Ass.WW
Makanya hukumnya sunnah muakadah, atau mendekati wajib.
Tetapi anda harus memperhatikan bahwa di dunia ini ada
banyak orang, ada yang cacat, ada yang berwajah tidak cantik atau
tidak tampan sehingga tidak ada yang mau dll. Hukum harus bisa berlaku
secara adil. Anda tidak sholat rawatib yang berhukum sunnah muakadah
tidak berarti anda bukan golongan umat Muhammad khan ?.
Wassalam
Djarot D
"agus rasidi"
<[EMAIL PROTECTED] To: "AR-ROYYAN"
<[email protected]>
a.co.id> cc:
Subject: [Ar-Royyan-3033]
Carilah Iman yang Separuh Lagi
12/15/2005 07:51 [bcc][faked-from]
AM
Please respond
to jamaah
Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
Sahabat,
Ketika salah seorang sahabat bernama Ukaf bin Wida'ah al-Hilali menemui
Rasulullah saw dan mengatakan bahwa ia belum menikah, beliau bertanya,
"Apakah engkau sehat dan mampu?" Ukaf menjawab, "Ya, alhamdulillah."
Rasulullah saw bersabda, "Kalau begitu, engkau termasuk teman setan. Atau
engkau mungkin termasuk pendeta Nasrani dan engkau bagian dari mereka. Atau
(bila) engkau termasuk bagian dari kami, maka lakukanlah seperti yang kami
lakukan, dan termasuk sunnah kami adalah menikah. Orang yang paling buruk
diantara kamu adalah mereka yang membujang. Orang mati yang paling hina di
antara kamu adalah orang yang membujang." Kemudian Rasulullah saw
menikahkannya dengan Kultsum al-Khumairi. (HR Ibnu Atsir
dan Ibnu Majah)
Anas bin Malik ra berkata, telah bersabda Rasulullah saw, "Barangsiapa
menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia
bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi." (Hadist
Riwayat Thabrani dan Hakim)
Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri2 Nabi
saw tentang peribadatan beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing-masing
ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata, "Adapun saya,
akan puasa sepanjang masa tanpa putus." Yang lain berkata, "Adapun saya
akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya." Ketika hal itu
didengar oleh Nabi saw, beliau keluar seraya bersabda, "Benarkah kalian
telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang
paling takut dan taqwa diantara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku
berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan.
Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk
golonganku." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Ibnu Mas'ud ra pernah berkata, "Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi,
sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah swt sebagai
seorang bujangan." (Ihya Ulumuddin hal. 20)
Dalam suatu kesempatan Imam Malik pernah berkata, "Sekiranya saya akan mati
beberapa saat lagi, sedangkan istri saya sudah meninggal, saya akan segera
menikah." Demikian rasa takut pengarang kitab al-Muwatha' ini kepada Allah
kalau ia meninggal dalam keadaan membujang. (30 Pertunjuk Pernikahan dalam
Islam, Drs. M. Thalib)
Lalu kenapa kita masih menahan diri untuk menikah? Pengalaman
mengajarkan bahwa ternyata kita dapat menjadi semacam tempat penyalur
rejeki (dari Allah) bagi orang2 yang lemah diantara kita (istri dan anak2,
bahkan orangtua dan mertua sekaligus). Itu dapat terjadi manakala kita
telah buat keputusan untuk mengambil tanggung jawab atas mereka. Se-akan2
Allah mengatakan bahwa Dia akan membantu kita untuk mewujudkan setiap niat
baik dan tangung jawab kita.
Allah swt menyukai orang2 yang dapat 'mewakili'-Nya dalam hal pembagian
rejeki. Salah satu kesukaan-Nya adalah bahwa Dia akan berikan lebih banyak
lagi rejeki kepada wakil2-Nya agar hal itu dapat bermanfaat bagi hamba2-Nya
yang ada dibawah tanggung-jawab mereka. Dan Allah (yang menyenangi orang2
yang berbuat baik) menyukai mereka yang mengambil tanggung-jawab atas
urusan2 yang disukai-Nya.
Percayalah bahwa ketika kita buat keputusan untuk menikah, itu berarti
bahwa kita sedang menyenangkan Allah. Pada saat yang sama, kita menjadikan
setan stress dan 'uring2-an'. Pada gilirannya nanti, Allah akan
memperlihatkan bahwa hanya kepada-Nyalah semua makhluk bergantung dan
mendapatkan rejekinya. Sementara itu, setan bekerja lebih keras lagi untuk
menanamkan rasa takut terhadap segala resiko (yang mungkin timbul) dari
pernikahan, sekaligus dia menampakkan 'kebaikan2' hidup sendiri
(membujang).
Bila kita menikah, padahal saat ini kita (misalnya) seperti 'tulang
punggung' bagi keluarga orangtua, maka Allah yang maha pengasih dan maha
penyayang tidak akan menambah berat beban yang harus kita pikul, bahkan Dia
akan meringankannya melalui pernikahan. Nampaknya hal ini tidak bisa masuk
akal, akan tetapi demikianlah ketetapan Allah dalam memelihara ciptaan-Nya.
Akal kita memang sangat terbatas, bahkan sekedar untuk memahami ciptaan-Nya
saja hampir2 kita tidak mampu.
