Biar nggak sepi, ada reportase menarik nih :)

----- Forwarded Message -----

Date: Thu, 12 Jan 2006 07:57:48 +0700
Subject: [Ida-Krisna Show] HARI RAYA DI KAMP DELTA

HARI RAYA DI KAMP DELTA

  Wartawan televisi asal Indonesia di Washington,Patsy
  Widakuswara, meliput Idul Fitri di pangkalan militer
  AS di Guantanamo. Dia mencicipi menu Lebaran dan
  sempat dihardik petinggi militer setempat. Berikut
  laporannya untuk Tempo-dituliskan kembali oleh Akmal Nasery Basral.

  ****

  LAGU kebangsaan Amerika Serikat Star Spangled Banner
  terdengar gemuruh, berdesakan keluar dari pengeras
  suara seperti menggedor-gedor  gendang telinga. Saya
  terbangun dan melirik arloji. Pukul delapan pagi
  waktu... ah, di manakah saya sekarang? Dan zona waktu
  apakah yang menjadi patokan? Sejenak saya termangu
  memandang ke sekeliling kamar. Ada sejumput rasa asing yang samar.

  Ini bukan kamar biasa. Kesadaran saya kembali dengan
  cepat. Ini Combined Bachelor's Quarters, "losmen
  spesial" yang cuma terdapat di penjara Guantanamo.
  Setiap suite di losmen ini terdiri dari dua kamar
  tidur, masing-masing dengan dua ranjang. Karena saya
  satu-satunya perempuan dalam rombongan wartawan yang
  diundang Gugus Tugas Bersama (Joint Task Force [JTF])
  Guantanamo, saya beruntung mendapat suite sendiri.
  Jadi, bolehlah jika saat ini saya dipanggil
  Guantanamera-perempuan dari Guantanamo-seperti judul
  lagu beken Kuba yang liriknya ditulis penyair besar Jose Marti.

  Ini bukan tempat biasa dan saya di sini bukan pada
  hari yang biasa pula. Hari ini, 3 November 2005,umat
  Islam di seluruh dunia sedang merayakan Idul Fitri.
  Termasuk lebih dari 500 tawanan perang Afganistan dan
  tersangka anggota Al-Qaidah. Ini keempat kalinya
  mereka merayakan Lebaran di sini. Jauh dari keluarga,
  jauh dari liputan media, kecuali oleh segelintir
  wartawan yang diundang. Seperti apakah suasana Lebaran
  di penjara yang selalu menjadi topik pembicaraan dunia
  dalam 2-3 tahun terakhir?

  * * *

  SEBELUM mengunjungi sel tawanan, rombongan wartawan
  diajak mengelilingi kompleks seluas 116 kilometer
  persegi. Terletak di Provinsi Guantanamo, salah satu
  daerah penghasil tebu dan benang wol terbesar di Kuba,
  Gitmo-sebutan populer untuk pangkalan militer AS
  ini-terletak 15 kilometer dari pusat kota yang bernama
  sama: Guantanamo. Pemerintah Amerika menyewa Gitmo
  dari Kuba sejak 1903.

  Di Gitmo, bermukimlah 8.000 personel militer dan
  pekerja sipil. Lebih dari 40 persen pekerja sipil
  adalah Filipino, mulai dari resepsionis losmen sampai
  koki penjara. Sisanya berasal dari Jamaika dan Haiti.
  Meski terletak di wilayah Kuba, hampir tak terasa
  suasana Negeri Cerutu kecuali di restoran yang
  menyediakan plaintains alias pisang goreng ala Kuba.
  Menu lainnya pizza, meatloaf, beef steak, lobster..

  Tur berlanjut. Di satu lokasi saya terkesima melihat
  pemandangan di depan mata. Terlalu luar biasa untuk
  dipercaya, tapi itulah faktanya: mal yang ditata elok,
  toko-toko cendera mata, kedai kopi Starbucks,
  McDonald's, deretan bar dan bioskop yang memasang
  poster Jarhead, film baru garapan Sam Mendez
  berdasarkan buku laris Anthony Swofford,  purnawirawan
  marinir yang pernah bertempur di Kuwait.

  Ada lagi yang poster yang mengiklankan layanan
  microdermabrasion sebuah salon kecantikan. Ini layanan
  buat "mengampelas" muka agar licin sebening kristal.
  Naluri kewanitaan saya muncul tiba-tiba, diteruskan
  oleh mulut yang bertanya spontan, "Apakah setiap
  pangkalan militer AS semewah ini?" Sersan Jebari
  Carter, yang berkulit legam dan berusia 23 tahun,
  pemandu kami, dengan sigap menjawab, "Oh yeah,
  pemerintah membuat kami nyaman. Itu penting bagi
  kestabilan moral prajurit."

  Astaga! Tidak pernah terbayangkan oleh saya
  sebelumnya, seorang serdadu perlu ke salon untuk
  mempercantik wajah. Wartawan Rusia yang berada di
  rombongan kami menyeletuk, "Di pangkalan militer kami
  yang ada cuma vodka."

  Dua kilometer dari "pusat kota" Gitmo, suasana berubah
  180 derajat. Di mana-mana terbaca slogan Joint Task
  Force-GTMO: Honor Bound to Defend Freedom. Setelah
  melewati check point, akhirnya saya menjejakkan kaki
  di sepotong wilayah yang pernah menggemparkan dunia:
  kamp X-Ray. Masih ingat gambar tawanan berbaju oranye
  tergeletak di lantai, diborgol dan diberi masker gas
  yang disiarkan oleh hampir semua saluran televisi di
  dunia pada Januari 2002? Inilah lokasi maut itu.
  Sekarang X-Ray sudah ditutup dan seperti dibiarkan
  terbengkalai oleh rimbun alang-alang serta tanaman
  sejenis pare setinggi paha orang dewasa. Para
  penghuninya dipindahkan ke Kamp Delta.

  Di kamp Delta yang dihuni seribu tawanan, kami
  disambut Sersan Anthony Mendez yang menggantikan
  Jebari Carter. Ia mengingatkan kami bahwa berbicara
  dengan tawanan atau mengambil gambar mereka dari leher
  ke atas adalah perbuatan terlarang. "Jika ada
  foto-foto yang sensitif akan segera dihapus." Suara
  parau Mendez tegas tak bisa dibantah.

  Kamp Delta terdiri dari 408 blok yang terbagi dalam
  lima kamp: 1, 2, 3, 4, 5.  Setiap blok ditutup terpal
  hijau yang menyisakan sedikit celah untuk melihat
  tawanan di dalam sel. Nomor kamp menunjukkan tingkat
  kepatuhan tawanan. Kamp 1 dikhususkan bagi mereka yang
  bersikap semikooperatif. Sedangkan kamp 5 merupakan
  wilayah maximum security bagi tawanan paling
  berbahaya. Warna seragam juga berbeda. Penghuni kamp1
  memakai warna krem, kamp 5 oranye.

  Tawanan yang dinilai kooperatif mendapatkan comfort
  items berupa sajadah, peci, minyak wangi, tasbih dan
  Al-Quran yang harus diletakkan pada kantong putih yang
  ada di dinding. Tujuannya, menurut Mendez, agar tak
  disentuh penjaga. "Para penjaga tak dibenarkan
  memegang Al-Quran," katanya. "Itu aturan di sini."
  Ketika saya tanyakan berita tentang penjaga Gitmo yang
  mengencingi kitab suci umat Islam itu, Mendez
  menyergah. "Itu kelakuan penjaga yang tidak disiplin.
  Dia kencing di luar sel dan tetesan air seninya
  tertiup angin mengenai Al-Quran yang sedang dibaca
  tawanan." Penjaga itu, menurut Mendez, sudah dihukum
  selain meminta maaf kepada tawanan yang bersangkutan.
  Tentu saja sulit memverifikasi kebenaran kisah ini
  lebih jauh lagi. Wallahu 'alam.

  Tiba-tiba terdengar suara azan zuhur berkumandang.
  Menurut Mendez, selesai azan tawanan diberi waktu
  setengah jam untuk menunaikan salat. Ia menunjukkan
  simbol kerucut seperti tanda lalu lintas berwarna
  kuning dengan huruf "P" yang diletakkan di tengah
  lorong. "P itu artinya prayer. Wilayah mereka untuk
  salat."

  Saya tak bisa menahan keingintahuan. "Bagaimana
  caranya mereka tahu arah kiblat, Pak?" Mendez
  menunjukkan gambar anak panah berwarna hitam di tempat
  tidur tawanan, serta di lapangan di mana tawanan boleh
  keluar selama satu jam setiap hari. "Itu arah kiblat,"
  katanya. Saya mengecek arah beberapa anak panah, baik
  yang di dalam sel maupun di lapangan. Semua menuju ke
  arah yang sama. Sayang saya tak mendapatkan informasi,
  apakah tawanan diperbolehkan melakukan salat Idul
  Fitri di lapangan itu, lengkap dengan khotbah sesudah
  salat yang menjadi syarat sempurnanya salat ini.

  Di kamp 4, kami mendapat pemandu baru, Letnan Donna
  Batiste namanya. Berbeda dengan kamp lain yang
  merupakan sel terpisah, kamp 4 terdiri dari
  bangsal-bangsal panjang seperti pendapa. Tiap bangsal
  terdiri dari 10 tempat tidur, beberapa bangku panjang,
  dan meja pingpong. Di tembok bangsal ada poster orang
  sedang salat serta pengumuman dalam beberapa bahasa
  seperti Arab, Pashtun, Rusia. Di kamp ini untuk
  pertama kalinya saya melihat tawanan dalam jumlah
  banyak. Hampir semuanya berkulit gelap, berjenggot
  tebal, dan memakai seragam tahanan berwarna putih.

  Ketika mata saya bersirobok dengan mata mereka, hampir
  semua memalingkan pandangan lalu beringsut memasuki
  bangsal. Mungkinkah karena saya perempuan? Tunggu
  dulu! Ada seorang tawanan  muda yang membalas senyum
  saya dengan malu-malu. Kaki kirinya terbalut, ia
  berjalan pincang. Saya tanyakan kepada Batiste apakah
  luka itu didapatnya dalam penjara? Batiste mendekati
  pemuda itu, yang menjelaskan dengan bahasa isyarat
  sambil menendang-nendangkan kakinya yang luka.
  Ketika kembali mendekati saya, Batiste menjelaskan bahwa kaki
  pemuda itu keseleo karena... bermain sepak bola!

  Di kamp 5 yang memiliki tingkat pengamanan tertinggi,
  semua tawanan diisolasi selama 24 jam penuh. Pagar
  berlapis-lapis dikendalikan secara elektronik.
  Pemandu kami, Kapten Eric de Forest, menyebutkan jumlah
  maksimal tawanan 100 orang. Saat ini terisi lebih dari
  50 persen. Sel di kamp ini istimewa karena semuanya
  berpendingin udara. Terik matahari Karibia yang
  mengelupas kulit tak terasa seperti di empat kamp
  lainnya. Namun, dengan tempat yang begitu terisolasi
  serta mengingat siklus badai Amerika yang sedang aktif
  mengepung wilayah ini, satu pertanyaan lagi-lagi
  meluncur spontan dari mulut saya. "Bagaimana strategi
  penyelamatan tawanan jika badai datang atau kebakaran
  mengancam?" Jawaban sang kapten singkat saja,
  "Mereka sudah pernah berlatih evakuasi."

  * * *

  Jumat 4 November 2005. Saya memasuki dapur raksasa
  tempat makanan tawanan dimasak. Seorang koki wanita
  paruh baya asal Filipina yang memperkenalkan dirinya
  sebagai Kim menyambut ramah. Ia sibuk mengeluarkan
  roti dari oven, mencacah sayur-mayur, mengaduk
  lauk-pauk di penggorengan besar. Sersan Jonathan Sym
  yang menjadi pemandu kali ini menunjukkan menu makanan
  Idul Fitri kepada saya: nasi kebuli, shish kebab sapi,
  hidangan ayam, selada tabouleh. Untuk pencuci mulut
  ada manisan baklava, kurma, buah segar dan susu
  cokelat. "Ini hidangan istimewa," kata Sym.
  "Biasanya tawanan tidak mendapat dua porsi protein. Untuk Idul
  Fitri kali ini kami meningkatkan kuantitas dan
  kualitas sesuai dengan menu Timur Tengah." Sym lalu
  meminta saya mencicipi makanan itu, yang terasa nikmatnya.

  Dengan sajian seenak ini, bagaimana menjelaskan ihwal
  100 tawanan yang mogok makan pada Agustus lalu?
  Sampai-sampai beredar kabar pemerintah Amerika
  melakukan kekerasan dengan memasukkan selang ke hidung
  mereka agar makanan bisa mencapai perut? Seorang
  sersan lain yang bernama Edmonson meluruskan berita
  itu. Ia mengakui masih ada 21 orang tawanan yang mogok
  makan dan dipaksa menerima makanan lewat bantuan
  selang. Katanya, "Selang yang digunakan adalah selang
  steril lunak berdiameter 3,3 mm, bukan selang kotor
  setebal jari yang menyebabkan tawanan muntah darah
  seperti yang dituduhkan." Edmonson lantas  menunjukkan
  potongan selang steril itu kepada wartawan.

  Selesai mengecek persiapan makanan Idul Fitri, tibalah
  saat yang paling mendebarkan: wawancara dengan Mayor
  Jenderal Jay Hood, otoritas militer tertinggi dan
  penanggung jawab Gitmo. Pertanyaan saya tentang apakah
  undisclosed location yang disebut pemerintah AS
  sebagai tempat penahanan Hambali itu sebenarnya tak
  lain dari Gitmo yang dipimpinnya, tak dijawab oleh
  Hood. Ia juga menampik semua berita miring yang saya
  tanyakan: mulai dari perlakuan cabul interogator
  perempuan terhadap tawanan laki-laki, pelecehan
  Al-Quran, hingga penyiksaan tawanan lewat pengaturan
  jam tidur mereka (sleep deprivation). Akumulasi
  pertanyaan seperti ini tampaknya mengganggu Hood.
  "Bagaimana mungkin Anda mempercayai semua tuduhan itu
  setelah melihat dengan mata kepala sendiri keadaan di
  sini?" katanya separuh menghardik. Giliran saya yang
  terkejut dengan reaksinya-dan agak tersinggung.
  Wawancara tak lagi nyaman.

  * * *

  Kabar wawancara itu rupanya beredar cepat. Malam
  harinya di penginapan, Sersan Jebari Carter
  menunjukkan wajah masam kepada saya. Untunglah, malam
  itu ada Clive Stafford Smith, Direktur Penyuluhan
  Hukum Reprieve, organisasi hak asasi manusia yang
  mewakili 40 tawanan di Gitmo, termasuk juru kamera
  Aljazeera, Sami Muhy al-Din al-Hajj.

  Begitu populernya Clive Smith sekarang sehingga ia
  dijadikan tokoh dalam drama teater berjudul
  Guantanamo: Honor Bound to Defend Freedom, yang sedang
  dipentaskan di Washington D.C. setelah sukses di
  London. Menurut Smith, banyak teknik penyiksaan sadis
  di Gitmo yang tak akan diakui Jenderal Hood, termasuk
  mendekatkan silet dengan penis tawanan. "Perjuangan
  kami ada di pengadilan opini publik. Sejauh ini kami
  menang. Berkat tekanan pengacara dan sorotan media,
  kondisi Guantanamo mulai membaik," katanya. Sisa malam
  kami habiskan dengan membahas rumor bahwa Badan
  Intelijen Amerika, CIA, mengoperasikan 15 penjara
  rahasia lain di delapan negara-sebuah tuduhan yang
  tidak diakui sekaligus tidak disangkal oleh Amerika.

  Yang jelas, berada di dalam Gitmo jauh berbeda dengan
  citra yang tersaji di media massa selama ini. Di sini
  semua serba rapi, terorkestrasi, tak ada kesan
  seram-kecuali jika kita berbicara dengan pengacara
  tawanan seperti Smith, atau membaca buku For God and
  Country, Faith and Patriotism Under Fire tulisan
  Kapten James Yee, perwira militer muslim AS yang
  pernah menjadi imam Guantanamo dan diolok-olok sebagai
  "Taliban Cina" oleh koleganya (lihat Derita Yusuf di
  Guantanamo, Tempo 13 November 2005).

  Ketika keesokan harinya Sersan Carter mengantar kami
  ke bandara, ia mengajak kami mampir ke sebuah toko
  cendera mata. Kepada saya ia menunjukkan sebuah kaus
  dengan tulisan "The Taliban Towers at Guantanamo Bay.
  The Carribean's  Newest 5-Star Resort".

  Saya tak tahu lagi mana yang lebih benar: selera humor
  saya yang tumpul, atau kalimat itu yang tak peka pada
  nilai kemanusiaan. Saya hanya bisa melongo. Selamat
  tinggal, Gitmo! Tak ada lagi lagu kebangsaan yang
  menggedor-gedor telinga setiap pagi.

  Sumber: Tempo, 14 November 2005

--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke