemerintah mungkin lupa, bahwa sudah tidak ada lagi golongan menengah
dalam tingkat perekonomian indonesia, yang ada hanyalah kaum kaya yang
semakin kaya dan kaum miskin yang semakin miskin

1,2 juta, sama dengan 100 ribu rupiah perbulan. jika dalam kriteria
pemerintah bahwa yang mendapatkan dana kompensasi adalah mereka yang
mempunyai penghasilan amksimal 175 ribu perbulan, maka dengan tambahan
100 ribu hanyalah menjadi 275 ribu rupiah, masihkah disebut layak?

Dan logika gila pertama SBY-KALLA, dengan menaikkan harga Premium
menjadi 4500 rupiah, sama aja menggantung nasib para masyarakat yang
bergerak di bidang transportasi dan juga menggunakan jasa transportasi.
harga premium tidak jauh beda dengan harga Pertamax yang memang sudah
tidak disubsidi oleh negara sebsar 5000 rupiah. jika saya adalah orang
biasa kaya, maka tentu saja saya akan memakai pertamax untuk mobil
saya, dari pada premium yang boros, bikin mesin cepet rusak karena
pembakaran yang kurang sempurna dibanding pertamax. Analogikan saja,
jika full tanki sebuah mobil adalah 50 liter, maka untuk mengisi
dengan pertamax dibutuhkan uang sejumlah 250 ribu rupiah, sedangkan
dengan premium sebesar 225 rb rupiah. uang sejumlah 25 ribu, selisih
dari harga pertamax dan premium hanya dapat sejumah 5 liter. tentunya
saya sebagai orang kaya, memilih menggunakan pertamax dari pada premium
logika apa lagi yang dipakai oleh pemerintah, ketika harga konsumsi
orang kaya, sama dengan harga yang harus dikonsumsi oleh 90 % lebih
kaum miskin di indonesia? jika memang ingin menyelamatkan negara dari
kemiskinan, bagaimana mungkin masyarakat miskin harus mengkonsumsi
barang yang harganya tidak jauh beda dengan golongan kaya?

logika gila kedua adalah harga minyak tanah yang naik, sekali lagi
adalah hal yang tidak masuk akal, dimana minyak tanah memang digunakan
oleh kaum ibu2 yang (maaf) miskin dan tidak mampu membeli kompor gas.
sedangkan bagi orang kaya, kenaikan minyak tanah, tidak akan
mempengaruhi kehidupannya, karena toh keseharian dia menggunakan
kompor gas dalam memasak.
dengan harga minyak sejumlah 2500 rupiah (tingkat pengecer) yang mana
hanya mampu bertahan satu hari bahkan mungkin kurang, maka dalam satu
bulan, dibutuhkan uang sejumlah 75 ribu. sedangkan dengan menggunakan
kompor gas, kaum kaya cukup mengeluarkan uang sejumlah 61 ribu rupiah
untuk mendapatkan gas sejumlah 15 kg, yang jika dipergunakan hemat,
bisa bertahan sebulan. Lgika yang aneh, jika kompor minyak lebih mahal
biayanya dari pada kompor gas, padahal kompor minyak masih mendominasi
 sebagian besar dari ibu2 RT.

Alibi bagaimana lagi yang akan dilontarkan oleh SBY-Kalla yang selalu
menggembar-gemborkan bahwa dana subsidi BBM hanya banyak dinikmati
golongan kaya jika mereka mau merasakan harus bersusah payah mengantre
minyak tanah di pengecer agar kompor dapat menyala

Dan sekali lagi istighfar yang harus saya ucapkan saat Aburizal Bakrie
yang gak becus menjadi menko ekonomi, mengumumkan bahwa tahun 2006 BBM
akan naik lagi, karena harga sekarang itu untuk premium adalah baru
sebesar 60 persen dari harga dunia, sedangkan harga minyak tanah malah
hanya 40 persen dari harga minyak dunia

Sekali lagi....
SBY KALLA hanya membela kepentingan orang kaya, bukan orang miskin

Mungkin saya frustasi dengan keadaan ini, maklum sekarang kalo pulang
dari 50 ribu rupiah, maka paling nggak saya harus menyiapkan 70 ribu
rupiah sekali jalan untuk pulang ke rumah
tapi sudahlah..
emang dasar presidennya gak becus ngurusin negara, dan DPR nya juga
gak serius ngawasin pemerintahan



--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke