Rabu, 05 Oktober 2005 Meneladani Sifat Allah
Oleh : M Quraish Shihab Puasa adalah ibadah yang bermula dengan tidak makan, tidak minum, dan tidak bercampur dengan pasangan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Dengan tidak makan dan tidak minum, seorang Muslim yang berpuasa meneladani Allah SWT yang tidak makan dan tidak minum, bahkan ini akan lebih sempurna jika yang berpuasa itu memberi makan. Alquran memperkenalkan Allah SWT antara lain sebagai 'Pencipta langit dan bumi, memberi makan dan tidak diberi makan'. (QS Al An'am:14). Dengan tidak melakukan hubungan suami-istri, Muslim yang berpuasa juga meneladani Allah SWT. Dalam Surat Al An'am ayat 101 dinyatakan bahwa ''(Dia) tidak memiliki anak. Bagaimana Dia memiliki anak padahal Dia tidak memiliki teman (pasangan).'' Itu semua dilakukan oleh seorang Muslim sesuai kemampuannya yang ditentukan Allah SWT --yang dalam konteks berpuasa sebulan penuh-- dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Kendati hanya kedua sifat yang digarisbawahi oleh ketetapan hukum puasa, namun berpuasa seharusnya berakhir dengan tecerminnya semua sifat Allah SWT --kecuali sifat Ketuhanan-Nya-- dalam kepribadian seseorang. Berpuasa pada akhirnya adalah upaya meneladani sifat-sifat Allah SWT sesuai dengan kemampuan manusia sebagai makhluk. Dengan sifat-Nya Ar-Rahman (Pelimpah kasih bagi seluruh makhluk dalam kehidupan dunia ini), orang yang berpuasa melatih diri untuk memberi kasih kepada semua makhluk tanpa kecuali. Dengan sifat-Nya Ar-Rahim (Pelimpah rahmat di hari kemudian), orang yang berpuasa memberi kasih kepada saudara seiman, seraya meyakini bahwa tiada kebahagiaan kecuali bila rahmat-Nya yang di hari akhir itu dapat diraih. Dengan sifat-Nya Al-Quddus (Maha Suci), orang yang berpuasa menyucikan diri secara lahir dan batin serta mengembangkan diri, sehingga selalu berpenampilan indah, baik, dan benar. Dengan meneladani sifat-Nya Al-'Afw (Maha Pemaaf), orang yang berpuasa akan selalu bersedia memberi maaf dan menghapus bekas-bekas luka hatinya. Sedangkan dengan meneladani sifat-Nya Al-Karim (Yang Maha Pemurah), seseorang akan menjadi sangat dermawan. Dengan meneladani Allah yang bersifat Mahaadil, yang berpuasa hendaknya menegakkan keadilan terhadap dirinya sendiri. Yakni meletakkan syahwat dan amarahnya sebagai tawanan yang harus mengikuti perintah akal dan agama, bukan menjadikannya tuan yang mengendalikan akal dan tuntunan agama. Karena jika demikian, ia tidak berlaku adil, yakni tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya yang wajar. Dalam meneladani sifat Allah Yang Maha Mengetahui seorang Muslim senantiasa berupaya menambah ilmunya. Ia dituntut agar dapat menggunakan secara maksimal seluruh potensi yang dianugerahkan Allah kepadanya. Panca indera, akal, dan kalbu, dipakai untuk meraih sebanyak mungkin ilmu yang bermanfaat. Demikian seterusnya upaya meneladani sifat-sifat Allah dan demikian pula seorang Muslim berpuasa, sehingga meraih pengampunan Ilahi dan surga-Nya. Semoga kita berhasil. Wa Allah A'lam. -------------------------------------------------------------- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com

