Jumat, 30 September 2005
Selamat
Datang Ramadhan
PKPU Online “Marhaban Ya Ramadhan”, itulah ungkapan yang
kerap kita dengar ketika kaum muslimin akan memasuki bulan Ramadhan. Sebuah
kalimat yang mengekspresikan penyambutan terhadap datangnya bulan Mulia.
Menyongsong Ramadhan 1426 H, yang akan kita masuki dalam hitungan hari saja,
kembali kalimat tersebut digaungkan banyak kalangan, baik di masjid, mushola,
media cetak, televisi, radio, internet, email, bahkan SMS.
Ramadhan,
bulan yang tahun lalu kita lepas kepergiannya dengan linangan air mata, kini
datang kembali kepangkuan, alhamdulillah. Disini, ke khusyu'an serta nuansa
spiritualitas lainnya mencapai puncak. Pengembaraan ruhani menemui hakikatnya
yang paling subur. Akankah kita sia−siakan kesempatan emas ini?
Apapun
bentuk ekspresi Ramadhan, intinya adalah ibadah puasa. Ibadah yang sarat dengan
nilai dan manfaat: jasmani, ruhani, individual dan sosial. Banyak hasil riset
yang telah membuktikan pengaruh positif dari ibadah shaum (puasa) dalam
kehidupan manusia, baik dari aspek kesehatan, pendidikan, psikologi, ekonomi,
maupun sosial.
Dari berbagai manfaat tersebut, pada hakikatnya shaum
(puasa) adalah upaya peningkatan kecerdasan spiritual manusia, dalam membangun
kedekatan kepada Khaliknya. Disinilah semuanya bermula, karena disinilah pokok
segala urusan manusia.
Alangkah luar biasanya makna bulan Ramadhan
sebagai momentum perbaikan diri. Sebab, selama satu bulan penuh umat Islam harus
menahan lapar, dahaga, nafsu syahwat, dan menggantinya dengan melipatgandakan
amal shalih.
Tetapi, alangkah sayangnya jika Ramadhan hanya dipahami
dengan makna yang sempit; sekedar menahan lapar dan haus di siang hari. Terlebih
jika bulan agung ini disikapi sebagai bulan penyucian dosa dalam pengertian
keliru: di 11 bulan lainnya boleh berbuat sesukanya, karena ada Ramadhan, waktu
untuk bersih−bersih.
Lalu bagaimana pengaruh Ramadhan terhadap rutinitas
kita? Rutinitas adalah buah kehidupan dunia. Sedangkan dunia adalah tempat kita
mencari bekal untuk menempuh kehidupan yang lebih abadi di kampung akhirat.
Dengan logika seperti ini, tentunya dapat kita pahami, bahwa hadirnya
Ramadhan tidaklah harus membuat aktivitas rutin kita terganggu. Bahkan dalam
sejarah, peristiwa besar kaum muslimin terjadi di bulan Ramadhan. Dalam konteks
negara, Proklamasi kemerdekaan Indonesia terjadi pula di bulan Ramadhan. Jadi,
Ramadhan adalah bulan prestasi, bulan kemenangan, bukan bulan
bermalas−malasan.
Ramadhan, bukanlah bulan penyusunan menu sahur dan buka
saja. Namun, Ramadhan adalah bulan penyusunan menu ruhani dan amal ibadah. Sudah
waktunya, kita menyusun menu amal shalih dengan kualitas yang lebih baik dari
hari−hari biasa. Menu tersebut harus diracik sedemikian rupa, sehingga minimal
dapat merangkum empat persiapan utama, berupa persiapan fisik (jasadiyah), akal
(aqliyah), spiritual (ruhiyah), dan sosial (silaturahim). Dengan persiapan
tersebut, Insya Allah kita akan dapat meraih kegemilangan di bulan mulia ini.
Semoga. (cecep y. pramana)