Surat Terbuka Untuk Aa Gym
Publikasi 03/10/2005

hayatulislam.net - Yth KH Abdullah Gymnastiar

Bismillâhirrahmânirrahîm

Assalâmu'alaikum Warahmatullâhi Wabarâkâtuh,

Bagaimana kabarnya Aa? Semoga Aa dan keluarga dalam keadaan sehat wal afiat, 
dan tidak ikut mengantri minyak tanah ataupun premium apalagi pertamax, seperti 
rakyat kebanyakan. 
Aa yang dimuliakan Allah, 

Saya termasuk orang yang sering menikmati ceramah Aa. Di televisi, radio 
ataupun rekamannya. Tulisan-tulisan Aa juga sering saya baca. Ceramah Aa itu 
ringan, enak disimak dan menyejukkan. Sampai-sampai banyak kaum non-muslim yang 
juga ikut mengagumi Aa. Bahkan teman-teman di Jaringan Islam Liberal juga 
menjadikan dakwah Aa sebagai teladan. Kata mereka, dakwah Aa sejuk tidak 
'brangasan' seperti FPI ataupun MUI yang mengeluarkan fatwa yang membakar 
jenggot mereka. Aa memang bisa merangkul banyak kalangan.


Tapi beberapa hari ini saya bingung dengan sikap Aa. Itu terjadi setelah saya 
menyimak sebuah iklan layanan masyarakat (?) tentang BBM -mungkin tepatnya 
layanan pemerintah- yang memakai Aa sebagai narasumber. Di tengah gejolak 
menolak kenaikan harga BBM, Aa meminta rakyat tetap bersabar dan mau berkorban. 
Mungkin Aa mau bercerita behind the scene, apakah naskah yang Aa baca itu 
pesanan pemerintah, atau Aa sendiri memang menyampaikannya dari lubuk hati Aa 
yang paling dalam?

Terus terang iklan itu buat saya jadi tidak menyejukkan. Iklan itu terlalu 
menyederhanakan masalah; apa iya kenaikan BBM cukup dihadapi dengan bersabar? 
Saya percaya Aa juga ikut menyimak dari koran dan televisi ihwal kesusahan 
rakyat akibat kenaikkan BBM. Sebelum BBM naik saja, rakyat sudah menderita. 
Ibu-ibu mengantri berjam-jam hanya untuk bisa membeli 5 liter minyak tanah. 
Tetangga saya, seorang pedagang pecel dan gorengan, harus berkeliling ke 
beberapa RW, menggapai dari pengecer ke pengecer untuk mendapatkan satu jerigen 
saja untuk keperluan dagang. Ketika ada harganya pun sudah 2 ribu rupiah 
perliter. Ia terpaksa membeli, kalau tidak berarti tak ada dagangan dan tak ada 
pemasukan.

Aa yang budiman,

Saya juga percaya Aa tahu bahwa kalau harga BBM naik itu berarti mendongkrak 
harga barang-barang yang lain. Tarif angkutan sudah pasti naik. Tidak 
tanggung-tanggung, ORGANDA minta menaikkan tarifnya 40 persen. Ongkos angkot 
yang jarak dekat, semula Rp 1200,- menjadi Rp 1700,-. Beras, misalnya, sudah 
melejit jauh sebelum pengumuman kenaikan BBM. Belum lagi listrik. Mungkin Aa 
baca kalau tahun depan PLN sudah akan menaikkan tarif listrik secara berkala. 
Itu semua berarti pengeluaran tambahan, sementara pendapatan rakyat belum tentu 
bertambah. Artinya, jumlah orang miskin akan terus bertambah. Seperti kata Pak 
Alwi Shihab, Menko Kesra RI, jumlah orang miskin bertambah 10-15%.

Sementara itu dana kompensasi BBM yang dikucurkan pemerintah Aa tahu sendiri 
kan, gimana jadinya? Sudahlah tak memadai juga tidak menjangkau semua orang 
fakir miskin. Saya bingung, bagaimana satu keluarga bisa hidup dengan tambahan 
uang sebesar 100 ribu rupiah perbulan? Sekedar cerita, ada tetangga saya yang 
benar-benar mengandalkan hidup dari dana kompensasi itu karena suaminya sudah 
tak bekerja lagi. Kalau dihitung-hitung, berarti keluarga itu harus hidup 
dengan uang sebesar 3 ribu rupiah perhari. Itu sama dengan satu kali jatah 
makan saya di warteg yang sederhana. Menunya nasi sepiring, 2 potong tahu, 
sayur, dan 2 potong gorengan. Kalau di Dapur Teteh entah bisa dibelikan apa 
uang sebesar itu.