Bila kita menikah, sedangkan kita tidak sedikitpun punya niatan untuk
meninggalkan bakti kepada orangtua dan hubungan baik dengan
sanak-saudara, niscaya Allah akan memberi jalan keluar bagi masalah2 yang
mungkin timbul terhadap mereka. Segala sesuatu datang dari Allah dan
semuanya akan kembali kepada-Nya. Keadaan seberat apapun, pasti tidak akan
menyusahkan-Nya sedikitpun dalam menyelesaikan masalah2 keseharian kita.
Bila kita menikah, maka kita akan (segera) masuk ke dalam orang2 yang
beruntung yang akan diakui sebagai ummat Rasulullah saw. Begitu besarnya
perhatian Rasulullah saw akan hal nikah sehingga seseorang seperti Julabib,
(maaf) yang punya wajah jelek, hitam, miskin dan tidak punya keberanian
untuk nikah (karena keadaannya) pun 'digesa' dan didorong untuk menikah.
Seakan Rasulullah marah kepada mereka yang sudah masuk dalam kategori layak
nikah namun dia mengabaikannya.
Untuk itu, hendaknya tidak seorangpun merasa kecil hati dengan
keadaannya saat ini. Banyak keadaan dimana orang2 memandang bahwa keadaan
kita jauh lebih baik daripada mereka. Barangkali orang2 di luar kita tidak
sepenuhnya memahami keadaan kita, akan tetapi pada kenyataannya memang
selalu ada orang2 yang posisinya jauh dibawah kita dan selalu ada orang2
yang keadaannya lebih buruk daripada kita.
Lalu dari mana kita mulai? Orang2 tua yang arif-bijaksana selalu
mengingatkan agar kita selalu memperbaharui niat kita, menguatkannya
hingga kita berazam untuk mewujudkan sesuatu yang kita hajatkan. Dengan
ijin Allah, niat yang kuat (azam) akan dapat mengaktifkan fikir,
menggerakkan anggota2 badan dan melibatkan segala sesuatu di sekitar kita
untuk merealisasikan apa yang kita niatkan. Untuk perkara2 yang tidak baik
saja Allah memberinya ijin, lalu bagaimana pula bila niat itu sesuatu yang
Allah sukai?
Langkah selanjutnya adalah doa. Dengan menguatkan niat, doa kita akan
terasa lebih berkesan. Ada masa2 tertentu setiap hari ketika Allah merespon
doa secara 'cash' (tunai). Tidak seorangpun tahu rahasia ini, sehingga
orang yang ber-sungguh2 (dengan urusan doa yang diijabah ini) tidak akan
me-nyia2-kan masanya, sehingga tidak ada masa kecuali selalu dalam
berhubungan dengan Sang pengijabah doa.
Langkah berikutnya, yakni seiring dengan doa yang sedang kita
panjatkan, adalah ikhtiar. Kita boleh menyukai siapa saja, yang agama kita
membenarkannya untuk kita menikahinya. Akan tetapi ketetapan pasangan kita
adalah hak Allah. Kita boleh memilih dan memilah, tapi yakin kita adalah
bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik buat kita. Allah mengetahui
sedangkan kita tidak tahu kecuali sebatas pada apa yang diberitahukan-Nya
kepada kita.
Bila kita menyukai seseorang untuk menjadi pasangan (suami atau istri) kita
lalu hal itu sesuai dengan keinginan dan ilmu kita, akan tetapi Allah
(dengan keluasan ilmu-Nya) tidak menghendakinya terjadi, maka pernikahan
itu tidak akan dapat diwujudkan meski seluruh jin dan manusia membantu
kita. Bila kita menyukai seseorang dan Dia sendiri telah menetapkannya
untuk kita, maka pernikahan akan terwujud meskipun seluruh jin dan manusia
menghalanginya.
Bila kita tidak suka kepada seseorang sedangkan Allah suka agar kita
menyenangi dan menikahinya, ini adalah suatu pertanda bahwa Allah
menyimpan banyak kebaikan yang (sebagian besarnya) dirahasiakan-Nya agar
menjadi 'surprise' bagi kita pada saat yang ditentukan-Nya sendiri kelak,
baik di dunia ataupun di akhirat. Dan kesukaan Allah yang lain adalah bahwa
Dia mecurahkan kebaikan yang semakin ber-tambah2 dan ber-lipat2 kepada
hamba2 yang diridhoi-Nya.
Dari banyak pengalaman, saat2 menjelang pernikahan (setelah kita buat
keputusan untuk itu) adalah masa2 yang sering dipenuhi dengan kecamuk
'perang bathin'. Se-olah2 ini adalah perang antara kebaikan dan keburukan.
Bila kita terus maju dengan segala resikonya, kita akan menang lalu
sampailah kita ke gerbang pernikahan. Sebaliknya, bila kita ragu2 dan
menjadi terhalang dengan 'hal2 kecil', kita akan kalah dan kita tidak akan
sampai ke gerbang itu. Maka bila kita sudah buat keputusan, kita mesti
buang jauh2 segala bentuk ke-ragu2-an dan kita mesti belajar untuk menjadi
tidak peduli dengan segala rintangan. Subhanallah.
Subhan ibn Abdullah
Pattaya, 29/09/03
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com