Senin, 20 Februari 2006

Aksi Tipu-tipu Produk Denmark

Pemerintah Denmark agaknya memang keras kepala. Alih-alih minta maaf 
atas ulah harian Jyllands-Posten yang memuat kartun Nabi Muhammad, 
mereka malah mencoba malakukan aksi tipu-tipu.

Saat boikot produk Denmark kian marak, otoritas perdagangan negeri 
itu, menyiasatinya dengan meminta para produsen menanggalkan label 
Made in Denmark, dan menggantinya dengan Made in European Union. 
Langkah itu, telah dilakukan, misalnya, oleh Arla Foods. Arla kini 
mencopot merk dan tulisan buatan Denmark-nya dari seluruh produk 
ekspor mereka ke negara-negara muslim, dan menggantinya dengan label 
buatan Uni Eropa.

Tak hanya itu, kini kapal-kapal berbendera Denmark juga menurunkan 
bendera negara mereka tatkala memasuki negeri-negeri muslim. Bendera 
negara menjadi nomor sekian, setelah pendapatan negara yang mencapai 
sekitar lima persen, atau tujuh miliar Kroner dari aktivitas ekspor impor.

Sejak bergejolaknya aksi protes sehubungan pemuatan kartun yang 
melecehkan Nabi Muhammad di koran mereka, barang-barang asal Denmark 
memang terkena imbas. Terutama di Timur Tengah, kini produk asal 
negara Skandinavia itu menghadapi persoalan serius. Bukan sekadar 
masyarakat negara-negara muslim yang kini menolak mengkonsumsi, 
solidaritas dari jaringan ritel dunia seperti Carrefour, misalnya, 
juga menohok produk mereka. Lihat saja di Arab Saudi. Berbagai pasar 
swalayan utama Saudi bahkan jelas-jelas menempelkan plakat besar yang 
menyatakan tidak lagi menjual produk Denmark. Dengan semakin maraknya 
aksi protes, tidak pelak, plakat itu efektif menggugah simpati orang 
datang ke toko tersebut. Toko yang sikapnya ''tidak jelas'' sudah jauh 
hari mereka tinggalkan.

Di Kuwait, boikot itu bahkan didukung penuh pemerintah. ''Kami 
menyatakan dukungan kepada supermarket yang tidak lagi menjual produk 
negara itu,'' bunyi pernyataan Kementerian Luar Negeri Kuwait. 
Jaringan ritel terbesar di negara itu, Union of Cooperative Societies 
(UCS), sejak awal bahkan langsung menarik produk Denmark dari pajangan 
mereka. ''Sekitar 50 perusahaan sepakat menyetop impor barang dari 
Denmark,'' kata Presiden UCS, Mohammed al-Mutairi, saat diundang ke 
Parlemen.

Pihak Parlemen bahkan lebih galak. Ketua Parlemen Kuwait, Jassem 
al-Khorafi, meminta boikot ekonomi total. ''Itu akan menjadi pelajaran 
bagi mereka yang ingin mengulangi penghinaan di masa depan,'' kata 
dia. Sikap itu tentu akan memengaruhi perdagangan Kuwait-Denmark, yang 
setiap tahun mencatat angka sekitar 170 juta dolar AS, atau sekitar Rp 
1,5 triliun.

Sementara di Bahrain, selain diprotes Parlemen, massa juga membakar 
hasil olahan dari Denmark di jalanan ibukota negara itu. ''Jika Anda 
tanya, bagaimana jika ini mempengaruhi bisnis di Bahrain? Islam jauh 
lebih penting dari apapun,'' teriak anggota Parlemen, Syeikh Muhammad 
Khalid Muhammad, saat berdemonstrasi.

Hingga saat ini, segala protes dan boikot itu masih disikapi 
Pemerintah Denmark dengan gaya jumawa. Selain tetap menolak meminta 
maaf, atau menekan Harian Jyllands-Posten untuk meminta maaf kepada 
kalangan muslim dunia, mereka menyatakan ekonomi mereka tidak 
terpengaruh boikot. ''Boikot itu mungkin saja berpengaruh terhadap 
produsen barang konsumen kami, tapi tidak besaran ekspor kami,'' kata 
Kepala Konfederasi Industri Denmark, Henriette Stoeltoft.

Bahkan, analis Danske Bank (bank milik pemerintah Denmark), Steen 
Bocian, menyatakan optimisme yang besar. ''Ekonomi Denmark cukup tegar 
untuk menahan boikot menyeluruh negara-negara muslim,'' kata dia. 
Benar tidaknya pernyataan resmi itu, mungkin akan terkuak pada 
saatnya. Namun, Arla Foods, eksportir barang keperluan sehari-hari 
Denmark ke Timur Tengah, mulai loyo dihantam boikot tersebut. Arla 
mengakui, sejak barang-barang mereka mulai ditarik dari pasaran, dua 
pekan lalu, mereka merugi sekitar 10 juta Kroner -- sekitar 1,6 juta 
dolar AS -- setiap hari. Mereka juga telah merumahkan tidak kurang 
dari 125 pekerja mereka.

Rekan senasib Arla, perusahaan farmasi Novo Nordisk, juga mengakui 
bahwa mereka telah kehilangan kontrak suplai insulin senilai 200 juta 
Kroner ke Turki, segera setelah maraknya boikot. Danisco, salah satu 
perusahaan makanan terbesar di dunia, juga mengaku banyak menerima 
pembatalan kontrak setelah insiden kartun itu meruyak. ''Kami sudah 
mulai merasakan dampak jatuhnya penjualan,'' kata Juru Bicara Danisco, 
Carl Johan Corneliussen.

Bahkan sejumlah importir Indonesia pun dikabarkan telah menangguhkan 
kontrak mereka akan produk Denmark. Selama ini, setidaknya Indonesia 
mengimpor produk Denmark senilai 509 juta Kroner, per tahun. Meski 
nilai ekspor Denmark ke Timur Tengah itu hanya mencatat sekitar tiga 
persen pendapatan negara itu, tidak urung reaksi boikot itu membuat 
kalangan industri Denmark ketar-ketir.

''Perasaan saya,aksi boikot ini akan bertambah besar,'' kata Sune 
Salling-Mortensen, juru bicara Grundfos, sebuah perusahaan peralatan 
industri Denmark. Jadi, jika Anda seorang pendukung boikot produk 
Denmark, semestinya kini berhati-hati dengan barang berlabel Made in 
European Union yang dipakai. Jangan-jangan, di sana sebelumnya 
tertempel stiker Made in Denmark.

( dsy/afp/bbc )

http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=235980&kat_id=3

--------------------------------------------------------------
Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913
Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com


Kirim email ke