|
kolom
Akibat Dominasi AS Tahun
2005 menyajikan serangkaian peristiwa yang merupakan tonggak bagi Pertama, pemilihan umum (Pemilu) yang sama-sama akan digelar dua negara yang telah lama berseteru: Palestina dan Israel. Hasil pemilu kedua negara ini, akan sangat menentukan masa depan proses damai antar keduanya. Jika dalam pemilu Israel, Ariel Sharon dengan Partai Kadima yang baru dirintisnya berhasil meraup suara terbanyak, maka masa depan kelanjutan proses damai negeri itu dengan Palestina akan menemui titik terang. Terutama jika mengacu pada komitmen dan keputusan kontroversial Sharon untuk mundur dari Gaza dan sebagian Tepi Barat. Walaupun, kita tetap harus mempertimbangkan sikap politik Sharon yang acapkali radikal. Jika pemilu Israel dimenangkan Partai Likud, yang berhaluan politik ekstrem, kemungkinan memanasnya konflik antara Israel dan Palestina terbuka lebar. Terkait dengan pemilu Palestina, kekhawatiran muncul dari banyak pihak, termasuk pemerintah Israel sendiri, seputar peluang besar kelompok HAMAS, yang berhaluan politik keras, untuk tampil sebagai pemenang. Karena, hal itu dinilai akan berdampak pada kemungkinan alotnya proses perundingan dengan Israel yang akhirnya akan semakin menerjalkan jalan menuju pintu perdamaian. Kekhawatiran demikian memang sangat beralasan. Tapi peta politik Palestina ke depan takkan sepenuhnya didominasi oleh HAMAS. Kemungkinan tercapai kesepakatan dalam politik internal Palestina yang membuat HAMAS akan relatif melunakkan langkah dan tawaran politiknya. Kedua, proses pembentukan pemerintahan di Irak untuk pertama kalinya pasca kekuasaan Saddam Hussein. Irak baru menyelesaikan pemilu parlemen pada Desember ini. Tantangan utama yang akan dihadapi pemerintahan terpilih Irak dalam satu tahun ke depan adalah kemampuan untuk menjalin konsolidasi politik antar berbagai faksi politik. Baik Syiah, Kurdi maupun Sunni.
Ketiga, perseteruan politik antara Lebanon dan Suriah yang semakin memanas. Upaya sebagian elemen bangsa Lebanon untuk melepaskan diri dari pengaruh serta intervensi politik pemerintah Damaskus, tampaknya akan semakin bisa dilihat hasilnya pada 2006 nanti. Tekanan global terhadap pemerintah Suriah untuk angkat kaki dari Lebanon semakin kuat. Terutama terkait tuduhan keterlibatan pemerintah Suriah dalam tragedi pembunuhan mantan Presiden Lebanon yang anti-Suriah, Rafiq Hariri. Ini perkembangan positif bagi rakyat Lebanon yang sejak dulu mendambakan independensi politik. Keempat, kontroversi isu pengembangan senjata nuklir Iran yang mengalami tarik ulur. Pada tahun 2006, titik terang akhir penyelesaian kontroversi ini akan bisa dilihat. Ada dua kemungkinan puncak dari masalah ini, yaitu dicapainya kesepakatan antara pemerintah Teheran dengan badan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) atau berakhir dengan dijatuhkannya sanksi atas Iran bila tetap berkomitmen melanjutkan proyek pengembangan senjata nuklirnya. Sejauh ini, dengan mengacu pada statement yang dilontarkan pemerintah Teheran, tampaknya sulit bagi PBB untuk merayu Iran agar berkenan menghentikan program pengembangan tenaga nuklirnya. Pemerintah Iran tetap kukuh dengan komitmennya. Satu tahun ke depan, tarik-menarik serta proses negosiasi seputar kontroversi ini akan intensif terjadi. Secara umum, keempat fenomena politik tersebut akan sangat menentukan masa depan percaturan politik di wilayah Timteng. Penting untuk dipahami adalah keterlibatan pemerintah AS pada keempat persoalan itu, terlihat nyata. Terkait dengan perseteruan politis antara Lebanon dan Suriah, tak dapat ditampik, Gedung Putih memegang peranan penting dalam menekan Damaskus untuk segera angkat kaki. Demikian halnya dengan tekanan yang diterima pemerintah Teheran seputar isu pengembangan tenaga nuklir. Intensivitas peran pemerintah AS sangat kuat. Bahkan pemerintahan George W. Bush sangat antusias untuk membawanya ke meja Dewan Keamanan PBB. Adapun terkait dengan konflik antara Israel dan Palestina, pemerintah AS selama ini dinilai tak mampu memosisikan diri secara objektif. Pemerintah AS secara politis dinilai terlalu berada di posisi yang menguntungkan pemerintah Israel, dan merugikan Palestina. Dalam kaitannya dengan persoalan masa depan Irak, jelas pemerintah AS memegang peranan kunci. Invasi ke negeri Seribu Satu Malam yang merupakan inisiatif politis Bush, memunculkan rentetan masalah yang cukup pelik. Kondisi Irak yang tak kunjung stabil di satu sisi, sementara energi politis yang dikerahkan pemerintah AS telah cukup banyak, membuat pemerintah negeri itu menghadapi dilema. Tekanan politis dari dalam negeri AS agar Bush segera mundur dari Irak semakin menguat. Di sisi lain kondisi Irak sangat mengkhawatirkan dan rentan konflik. Kondisi ini merupakan risiko tak terhindarkan ketika sebuah negara terlalu berlebihan dalam melakukan intervensi terhadap kepentingan dalam negeri negara lain. Di samping itu, kebijakan politis AS yang cenderung dominatif dan hegemonik, tak bisa menghindarkan dirinya untuk terlibat aktif mengurusi banyak negara. Ini merupakan buah dari sikap dominatif AS di wilayah Timteng. dari www.sabili.co.id juga. |

