----- Original Message -----
From: Arland
Sent: Thursday, February 16, 2006 12:42 PM
Subject: [MI-googlegroups] Pengajian: SHOLAT TASBIH (tata cara & ikhtilafnya)

Pengajian:
SHOLAT TASBIH

Oleh : Ulin Niam Masruri.



             Kita sering mendengar yang namanya sholat tasbih, sebagian besar
umat Islam  sering melakukannya, karena merupakan salah satu sholat sunnah
yang  mana bisa dilakukan pada malam hari. maupun pada siang hari. Imam
Ghozali dalam kitabnya Ihya’ Ulumiddin mengatakan “Sholat tasbih ini adalah
merupakan sholat yang pernah dilakukan oleh Rosululloh Saw, makanya kalau
bisa alangkah baiknya bagi orang Islam untuk melakukannya  minimal dalam
seminggu sekali atau kalau tidak mampu mungkin dalam sebulan cukup sekali”.

             Adapun tendensi hadis yang digunakan oleh ulama’ yang mengatakan
bahwa sholat tasbih adalah sunnah berupa hadis yang diriwayatkan oleh Abu
Dawud dalam kitab sholat bab sholat tasbih, Imam Turmuzi,  Ibnu Majjah dalam
kitab Iqoomah Assholah bab sholat tasbih, Ibnu Khuzaimah, Imam Baihaqi dalam
bab sholat tasbih, Imam Thobroni dalam Mu’jam Alkabir dari Ibnu Abbas dan
Abu Rofi’ bahwa dalam syarah hadis, Nabi telah menjelaskan kepada pamannya
Abbas Bin Abdul Mutholib suatu amalan yang mana kalau dikerjakan oleh beliau
dapat menyebabkan diampuni dosannya baik yang akan datang maupun yang telah
lewat, salah satu amalan tersebut adalah sholat tasbih.

             Adapun pakar hadis dalam menganalisa hadis ini melalui jalur
sanad maupun matan terjadi perbedaan, diantara ulama’ ada yang mengatakan
bahwa hadis ini adalah shohih, ada lagi yang mengatakan bahwa hadis ini
adalah lemah, bahkan ada  juga yang mengatakan bahwa hadis ini sampai
kederajad  maudlu’.

             a. Di antara pakar hadis yang mengatakan bahwa hadis ini shohih
adalah Imam Muslim, Ibnu Khuzaimah, Imam Hakim, Ibnu Sholah, Alkhotib
Albaghdadi, Al Munzhiri, Imam Suyuti, Abu Musa Almadini, Abu Said Al Sam’
ani, Imam Nawawi, Abu Hasan Almaqdasi, Imam Subuki, Ibnu Hajar Al Asqolany,
Ibnu Hajar Al Haitamy, Syekh Albani, Syekh Syuab  Al Arnauth,  Ahmad Syakir
dan masih banyak lagi ulama’  yang lain.

             Imam Hakim mengatakan bahwa yang menjadikan standar hadis
tentang sholat tasbih shohih adalah  terbiasa dikerjakan mulai para Tabiit
Tabi’in sampai zaman sekarang .

             Imam Daruqutni mengatakan hadis yang paling shohih dalam
keutamaan surat adalah hadis yang menjelaskan keutamaan surat Al Ikhlas dan
hadis yang paling shohih dalam keutamaan sholat adalah hadis yang
menjelaskan tentang sholat tasbih.

             Demikian juga Syekh Muhammad Mubarokfuri mengatakan bahwa hadis
yang menjelaskan tentang sholat tasbih tidak sampai turun pada  derajat
hadis hasan.

             b. Sedangkan pakar hadis yang mengatakan bahwa hadis ini dhoif
adalah Imam Ahmad Bin Hambal, Imam Mizzi, Syekh Ibnu Taimiyah, Ibnu Qudamah
dan Imam Syaukani, sehingga dalam madzhab Hambali dijelaskan bahwa barang
siapa yang  melakukan sholat tasbih hukumnya adalah makruh akan tetapi
seandainya ada orang yang melaksanakan sholat tersebut tidak apa-apa, karena
perbuatan yang sunnah tidak harus dengan menggunakan dalil hadis yang
shohih, namun pada akhirnya Imam Ahmad menarik fatwanya dengan mengatakan
bahwa sholat tasbih adalah merupakan sesuatu amalan  yang sunnah.

