Ass.Wr.Wb.
Dalil Hadits-nya kira-kira begini :
"Barangsiapa tidak mengikut sunnahku, dia bukan golonganku" (TITIK!).

Wass / Jaerony.-

----- Original Message -----
From: <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Friday, December 16, 2005 10:55 AM
Subject: Re: [Ar-Royyan-3033] Carilah Iman yang Separuh Lagi
[bcc][faked-from]


> Ass.WW
>
> Makanya hukumnya sunnah muakadah, atau mendekati wajib.
> Tetapi anda harus memperhatikan bahwa di dunia ini ada
> banyak orang, ada yang cacat, ada yang berwajah tidak cantik atau
> tidak tampan sehingga tidak ada yang mau dll. Hukum harus bisa berlaku
> secara adil. Anda tidak sholat rawatib yang berhukum sunnah muakadah
> tidak berarti anda bukan golongan umat Muhammad khan ?.
>
> Wassalam
> Djarot D
>
>
>
>
>                       "agus rasidi"
>                       <[EMAIL PROTECTED]         To:      "AR-ROYYAN"
<[email protected]>
>                       a.co.id>                 cc:
>                                                Subject: [Ar-Royyan-3033]
Carilah Iman yang Separuh Lagi
>                       12/15/2005 07:51         [bcc][faked-from]
>                       AM
>                       Please respond
>                       to jamaah
>
>
>
>
> Bismillaahir-rahmaanir-rahiim
>
> Sahabat,
>
> Ketika salah seorang sahabat bernama Ukaf bin Wida'ah al-Hilali menemui
> Rasulullah saw dan mengatakan bahwa ia belum menikah, beliau bertanya,
> "Apakah engkau sehat dan mampu?" Ukaf menjawab, "Ya, alhamdulillah."
> Rasulullah saw bersabda, "Kalau begitu, engkau termasuk teman setan. Atau
> engkau mungkin termasuk pendeta Nasrani dan engkau bagian dari mereka.
Atau
> (bila) engkau termasuk bagian dari kami, maka lakukanlah seperti yang kami
> lakukan, dan termasuk sunnah kami adalah menikah. Orang yang paling buruk
> diantara kamu adalah mereka yang membujang. Orang mati yang paling hina di
> antara kamu adalah orang yang membujang." Kemudian Rasulullah saw
> menikahkannya dengan Kultsum al-Khumairi. (HR Ibnu Atsir
> dan Ibnu Majah)
>
> Anas bin Malik ra berkata, telah bersabda Rasulullah saw,  "Barangsiapa
> menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia
> bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi." (Hadist
> Riwayat Thabrani dan Hakim)
>
> Pernah suatu ketika tiga orang shahabat datang bertanya kepada istri2 Nabi
> saw tentang peribadatan beliau. Setelah mendapat penjelasan, masing-masing
> ingin meningkatkan peribadatan mereka. Salah seorang berkata, "Adapun
saya,
> akan puasa sepanjang masa tanpa putus." Yang lain berkata, "Adapun saya
> akan menjauhi wanita, saya tidak akan kawin selamanya." Ketika hal itu
> didengar oleh Nabi saw, beliau keluar seraya bersabda, "Benarkah kalian
> telah berkata begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya akulah yang
> paling takut dan taqwa diantara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku
> berbuka, aku shalat dan aku juga tidur dan aku juga mengawini perempuan.
> Maka barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk
> golonganku." (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
>
> Ibnu Mas'ud ra pernah berkata, "Jika umurku tinggal sepuluh hari lagi,
> sungguh aku lebih suka menikah daripada aku harus menemui Allah swt
sebagai
> seorang bujangan." (Ihya Ulumuddin hal. 20)
>
> Dalam suatu kesempatan Imam Malik pernah berkata, "Sekiranya saya akan
mati
> beberapa saat lagi, sedangkan istri saya sudah meninggal, saya akan segera
> menikah." Demikian rasa takut pengarang kitab al-Muwatha' ini kepada Allah
> kalau ia meninggal dalam keadaan membujang. (30 Pertunjuk Pernikahan dalam
> Islam, Drs. M. Thalib)
>
> Lalu kenapa kita masih menahan diri untuk menikah? Pengalaman
> mengajarkan bahwa ternyata kita dapat menjadi semacam tempat penyalur
> rejeki (dari Allah) bagi orang2 yang lemah diantara kita (istri dan anak2,
> bahkan orangtua dan mertua sekaligus). Itu dapat terjadi manakala kita
> telah buat keputusan untuk mengambil tanggung jawab atas mereka. Se-akan2
> Allah mengatakan bahwa Dia akan membantu kita untuk mewujudkan setiap niat
> baik dan tangung jawab kita.
>
> Allah swt menyukai orang2 yang dapat 'mewakili'-Nya dalam hal pembagian
> rejeki. Salah satu kesukaan-Nya adalah bahwa Dia akan berikan lebih banyak
> lagi rejeki kepada wakil2-Nya agar hal itu dapat bermanfaat bagi
hamba2-Nya
> yang ada dibawah tanggung-jawab mereka. Dan Allah (yang menyenangi orang2
> yang berbuat baik) menyukai mereka yang mengambil tanggung-jawab atas
> urusan2 yang disukai-Nya.
>
> Percayalah bahwa ketika kita buat keputusan untuk menikah, itu berarti
> bahwa kita sedang menyenangkan Allah. Pada saat yang sama, kita menjadikan
> setan stress dan 'uring2-an'. Pada gilirannya nanti, Allah akan
> memperlihatkan bahwa hanya kepada-Nyalah semua makhluk bergantung dan
> mendapatkan rejekinya. Sementara itu, setan bekerja lebih keras lagi untuk
> menanamkan rasa takut terhadap segala resiko (yang mungkin timbul) dari
> pernikahan, sekaligus dia menampakkan 'kebaikan2' hidup sendiri
> (membujang).
>
> Bila kita menikah, padahal saat ini kita (misalnya) seperti 'tulang
> punggung' bagi keluarga orangtua, maka Allah yang maha pengasih dan maha
> penyayang tidak akan menambah berat beban yang harus kita pikul, bahkan
Dia
> akan meringankannya melalui pernikahan. Nampaknya hal ini tidak bisa masuk
> akal, akan tetapi demikianlah ketetapan Allah dalam memelihara
ciptaan-Nya.
> Akal kita memang sangat terbatas, bahkan sekedar untuk memahami
ciptaan-Nya
> saja hampir2 kita tidak mampu.
>
> Bila kita menikah, sedangkan kita tidak sedikitpun punya niatan untuk
> meninggalkan bakti kepada orangtua dan hubungan baik dengan
> sanak-saudara, niscaya Allah akan memberi jalan keluar bagi masalah2 yang
> mungkin timbul terhadap mereka. Segala sesuatu datang dari Allah dan
> semuanya akan kembali kepada-Nya. Keadaan seberat apapun, pasti tidak akan
> menyusahkan-Nya sedikitpun dalam menyelesaikan masalah2 keseharian kita.
>
> Bila kita menikah, maka kita akan (segera) masuk ke dalam orang2 yang
> beruntung yang akan diakui sebagai ummat Rasulullah saw. Begitu besarnya
> perhatian Rasulullah saw akan hal nikah sehingga seseorang seperti
Julabib,
> (maaf) yang punya wajah jelek, hitam, miskin dan tidak punya keberanian
> untuk nikah (karena keadaannya) pun 'digesa' dan didorong untuk menikah.
> Seakan Rasulullah marah kepada mereka yang sudah masuk dalam kategori
layak
> nikah namun dia mengabaikannya.
>
> Untuk itu, hendaknya tidak seorangpun merasa kecil hati dengan
> keadaannya saat ini. Banyak keadaan dimana orang2 memandang bahwa keadaan
> kita jauh lebih baik daripada mereka. Barangkali orang2 di luar kita tidak
> sepenuhnya memahami keadaan kita, akan tetapi pada kenyataannya memang
> selalu ada orang2 yang posisinya jauh dibawah kita dan selalu ada orang2
> yang keadaannya lebih buruk daripada kita.
>
> Lalu dari mana kita mulai? Orang2 tua yang arif-bijaksana selalu
> mengingatkan agar kita selalu memperbaharui niat kita, menguatkannya
> hingga kita berazam untuk mewujudkan sesuatu yang kita hajatkan. Dengan
> ijin Allah, niat yang kuat (azam) akan dapat mengaktifkan fikir,
> menggerakkan anggota2 badan dan melibatkan segala sesuatu di sekitar kita
> untuk merealisasikan apa yang kita niatkan. Untuk perkara2 yang tidak baik
> saja Allah memberinya ijin, lalu bagaimana pula bila niat itu sesuatu yang
> Allah sukai?
>
> Langkah selanjutnya adalah doa. Dengan menguatkan niat, doa kita akan
> terasa lebih berkesan. Ada masa2 tertentu setiap hari ketika Allah
merespon
> doa secara 'cash' (tunai). Tidak seorangpun tahu rahasia ini, sehingga
> orang yang ber-sungguh2 (dengan urusan doa yang diijabah ini) tidak akan
> me-nyia2-kan masanya, sehingga tidak ada masa kecuali selalu dalam
> berhubungan dengan Sang pengijabah doa.
>
> Langkah berikutnya, yakni seiring dengan doa yang sedang kita
> panjatkan, adalah ikhtiar. Kita boleh menyukai siapa saja, yang agama kita
> membenarkannya untuk kita menikahinya. Akan tetapi ketetapan pasangan kita
> adalah hak Allah. Kita boleh memilih dan memilah, tapi yakin kita adalah
> bahwa keputusan Allah adalah yang terbaik buat kita. Allah mengetahui
> sedangkan kita tidak tahu kecuali sebatas pada apa yang diberitahukan-Nya
> kepada kita.
>
> Bila kita menyukai seseorang untuk menjadi pasangan (suami atau istri)
kita
> lalu hal itu sesuai dengan keinginan dan ilmu kita, akan tetapi Allah
> (dengan keluasan ilmu-Nya) tidak menghendakinya terjadi, maka pernikahan
> itu tidak akan dapat diwujudkan meski seluruh jin dan manusia membantu
> kita. Bila kita menyukai seseorang dan Dia sendiri telah menetapkannya
> untuk kita, maka pernikahan akan terwujud meskipun seluruh jin dan manusia
> menghalanginya.
>
> Bila kita tidak suka kepada seseorang sedangkan Allah suka agar kita
> menyenangi dan menikahinya, ini adalah suatu pertanda bahwa Allah
> menyimpan banyak kebaikan yang (sebagian besarnya) dirahasiakan-Nya agar
> menjadi 'surprise' bagi kita pada saat yang ditentukan-Nya sendiri kelak,
> baik di dunia ataupun di akhirat. Dan kesukaan Allah yang lain adalah
bahwa
> Dia mecurahkan kebaikan yang semakin ber-tambah2 dan ber-lipat2 kepada
> hamba2 yang diridhoi-Nya.
>
> Dari banyak pengalaman, saat2 menjelang pernikahan (setelah kita buat
> keputusan untuk itu) adalah masa2 yang sering dipenuhi dengan kecamuk
> 'perang bathin'. Se-olah2 ini adalah perang antara kebaikan dan keburukan.
> Bila kita terus maju dengan segala resikonya, kita akan menang lalu
> sampailah kita ke gerbang pernikahan. Sebaliknya, bila kita ragu2 dan
> menjadi terhalang dengan 'hal2 kecil', kita akan kalah dan kita tidak akan
> sampai ke gerbang itu. Maka bila kita sudah buat keputusan, kita mesti
> buang jauh2 segala bentuk ke-ragu2-an dan kita mesti belajar untuk menjadi
> tidak peduli dengan segala rintangan. Subhanallah.
>
> Subhan ibn Abdullah
> Pattaya, 29/09/03
>
>
>
>
>
> --------------------------------------------------------------
> Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
> Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com
>
>


--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke