Selamat Tinggal Danish
"KAMI tidak menjual produk Denmark." Spanduk atau tulisan di atas
kertas karton seperti itulah yang kini banyak terpajang di pintu utama
pertokoan di Riyadh, Arab Saudi. Supermarket raksasa seperti Azeziah
Panda, Al-Jazerah, dan Al-Othaim pun terang-terangan ikut memboikot.
Yang lebih mengejutkan, Euromarch, supermarket asal Eropa, turut
memasang tulisan "tidak menjual produk Denmark."
Tidak puas sekadar menempelkan tulisan, beberapa perusahaan terkemuka
di Arab Saudi pun memasang iklan di koran-koran. Isinya, atas nama
solidaritas muslim, mengajak warga untuk tidak mengonsumsi produk asal
Denmark.
Para pemilik toko serta-merta menarik semua produk asal negeri Danish
dari rak. Sebut saja mentega dan keju produk dairy, misalnya Lurpak
Butter dan Three Cows Cheese. Keju-keju itu biasa dikonsumsi warga
pada saat sarapan pagi dan makan malam, dicampur dengan eisy, roti
khas Arab. Daging kaleng dan ayam beku pun kena boikot. Sebagai ganti
mereka beralih produk dari asal Arab Saudi.
Konsumen pun aktif berkampanye anti-Denmark. Mereka mengajak warga
lain melalui SMS, selebaran, dan milis jaringan internet. Di jalanan
Riyadh, banyak mobil memasang poster bertuliskan: "Boikot semua produk
Denmark", baik dalam bahasa Inggris maupun Arab.
"Kami tidak rela, Rasul, manusia yang paling mulia, hanya digambarkan
dengan karikatur. Itu namanya pelecehan terhadap umat muslim sedunia.
Hal itu sudah tidak bisa ditolerir lagi," ungkap Abou Badr, pengusaha
penyewaan mobil yang sedang berbelanja di Panda Supermarket, dengan
nada kesal. "Kini Denmark akan merasakan kerugian ekonomi akibat
boikot dari warga muslim."
Aksi serupa terjadi di negara lain di wilayah Timur Tengah.
Supermarket Carrefour, Spinneys, Shankar Group, dan Lal's yang ada di
Uni Emirat Arab ikut menarik produknya. Menurut Firdaus Muchtar, staf
lokal KBRI di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, aksi boikot produk
Denmark meluas ke berbagai kalangan dan organisasi. Sharjah
Municipality Council, lembaga pemerintah daerah di Emirat Sharjah,
secara resmi menyetujui aksi boikot produk Denmark.
Mereka juga meminta Sharjah Cooperative Society, yang terdiri dari
para pengusaha supermarket, menarik semua produk asal Denmark. Sampai
saat ini, 37 item dagangan asal Denmark ditarik dari pasaran di
kawasan Timur Tengah. Efektifkah semua imbauan itu?
Jacob Mikkelson, Manajer Arla Food, importir produk dairy Denmark,
pening kepala. Sejak imbauan boikot dimulai, dia menyatakan mengalami
kerugian besar. Khusus di Abu Dhabi, misalnya, kerugian diperkirakan
US$ 1,5 juta per hari.
Sebagai perusahaan makanan dan susu terbesar di Eropa, Arla Food
bahkan harus menerima nasib mengenaskan. Penjualan mereka selama
pekan-pekan terakhir anjlok. Perusahaan terancam bangkrut. Akibatnya,
perusahaan ini memberhentikan sekitar 100 pekerja karena tak ada
pemasukan dari negara-negara Arab yang selama ini menjadi pasar paling
potensial.
Berdasarkan laporan tahunan Arla, perusahaan ini mampu meraup
keuntungan sekitar US$ 480 juta setahun, sekitar Rp 45,6 trilyun
dengan kurs Rp 9.500 per dolar Amerika. "Kami sudah 40 tahun membangun
bisnis besar ini di Timur Tengah. Namun hanya dalam sekejap hanya lima
hari, harus ambruk cuma karena persoalan pemberitaan yang tidak
bertanggung jawab. Ini sangat menyedihkan," kata Astrid Gade Niels, di
Kopenhaben, Rabu pekan lalu, seperti dikutip BBC.
Jumat lalu, kemarahan warga muslim di Timur tengah itu mulai merambat
ke Indonesia. Demo anti-Denmark digelar. Aksi boikot pun diserukan.
Namun pendemo di sini sulit mencari produk Denmark. Dalam pantauan
Gatra, hanya sedikit produk dan perusahaan asal Denmark beroperasi di
Indonesia. Mereka bergerak di perusahaan perkapalan, alat perkantoran,
sepatu, keju dan mainan anak-anak.
Perdagangan Indonesia dengan Denmark memang sangat kecil. Impor
Indonesia dari Denmark per Januari-Oktober 2005 hanya US$ 61,5 juta.
Kurang dari 1% seluruh impor Indonesia. Sementara ekspor ke sana jauh
lebih besar, sekitar US$ 113 juta, terutama produk pertanian.
Rihad Wiranto dan Nordin Hidayat (Arab Saudi)
[Laporan Utama, Gatra Nomor 13 Beredar Senin, 6 Februari 2005]
--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com