Aa juga tahu kan anak-anak harus sekolah. Karena muslim tak boleh bodoh dan 
malas. Tapi bagaimana bisa menyekolahkan anaknya kalau uang tak ada? Dana BOS 
dari pemerintah hanya cukup dipakai membayar SPP. Lalu bagaimana dengan seragam 
sekolah, alat-alat tulis, tas, dan buku-buku pelajaran. Itu susah untuk 
terbeli. Aa juga pasti tahu kan kalau para guru rajin betul menjual aneka buku 
pelajaran kepada para murid. Alasannya untuk menambah kesejahteraan mereka.

Belum lagi kalau sakit, A, berat. Memang ada jaminan kesehatan bagi keluarga 
miskin. Tapi bagaimana kalau yang sakit parah, harus opname, obat-obatnya 
mahal. Apakah ada jaminan dari pemerintah? Bagaimana juga kalau yang sakit 
adalah tulang punggung keluarganya, sang ayah? Siapa yang harus mencari nafkah 
dan siapa yang harus menemani sang ayah di rumah sakit?

Saya bersyukur Allah masih berkenan memberi saya kecukupan rizki, sama seperti 
kepada Aa (malah mungkin rizki Aa lebih baik dari saya). Ketika BBM dan segala 
lainnya naik, saya berusaha bersabar dan hidup (makin) berhemat. Tapi buat 
tetangga-tetangga saya yang miskin, mereka bingung A, apa yang mau dihemat?

Maka apa cukup menghadapi kenaikan BBM dengan bersabar, A? Bukankah rakyat 
harus tahu kenapa kita yang katanya kaya minyak kok harus menjual BBM dengan 
harga mahal? Kenapa juga kaya minyak kok harus mengimpor minyak? Dulu sewaktu 
Pertamina kaya raya kok rakyat tidak merasakan sejahtera, ya A? Tapi begitu 
pailit (itu juga katanya) rakyat diajak "bersabar dan berkorban", seperti 
anjuran Aa. 

Kalau kepala kita benjol kejedot pintu bersabar adalah jawabannya. Tapi 
bagaimana kalau benjolnya karena dipukul orang, padahal kita tak bersalah? 
Rasanya kita harus menuntut keadilan atas pemukulan tersebut ya, A? Karena kan 
sabar itu bukan berarti diam dan pasrah, tapi juga menuntut hak kita. Kata Imam 
an-Nawawi dalam kitab Riyadush Shalihin bab Sabar -saya percaya Aa sering 
membacanya-, sabar itu ada tiga macam; sabar, menghadapi musibah, sabar 
menghadapi kemaksiatan, dan sabar mengerjakan ketaatan. Nah, menghadapi 
pemimpin yang suka memiskinkan rakyat termasuk sabar menghadapi kemaksiatan ya, 
A? Artinya, rakyat harus menuntut hak-hak mereka yang sudah dihalangi oleh 
pemerintah.

Pak Revrisond Baswir yang ekonom pernah menulis artikel Mengapa Masyarakat 
(Perlu) Menolak Kenaikan BBM? Beliau bilang alasan kenaikan harga BBM yang 
diberi pemerintah kepada masyarakat itu manipulatif dan menyesatkan. Ih, ngeri 
betul ya A ada orang yang suka bohong, apalagi membohongi rakyat. Kata beliau 
salah satu alasan kenaikan harga BBM adalah untuk liberalisasi ekonomi.

Menurut beliau negara Indonesia sudah terikat perjanjian dengan IMF untuk 
melaksanakan konsensus Washington, untuk menjalankan ekonomi liberal. Sebagai 
unsur dari agenda Konsensus Washington, tujuan utama kebijakan peniadaan 
subsidi BBM pada dasarnya adalah untuk memperbesar peranan mekanisme pasar 
dalam penyelenggaraan perekonomian Indonesia.

Pada tahap selanjutnya, sejalan dengan dilakukannya unbundling PT Pertamina, 
sebagaimana terungkap dalam Undang Undang (UU) Minyak dan Gas No. 22/2001, 
kebijakan tersebut diharapkan dapat merupakan insentif bagi para investor 
pertambangan untuk menanamkan modal mereka di Indonesia. Sebagaimana diketahui, 
sudah sejak lama perusahaan-perusahaan multinasional yang bergerak dalam bidang 
pertambangan minyak dan gas, seperti Exxon Mobil, Chevron Texaco, BP Amoco 
Arco, Total Fina Elf, dan Shell, sangat berhasrat untuk memperluas wilayah 
kerja mereka di Indonesia.

Padahal, sesuai dengan UU Pertambangan Minyak dan Gas No. 44 Prp/ 1960 dan UU 
Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara No. 8/1971, 
perusahaan-perusahaan multinasional tersebut hanya diperkenankan berperan 
sebagai kontraktor dalam proses eksplorasi minyak dan gas di Indonesia. Itu 
artinya, kenaikkan harga BBM akan memuluskan neokolonialisme. Ih, masa iya kita 
masih mau dijajah ya, A?

Masih kata Pak Revrisond, subsidi apapun yang diberikan pemerintah selama ini 
banyak yang salah sasaran. Solusinya bukan menghilangkan subsidi secara total, 
tapi melakukan koreksi sistematis atas mekanisme subsidi tersebut. Logika yang 
dipakai Pak Revrisond, apakah karena dalam pemerintahan banyak korupsi lalu 
kita bubarkan pemerintahannya? Jawaban Aa kira-kira bagaimana?

Pak Revrisond juga bilang kalau negara ini sebenarnya masih surplus uang hasil 
penjualan minyak. Proyeksi impor migas Indonesia katanya US$ 11, 3 milyar 
sedangkan ekspor migasnya malah lebih besar, US$ 19,7 milyar. Berarti kan masih 
ada untung, ya A? Kok bisa dibilang tekor sih?

Aa yang berhati mulia,

Rasanya rakyat sudah kelewat bersabar, malah cenderung cuek. BBM mau naik 
berapapun rakyat akan terima, meskipun mereka tahu hidup mereka bakal makin 
susah. Yang berdemo kan cuma mahasiswa. Wakil rakyat saja juga setuju kenaikan 
harga BBM, termasuk dari partai-partai Islam yang menjanjikan keadilan dan 
kesejahteraan. Jadi anjuran bersabar dari Aa saya khawatirkan malah menyinggung 
hati rakyat miskin. Dianggap selama ini nggak bersabar, padahal mereka punya 
stok kesabaran yang masya Allah. Kalau cacing saja diinjak menggeliat, tapi 
orang Indonesia malah pasrah.

Aa, menurut saya anjuran sabar itu ada baiknya ditujukan kepada presiden, 
menteri-menteri dan pejabat negara juga wakil rakyat. Ajaklah mereka bersabar 
untuk tidak menaikkan harga BBM apalagi meminta kenaikan gaji, atau ingin 
ngelencer ke daerah atau keluar negeri. Minta juga mereka untuk bersabar tidak 
melakukan korupsi dan mau bagi-bagi uang kepada rakyat. Waktu mereka minta 
kenaikkan gaji sebenarnya umat ingin mendengar teguran Aa supaya para pejabat 
itu malu pada diri sendiri dan bisa menjaga hati.

Aa yang ganteng,

Dalam iklan itu Aa juga minta rakyat berkorban. Saya lagi-lagi bingung, apa 
lagi yang mau dikorbankan? Soalnya hidup saja sudah susah. Ada tetangga saya 
yang tidak mampu beli beras miskin (raskin) padahal harganya hanya seribu 
rupiah perliter. Ada supir angkot yang curhat pada istri saya bahwa ia harus 
minjem beras 3 liter untuk makan keluarganya. Ada juga tetangga ibu saya yang 
hampir tiap hari minjem beras pada tetangga untuk makan. Jadi, buat rakyat 
miskin, apa lagi yang harus dikorbankan, A? Apakah perasaan dan harapan yang 
kini hanya itu yang mereka punya juga harus ikut dikorbankan? Maksudnya, mereka 
tidak usah berharap bisa hidup sejahtera di dalam negeri yang alamnya kaya raya 
ini? Mohon diterangkan pada kami yang bodoh ini A.

Apa sebaiknya anjuran berkorban itu ditujukan kepada para pejabat negara, A? 
Karena hidup mereka kan selalu makmur. Para pejabat itu kan banyak yang hidup 
dari fasilitas negara. Mereka tidak terlalu pusing soal harga BBM naik, toh 
mereka ada jatah dari negara. Rasanya mereka itu yang pantas berkorban untuk 
rakyat. Cobalah Aa dengan tim MQ membuat iklan layanan masyarakat yang 
menghimbau pejabat untuk berkorban, rela dipotong gajinya untuk disumbangkan 
kepada fakir miskin, tidak memakai fasilitas negara kecuali untuk urusan dinas. 
Kalau kami yang bicara rasanya tidak terlalu didengar. Kami hanya bisa berdemo 
dan berdoa. Tapi Aa kan bisa bicara seperti itu di televisi, di radio dan 
menulis di buku.

Aa Gym yang pandai menjaga hati,

Saya pernah membaca sebuah hadits dari Imam ath-Thabrani yang berbunyi, 
"Barangsiapa yang melihat penguasa yang zhalim, yang menghalalkan apa yang 
diharamkan Allah, melanggar janji Allah dan menyalahi RasulNya, berbuat kejam 
dan aniaya terhadap hamba-hamba Allah dengan sewenang-wenang dan ia tidak mau 
mengubah dengan kata-kata dan perbuatan, maka pantaslah Allah memasukkannya ke 
tempat yang telah disediakan Allah baginya (neraka)."

Imam at-Tirmidzi juga meriwayatkan, "Akan datang penguasa fasik dan zhalim, 
maka barangsiapa percaya kepada kebohongannya dan membantu kezhalimannya, maka 
dia bukan dari golonganku dan aku bukan dari golongannya, dan dia tidak akan 
masuk surga."

Wah, ngeri ya A? Bagaimana dengan pemerintah RI ini? Kata mantan Menko Ekuin 
dan Ketua Bappenas Kwik Kian Gie, yang namanya subsidi BBM sebenarnya tak 
pernah ada. Artinya itu bohong. Bagaimana ini A? Lalu apa pantas ya A para 
pejabat negara ini hidup makmur dengan penghasilan yang berlimpah plus 
fasilitas negara, sedangkan rakyatnya banyak yang miskin. Malah ada yang busung 
lapar. Itu namanya zhalim kan, ya A. Betul begitu kan? Mohon dikoreksi bila 
salah.

Saya terus terang jadi ngeri kalau termasuk ke dalam golongan yang disebut 
dalam dua hadits di atas. Sudahlah amal ibadah saya banyak cacatnya, ditambah 
membantu kezhaliman lagi. Amit-amit, na'udzubillahi min dzalik.

Aa Gym yang tinggal di Bandung,

Sebenarnya saya mau menulis banyak kepada Aa. Tapi saya sudah ngantuk dan capek 
memikirkan perilaku para pemimpin di negeri ini. Mereka itu merasa pelayan 
rakyat atau pemilik negara ini, ya A? Kalau pelayan seharusnya berusaha 
mensejahterakan rakyat, bukannya menambah kesengsaraan rakyat.

Saya berharap Aa senang menerima surat ini, tidak tersinggung, apalagi merasa 
digurui. Kalau ada sesuatu yang dirasa menyinggung hati Aa anggaplah itu bagian 
amar ma'ruf nahi mungkar. Karena katanya sekarang banyak dai yang lebih senang 
amar ma'ruf (menyuruh orang berbuat baik) tapi segan ber-nahi mungkar alias 
mencegah kemungkaran. Karena memang nahi mungkar itu berat, ya A? Orang bisa 
tersinggung kalau dibilang mungkar. Padahal seperti kata Aa kita tidak boleh 
menyinggung hati orang dalam berdakwah. Tapi saya susah melakukan itu. Apalagi 
kalau melihat pemimpin yang bebal dan suka membodohi rakyat. Huh hati saya 
panas.

Ah, sudah dulu ya A saya mohon pamit. Sekali lagi mohon maaf atas kelancangan 
surat ini. Salam untuk keluarga dan seluruh santri Darut Tauhid. Kapan-kapan 
saya ingin menjajal makanan di Dapur Teteh yang katanya enak itu, tapi kalau 
ada uang. Soalnya saya biasa makan di warteg dekat kantor. Murah, seporsi hanya 
3 ribu sampai 5 ribu rupiah. Lebih dari itu rasanya berat buat saya, dan nggak 
tega melihat orang makin susah di jaman ini. Ah, sudah dulu, nanti nggak ada 
habisnya. Jazakallah khairan katsira.

Wassalâmu'alaikum Warahmatullâhi Wabarâkâtuh

M. Iwan Januar

----- End forwarded message -----
--
Salam
A. Yahya Sjarifuddin
BDB II - Blok DJ-08

--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke