sumber : http://muslimdelft.nl/mimbar/pojok_humor/rujak_uleg_poligami.php

Rujak Uleg Poligami*
oleh: DHB Wicaksono

A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillaahirrahmanirrahiim

Seorang Kiai berpidato dengan santainya di depan para hadlirin. Sang Kiai 
mendongeng:

Besok di hari Kiamat ada Kiai yang masuk neraka. Namanya KH. Setio garwo (tapi 
bukan Aminoto).
Ketika mau diseret Malaikat ke neraka Kiai Setio garwo protes: "Wahai Malaikat 
!. Apa dosaku kok aku
akan kamu masukkan ke neraka?. Aku ini kiai beneran lho. Aku juga alumni pondok 
pesantren. Aku juga
pendukung fanatik P3 pimpinan Bpk. Hamzah Haz. Partai yang konsis dengan 
syariat Islam. Partai yang
mengharamkan presiden wanita". Demikian berontak sang Kiai. Rupanya Kiai ini 
wafatnya sebelum P.
Hamzah Haz menjadi wakilnya presiden Megawati. Jadi tidak tahu kalau hukum 
haramnya presiden wanita
sudah dimansukh oleh P. Hamzah sendiri.

Malaikat menjawab: "Maaf Kiai. Aku hanya melaksanakan perintah".

Kiai: "Tolong Malaikat!. Berilah aku syafaat. Tanyakan apa dosaku".

Malaikat akhirnya hiba juga kepada sang Kiai. Maka pergilah Malaikat untuk 
lapor dan menanyakan dosa
sang Kiai.

Sekembalinya Malaikat dari laporan maka bertanya kepada Kiai: "Maaf Kiai. Saya 
diperintahkan untuk
cek ulang kepada Kiai. Semasa di dunia dulu berapa istrinya Kiai?". Kiai: " 
Demi Tuhan, istri saya
cuma seorang. Nama saya saja sudah KH.Setio Garwo. Dulu Guru saya pernah 
menyampaikan hadits bahwa
Siapa yang menyayangi akan disayangi oleh Yang Maha kasih sayang. Kasihanilah 
penduduk bumi maka
kamu akan disayangi penduduk langit. Aku benci poligami karena ini ekspresi 
orang yang tidak sayang
pada istri. Poligami bikin dosa saja, karena mengecewakan hati anak istri. Dosa 
poligami bahkan ada
yang bilang lebih besar dari pada zina. Sungguh wahai Malaikat, saya tidak 
membual. Saya memang
tidak pernah poligami. Jangan samakan saya dengan Kang Masdar".

Malaikat mendengarkan dengan setia uraian sang Kiai. Benar juga Kiai ini. 
Apalagi ketika
menyinggung-nyinggung nama Masdar, maka mengertilah si Malaikat bahwa di dunia 
dulu ada cendekiawan
muda NU yang paling getol menyuarakan emansipasi wanita dan benci poligami. 
Namanya Masdar Farid
putra K.Masudi Purwokerto. Kang Masdar ini pernah membelejeti kitab Uqudul 
lujain [1] dan menilai
bahwa Uqudul lujain ini hanya merendahkan dan membodohi wanita saja. Tapi 
tahu-tahu Kang Mashdar
dengan sletam-sletem kawin lagi di Banyuwangi. Wah. Kang Mashdar tidak konsis.

Kemudian si Malaikat lapor lagi dan menanyakan apa sebenarnya dosa Kiai ini kok 
harus masuk neraka
dulu. Setelah mendapat penjelasan maka kembalilah si Malaikat ini kepada Kiai 
dengan penjelasan
sebagai berikut: "Kiai!. Justru disinilah letak dosa Kiai. Rupanya anda egois. 
Anda hanya ingin
mesra-mesraan saja dengan istri anda. Anda tidak memperhatikan nasib banyak 
wanita lain yang pada
nganggur dan kesepian. Sehingga mereka menjadi TKW memperbudak diri ke luar 
negeri. Apa Kiai tidak
mendengar bahwa kasus TKW diluar negeri mencapai 25%. Jadi kalau jumlah TKW 1 
juta berarti 250 ribu
yang didholimi, di pukuli bahkan diperkosa. Belum lagi wanita yang mencari 
jalan pintas sehingga
menjadi pelacur hanya karena kebutuhan ekonomi. Kiai khan tahu bahwa di 
Indonesia sudah kelebihan
setok wanita. Populasi wanita sangat cepat. Angka kelahiran banyak yang wanita. 
Sehingga anaknya
alumni Sarang juga banyak yang wanita. Sementara angka kematian, baik karena 
kecelakaan lalu lintas,
bencana alam atau perang yang banyak kaum lelaki. Wah...Kiai!. ternyata anda 
tidak punya jiwa rohim
kepada lingkungan. Anda hanya rohim kepada istri anda thok!. Mestinya Kiai 
harus melindungi mereka
dengan cara menikahi mereka. Sebab hanya dengan menikahi mereka anda bisa 
memberi nafkah lahir
batin. Apa anda kira bahwa wanita nganggur itu hanya butuh nafkah lahir saja?. 
Tirulah Sayyidina Ali
bin Abi Tholib tokoh zuhud ini. Beliau zuhud dibidang duniawi. Rumahnya, 
pakaiannya dan makanannya
sangat sederhana. Tetapi istrinya 4, amatnya 10. Jangan seperti selebritis 
Indonesia. Rumahnya,
mobilnya, pakaiannya, makannya serba mewah. Tapi istrinya cuma 1. Kalau sudah 
libidonya naik alias
kebelet maka cari wanita haram di hotel mewah atau kadang memakan babunya 
sendiri. Rupanya bagi
tokoh ini dosa poligami lebih besar daripada zina". Wah... rupanya Malaikat ini 
pengamat sosial
juga. Akhirnya Malaikat ini dengan rasa kasihan bersabda: "Maaf Kiai Setio 
garwo!. Anda harus
mencicipi neraka dulu. Sayang memang. Mengapa Kiai tidak mengikuti pemimpin 
anda. P. Hamzah Haz dan
banyak tokoh/kiai P3 harismatik yang lain khan sudah berpoligami. Rupanya 
fanatik anda dalam partai
berlambang Ka'bah ini perlu dipertanyakan".

"Demikianlah para hadlirin. Dongeng saya yang tentu saja tidak ada dalilnya" 
demikian Muballigh yang
tidak kondang ini mengahiri pidatonya. "Ma'af para hadlirin, bila ada yang 
tersinggung. wa ma uridu
illa al ishlah. Wassalamualaikum wr wb".

Muballigh bloon ini kemudian turun dari mimbar. Para hadlirin kaum lelaki 
dengan riuh rendah
bertepuk tangan tanda setuju. "Cocok Kiai Muballigh kita ini. besok bisa 
diundang lagi" demikian
komentar diantara mereka. Bahkan Panitia pengajian yang tentu saja dari kaum 
lelaki itu menambah
amplop transportnya sang Kiai. Sementara para hadlirat/kaum hawa 
bersungut-sungut sambil grundel:
"Enggak genah Kiai ini. Rupanya minta disunati lagi!. Kiai seperti ini kok 
diundang". Tapi diantara
mereka ada 2 orang ibu muda yang tersenyum simpul dan saling cubit-cubitan. 
Eh... ternyata kedua ibu
muda ini adalah istri mudanya seorang kiai dan seorang pengusaha kaya yang 
dinikahi secara sirri
setelah beberapa tahun ditinggal mati suaminya.

Ketika dalam perjalanan pulang, di dalam mobil sang Kiai dimarah-marahi sama Bu 
Nyai yang ternyata
nguping pidatonya Kiai juga : "Bah..bah. Istri 1 saja enggak habis-habis 
dimakan sampai tua kok mau
cari lagi. Memang abah ini tamak. Dasar laki-laki" demikian celoteh Bu Nyai. 
Sang Kiai menjawab : "
Lho Bu. Yang namanya tamak itu khan ingin menguasai milik orang lain. Saya ini 
mestinya khan
miliknya orang 4, kok dimonopoli sama kamu sendiri. Jadi ya kamu sendiri Bu 
yang tamak".

Bu Nyai ngomong lagi dengan tambah emosi: "Iya-iya... memang Agama 
memperbolehkan orang laki-laki
kawin 4. tapi khan harus adil. Apa Abah menjamin mesti bisa berbuat adil. 
Paling-paling kalau lagi
sakit thok laki-laki kembali ke istri tua, tapi kalau sudah sembuh berangkat 
lagi ke istri muda".

Sang Kiai dengan kalem menjawab lagi : " Lho.. Bu!. Perkara saya bisa berbuat 
adil atau tidak khan
perlu dibuktikan, perlu dicoba dulu!. Masak... Belum berbuat apa-apa saya sudah 
difonis tidak akan
berbuat adil. Justru fonis ini yang tidak adil. Jadi Panjenengan sendiri Bu 
yang tidak adil".

"Emboh wis... Pancen wong lanang pinter ngomong" Bu Nyai tambah mrengut.

"Lihat Pak Sopir, Bu Nyaimu kalau lagi mrengut tambah manis" kata Kiai sambil 
ngrayu. Sementara
P.Sopir tidak berani menoleh ke belakang walaupun hatinya geli juga.

Dan malam itu Kiai Muballig yang konyol ini sakit pusing kepala, karena tidak 
dapat jatah dari Bu
Nyai. Habis, Bu Nyai tidurnya tengkurap sambil menangis.

Catatan Kaki:
* dari diskusi di milis KMNU
[1] 'Uqudul lujain adalah kitab kuning yang biasa dikaji di pesantren. Kitab 
ini berisi tentang
adab-adab berumah tangga dan hubungan suami-istri.
Ditulis pada hari Rabu, 23 Februari 2005, 12:58 PM

--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke