Jangan Berlebih Mengonsumsi Makanan

Sisa makanan yang terlalu banyak menimbulkan toksin sebagai sumber penyakit

Ibadah puasa tidak sekadar memindah kebiasaan makan, dari pagi dan siang beralih ke malam hari. Demikian pula saat berbuka puasa atau ketika sahur tiba. Kalangan medis, sebagaimana diungkap dr Sukarliono, menyarankan untuk tidak makan sahur dengan makanan yang berat.

Dokter lulusan Universitas Airlangga tahun 1987 ini berpendapat, lebih baik jangan makan nasi dan lauk, terutama yang berlemak. ''Untuk makan sahur dengan mengonsumsi buah-buahan, susu kedelai, dan kurma secukupnya,'' ujarnya pada Republika, Selasa (4/10). Benarkah buah-buahan memiliki kekuatan untuk menahan lapar dan haus sepanjang hari? Pendapat ahli natural healing ini didasarkan pada kondisi jika makan berlebih, justru akan sia-sia. Bahkan akan membuang energi hingga cepat lelah. Sebab, katanya, aktifitas makan merupakan aktifitas yang melelahkan.

Menurutnya, ada tiga fase yang harus dilewati, mulai dari fisik (mengunyah), kimiawi (diproses menjadi enzim, usus, dan lambung), hingga biologis (sisa makanan). Jika sisa makanan terlalu banyak, ujar Sukarliono, akan menimbulkan toksin yang menjadi sumber penyakit. Begitu pula ketika berpuasa. Jika mengonsumsi makanan berlebih, justru dapat menimbulkan dan kurang bertenaga. Terlebih lagi yang dikunyah sejenis daging yang mengandung lemak dan protein tinggi di pagi hari. Preses pelarutan dalam tubuh akan lebih, dan menimbulkan pengendapan.

Sukarliono menguraikan, dalam siklus pola makan ada tiga unsur, yakni pembersihan, pencernaan, dan penyusunan. Tubuh setelah menerima makanan dari pukul 04.00 - 12.00 atau saatnya makan pagi merupakan unsur pembersihan. Pukul 12.00 - 20.00, yakni pada saat makan siang, adalah saatnya pencernaan bekerja. Dan pukul 20.00-04.00 adalah proses perbaikan sel-sel tubuh. Dia menyarankan, pada hari normal bukan bulan puasa, makan pagi tidak harus melahap nasi dan lauk pauk. Makan pagi itu cukup dengan buah dan susu kedelai. Namun pada saat makan siang, ada unsur nasi dan lauk pauk. ''Sebab fase itu unsur pencernaan yang bekerja. Namun ketika unsur perbaikan bekerja, maka konsumsilah buah.''

Lalu bagaimana dengan bulan puasa? Katanya, unsur pembersihan sekarang lebih panjang terjadi sejak pukul 04.00 - 18.00. Sedang proses kerja pencernaan sangat singkat, yakni pukul 18.00 - 20.00. Sementara usur penyusunan sel-sel tubuh tetap sama, mulai pukul 20.00 - 04.00. ''Makan buah, susu kedelai, dan kurma yang sangat efektif untuk fase pembersihan,'' tambahnya. Dalam unsur buah dan susu kedelai, menurutnya, terkandung berbagai macam zat. Mulai dari nutrisi, asam lemak, vitamin, kalori, hingga mineral. Bahkan jenis ini merupakan makanan yang berserat tinggi. Ditambah dengan kurma yang mengandung gula akan dapat menambah daya tahan tubuh sepanjang berpuasa.

Begitu pula saat berbuka puasa. Perut yang sudah kosong tidak perlu langsung digerojog dengan makanan-makanan berat. Untuk makan permulaan disarankan yang manis-manis, terlebih jika tak ada kurma. Setelahnya, perut dibiarkan beristirahat dengan melakukan ibadah sholat magrib. Baru setelah sholat, lanjutnya, boleh makan nasi dan melahap lauk pauk. Itupun jangan terlalu banyak dan hendaknya menyetop tidak makan hingga pukul 20.00. ''Bila tetap lapar, kembalilah makan buah dan susu segar selama jeda waktu tersebut. Tapi jangan lupa, kalau minum harus sebanyak-banyaknya, karena pasti larut,'' ingat dia.

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=215967&kat_id=164

Kirim email ke