sedih....
apakah karena begitu kompleksnya persoalan hidup sekarang ini, sehingga
begitu banyak kasus kekerasan terhadap anak, khususnya, yang
dilatarbelakangi masalah sulitnya ekonomi ?
atau memang "kiamat sudah dekat" ?
wallahu 'alam bishawab.
ar
----- Original Message -----
From: "Dodik S" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, January 27, 2006 2:44 PM
Subject: [KRLMania.com] Taman Yang Paling Indah Hanya Taman Kami
Taman Yang Paling Indah Hanya Taman Kami
- untuk RR
Allah yang baik,
senang deh aku sudah di sini
tak ada lagi mama yang galak
dan paman yang sering membentak
Allah yang baik,
bolehkah aku bergabung dengan
teman-temanku di sebelah sana yang sedang
menyanyi gembira,
"taman yang paling indah hanya taman kami..."
aku suka sekali lagu itu
tapi tak pernah bisa menyanyikannya sepenuh
hati karena sebelum ini, aku hanya bisa
mendengar lagu itu dari balik dinding rumah sayup-sayup
seperti memanggil-manggil untuk bergabung,
bergembira tapi aku bukan burung yang punya sayap
aku tak bisa terbang ya Allah, keluar barang
sebentar dari rumahku yang pengap
Setiap pulang sekolah dan ayah sedang tak
ada di rumah
paman menyuruhku rebah
kadang-kadang menghadapnya,
kadang-kadang membelakanginya.
lalu aku tak tahu apa yang dilakukannya, ya Allah
tapi rasanya sakit sekali
badanku sakit
tulangku sakit
pahaku sakit
mataku sakit
karena airmataku habis menahan jerit.
Allah yang baik,
aku kangen ibu, bukan mama
mama bukan ibu yang melahirkanku
mama adalah istri ayah yang baru yang lebih
sayang pada anaknya sendiri
bayi mungil yang lucu
aku sih sayang pada adikku itu, ya Allah.
tapi aku takut, setiap kali aku mencium adik
tangan mama mampir di wajahku,
rasanya lebih sakit dari kejedot kusen pintu.
setiap kali aku mencubit pipi montok adik
tangan mama memuntir kupingku sampai
hampir putus rasanya, ya Allah.
mungkin satu kali pernah berdarah aku tak
ingat lagi
Allah yang baik,
pernah satu kali mama membekap mulutku rapat-rapat
aku seperti ikan di pasar, yang megap-megap
ingin hidup
aku menjerit memanggil-manggil ayah
tapi mama semakin kencang mencekik leherku
seperti film-film pembunuhan yang pernah
kulihat di televisi. betul ya Allah, aku nggak
bohong, lho.
di sekolah aku kan diajar bu guru nggak boleh
bohong, baik kepada orang lain apalagi
kepada Allah.
Tapi mungkin memang aku yang cengeng ya Allah,
aku selalu menangis bila paman melakukan
terus menerus perbuatannya yang membuatku sakit
aku pernah berpikir untuk mengambil pisau
dan menusuknya seperti pada
sinetron-sinetron yang pernah kulihat.
tapi aku tak pernah berani.
bahkan ketika ayah sedang di rumah,
dan memelukku pun, aku tak berani bercerita
apa-apa kepadanya.
Di buku-buku cerita, aku lihat anak-anak seumurku
selalu manja pada ayah dan ibunya
mereka bisa naik pundak sampai menginjak kepala
lalu tertawa-tawa bersama.
lalu orangtua menggelitiki perut anak-anaknya
menciumi sepuasnya-puasnya, sampai si
anak memang rasanya seperti hampir mati juga
tapi mati karena rasa geli dan bahagia
mengapa hal itu tak pernah terjadi padaku,
ya Allah?
Apakah para penulis di buku-buku cerita itu berbohong,
mereka hanya mengarang yang indah-indah saja?
kalau begitu hukumlah mereka ya Allah
karena membuat anak-anak sepertiku tambah sedih
tak pernah merasakan apa yang mereka tulis
di buku-buku itu.
Teman-temanku di sekolah selalu ngomong
tentang plei stesyen dan boneka berbi,
aku tak pernah iri lho,
ya Allah. bener deh, suwer! aku tak pernah iri
soal mainan aku ingin hanya ada dua ciuman
berbarengan dari mama di pipi kanan,
dari ayah di pipi kiri kalau ayah pulang ke rumah,
mama kadang-kadang mau tersenyum
padaku, aku akui itu ya Allah, tapi tetap saja
dia tidak pernah mau menciumku.
Aku ingin sekali ingin bercanda dengan
mama dan adik kecilku yang lucu,
apalagi kalau ayah sedang tidak di rumah.
tapi selalu aku disuruh mama menemani
paman, yang membuatku terus menjerit kesakitan.
Ya Allah,
kenapa mama tak pernah mengelus
airmataku ketika aku kesakitan?
kenapa mama malah menampar wajahku
berulang kali? kenapa mama malah
membekap mulutku begitu kencang?
kenapa mama malah mencekik leherku
seperti teman-teman mencekik belut sampai
mati pada perlombaan tujuh belas agustus di sekolah?
Allah yang baik,
tapi sekarang aku gembira, suwer!
di sini banyak sekali teman-temanku yang
bernyanyi riang.
bolehkah aku bergabung dengan mereka
sekarang ya Allah, aku ingin sekali
menyanyikan,
"taman yang paling indah..."
mumpung sedang nggak ada mama dan
paman. boleh ya?
Oh iya, kalau Allah nggak keberatan sekalian
panggil saja semua kawan-kawanku yang tak
pernah menyanyikan lagu di rumah mereka
dengan bahagia. semua kawan-kawanku yang
selalu menangis kesakitan.
biarkan kami semua bernyanyi di sini saja ya Allah,
menyanyi bersama-sama, menari
bersama-sama, tertawa bersama-sama,
berpelukan bersama-sama, dorong-dorongan,
pukul-pukulan, cubit-cubitan, lalu menyanyi lagi
bersama-sama sambil bergandengan tangan.
boleh kan ya Allah?
oh iya, sebelum aku bergabung bersama
teman-teman disana, namaku Riska Rosiana.
Allah bisa memanggilku Riska atau Rosi,
atau dipanggil Ana juga boleh.
Dadah Allah,
aku mau ikut nyanyi dulu ya?
Allah nggak akan marah seperti mama, 'kan?
akmal n. basral
jakarta. 17.01.06
* * *
ANAK-ANAK ITU PERGI DENGAN LUKA...
***
LUPAKAN sejenak kepedihan Lintar.
Lihatlah kegemparan yang meledak di
Perumahan Sengkang, Cilincing,
Jakarta Utara, pada suatu pagi Senin dua
pekan lalu. Warga menemukan pemandangan
mengenaskan. Riska Rosiana, 7 tahun,
meninggal di rumahnya dengan sebagian
tubuhnya sudah dikerumuni semut.
Di rumah petak itu pelajar kelas dua
Madrasah Al-Islamiyah tersebut tinggal
bersama ayahnya, Daeng Amran, 55 tahun,
dan ibu tirinya, Idawati, 39 tahun, dan seorang
adik tirinya yang berumur 14 bulan.
Riska meregang nyawa dengan kepedihan.
Malam sebelum ia meninggal, ia diperkosa
dan disodomi oleh adik ibunya, Ambo Ase,
25 tahun, di kamarnya. Tindakan sang paman
membuat Riska menangis kesakitan.
Gadis cilik ini membawa tangisnya ke ruang
tamu. Bukannya bantuan yang datang,
tangis itu justru membuat Idawati murka.
Idawati naik pitam dan membekap mulut
Riska dengan kain dan kemudian
mencekiknya. Riska terdiam.
Idawati, yang menyangka bocah perempuan
itu sudah tertidur, segera meninggalkan Riska.
Ia tak sadar, saat itu bocah malang tersebut
sudah menjadi mayat.
Kepada tetangganya, Idawati dan Amran,
suaminya, yang baru pulang pada pagi hari,
menyatakan Riska meninggal karena sakit.
Tapi sejumlah warga yang curiga melaporkan
peristiwa tersebut ke polisi. Polisi datang dan
mengirim mayat itu ke RSCM.
Dokter Mun'im Idris, pakar forensik yang
melakukan autopsi terhadap jasad Riska,
memastikan: bocah malang itu meninggal
karen kehabisan napas akibat cekikan.
"Ada bekas kuku di dekat telinganya,"
kata Mun'im.
Idawati dan Ambo kini mendekam di tahanan
Polsek Cilincing. Ambo mengaku perbuatan
bejatnya itu sudah dilakukannya selama dua
bulan. "Saya sudah sepuluh kali memperkosa
Ika," katanya. Idawati juga mengaku dirinya
mencekik Riska. "Karena tidak diam-diam,
dia saya cekik dan mulutnya saya sumpel
pakai kain," ujarnya.
Polisi menjerat Ambo dan Idawati dengan
pasal-pasal KUHP tentang perbuatan cabul
terhadap anak dan menghilangkan nyawa
orang. Ancaman terhadap pelaku perbuatan
ini, penjara 15 tahun. Selain itu, ujar Kapolres
Jakarta Utara Komisaris Besar
Dede Suryana, kedua orang ini akan dijerat
dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.
Adapun jasad Riska kini sudah terbaring di
kampung halaman ibu kandungnya di
Desa Tanjungkerta, Indramayu.
Sejumlah warga menancapkan pisau dan alu
diatas kuburannya. Warga percaya arwah
Riska akan menuntut balas.
"Gunakan pisau itu untuk membalas dendam,
Nak. Balaskan kemarahan kami...,"
ujar sejumlah warga sambil menaburkan
kembang di atas pusara Riska.
***
Sumber: Tempo, 16 Januari 2006
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com