|
Rabu, 08 Februari 2006 Karikatur
Provokatif yang Dungu
Peter Rosler Garcia Hubungan baik antara negara-negara Eropa dan negara-negara Islam terganggu lagi oleh kasus karikatur Nabi Muhammad SAW. Sudah kelihatan, di Eropa sekelompok orang tertentu kurang mampu bertenggang rasa atau tak mau memahami perasaan orang lain. Egois. Namun, jelas terlihat, budaya hubungan antarkelompok manusia di Eropa sulit bisa dimengerti di luar Eropa. Melukai
perasaan Karikatur
tentang Nabi Muhammad yang dimuat koran kecil di Denmark, Oktober 2005, amat
jelas melukai perasaan umat Islam. Itu tidak hanya dari segi ajaran Islam yang
mengharamkan segala macam penggambaran sosok Nabi Muhammad, apalagi karikatur,
tetapi juga bentuk dan isi karikatur itu dengan jelas menghina Nabi Muhammad.
Antara karikatur itu ada beberapa yang amat mirip karikatur Stürmer, harian
resmi pada masa pemerintahan Hitler di Jerman dulu tentang kaum
Yahudi. Setelah
pembunuhan massal kaum Yahudi di Jerman, tidak ada lagi koran Eropa yang berani
memuat karikatur semacam itu tentang kaum Yahudi. Hal itu juga dilarang
kebanyakan pemerintah negara Eropa. Juga tiada koran bermutu atau wartawan
bertanggung jawab yang mau memuat karikatur yang begitu menghina umat, agama,
atau bangsa lain, termasuk Nabi Muhammad SAW dan agama Islam. Tidak ada
undang-undang yang melarang hal itu, tetapi rasa hormat kepada yang lain, rasa
bertanggung jawab dan akal budi, serta kebijaksanaan secara umum sudah
cukup. Hampir
tanpa batas Namun,
kebudayaan hubungan antarmanusia di Eropa lain sekali dari situasi di banyak
negara Timur Tengah atau Asia. Secara umum, pers Eropa amat bebas dan juga ada
kebebasan kebudayaan yang hampir tanpa batas. Tokoh politik Eropa dihina hampir
tiap hari oleh karikatur pers dan siaran televisi. Agama Kristen dan lambang
agama Kristen juga dilecehkan. Misalnya, ada poster Kristus bertubuh wanita
telanjang dada di salib. Ciptaan seorang seniman lain menggambarkan salib
sebagai alat gantung kertas kloset. Atau dalam parade kaum homoseks, selalu ada
orang banci yang memakai pakaian khusus suster-suster biara. Semua
itu melecehkan umat Kristen serta melukai hati dan perasaan penganut agama
Kristen. Namun, apa boleh buat: Sikap kesabaran dengan semua kedinaan itu sudah
masuk kebudayaan antarhubungan bangsa Eropa. Pemimpin Gereja atau anggota paroki
kadang-kadang memprotes, tetapi hanya dengan kata-kata. Kebanyakan orang tidak
terlalu gelisah tentang penghinaan agama Kristen. Mereka menilai pelaku
penghinaan sebagai orang sakit jiwa atau seniman gagal yang mencari perhatian
dengan provokasi bodoh. Benturan
peradaban Tak
hanya seniman yang bersikap demikian, tetapi juga politikus secara umum dari
kelompok ekstrem, dan wartawan, atau pemimpin redaksi dari koran berperedaran
rendah. Mereka amat suka memancing supaya menaikkan tingkat perkenalan atau
edisi mereka. Politikus
dan koran berarah kanan kadang-kadang mengadakan provokasi dengan menghasut rasa
benci kepada orang atau agama lain. Dengan demikian, mereka secara sadar
menyalahgunakan kebebasan pers. Namun,
juga ada wartawan yang hanya berpandangan dangkal dan tidak mengerti bahwa hal
yang masih bisa diterima dalam rangka kebudayaan Eropa melukai perasaan orang
luar negeri. Dari
segi kebudayaan hubungan antarkelompok manusia, kaum Eropa sulit bisa mengerti
semua kerepotan tentang karikatur Nabi Muhammad di luar negeri. Orang Eropa yang
berotak sehat dan bijaksana tentu tidak setuju dengan karikatur itu. Namun,
mereka juga tidak mengerti mengapa terjadi pembakaran bendera Denmark atau
perusakan gedung resmi perwakilan Eropa di negara Timur Tengah atau Asia. Untuk
mereka, menurut Huntington, pemuatan karikatur itu tidak ada hubungan dan kaitan
dengan perbenturan antarperadaban. Juga,
untuk mayoritas orang Eropa yang sudah biasa dengan pelecehan agama Kristen,
karikatur Nabi Muhammad adalah perbuatan orang dungu, tidak waras otak, dan
kurang berhasil, yang mau meraih perhatian. Namun, kelompok dungu itu hanya
merupakan orang perseorangan. Jika
begitu, tak adil menuduh semua warga negara Denmark, semua kaum Eropa, semua
orang Barat bertanggung jawab atas kedunguan itu. Dan juga kurang adil
membakar bendera atau menyerbu gedung resmi Eropa yang mewakili semua
bangsa. Peter Rosler Garcia
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0602/08/opini/2421065.htm |
[Ar-Royyan-3466] Karikatur Provokatif yang Dungu
IHB Jakarta - Jaeroni Setyadhi Wed, 08 Feb 2006 18:09:34 -0800

