|
Insya Allah
Nadirsyah Hosen
Beberapa penduduk Mekkah datang ke Nabi Muhammad
saw. bertanya tentang ruh, kisah ashabul kahfi dan kisah Dzulqarnain. Nabi
menjawab, "Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan." Keesokan harinya
wahyu tidak datang menemui Nabi, sehingga Nabi gagal menjawab hal-hal yang
ditanyakan. Tentu saja "kegagalan" ini menjadi cemoohan kaum kafir.
Saat itulah turun ayat menegur Nabi, "Dan janganlah
kamu mengatakan terhadap sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok
pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhan-Mu
jika kamu lupa dan katakanlah "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk
kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini." (QS 18: 24)
Kata "Insya Allah" berarti "jika Allah
menghendaki". Ini menunjukkan bahwa kita tidak tahu sedetik ke depan apa yang
terjadi dengan kita. Kedua, hal ini juga menunjukkan bahwa manusia punya
rencana, Allah punya kuasa. Dengan demikian, kata "insya Allah" menunjukkan
kerendahan hati seorang hamba sekaligus kesadaran akan kekuasaan
ilahi.
Dari kisah di atas kita tahu bahkan Nabi pun
mendapat teguran ketika alpa mengucapkan insya Allah.
Sayang, sebagian diantara kita sering melupakan
peranan dan kekuasaan Allah ketika hendak berencana atau mengerjakan sesuatu.
Sebagian diantara kita malah secara keliru mengamalkan kata "insya Allah"
sebagai cara untuk tidak mengerjakan sesuatu. Ketika kita diundang, kita
menjawab dengan kata "Insya Allah" bukan dengan keyakinan bahwa Allah yang punya
kuasa tetapi sebagai cara berbasa-basi untuk tidak memenuhi undangan tersebut.
Kita rupanya berkelit dan berlindung dengan kata "Insya Allah". Begitu pula
halnya ketika kita berjanji, sering kali kata "insya Allah" keluar begitu saja
sebagai alat basa-basi pergaulan.
Yang benar adalah, ketika kita diundang atau
berjanji pada orang lain, kita ucapkan "insya Allah", lalu kita berusaha
memenuhi undangan ataupun janji itu. Bila tiba-tiba datang halangan seperti
sakit, hujan, dan lainnya, kita tidak mampu memenuhi undangan ataupun janji itu,
maka disinilah letak kekuasaan Allah. Disinilah baru berlaku makna "insya
Allah".
Armidale, 3 Juni 1998
|