             c. Adapun pernyataan Imam Ibnu Jauzi yang memasukkan hadis ini
dalam kategori hadis maudlu’ mendapat banyak kritikan dari pakar hadis,
mereka menganggap bahwa Ibnu Jauzi terlalu mempermudah dalam menghukumi
suatu hadis sehingga hukum hadis yang sebetulnya shohih ataupun hasan kalau
tidak sesuai dengan syarat yang beliau tetapkan langsung dilempar dalam
hukum maudlu’.

             Dari kajiaan sanad yang telah dilakukan oleh pakar hadis dapat
disimpulkan bahwa hadis ini adalah hasan atau shohih karena banyaknya jalan
periwayatan dan tidak adanya cacat, adapun yang mengatakan bahwa hadis ini
adalah dloif  karena hanya melihat satu jalan periwayatan saja dan tidak
menggabungkan jalan periwayatan yang satu dengan yang lain, adapun pendapat
Ibnu Jauzi tidak bersandarkan pada dalil yang kuat sehingga lemah untuk bisa
diterima sebagai sandaran hukum.

             Adapun cara kita melakukan sholat tasbih sebagaimana yang telah
dijelaskan dalam kitab fikih ada dua cara, yaitu sebagaimana berikut:

  1. Melakukan sholat tasbih sebanyak empat rakaat, dimulai dengan takbir
ikhrom setelah itu

membaca doa istiftah kemudian membaca surat alfatihah  dan membaca surat
kemudian membaca:

  سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله
العلي العظيم

(subhanalloh walhamdulillah wala ilaha illalloh Allohu Akbar laa hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyin adziiim)
 
Sebanyak 15 kali kemudian ruku’ dengan membaca

سبحان ربي العظيم وبحمده

(Subhana robbiyal adziimi wabihamdih) 
 Sebanyak 3 kali kemudian membaca

   سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله
العلي العظيم

(subhanalloh walhamdulillah wala ilaha illalloh Allohu Akbar laa hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyin adziiim)
Sebanyak 10 kali, kemudian bangun dari ruku membaca:

ربنا لك الحمد حمدا طيبا كثيرا مباركا ....الج

(Robbana lahal hamdu hamdan toyyiban katsiron mubarokan.... )
Kemudian membaca

سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله
العلي العظيم

(subhanalloh walhamdulillah wala ilaha illalloh Allohu Akbar laa hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyin adziiim)
 
Demikian juga dalam sujud dan ketika bangun dari sujud, akan tetapi
diperhatikan bahwa  bacaan ini:

سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله
العلي العظيم

.(subhanalloh walhamdulillah wala ilaha illalloh Allohu Akbar laa hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyin adziiim)
juga dibaca sebelum membaca tahiyyat ( tasyahud)





2. Setelah membaca takbir ikhrom dan doa iftitah membaca

سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله
العلي العظيم

(subhanalloh walhamdulillah wala ilaha illalloh Allohu Akbar laa hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyin adziiim)
 
Sebanyak 15 kali kemudian membaca surat alfatihah dan surat kemudian
membaca:

سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله
العلي العظيم

(subhanalloh walhamdulillah wala ilaha illalloh Allohu Akbar laa hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyin adziiim)
Sebanyak 10 kali sebagaimana dalam cara yang pertama tadi, akan tetapi perlu
diperhatikan bahwa dalam keadaan duduk istirahat (diantara dua sujud ) dan
sebelum tasyahud tidak di anjurkan untuk membaca

  سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله الله اكبر لاحول ولا قوة إلا بالله
العلي العظيم

(subhanalloh walhamdulillah wala ilaha illalloh Allohu Akbar laa hawla wala quwwata illa billahil 'aliyyin adziiim)
Cara yang kedua inilah menurut Iimam Ghozali yang paling baik. Demikianlah
kajian hadis yang dapat kami sampaikan dalam kegiatan I’tikaf pada kali ini,
semoga bermanfaat.
 
Wallahu A’lam Bish-showab,-

 

Kirim email ke