----- Original Message -----
Sent: Thursday, January 12, 2006 3:20
PM
Subject: [Ar-Royyan-3289] Membangun Pusat
Bisnis dari Masjid
sebuah inspirasi bagi dkm
se bdb 2...
telaah
khusus
Membangun Pusat Bisnis dari Masjid
Ratusan ribu jumlah masjid di Indonesia. Seharusnya
bisa menjadi kekuatan ekonomi raksasa.
Hari itu, langit di atas Masjid Sunda Kelapa nampak gelap. Mendung
bergantung. Padahal waktu belum lagi tengah hari. Suara lantunan ayat-ayat
suci terdengar dari corong masjid. Di pelataran masjid, meski angin menebar
dingin, para pedagang mulai menggelar barang, mereka berharap agar hari tak
turun hujan.
Zulkher (35), sejak pagi telah bersiap-siap. Ia berangkat dari rumahnya
di wilayah Palmerah, Jakarta Barat. Membawa dagangan aneka rupa peci. Ada peci
haji, kopiah hitam, juga yang bermotif. Barang-barang itu ia ambil dari pasar
Tanah Abang, tapi ada juga pengrajin yang mengantar langsung
kepadanya.
Barang dagangannya, tak ada yang mahal. Semua murah. Ada peci seharga 5
ribu rupiah saja. Paling tinggi 25 ribu rupiah. Tak setiap hari Zulkher
menggelar dagangannya di Masjid Sunda Kelapa. Setidaknya, hanya Jumat dan
Ahad. Dan per hari, minimal ia mengantongi keuntungan 150 ribu rupiah, untuk
dibawa pulang.
Berjualan di masjid terasa lebih berkah. Lagi pula tidak khawatir
dikejar-kejar aparat, seperti kalau kita jualan di pinggir jalan, ujar lelaki
berkulit gelap itu dengan mimik wajah yang ramah.
Usai shalat Jumat, para
pedagang ramai menjajakan barang. Jamaah berhambur keluar dari
masjid.
Dipilih!
Dipilih!
Dipilih!
Tapi Zulkher tampak tenang. Ia tak berteriak-teriak menjajakan
dagangan. Mungkin dalam hati ia meyakini, Allah telah mengatur segenap
rezeki.
Tak hanya pedagang barang, penjaja makanan pun memenuhi badan jalan
di depan Masjid Sunda Kelapa. Menyambut para jamaah yang keluar dengan perut
keroncongan. Beraneka masakan dijual. Tongseng, Mie Ayam, juga Sate
Padang.
Firdaus (34), pedagang Sate Padang, seperti hari-hari Jumat yang lain.
Ia sibuk melayani jamaah usai menunaikan shalat Jumat. Paling minim, Sate
Padang milik Firdaus beromzet 500 ribu rupiah. Setiap satu porsi ia mengambil
untung 8 ribu rupiah. Dan untuk untuk minimal dengan jumlah di atas, ia harus
menyediakan modal setidaknya 200 ribu rupiah. Dan alhamdulillah, ujarnya,
meski tak mewah, ia bisa bertahan hidup dengan keluarganya di
Jakarta.
Hari Jumat memang penuh berkah. Tak hanya untuk orang-orang seperti
Zulkher dan Firdaus yang berdagang di lingkungan Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.
Bagi Riyan (27), pedagang Soto Madura di Masjid Pusat Dakwah Indonesia
(Pusdai), Bandung, Jumat juga terasa nikmatnya. Meski baru merintis
dagangannya setahun yang lalu, Riyan yakin dari Soto Madura, ia bisa mengais
rezeki di Masjid Pusdai.
Ia
punya alasan sederhana saat berdagang Soto Madura di Masjid Pusdai, Bandung.
Biar saya bisa shalat tepat waktu, ujarnya ringkas. Istrinya seorang buruh
tekstil di sebuah perusahaan, karenanya tak turut berdagang. Dengan dagang di
masjid, ia cukup merasa aman meninggalkan dagangan saat azan
berkumandang.
Selain Jumat, hari yang juga ditunggu-tunggu Riyan adalah Ahad. Jika
Jumat ia berharap pada jamaah shalat Jumat, dan jika Ahad, ia bertumpu pada
pengunjung banyak acara yang diadakan di Masjid Pusdai, termasuk pengajian
Ahad Dhuha.
Dagangannya tak mahal, seporsi Soto Madura, hanya 4 ribu rupiah. Sehari
ia bisa menjual 40 sampai 50 porsi, dengan keuntungan 1500 rupiah per
porsinya. Alhamdulillah, dari usahanya tersebut, ia mampu membeli sebuah
sepeda motor dan perlengkapan rumah tangga lainnya. Saya membelinya dengan
cash, ujarnya dengan nada bangga. Dan ia masih bisa menabung dari sisa-sisa
kebutuhan rumah tangga.
Masjid bagi Riyan memiliki banyak kelebihan. Selain tak ketinggalan
shalat jamaah dan punya konsumen yang jelas, ia juga tak pernah khawatir pada
razia pedagang kaki lima. Pernah roda gerobak saya diambil petugas, dan tak
dikembalikan. Rugi 1 juta rupiah saya. Tapi biarlah, mungkin ujian dari
Allah, ujarnya mantap.
Soto Ayam Madura milik Riyan, terbilang cukup dikenal. Kalau yang satu
ini, tak terlepas dari hobi Riyan yang senang menyambung silaturahim. Sejak
enam bulan lalu, ia malah telah mewajibkan dirinya untuk menyisihkan infaq
setiap hari. Biasanya, kalau sudah sebulan, dana infaq itu saya salurkan
untuk fakir miskin, ujar Riyan yang kini sedang berpikir untuk membuka cabang
warung sotonya di masjid yang lain.
Riyan memang menjadikan masjid sebagai pusat orientasi bisnisnya.
Alasannya sangat mudah. Saya merasakan usaha saya berkah, saya dimudahkan
shalat tepat waktu dalam jamaah, dan bisa bersilaturahim dengan siapa saja
lewat usaha soto ini, ujarnya dengan riang saat dikunjungi SABILI pekan lalu.
Riyan dengan sotonya terbilang cukup mapan. Masjid juga mampu membuat Ujang
(31) bertahan hanya dengan berdagang teh dalam botol saja. Pada botol-botol
minuman yang ia jual, ia bisa menghidupi anak dan istrinya. Masjid tak pernah
sepi dari jamaah, begitu Ujang memberikan penjelasan. Padat, singkat dan
jelas.
Kini, dari berjualan minuman, ia bisa menyewa rumah meski kecil. Untuk
anak dan istrinya. Anaknya sekolah dengan lancar. Tentu saja keuangan
mengalami naik turun. Ya, pintar-pintar ngaturnya saja, kiat Ujang untuk
mengakali kondisi. Tapi ia bersyukur, sampai hari ini keluarganya tak pernah
kelaparan, meski hanya sehari. Dan masjid, tempatnya mengais
rezeki.
Di
Masjid Al Akbar Surabaya, penjual minuman juga menangguk untung dari masjid.
Hariyanto Hutomo (37) berjualan es degan alias es kelapa muda sejak 1999 silam
di Masjid Al Akbar. Hari-hari biasa, ia mengaku memperoleh keuntungan standar.
Tapi jika Ramadhan datang, omzet dagangannya bisa berlipat-lipat. Sehari saja,
ia bisa mengupas 60 butir kelapa muda.
Tapi sejak kenaikan harga BBM yang terakhir, Hariyanto mengaku
penghasilannya tak cukup ditarik ke bawah dan tak cukup diulur ke atas.
Pembeli setiap mau beli selalu tanya dulu, harganya berapa? kenang
Hariyanto.
Keuntungan yang tak meningkat, bersanding kebutuhan yang kian tinggi,
membuat Hariyanto mau tak mau berkeluh kesah juga. Jangankan makan enak, mas.
Untuk beli lauk makan setiap hari saja susah, katanya sambil menarik napas
berat.
Suatu hari, anaknya yang masih berusia lima tahun dan baru duduk di
Taman Kanak-kanak, tergiur membeli mainan seperti temannya. Saat itu, hati
Hariyanto seperti teriris-iris. Mainan untuk anak, adalah barang mewah dalam
hidupnya. Meski harganya murah. Uang lebih baik untuk membuat dapur terus
berasap. Tapi, ya namanya anak, akhirnya saya mencari utangan dulu, terpaksa.
Baru setelah ada uang, nanti di bayar, tutur Hariyanto.
Di
Jakarta, Bandung dan Surabaya, cerita gembira, sukses atau sedih, masjid
nyaris tak ada andil sama sekali. Di Masjid Sunda Kelapa, keterlibatan masjid
hanya pada penarikan retribusi sebesar 2500 rupiah per pedagang. Di Bandung
malah lebih sedih lagi. Meski masjid tak menarik Ujang retribusi, Ujang selalu
menyisikan rezeki mengisi kencleng derma. Para preman lebih besar memungut
rupiah. Mereka tak lagi peduli masjid atau bukan, malak terus dilakukan. Di
Surabaya, barangkali para pengurus Masjid Al Akbar sama sekali tak kenal nama
pedagang es degan yang mangkal berjualan.
Bahkan ketika Riyan di Bandung mencoba perluasan bisnisnya, pengurus
masjid sama sekali tak tahu menahu apa yang telah diberikan pada pedagang dari
Madura ini. Bahkan, jangan-jangan para pengurus masjid di mana saja, tak tahu
berapa banyak pedagang yang memanfaatkan lingkungan masjid untuk bertahan
hidup?! Atau bahkan mereka tak menganggapnya?
Masjid sama sekali tak memiliki peran apapun dalam hidup mereka. Para
pedagang ini bertahan dan hidup hanya dengan mengandalkan insting ekonomi
purba; di mana berkumpul orang, di sana berada uang. Padahal, masjid sebagai
simbol dari ajaran Islam yang mulia, bisa melakukan banyak hal untuk mereka.
Tidak saja memakmurkan masjid, tapi juga mensejahterahkan jamaah dan menjadi
pusat perputaran ekonomi umat. Dan sesungguhnya, di sanalah letak salah satu
substansi ajaran Islam. Menegakkan keadilan, meratakan kesempatan dan
memberdayakan yang lemah.
Masjid, di sadari atau tidak, sampai saat ini menjadi tempat untuk
bertumpu bagi banyak orang. Ketika gelombang tsunami menerjang, masjid menjadi
tempat untuk mencari keselamatan. Ketika kampung terbakar dan rumah-rumah
lantak dimakan api, masjid menjadi tempat berteduh. Ketika terjadi kerusuhan
demi kerusuhan, masjid menjadi pusat memberikan pelayanan. Bahkan ketika
krisis ekonomi menghantam, masjid lagi-lagi menjadi tempat alternatif untuk
bertahan.
Saat ini, jumlah masjid di seluruh Indonesia kurang lebih 700 ribu
banyaknya. Tersebar dari Sabang hingga di pucuk-pucuk pegunungan di Papua.
Berbagai jenis dan ukurannya, di kampung dan perkotaan, masjid seharusnya
menjadi pusat pemberdayaan.
Di
Jawa Barat saja, menurut data Dewan Masjid Indonesia wilayah Jawa Barat, data
terakhir pada tahun 2004, ada 117.00 masjid. Dan data BPS menyebutkan, hampir
90% penduduk wilayah ini beragama Islam. Tapi 50% di antaranya berada di
tingkat kemiskinan dengan rata-rata pendidikan, 50% Sekolah Dasar.
Bukan angan-angan, pasti ada yang bisa dilakukan dengan jumlah masjid
yang demikian besar. Tidak saja memberdayakan masyarakat secara ekonomi, pada
akhirnya jika dikelola dengan benar, masjid mampu mengantarkan negeri ini
menjadi negeri yang dirahmati. Sudah saatnya, masjid bukan saja tempat yang
sakral. Saking sakralnya masjid hanya berfungsi sebagai tempat shalat dan
pengajian semata. Masjid juga tempat yang strategis, untuk mengembangkan
bisnis umat, untuk memberdayakan masyarakat, untuk memperkuat ekonomi umat.
Karena Muslim harus menjadi dan melahirkan generasi-generasi yang
kuat.